แชร์

Bab 2. Tanggung Jawab Penuh

ผู้เขียน: Liani April
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-13 10:54:09

“Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.”

Api kemarahan tergambarkan lewat tangan yang terkepal juga urat hijau di pelipis Zeds.

Sekarang seluruh dunia hanya tahu kalau Zeds meninggal karena membakar diri di yacht. Dunia tidak akan tahu kenyataan sesungguhnya kalau Barra yang merencanakan pembunuhan itu. Termasuk sandiwara yang sedang dilakukannya di depan televisi itu.

“Dengan ini saya mengumumkan, kalau Pijaraga Group akan diambil alih oleh saya sebagai pewaris satu-satunya Daniyal Pijaraga,” umum Barra kemudian.

Sial!

Itulah yang diinginkan Barra selama ini. Dia merencanakan semua demi bisa mencapai puncak dan memonopoli kekayaan Pijaraga.

Zeds yakin Barra tidak tahu kalau dirinya selamat dari maut. Kalaupun Barra tahu dirinya masih hidup dan terdampar di pulau ini, dia pasti akan mengejar Zeds kembali. Dia tidak akan segan membunuh Zeds lagi dengan caranya yang lebih keji.

Sekarang Barra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki licik itu membuat Zeds tertawa karena rencana jahatnya tidak dia duga sama sekali. Tawa yang bisa saja membuat ujung bibir Zeds robek kembali.

Tawa Zeds kedengaran oleh Miya yang baru masuk ruangan. Bagi Miya itu kedengaran seperti tangis. Ditambah lagi Zeds tertawa tanpa suara hanya tubuhnya saja yang bergetar.

Miya tidak datang sendirian. Dia muncul dari balik pintu dengan seorang lelaki tinggi besar dengan rambut cepak. Gelagatnya seperti seorang bodyguard Miya.

Otot bisep yang mencuat dari lengan kausnya yang membuat Zeds berpikir demikian. Ditambah ada aura kelam dari tatapan lelaki yang sejak berada di dalam ruangan itu terus saja memelototi Zeds.

“Apa kamu sudah lebih baikan sekarang?” tanya Miya seraya duduk di tepi kasur klinik yang jauh dari kata nyaman.

“Aku rasa aku harus mengenalkan diriku dulu. Namaku Miya. Dan lelaki ini Dhias, dia teman di indekosku.”

Sejujurnya, Zeds tidak peduli dengan perkenalan itu. Apalagi lelaki yang bernama Dhias itu terus saja memasang rahang kerasnya seolah ingin memamerkan kalau dia terlihat garang dengan itu.

Hanya karena Miya sudah menolong Zeds, dia hargai apa pun yang dikatakannya detik itu. Termasuk hal-hal yang selanjutnya meluncur dari mulut Miya.

“Siapa namamu?”

Harusnya itu pertanyaan paling mudah sedunia yang bisa dijawab bocah sekalipun. Namun Zeds tiba-tiba memikirkan banyak hal hanya dari satu pertanyaan itu.

Apakah dia harus menyembunyikan identitasnya?

Apakah dia harus berpura-pura tidak ingat nama dan jati dirinya?

Seketika pikirannya berlari pada kemungkinan kalau Barra tahu dirinya ada di sana. Atau Miya mengenal namanya sebagai putra konglomerat, lalu melaporkan ke publik kalau dirinya belum meninggal.

Apalagi televisi masih memberitakan perihal dirinya. Bisa saja Miya melihat wajah yang terpampang di berita sana. Atau nama yang diucap berulang-ulang oleh si pembawa berita. Zedias Pijaraga.

Oh, Dhias saat itu bahkan sedang khusyuk melihat berita di layar televisi.

Zeds diam cukup lama. Miya pun hanya bisa menaikkan sebelah alis dan menunggu Zeds bersuara. Lalu dia terbelalak karena memikirkan sesuatu di kepalanya.

