LOGINZeds tidak menduga kalau dirinya akan dihabisi di atas yacht hari ini. Keputusan Zeds keliru dengan tidak membawa serta siapa pun di atas yacht miliknya.
Pikir Zeds, taman bunga milik ibunya merupakan tempat rahasia dan sakral. Tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zeds untuk tidak membawa satu orang pun di atas yacht miliknya menjadi kesialan yang dia sesali belakangan. Kini dia tak berdaya di tangan suruhan Barra. Lebih parah dari itu, dia terapung di tengah lautan yang jauh dari daratan. Sekali lempar ke lautan saja, mustahil Zeds bisa ditemukan dan diselamatkan. Benar saja, Zeds digusur oleh dua orang dengan tenaga besar. Dilemparkannya tubuh yang nyaris remuk itu ke lautan lepas tidak bertuan. BYUR! Seluruh tubuhnya basah. Air asin masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga. Refleks Zeds menahan napas agar air tidak banyak yang masuk. Zeds tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali tangan yang terangkat ke permukaan air. Di sana, dia bisa melihat orang-orang tadi menyiramkan cairan di sekitar yacht. Kemudian yang lainnya melemparkan pematik menyala hingga api melahap cairan tadi. WUSH! Dengan cepat api menjalar ke penjuru yacht. Awan hitam membumbung tinggi seiring dimakannya bagian-bagian yacht oleh api. Orang-orang tadi melompat kembali ke kapal. Sedangkan Zeds yang tidak bisa menahan napas lebih lama lagi, akhirnya kemasukan air hingga tenggorokannya terbenam air dan merasa tercekik. Kapal-kapal itu pergi, bersamaan dengan Zeds yang kehilangan kesadaran ulah air laut yang memenuhi tubuhnya. Zeds melayang di tengah laut lepas. Ajal siap menjemputnya. Mati oleh air yang menyeruak masuk ke tubuhnya, atau dimakan oleh binatang laut yang kelaparan. Beruntung ombak membawa Zeds terapung-apung. Terus menggulung hingga mengantarkannya ke tepi pantai tak bertuan. Tuhan seperti tidak mengizinkan Zeds mati begitu mudah. Dia terkapar di sisi pantai berpasir putih, penuh karang, yang bila ombak membawa tubuhnya pergi akan menyeret dan menimbulkan gesekan yang perih. Lalu dia bertemu dengan Miya. Dan di sinilah dia sekarang. Menjadi setengah mumi dengan lemah tak berdaya. Untuk berjalan saja dia mesti dibantu seseorang. Namun Zeds tidak boleh mengeluh. Masih hidup saja sudah untung. Zeds menyudahi kepalanya untuk berpikir. Entah kenapa itu terasa berdenyut nyeri ketika ingatannya kembali pada wajah menyeringai Barra terproyeksikan jelas di kepala. Serentetan kejadian hari ini membuat Zeds lelah. Bukan hanya fisk, tapi juga mentalnya. Zeds menatap langit-langit ketika mengingat senyum mengerikan itu lagi. Tidak pernah dia sebegitu takut seperti malam ini. Zeds tidak bisa tertidur. Dia terus memikirkan bagaimana kalau Barra tahu dirinya ada di sana. Masih hidup. Bagaimana kalau dia datang ke sana dan membunuh semua yang ada di tempat ini. Zeds sampai berkeringat dingin. Semua perbannya nyaris basah. Menarik napas dan mengembuskannya tidak memberikan efek apa pun. Semalaman itu Zeds menghabiskan waktu dengan ketakutan. Sampai beberapa detik kemudian, dia melihat bayangan ibunya di dekat pintu. Ibunya tersenyum sama seperti yang biasa dia lakukan semasa hidup. “Kamu akan baik-baik saja, Zedias.” Suara menggema itu berasal dari dalam kepala Zeds. Ucapan yang sering dilontarkan ibunya ketika Zeds merasa dirinya pengecut karena tidak bisa