LOGIN
Sial!
Zeds hampir setengah mati tersapu ombak yang menggulung tubuhnya. Sebenarnya bisa saja Zeds berenang dan menepi dengan aman ke tepi pantai. Hanya saja saat ini badannya penuh luka, hasil bogeman mentah juga benda tumpul dari beberapa orang yang mengeroyoknya.
Ajaib, Zeds tidak mati. Dia berhasil mengeluarkan air asin yang membanjir di tenggorokan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan meski terasa berat karena bercampur dengan pasir yang menghalangi.
Pikiran Zeds berkelana. Meski dia bisa melewati fase kematian di laut tadi, bukan berarti dia bisa melewati fase di pantai tak bertuan ini.
Zeds sudah menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Nihil. Tidak bisa.
Berharap seseorang akan datang untuk membantunya pun suatu hal yang mustahil.
Kini Zeds hanya berdoa agar dirinya mati saja lebih cepat. Sama seperti apa yang diinginkan Barra. Kakaknya yang menjadi dalang kesialan yang dialami Zeds ini.
Bagi Barra, Zeds hanya penghalang. Zeds dianggap sebagai orang bodoh dan lemah lainnya yang menghalangi ambisi Barra untuk menjadi orang terkaya.
Zeds pasrah, dia menutup kelopak mata.
Namun indera pendengarnya menangkap suara asing yang membuatnya yakin, kalau dirinya belum diizinkan untuk mati.
“Hei, kamu masih hidup, kan?”
Suara seorang wanita dengan sebuah ranting menyolok pipi Zeds dengan kasar.
Kelopak mata Zeds terbuka kembali. Hal itu membuat wanita yang menyolok pipi Zeds itu seraya mundur satu langkah.
“Ka-kamu masih hidup?” Wanita itu seperti sedang mengumumkan, tapi juga sedang bertanya.
Zeds tidak bereaksi. Dia masih takjub dengan kehadiran wanita itu di sini. Di pantai tidak bertuan. Di tengah keputusaasaan dirinya akan kematian.
Apa mungkin Tuhan mengirimkan wanita itu untuk menyelamatkannya. Atau Zeds sedang berhalusinasi dan menganggap wanita itu ada. Padahal dia tidak nyata.
“Ukh, coba lihat dirimu ..., kacau sekali!”
Wanita itu lagi-lagi seperti membuat pengumuman.
Zeds sendiri tidak tahu seperti apa dirinya saat ini. Hanya saja dia merasa mati rasa di sekujur tubuh. Tidak ada yang bisa dia gerakkan selain kelopak mata.
Matahari sedang terik-teriknya saat itu. Dan wanita itu menghalangi sinar yang terpancar hingga membuat sosoknya nampak bias, membelakangi matahari.
Zeds tidak bisa melihat jelas rupa wanita itu. Namun dari suaranya saja Zeds bisa tahu kalau wanita itu memiliki energi yang berlebih, karakter yang kuat, serta suara yang lantang.
Bisa dibilang itu kebalikan dari Zeds. Lelaki yang cenderung memilih diam saat menemukan sosok lemah terdampar di sisi pantai. Atau akan abai bila orang lain secara gamblang meminta pertolongannya.
“Tunggu sebentar, aku akan cari bantuan!” seru wanita itu sambil berlari ke sisi lain sembari berteriak sesuatu yang tidak Zeds mengerti.
Untuk pertama kalinya di dunia ini, Zeds merasa beruntung bertemu dengan seorang wanita. Biasanya dia akan bertindak dingin pada wanita. Zeds selalu tidak bisa menebak isi hati dan pikiran wanita. Makanya semua pekerja suruhannya selalu lelaki, meski pekerjaan membereskan rumah sekalipun.
Sekian menit Zeds melamun dan memikirkan banyak hal seputar dirinya. Dia memikirkan, seberuntung itukah dia bisa ditemukan orang dengan mudah. Dia bisa lepas dari percobaan pembunuhan oleh suruhan Barra.
Itu takdir dirinya. Semesta masih berpihak padanya.
Dari awal Zeds salah tentang pikiran kalau pantai itu tidak berpenghuni. Rupanya ada warga sekitar yang menjadi pribumi daerah tersebut. Pantai itu memang bukan objek yang sering dikunjungi karena karang yang terhampar cukup tajam.
Ajaibnya, pantai itu pula yang menjadi tempat satu-satunya yang dikunjungi si wanita tadi ketika dia putus asa dan mulai merenungi nasibnya sebagai yatim piatu.
Sudah takdir mereka bertemu. Dan sudah ditakdirkan pula Zeds tertolong dengan bantuan wanita itu.
Miya Ardani.