“Oh, jangan bilang kalau kamu kehilangan ingatanmu, jadi nggak tahu namamu siapa?” Miya menebak asal-asalan.

Zeds berdecih. Ini bukan drama picisan yang mudah lupa ingatan karena satu atau dua pukulan di kepala. Zeds juga tidak tertarik untuk berpura-pura lupa ingatan demi menyembunyikan statusnya sebagai putra konglomerat.

“Zeds. Namaku Zeds.”

Zeds sudah memikirkan itu. Biarlah Miya hanya tahu nama kecilnya. Nama Zeds hanya diberikan oleh pengasuhnya. Orang lain tidak ada yang tahu, termasuk Barra.

“Oh, syukurlah. Aku nggak harus berhadapan dengan orang yang lupa ingatan.” Miya mengembuskan napas dengan lega. “Baiklah, Zeds! Jadi dimana tempat tinggalmu?”

“Aku—“

Perlukah Zeds bilang kalau dia tinggal di ibukota dan memiliki separuh dari pulau di negeri ini. Bisa jadi pulau ini pun adalah miliknya, jika dia mau mencari di kumpulan sertifikat tanah di rumah ayahnya.

“Aku nggak punya rumah.”

Akhirnya Zeds memutuskan untuk menjawab seperti itu saja. Bisa repot nantinya kalau Miya memutuskan mencari keluarga Zeds. Yang artinya kabar kalau dirinya masih hidup akan terendus Barra.

“Bagaimana dengan keluarga?”

“Aku nggak punya keluarga.”

Zeds sudah mantap memainkan peran itu. Biarlah Miya tidak tahu siapa dirinya. Bukankah akan berbahaya kalau Miya atau orang sekitar tahu bahwa si putra konglomerat yang dikabarkan baru saja meninggal dunia itu ternyata ada di sini, di pulau terpencil yang jauh dari kata modern.

Miya mengangguk-angguk seperti sedang membuat keputusan. Dia menoleh pada Dhias. Mereka berdua menjauh dan berbisik untuk mengatakan hal-hal yang tidak diketahui oleh Zeds.

“Jadi gimana, nih?” bisik Miya sambil membelakangi Zeds.

“Mau bagaimana lagi, kita nggak mungkin bertanggung jawab penuh pada orang asing itu. Tinggalkan saja dia di sini,” Dhias ikut berbisik, meski suaranya yang keras bisa kedengaran jelas oleh Zeds.

“Kita nggak mungkin meninggalkan dia sendirian di sini.”

“Kenapa nggak mungkin. Kan bukan kamu yang membuatnya celaka, kamu hanya kebetulan berada di pantai itu dan membawanya kemari. Sudah cukup. Harusnya dengan itu saja dia merasa tertolong.”

Dhias mengatakan hal-hal yang logis. Zeds juga tidak berharap Miya bertanggung jawab penuh atas dirinya. Jangan sampai kemudian hari dia merasa berhutang budi pada Miya. Dia tidak pernah mau berurusan dengan wanita mana pun.

Miya menoleh Zeds di belakangnya. Mata mereka bersirobok sesaat, namun Zeds dengan segera membuang muka karena tidak pernah sanggup bertatapan dengan seorang wanita lebih dari dua detik.

Miya kembali menghadap Dhias dan melanjutkan diskusi alot mereka.

“Begini saja, sampai dia sembuh benar, dia akan tinggal di kamar indekos di samping kamarmu.”

“Hah, jangan gila kamu, Miya. Kamu mau menggratiskan itu lagi?”

Miya dengan segera menyudahi pembicaraan itu secara sepihak dan menoleh pada Zeds yang tidak paham maksud mereka.

