LOGIN“Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.”
Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu nggak tahu, kan, orang itu baik atau enggak. Bagaimana kalau dia seperti orang yang terakhir kali merampas kalung emasmu setelah tangannya sembuh dari luka pisau.” Ucapan itu tentu ditujukan untuk Miya. Nampaknya sebelum Zeds datang ada beberapa orang lain yang juga diselamatkan oleh Miya, tapi berakhir sial karena orang itu tidak tahu terima kasih. Orang dengan kacamata ini berusaha mengingatkan Miya. Wanita itu memang mudah merasa kasihan. “Zeds enggak akan begitu, kok. Aku yakin dia orang baik.” Miya menimpali. “Itu juga yang kamu ucapkan waktu menolong lelaki yang merampas kalungmu.” Miya kehilangan kata-kata. Dia seperti diingatkan kalau dirinya selalu melakukan kesalahan yang sama. Dan nantinya dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sial. “Jangan khawatir, Radeya. Aku akan meremukan lelaki kurus ini kalau melakukan hal itu pada Miya,” Dhias menambahkan. Dengan Dhias mengepalkan tangannya saja, cukup membuat Zeds menelan ludah sebab akan sakit bila kepalan tangan itu membogem wajahnya. Sekali lagi dia bersikap jadi pendukung Miya. Padahal di klinik tadi sudah dia duluan yang melakukan hal sama seperti lelaki berkacamata itu. Ah, kenapa dengan dua lelaki ini? Sok perhatian. “Tenang saja, dia hanya tinggal sampai sembuh saja kok.” Miya bermaksud menenangkan si lelaki berkacamata yang Zeds yakini sebenarnya sedang melindungi Miya tersebut. “Um, daripada itu ..., bagaimana kalau kalian meminjamkan pakaian untuk Zeds?” usul Miya pada kedua lelaki di sampingnya itu. “Radeya, kamu punya pakaian untuk dipinjam Zeds, bukan?” ucap Miya lagi pada lelaki berkacamata yang ternyata bernama Radeya. “Cih!” Radeya tidak berniat meminjamkan sama sekali. Sebaliknya, dia memilih untuk tidak peduli pada siapa pun lagi yang diajak pulang oleh Miya, selepas insiden pemerasan tempo lalu. Radeya pergi meninggalkan Dhias yang menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Dhias, kamu punya baju untuk dipinjam Zeds, bukan?” Miya mengulang pertanyaannya. “Eung, ada sih, tapi semua bajuku belum dicuci.” Miya menggelengkan kepala. “Enggak apa deh, aku cuci dulu sekarang. Biar besok bisa kering dan bisa dipakai Zeds setelah ganti perban.” Zeds bersyukur orang-orang itu memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Sedari tadi dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Orang-orang itu tidak memberinya kesempatan untuk berpikir sejenak atas apa yang terjadi dengannya hari ini. Akhirnya orang-orang itu sudah menyingkir dari kamar Zeds. Dia baru memperoleh ketenangan setelah Miya menutup pintu dan membiarkan Zeds beristirahat di kamar barunya. Sungguh disesalkan, bagaimana ruangan ini bisa disebut kamar. Cat yang pudar, langit-langit yang berwarna coklat karena tempias air hujan, lembab, serta ukurannya yang bahkan lebih kecil daripada kamar mandi Zeds. Ruangan ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan kamar Zeds yang luas dan megah. Ada lima lantai rumah miliknya dimana hanya dia seorang yang menjadi penghuninya. Jangan hitung pelayan, bodyguard, serta pembantu rumah tangga. Mereka berjumlah lima belas orang tapi sebisa mungkin tidak pernah melakukan kontak dengan Zeds bila dia berada di rumah. Itulah kenapa Zeds merasa kalau dia seperti sendirian di rumah megahnya. Karena jumlah pelayannya yang banyak, maka mustahil ada secuil debu di sudut kamarnya. Semua selalu bersih dan siap sedia begitu Zeds hendak memakainya. Beda sekali dengan kamar ini yang begitu banyak debu di sana sini. Bahkan Zeds yakin bantal tempat kepalanya bersandar penuh dengan debu juga kuman. Namun Zeds paham benar, dia tidak bisa merengek dan meminta kemewahan dari rumahnya bisa didapatkan di tempat lain. Untuk menginjak ke rumah itu lagi saja Zeds tidak yakin. Ingatan Zeds berlari pada kejadian beberapa jam lalu. Zeds diminta untuk pergi menggunakan yacht. Dia ditipu bahwa taman bunga hasil karya mendiang ibunya, hendak dibongkar oleh orang-orang tidak dikenal. Dengan marah Zeds tancap