Miya kembali dengan mengajak beberapa lelaki yang dirasa cukup kuat untuk membawa Zeds dari tengah-tengah karang. Miya berniat untuk membawa Zeds ke klinik atau ke tempat yang bisa menyembuhkan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Miya memerintah lelaki yang mengangkut Zeds tersebut untuk memindahkan tubuhnya pada pick up yang dia bawa. Akan lebih mudah membawanya ke klinik dengan pick up miliknya daripada menggendongnya.
“Heup, hati-hati, Pak! Taruh kepalanya di karung tanah. Jadikan itu sebagai bantal,” Miya memberi perintah.
Para lelaki itu menurut. Rasa kemanusiaan mereka masih ada ketika Miya berlari kepadanya dan meminta tolong untuk menyelamatkan seseorang yang terdampar di sisi pantai.
Zeds sudah dibawa dalam pick up kecil dan usang milik Miya. Beberapa orang juga memutuskan untuk ikut mengantarkan ke klinik tempat satu-satunya warga di sana berobat.
Bukan Miya yang mengendarai pick up, melainkan salah satu lelaki yang membantu tadi. Sedangkan Miya duduk bersimpuh di samping Zeds yang tidak bisa melakukan apa pun selain mengedipkan matanya pada Miya.
Miya sadar Zeds sedang berusaha berkomunikasi dengannya, tapi tidak bisa. Miya tawarkan semburat senyum di bibirnya pada Zeds. Kali ini Zeds bisa melihat jelas wajah cantik Miya yang berbicara lembut padanya.
“Tenang, kamu akan selamat. Aku akan membawamu ke klinik dan kamu akan sembuh dengan segera.”
Zeds tidak habis pikir. Orang lain yang tidak dikenalnya malah semangat untuk menolong. Sedangkan kakaknya sendiri justru berusaha menghabisi dirinya agar mati.
Pick up membawa Zeds sampai ke klinik. Beberapa lelaki yang ikut dalam truk tadi membantu mengangkat Zeds lagi. Sementara itu Miya lari ke dalam klinik dan mendapatkan kasur berjalan agar Zeds bisa diangkut ke sana dengan mudah.
Singkatnya, Zeds sudah mendapatkan penanganan dari klinik. Dia dibawa ke ruangan khusus untuk mengobati luka di seluruh tubuhnya. Yang terparah luka robek di pelipis kiri. Sejak tadi terus mengeluarkan darah. Setelah dibersihkan dan diberi perban, darah tidak lagi mengucur ke matanya.
Zeds bisa merasakan kalau dirinya sudah lebih membaik daripada terakhir kali ditemukan di sisi pantai. Dia kaget karena ternyata hampir keseluruhan wajahnya rusak. Kena benda tumpul juga karang yang menggerus ketika ombak menggulung.
Meski begitu, Zeds bisa melihat layar televisi yang dipasang di atas kamarnya. Televisi itu dinyalakan perawat seusai memberikan penanganan pada sekujur tubuh Zeds.
Layar televisi menampilkan berita headline news dengan seorang pewarta mengumumkan satu berita penting yang langsung dimengerti oleh Zeds.
‘Putra kedua dari keluarga konglomerat Pijaraga Group, Zedias Pijaraga, dilaporkan meninggal dunia atas tragedi kebakaran yacht yang dikendarainya siang ini.’
Zeds tercekat. Itu berita tentang dirinya. Dia belum meninggal, bagaimana media massa bisa mengumumkan hal itu sedangkan saat itu Zeds begitu yakin kalau dia masih mengembuskan napas. Dia masih hidup.
‘Keluarga Pijaraga mengungkapkan kalau kebakaran tersebut sempat menjadi rencana Zedias yang depresi akan meninggalnya sang ayah.’
“Depresi? Apa? Siapa yang depresi?” Zeds meracau dalam hati.
Layar televisi kemudian menyorot wajah yang tidak asing bagi Zeds. Yaitu kakaknya, Barra. Dia bersikap pura-pura sedih dan kehilangan. Namun Zeds bisa segera tahu kalau Barra sedang bersandiwara.
“Saya paham bagaimana perasaan Zedias ketika mendapatkan berita kalau ayah kami terbunuh. Tapi saya tidak menyangka kalau dia akan mengakhiri hidupnya, dengan membakar diri dan yacht miliknya di tengah lautan seperti itu. Sungguh adikku yang malang.”
Zeds mengepalkan tangannya dengan emosi.
“Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.”