“Um, begini Zeds ..., jujur saja uangku hanya cukup untuk biaya masuk klinik dan perawatan tadi. Tapi aku nggak punya uang untuk membayar biaya rawat inapmu. Jadi ...,”

Ah, kenapa Zeds tidak menyadari itu dengan cepat. Klinik ini berbeda dengan rumah sakit keluarga miliknya. Dimana dia bisa masuk sesuka hati, diobati, bahkan fasilitas rawat inap yang lengkap. Di klinik ini dia harus membayar. Ada jasa-jasa perawat dan dokter yang sudah mengobati luka-lukanya.

Zeds baru menyadari kalau dia nyaris tidak membawa apa pun. Dompet, ponsel, tas berisikan peralatan pribadinya, semua tertinggal di yacht yang terbakar.

Dibilang begitu, Zeds hanya bisa menunduk dan merasa konyol karena untuk pertama kalinya dia tidak bisa membiayai dirinya sendiri dimana dia memiliki kekayaan bertriliyun-triliyun.

“Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.”

Indekos?

Zeds tidak pernah tahu bentuk indekos itu seperti apa.

Pasti tidak menyenangkan.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 32. Keluarlah!

    “Tolong Dhias, pinjamkan dia tiga puluh juta,” lanjut Radeya lagi masih dengan berbisik.Zeds jadi bisa mencerna masalah yang dihadapi Dhias hanya dari kalimat itu. Dia tidak perlu cerita lengkapnya. Masalah uang selalu mudah ditebak.“Kenapa aku harus menolongnya?” jawab Zeds mencoba menggunakan nada sedingin mungkin.“Dhias hanya perlu membayarkan uang untuk dia bisa mencapai mimpinya lebih mudah. Bagimu, itu jumlah yang kecil, bukan?”Zeds tidak menyukai pemilihan kata yang digunakan Radeya.Ya, Zeds memang kaya, dia memang punya uang sejumlah yang dibutuhkan Dhias. Zeds bisa meminjamnya lagi dari Gauzan untuk menolong Dhias dari masalah peliknya. Tapi..., Zeds tersinggung dengan ucapan Radeya.Apakah karena dia tahu identitasnya, maka dia akan terus memeras Zeds untuk mengeluarkan uangnya terus menerus. Untuk orang-orang yang tidak begitu berharga bagi Ze

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 31. Terbakar

    Zeds tidak pernah ikut acara bakar-bakaran semacam ini. Pernah sekali ada pesta barbeque di perusahaannya, tapi tentu saja Zeds tidak terlibat dengan api dan pemanggangan.Kali ini dia begitu dekat dengan api, bahkan semua orang mengelilingi api seperti itulah satu-satunya sumber kehangatan mereka. Malam itu memang dingin. Angin menelusup kulit yang buat siapa pun angkat kaki untuk berlama-lama di sana tanpa baju penghangat.Zeds diperhatikan oleh Gauzan. Diberikannya jaket tebal saat tuan mudanya itu ikut duduk melingkar bersama penghuni indekos yang lainnya.Pesta bakar-bakaran itu punya formasi khusus dimana Radeya yang membakar jagung dan bahan lainnya. Miya yang menyiapkan sesuatu yang berada di atas tikar. Termasuk yang menghidangkan hasil bakar-bakaran nanti ke piring untuk dinikmati bersama. Sedangkan Dhias, dia hanya melamun sambil menatap api tanpa ada gairah sama sekali.Malam ini ada dua

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 30. Bagian dari Indekos

    Dhias datang dengan lesu, dan menjatuhkan bola yang dipegangnya nampak tak bertenaga. Dhias biarkan bola itu menggelinding ke halaman indekos.Sungguh hal yang tidak biasa terjadi sebab dia biasanya menggenggam erat bola tersebut, seperti hidupnya berada di dalam bola itu. Bola itu tidak pernah lepas dari dirinya yang sangat mencintai basket tersebut.Dhias tidak melihat kemana bolanya jatuh. Dia tinggalkan saja di belakang sampai dirinya masuk ke kamar masih dengan tatapan sendu dan lesu.Bukan Zeds saja yang melihat hal ini, tapi Radeya juga. Dia kebetulan sedang menjemur handuknya yang basah sebelum pergi ke sekolah. Kemarin malam mereka baru saja ditaktir makan enak oleh Miya, hal itu untuk merayakan Dhias yang akan pergi ke ibukota dan memenuhi panggilan tes ke tim nasional.Tapi sepagi ini Dhias malah kembali lagi ke indekos dengan wajah muram dan tidak ada semangat hidup. Melihatnya begitu, su

