ホーム / Urban / Pelarian Sang Pewaris / Bab 3. Pegangan yang Kuat

共有

Bab 3. Pegangan yang Kuat

作者: Liani April
last update 公開日: 2026-09-13 10:54:13

“Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.”

Miya serius dengan tawarannya. Biarlah dia merelakan satu kamar untuk lelaki malang ini. Daripada dia menghilangkan nuraninya dengan meminta Zeds pergi padahal dia tidak memiliki tempat tinggal.

Ya, Miya sudah memutuskan. Hari ini dia akan membawa Zeds pulang ke indekosnya.

Sebelumnya Miya selesaikan administrasi di klinik. Dia juga minta diajari cara mengganti perban untuk Zeds nanti.

Lain Miya, lain pula dengan Dhias. Kentara sekali dia tidak menyetujui usul Miya tentang membawa Zeds ke indekos miliknya.

Selagi Miya ke bagian administrasi, Dhias berada di kamar Zeds sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zeds. Seolah ia sedang memindai yang berbaring di kasur ini orang baik atau jahat.

“Hei, kamu nggak merencanakan hal jahat pada Miya, kan?” Dhias menodong dengan pertanyaan yang mengintimidasi.

Zeds tahu itu bukan pertanyaan yang butuh jawaban. Dia tidak harus mengatakan omong kosong untuk membuat dirinya terlihat baik, apalagi di mata Dhias yang lebih kelihatan seperti bodyguard itu.

Dengan tidak menjawab, sama saja mengundang Dhias untuk menggertakan giginya. Lelaki dengan rahang kotak dan urat hijau di pelipis yang bisa muncul ketika emosinya meledak itu, mendekat dan menarik kerah baju Zeds.

Secara teknis, itu bukan baju miliknya, tapi baju milik klinik. Karena baju miliknya basah dan robek di sana-sini.

“Dengar, aku nggak akan diam saja kalau kamu berniat melakukan hal jahat pada Miya,” ancam Dhias. “Aku bisa mengembalikanmu jadi setengah mumi seperti sekarang ini kalau kamu sampai membuat Miya menyesal sudah menyelamatkanmu.”

Wow!

Zeds baru melihat hal menarik ini. Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan setia membela orang lain. Zeds yakin Miya dan Dhias bukan keluarga. Mereka juga tidak ada hubungan khusus. Hanya teman indekos, dia bilang.

Tapi kenapa Dhias sampai repot-repot melakukan ini pada Zeds?

Dhias melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Zeds. Dia rapikan kembali dengan mengelusnya sedikit kasar.

“Pastikan kamu segera pergi dari indekos begitu keadaanmu sudah membaik.”

Desisan itu menjadi pamungkas sebab Miya telah datang ke ruangan itu lagi dan membuat gestur untuk membawa Zeds pergi dari sana.

“Yuk, aku sudah menyiapkan pick up!” ucap Miya kemudian.

Perintah Miya seperti hal yang mudah bagi Dhias. Kalau Zeds jadi Dhias, tentu dia akan berpikir seribu kali ketika mendengar kata ‘tolong angkat,’ terlebih Zeds bukanlah bocah yang bisa diangkat dengan mudah.

Tapi Zeds keliru. Dhias menyanggupi perintah Miya karena memang sekekar itulah dia. Otot bisepnya mencuat. Dada dan perutnya berkotak-kotak seperti roti sobek.

Memang hanya mengangkat sampai ke kursi roda yang dibawa Miya, tapi tetap saja Zeds tidak suka diperlakukan lemah oleh lelaki lain.

Cih!

Setelah itu, Zeds dibawa ke pick up Miya. Duduk di samping kemudi dan berhimpitan berdua dengan Dhias salam satu jok.

Ya, Miya yang mengendarai pick up. Wanita dengan tangan lebih kurus dari Zeds, dengan kaki lebih pendek dari Zeds, dia bisa membawa pick up sampai ke rumah tanpa kesulitan. Wanita itu bahkan bersiul dan bernyanyi lagu yang tidak Zeds tahu.

Wanita tangguh. Tidak seperti wanita kebanyakan yang Zeds kenal.

Zeds tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi. Sudah cukup alasan itu membuatnya lega. Cerita tentang orang tua memang selalu bisa dipercaya menenangkan hatinya yang sedari tadi dikejar ketakutan.

Untuk pertama kalinya Zeds bisa tertidur di jok sebelah kemudi. Guncangan dari kerikil yang terlindas, juga naik turunnya polisi tidur seperti sebuah ayunan nina bobo.

Dan Zeds pun bermimpi ....

Dia bermimpi Barra menodongkan pistol di kepalanya. Dengan sinis dia berkata.

“Jangan salahkan aku kenapa kubunuh wanita yang menolongmu itu. Salahkan dirimu kenapa kamu melibatkannya dalam kehidupanmu.”