BERSAMBUNG
***
Zeds tidak menduga kalau dirinya akan dihabisi di atas yacht hari ini. Keputusan Zeds keliru dengan tidak membawa serta siapa pun di atas yacht miliknya.Pikir Zeds, taman bunga milik ibunya merupakan tempat rahasia dan sakral. Tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya.Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zeds untuk tidak membawa satu orang pun di atas yacht miliknya menjadi kesialan yang dia sesali belakangan.Kini dia tak berdaya di tangan suruhan Barra. Lebih parah dari itu, dia terapung di tengah lautan yang jauh dari daratan. Sekali lempar ke lautan saja, mustahil Zeds bisa ditemukan dan diselamatkan.Benar saja, Zeds digusur oleh dua orang dengan tenaga besar. Dilemparkannya tubuh yang nyaris remuk itu ke lautan lepas tidak bertuan.BYUR!Seluruh tubuhnya basah. Air asin masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga. Refleks Zeds menahan napas agar air tidak banyak yang masuk. Zeds tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali tangan yang terangkat ke permukaan air.Di sana, dia bisa me
“Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.”Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.“Kamu nggak tahu, kan, orang itu baik atau enggak. Bagaimana kalau dia seperti orang yang terakhir kali merampas kalung emasmu setelah tangannya sembuh dari luka pisau.”Ucapan itu tentu ditujukan untuk Miya. Nampaknya sebelum Zeds datang ada beberapa orang lain yang juga diselamatkan oleh Miya, tapi berakhir sial karena orang itu tidak tahu terima kasih.Orang dengan kacamata ini berusaha mengingatkan Miya. Wanita itu memang mudah merasa kasihan.“Zeds enggak akan begitu, kok. Aku yakin dia orang baik.” Miya menimpali.“Itu juga yang kamu ucapkan waktu menolong lelaki yang merampas kalungmu.”Miya kehilangan kata-kata. Dia seperti diingatkan kalau dirinya selalu melakukan kesalahan yang sama. Dan nantinya dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sial.“Jangan khawatir, Radeya. Aku akan meremukan lelaki kurus ini kalau melakukan hal itu pada Miya,” Dhias menamb
“Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.”Miya serius dengan tawarannya. Biarlah dia merelakan satu kamar untuk lelaki malang ini. Daripada dia menghilangkan nuraninya dengan meminta Zeds pergi padahal dia tidak memiliki tempat tinggal.Ya, Miya sudah memutuskan. Hari ini dia akan membawa Zeds pulang ke indekosnya.Sebelumnya Miya selesaikan administrasi di klinik. Dia juga minta diajari cara mengganti perban untuk Zeds nanti.Lain Miya, lain pula dengan Dhias. Kentara sekali dia tidak menyetujui usul Miya tentang membawa Zeds ke indekos miliknya.Selagi Miya ke bagian administrasi, Dhias berada di kamar Zeds sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zeds. Seolah ia sedang memindai yang berbaring di kasur ini orang baik atau jahat.“Hei, kamu nggak merencanakan hal jahat pada Miya, kan?” Dhias menodong dengan pertanyaan yang mengintimidasi.Zeds tahu itu bukan pertanyaan yang butu
“Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.”Api kemarahan tergambarkan lewat tangan yang terkepal juga urat hijau di pelipis Zeds.Sekarang seluruh dunia hanya tahu kalau Zeds meninggal karena membakar diri di yacht. Dunia tidak akan tahu kenyataan sesungguhnya kalau Barra yang merencanakan pembunuhan itu. Termasuk sandiwara yang sedang dilakukannya di depan televisi itu.“Dengan ini saya mengumumkan, kalau Pijaraga Group akan diambil alih oleh saya sebagai pewaris satu-satunya Daniyal Pijaraga,” umum Barra kemudian.Sial!Itulah yang diinginkan Barra selama ini. Dia merencanakan semua demi bisa mencapai puncak dan memonopoli kekayaan Pijaraga.Zeds yakin Barra tidak tahu kalau dirinya selamat dari maut. Kalaupun Barra tahu dirinya masih hidup dan terdampar di pulau ini, dia pasti akan mengejar Zeds kembali. Dia tidak akan segan membunuh Zeds lagi dengan caranya yang lebih keji.Sekarang Barra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki licik
Sial!Zeds hampir setengah mati tersapu ombak yang menggulung tubuhnya. Sebenarnya bisa saja Zeds berenang dan menepi dengan aman ke tepi pantai. Hanya saja saat ini badannya penuh luka, hasil bogeman mentah juga benda tumpul dari beberapa orang yang mengeroyoknya.Ajaib, Zeds tidak mati. Dia berhasil mengeluarkan air asin yang membanjir di tenggorokan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan meski terasa berat karena bercampur dengan pasir yang menghalangi.Pikiran Zeds berkelana. Meski dia bisa melewati fase kematian di laut tadi, bukan berarti dia bisa melewati fase di pantai tak bertuan ini.Zeds sudah menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Nihil. Tidak bisa.Berharap seseorang akan datang untuk membantunya pun suatu hal yang mustahil.Kini Zeds hanya berdoa agar dirinya mati saja lebih cepat. Sama seperti apa yang diinginkan Barra. Kakaknya yang menjadi dalang kesialan yang dialami Zeds ini.Bagi Barra, Zeds hanya penghalang. Zeds dianggap sebagai orang bodoh dan lemah lainn