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 29. Klinik atau Panti Jompo

    Miya menjadi sangat dingin pada Zeds. Tatapannya sengaja dia palingkan dari Zeds ketika mereka bertemu tatap. Ataupun sengaja mengabaikan Zeds yang kali itu ada di hadapannya, malah sengaja memanggil Dhias yang sedang berada di kamar.“Dhias, kapan kamu berangkat ke ibukota untuk tes tim nasional?”“Um, besok!”“Sebelum kamu pergi, aku akan mentraktirmu makan enak. Aku baru saja dapat upah dari mengantarkan pindahan dengan pick-up. Jangan lupa ajak Radeya juga ya.”Miya pasti sengaja melakukan itu di depan Zeds. Zeds tahu tentang upah yang dimaksud, Miya juga sempat janji akan mentraktir Zeds juga, tapi berubah pikiran hanya karena insiden siang tadi yang sebenarnya Zeds tidak begitu salah.Lagipula, dia baru saja membayarkan segepok uang pada debt collector. Apakah baik sekarang menghambur-hamburkan uang untuk mentraktir Dhias yang akan menghadapi tes ke tim nasionalnya.

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 28. Jangan Ikut Campur

    “Miya berhutang pada orang kaya, sangat kaya. Dia orang terpicik sedunia yang aku kenal. Miya berhutang banyak sekali. Bahkan menyebutkan angkanya saja membuatku ingin pingsan.”“Berapa?”“Tiga miliar.”“Untuk apa dia pinjam uang pada orang kaya sebanyak itu?”Dhias mengendikkan bahu. “Aku nggak tahu. Miya sudah berhutang jauh sebelum aku datang ke tempatnya. Dan Miya nggak pernah mau mengatakan alasan dan cerita lengkapnya tentang hutang-hutang itu. Kurasa Miya nggak mau kami jadi ikut memikirkan hutang-hutangnya. Tapi mau nggak mau aku dan Radeya pasti memikirkannya juga.”Masuk akal. Saat seseorang diminta untuk tidak memikirkan, saat itulah otak akan bekerja sebaliknya. Terlebih hal itu mengenai orang yang penting bagi Dhias dan Radeya. Tanpa diketahui Miya, dua lelaki yang sudah lama hidup bersama dirinya tentulah ikut memikirkan bagaimana melunasi hutang Miya.

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 27. Hutang Miya

    Keduanya saling menatap dan salah tingkah. Zeds menghirup kembali aroma bedak bayi bercampur lavender dari tubuh Miya. Aroma yang sama dengan yang dia dapatkan tempo hari ketika Miya melepaskan perban di wajahnya.Padahal Zeds yakin Miya menghabiskan hari ini dengan berkeringat, bagaimana mungkin dia tetap wangi meski sudah melakukan banyak hal.Lain dengan yang Zeds terpana pada aroma yang dihirup hidungnya, Miya mematung karena lagi-lagi dia terpana dengan ketampanan Zeds. Dari dekat sini kelihatan jelas bagaimana mulusnya wajah Zeds. Berkilaunya mata cokelat nan dalam itu. Bagi Miya, itu terlalu indah.Singkatnya, dua orang itu saling menghipnotis satu sama lain. Kalau saja seekor burung tidak terbang di atas langit yang gelap, mungkin selamanya mereka akan menghabiskan waktu dengan saling bertatapan.Mendengar kegaduhan dari burung gereja yang keluar dari sarang, membuat keduanya tersadarkan dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status