Selanjutnya kepala Zeds ditembak dimana Miya telah tak bernyawa di sampingnya.

DOR!

Zeds terhenyak dari mimpinya dan terbangun. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari kalau kejadian tadi hanyalah mimpi. Juga mengontrol napasnya yang tiba-tiba naik turun.

Untungnya Miya tidak melihat yang dilakukan Zeds. Pandangannya fokus ke jalanan di depan sana, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Zeds. Begitupun dengan Dhias yang lebih senang menoleh ke arah jendela.

Sebaliknya dengan Zeds, dia justru langsung menoleh pada Miya karena mengkhawatirkan mimpinya jadi kenyataan.

Zeds sadar, dengan ada dirinya di tempat ini, di rumah Miya. Sama saja dia membahayakan diri Miya. Bagaimana bila Barra tahu, dia tentu akan menghabisi siapa saja yang tahu tentang Zeds yang masih hidup. Salah satunya adalah Miya.

Zeds tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak ingin menjadi petaka untuk orang yang sudah menolongnya dengan tulus.

Maka Zeds berjanji pada dirinya, begitu dia bisa menggerakkan lagi badannya dengan benar. Begitu dia bisa sembuh, Zeds akan pergi dari Miya. Tidak adil baginya kalau mengalami hal bahaya hanya karena dirinya.

Seiring dengan janji di dalam hatinya, pick up Miya membelok pada sebuah jalan yang hanya muat satu mobil saja. Miya memarkirkan di tanah lapang yang menyatu sebagai tempat menjemur pakaian juga. Mereka sudah sampai di indekos Miya.

Miya mematikan mesin. Dia lepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Bersamaan dengan Dhias yang bantu melepaskan sabuk pengaman di dada Zeds juga.

Dhias membuka pintu. Dia membalikkan tubuhnya ke belakang hingga punggungnya saja yang nampak ke hadapan Zeds.

“Ayo naiklah ke punggungku. Kamu bisa menggerakkan badanmu, kan. Atau mau kubopong seperti tuan putri?”

Jelas Zeds tidak ingin pilihan yang kedua itu. Meski dia masih sulit untuk bergerak, tapi dia memaksakan diri agar bisa mencapai punggung Dhias yang lebih lebar darinya itu.

Hup!

Zeds sudah berada di punggung Dhias seperti bocah yang digendong oleh abangnya.

“Pegangan yang kuat!” pesan Dhias sebelum dia melangkahkan kaki ke indekos Miya yang kurang penerangan.

Miya mengekor di belakang sambil mengkhawatirkan Zeds karena cara gendong seperti itu membuat luka di perutnya bergesekan.

Miya bertindak cepat dengan mendahului Dhias yang menggendong Zeds. Dia bukakan pintu kamar di sebelah kamar Dhias yang pintunya ditempeli stiker bola basket yang besar.

“Sebelah sini, Dhias!” perintah Miya lagi sambil menunjuk satu kasur single berkaki kayu.

Zeds diturunkan perlahan. Dia meringis karena punggungnya berbenturan dengan tepi kasur dari kayu jati itu.

Dhias maupun Miya tidak mengindahkan Zeds yang meringis. Sudah dipindahkan ke tempat itu saja sudah bagus. Dhias seperti monster kuat yang bisa mengangkut orang dewasa di punggungnya tanpa merasa kewalahan.

“Jujur saja, sebagai laki-laki kamu ringan sekali,” komentar Dhias pada Zeds yang sedang membuat dirinya nyaman di kasur kayu yang busanya amat tipis.

Zeds memang terbilang kurus daripada lelaki kebanyakan. Dia memang mempelajari beladiri, tapi tidak mempelajari bagaimana membentuk tubuhnya agar lebih berisi. Baru kali ini Zeds merasa terluka harga dirinya karena dibilang ringan oleh lelaki lain.

Pintu kamar itu terbuka, seseorang yang juga penghuni kamar lain mengintip ke dalam kamar dan menyadari suatu hal.

“Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.”

Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 5. Topi Fedora

    Zeds tidak menduga kalau dirinya akan dihabisi di atas yacht hari ini. Keputusan Zeds keliru dengan tidak membawa serta siapa pun di atas yacht miliknya. Pikir Zeds, taman bunga milik ibunya merupakan tempat rahasia dan sakral. Tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zeds untuk tidak membawa satu orang pun di atas yacht miliknya menjadi kesialan yang dia sesali belakangan. Kini dia tak berdaya di tangan suruhan Barra. Lebih parah dari itu, dia terapung di tengah lautan yang jauh dari daratan. Sekali lempar ke lautan saja, mustahil Zeds bisa ditemukan dan diselamatkan. Benar saja, Zeds digusur oleh dua orang dengan tenaga besar. Dilemparkannya tubuh yang nyaris remuk itu ke lautan lepas tidak bertuan. BYUR! Seluruh tubuhnya basah. Air asin masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga. Refleks Zeds menahan napas agar air tidak banyak yang masuk. Zeds tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali tangan yang terangkat ke permukaan air. Di sana, dia b