gas menggunakan yacht, dimana taman bunga tersebut terletak di sebuah pulau dekat dengan vila pribadi, tempat ibu dan ayahnya disemayamkan. Huh, siapa yang berani mengusik tempat peristirahatan orang tua Zeds. Tidak disangka, di tengah perjalanan menuju taman bunga, yacht yang dikendarai Zeds dikepung oleh beberapa kapal lain. Jelas sekali kapal itu sengaja menghalangi jalur berkendara Zeds. Lalu beberapa orang dengan perawakan tinggi besar itu melompat ke badan yacht. “Siapa kalian? Mau apa kalian menghalangi jalanku?” teriak Zeds namun tidak diindahkan lelaki berotot dengan sebuah benda tumpul di tangannya. Bukannya menjawab, lelaki berotot itu malah melayangkan benda tumpul miliknya ke kepala Zeds. Beruntung Zeds dibekali ilmu beladiri, dia bisa menangkis serta melindungi kepalanya dari pukulan benda tumpul itu. Serangan demi serangan dilakukan oleh para pria berotot yang jika Zeds tidak salah hitung berjumlah sekitar sembilan orang tersebut. Satu per satu melompat ke yacht milik Zeds. Yacht oleng bersama gerakan aktif para pria berotot ke satu titik, yaitu Zeds. Beberapa kali Zeds bisa menangkis, bahkan melawan balik dengan kepalan tangannya yang kosong. Namun karena jumlah mereka yang tidak imbang, Zeds mulai kewalahan. Zeds tangkis serangan ke kepalanya, satu yang lain menendang pinggul Zeds. Zeds lawan dengan menendang tumit di depannya, satu yang lain menghantam belakang kepalanya. Terus seperti itu dimana seluruh tubuh Zeds akhirnya menemukan titik klimaks dan merasa kesakitan. Zeds tersudut di salah satu selusur besi. Pandangannya mulai kabur efek pukulan di belakang kepala tadi. Rasa berdenyutnya seolah berbisik agar Zeds menyerah saja. Seluruh tubuhnya seakan menjerit kesakitan. Satu perlawanan terakhir yang bisa Zeds lakukan hanya memasang kuda-kuda yang tidak sempurna. Namun percuma, dia kalah cepat oleh pukulan ke pelipis kirinya hingga darah mengucur ke mata, terus turun sampai ke mulutnya. Zeds ambruk. Lantai yacht yang bergoyang-goyang menjadi tempat satu-satunya dia terjatuh. Satu orang yang Zeds yakini sebagai pemimpin dari para pria berotot itu, dia menghampiri Zeds yang ambruk. Dengan kasar dia menjambak rambut Zeds hingga wajahnya bisa kelihatan oleh si pemimpin. “Malang sekali nasibmu. Harus berakhir di tangan kami,” katanya dengan suara bariton yang kuat. “Sebelum kamu mati penasaran, akan kuberitahu siapa yang menyuruh kami membunuhmu.” Lelaki pemimpin itu meludah, untuk kemudian kembali melanjutkan ucapannya. “Kakakmu. Kami dibayar tinggi untuk membunuh adik malangnya ini.” Kakak? Mereka suruhan kakaknya Zeds? Zeds hanya punya satu kakak. Barra Pijaraga. Lelaki terlicik yang Zeds kenal di dunia ini. Barra juga diyakini sebagai pembunuh dari ayahnya, seorang konglomerat paling kaya se-Asia. Daniyal Pijaraga. Si licik itu tega menghabisi ayah kandungnya demi ambisi mendapatkan kekayaan. Siapa sangka, ayah mereka sudah mengetahui akal busuk Barra. Maka sebelum petaka itu terjadi, Daniyal mewariskan seluruh harta miliknya pada Zeds. Barra sangat marah karena dia tidak mendapatkan sepeser pun dari harta milik Daniyal. Malah si bodoh Zeds yang tidak begitu paham cara mengelola kekayaan yang diberi warisan melimpah ruah itu. Tidak disangka kalau Barra berniat membunuh adiknya juga. ***Zeds tidak menduga kalau dirinya akan dihabisi di atas yacht hari ini. Keputusan Zeds keliru dengan tidak membawa serta siapa pun di atas yacht miliknya. Pikir Zeds, taman bunga milik ibunya merupakan tempat rahasia dan sakral. Tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zeds untuk tidak membawa satu orang pun di atas yacht miliknya menjadi kesialan yang dia sesali belakangan. Kini dia tak berdaya di tangan suruhan Barra. Lebih parah dari itu, dia terapung di tengah lautan yang jauh dari daratan. Sekali lempar ke lautan saja, mustahil Zeds bisa ditemukan dan diselamatkan. Benar saja, Zeds digusur oleh dua orang dengan tenaga besar. Dilemparkannya tubuh yang nyaris remuk itu ke lautan lepas tidak bertuan. BYUR! Seluruh tubuhnya basah. Air asin masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga. Refleks Zeds menahan napas agar air tidak banyak yang masuk. Zeds tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali tangan yang terangkat ke permukaan air. Di sana, dia b
“Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.” Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu nggak tahu, kan, orang itu baik atau enggak. Bagaimana kalau dia seperti orang yang terakhir kali merampas kalung emasmu setelah tangannya sembuh dari luka pisau.” Ucapan itu tentu ditujukan untuk Miya. Nampaknya sebelum Zeds datang ada beberapa orang lain yang juga diselamatkan oleh Miya, tapi berakhir sial karena orang itu tidak tahu terima kasih. Orang dengan kacamata ini berusaha mengingatkan Miya. Wanita itu memang mudah merasa kasihan. “Zeds enggak akan begitu, kok. Aku yakin dia orang baik.” Miya menimpali. “Itu juga yang kamu ucapkan waktu menolong lelaki yang merampas kalungmu.” Miya kehilangan kata-kata. Dia seperti diingatkan kalau dirinya selalu melakukan kesalahan yang sama. Dan nantinya dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sial. “Jangan khawatir, Radeya. Aku akan meremukan lelaki kurus ini kalau melakukan hal itu pada Miya
“Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.” Miya serius dengan tawarannya. Biarlah dia merelakan satu kamar untuk lelaki malang ini. Daripada dia menghilangkan nuraninya dengan meminta Zeds pergi padahal dia tidak memiliki tempat tinggal. Ya, Miya sudah memutuskan. Hari ini dia akan membawa Zeds pulang ke indekosnya. Sebelumnya Miya selesaikan administrasi di klinik. Dia juga minta diajari cara mengganti perban untuk Zeds nanti. Lain Miya, lain pula dengan Dhias. Kentara sekali dia tidak menyetujui usul Miya tentang membawa Zeds ke indekos miliknya. Selagi Miya ke bagian administrasi, Dhias berada di kamar Zeds sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zeds. Seolah ia sedang memindai yang berbaring di kasur ini orang baik atau jahat. “Hei, kamu nggak merencanakan hal jahat pada Miya, kan?” Dhias menodong dengan pertanyaan yang mengintimidasi. Zeds tahu itu bukan pertanyaan yan
“Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.” Api kemarahan tergambarkan lewat tangan yang terkepal juga urat hijau di pelipis Zeds. Sekarang seluruh dunia hanya tahu kalau Zeds meninggal karena membakar diri di yacht. Dunia tidak akan tahu kenyataan sesungguhnya kalau Barra yang merencanakan pembunuhan itu. Termasuk sandiwara yang sedang dilakukannya di depan televisi itu. “Dengan ini saya mengumumkan, kalau Pijaraga Group akan diambil alih oleh saya sebagai pewaris satu-satunya Daniyal Pijaraga,” umum Barra kemudian. Sial! Itulah yang diinginkan Barra selama ini. Dia merencanakan semua demi bisa mencapai puncak dan memonopoli kekayaan Pijaraga. Zeds yakin Barra tidak tahu kalau dirinya selamat dari maut. Kalaupun Barra tahu dirinya masih hidup dan terdampar di pulau ini, dia pasti akan mengejar Zeds kembali. Dia tidak akan segan membunuh Zeds lagi dengan caranya yang lebih keji. Sekarang Barra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki
Sial! Zeds hampir setengah mati tersapu ombak yang menggulung tubuhnya. Sebenarnya bisa saja Zeds berenang dan menepi dengan aman ke tepi pantai. Hanya saja saat ini badannya penuh luka, hasil bogeman mentah juga benda tumpul dari beberapa orang yang mengeroyoknya. Ajaib, Zeds tidak mati. Dia berhasil mengeluarkan air asin yang membanjir di tenggorokan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan meski terasa berat karena bercampur dengan pasir yang menghalangi. Pikiran Zeds berkelana. Meski dia bisa melewati fase kematian di laut tadi, bukan berarti dia bisa melewati fase di pantai tak bertuan ini. Zeds sudah menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Nihil. Tidak bisa. Berharap seseorang akan datang untuk membantunya pun suatu hal yang mustahil. Kini Zeds hanya berdoa agar dirinya mati saja lebih cepat. Sama seperti apa yang diinginkan Barra. Kakaknya yang menjadi dalang kesialan yang dialami Zeds ini. Bagi Barra, Zeds hanya penghalang. Zeds dianggap sebagai orang bodoh dan lemah