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 4. Barra Pijaraga

    “Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.” Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu nggak tahu, kan, orang itu baik atau enggak. Bagaimana kalau dia seperti orang yang terakhir kali merampas kalung emasmu setelah tangannya sembuh dari luka pisau.” Ucapan itu tentu ditujukan untuk Miya. Nampaknya sebelum Zeds datang ada beberapa orang lain yang juga diselamatkan oleh Miya, tapi berakhir sial karena orang itu tidak tahu terima kasih. Orang dengan kacamata ini berusaha mengingatkan Miya. Wanita itu memang mudah merasa kasihan. “Zeds enggak akan begitu, kok. Aku yakin dia orang baik.” Miya menimpali. “Itu juga yang kamu ucapkan waktu menolong lelaki yang merampas kalungmu.” Miya kehilangan kata-kata. Dia seperti diingatkan kalau dirinya selalu melakukan kesalahan yang sama. Dan nantinya dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sial. “Jangan khawatir, Radeya. Aku akan meremukan lelaki kurus ini kalau melakukan hal itu pada Miya

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 3. Pegangan yang Kuat

    “Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.” Miya serius dengan tawarannya. Biarlah dia merelakan satu kamar untuk lelaki malang ini. Daripada dia menghilangkan nuraninya dengan meminta Zeds pergi padahal dia tidak memiliki tempat tinggal. Ya, Miya sudah memutuskan. Hari ini dia akan membawa Zeds pulang ke indekosnya. Sebelumnya Miya selesaikan administrasi di klinik. Dia juga minta diajari cara mengganti perban untuk Zeds nanti. Lain Miya, lain pula dengan Dhias. Kentara sekali dia tidak menyetujui usul Miya tentang membawa Zeds ke indekos miliknya. Selagi Miya ke bagian administrasi, Dhias berada di kamar Zeds sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zeds. Seolah ia sedang memindai yang berbaring di kasur ini orang baik atau jahat. “Hei, kamu nggak merencanakan hal jahat pada Miya, kan?” Dhias menodong dengan pertanyaan yang mengintimidasi. Zeds tahu itu bukan pertanyaan yan

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 2. Tanggung Jawab Penuh

    “Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.” Api kemarahan tergambarkan lewat tangan yang terkepal juga urat hijau di pelipis Zeds. Sekarang seluruh dunia hanya tahu kalau Zeds meninggal karena membakar diri di yacht. Dunia tidak akan tahu kenyataan sesungguhnya kalau Barra yang merencanakan pembunuhan itu. Termasuk sandiwara yang sedang dilakukannya di depan televisi itu. “Dengan ini saya mengumumkan, kalau Pijaraga Group akan diambil alih oleh saya sebagai pewaris satu-satunya Daniyal Pijaraga,” umum Barra kemudian. Sial! Itulah yang diinginkan Barra selama ini. Dia merencanakan semua demi bisa mencapai puncak dan memonopoli kekayaan Pijaraga. Zeds yakin Barra tidak tahu kalau dirinya selamat dari maut. Kalaupun Barra tahu dirinya masih hidup dan terdampar di pulau ini, dia pasti akan mengejar Zeds kembali. Dia tidak akan segan membunuh Zeds lagi dengan caranya yang lebih keji. Sekarang Barra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki

  • Pelarian Sang Pewaris   Bab 1. Bedebah Penipu

    Sial! Zeds hampir setengah mati tersapu ombak yang menggulung tubuhnya. Sebenarnya bisa saja Zeds berenang dan menepi dengan aman ke tepi pantai. Hanya saja saat ini badannya penuh luka, hasil bogeman mentah juga benda tumpul dari beberapa orang yang mengeroyoknya. Ajaib, Zeds tidak mati. Dia berhasil mengeluarkan air asin yang membanjir di tenggorokan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan meski terasa berat karena bercampur dengan pasir yang menghalangi. Pikiran Zeds berkelana. Meski dia bisa melewati fase kematian di laut tadi, bukan berarti dia bisa melewati fase di pantai tak bertuan ini. Zeds sudah menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Nihil. Tidak bisa. Berharap seseorang akan datang untuk membantunya pun suatu hal yang mustahil. Kini Zeds hanya berdoa agar dirinya mati saja lebih cepat. Sama seperti apa yang diinginkan Barra. Kakaknya yang menjadi dalang kesialan yang dialami Zeds ini. Bagi Barra, Zeds hanya penghalang. Zeds dianggap sebagai orang bodoh dan lemah

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status