melakukan apa pun dengan baik seperti Barra. Ibunya akan mengelusnya dan mengucapkan kalimat dengan lembut. “Kamu nggak harus jadi kakakmu. Cukup jadi Zedias yang Ibu suka.” Ingatan itu berhasil mendominasi pikiran Zeds yang sedari tadi ketakutan. Sekaligus, seperti nina bobo untuk Zeds yang tidak bisa tidur. Perlahan, dengan mengingat sosok ibunya dalam kepala. Zeds bisa memejamkan mata. Dia bisa tertidur meski hari sudah berganti menjadi pagi buta. Pagi-pagi sekali Zeds tertidur. *** Sudah beberapa hari Zeds berada di indekos Miya. Sebuah bangunan bobrok yang memiliki empat kamar berjejer, satu kamar lainnya berseberangan. Itulah tempat dimana Miya tinggal, sebagai ibu kos yang cukup belia di pulau yang tidak dikenali ini. Zeds juga mendapat perawatan yang baik dari Miya. Tidak seahli dokter atau perawat pribadinya, tapi perhatian Miya patut diacungi jempol. Pelan-pelan luka Zeds membaik. Dia juga mulai bisa menggerakkan badannya seperti sedia kala. Zeds bisa ingat kalau sekarang hari minggu. Pagi itu terdengar keributan di luar kamar. Suara Radeya dan Dhias bersahutan dengan teriakan yang lantang. Hal itu membuat Zeds mengangkat tubuhnya dan berjalan ke luar kamar untuk menyadari apa yang terjadi, sebab tidak biasanya dua orang itu saling berteriak di sekitar indekos. Ralat, pernah sesekali, tapi tidak sampai kekencang teriakan pagi ini. “Berapa kali harus kubilang, jangan main bola basket di kamar. Suara bolanya mengganggu waktu istirahatku, tahu!” teriak Radeya mendominasi. “Aku cuma men-dribble beberapa kali ke lantai, dan itu sangat pelan. Salahmu sendiri punya telinga super peka,” balas Dhias tidak mau kalah. “Bukan telingaku yang peka, tapi dinding kamar ini yang terlalu tipis. Kamu pura-pura lupa kalau indekos bobrok ini bisa saja ambruk kalau kamu lempar bolamu lagi ke dinding.” “Ya sudah, pindah sana. Dengan gajimu sebagai honorer, kamu bisa dapat indekos lebih layak dari indekosnya Miya, kan?” “Cih, kenapa kamu jadi mengusirku? Kamu pikir mudah dapat indekos yang murah seperti di sini?” “Makanya jangan kebanyakan protes, dong!” Zeds menatap pertengkaran mereka dari kejauhan. Sedikitnya dia bisa menangkap apa yang menjadi keributan dua penyewa indekos itu. Namun bukan pertengkaran mereka yang membuat Zeds miris, tapi Miya yang diam-diam mendengarkan juga dari kamar miliknya yang terletak di seberang kamar Dhias dan Radeya yang sedang beradu mulut. Dua lelaki itu berteriak mengenai indekos Miya. Menghina dengan cara masing-masing. Zeds paham benar bagaimana perasaan Miya. Juga mengerti alasan wanita itu memilih untuk tidak keluar melerai lelaki yang bertengkar itu. Untung saja, tanpa dilerai kedua lelaki itu mundur teratur dan menyudahi adu mulut mereka. Tentu saja ada adegan melempar bola Dhias ke lapang luas sebelumnya. Dhias berlari mengambil bola, dan Radeya kembali ke kamarnya sambil menutup pintu dengan keras. Berdebam. BAM! Sungguh miris. Disaat Zeds memiliki rumah mewah dengan banyak kamar yang nyaman, di sini, di tempat ini, justru ada orang yang rela tidur di kamar sempit karena minimnya uang sewa. Seandainya Zeds diperbolehkan kembali ke rumahnya, dia akan ambil uang dari ATM miliknya. Akan dia beri pada Miya sebagai ganti dirinya sudah diselamatkan. Sekaligus biaya untuk merenovasi indekos ini, sebab bangunan ini sudah terlalu usang dan tak layak huni. Namun dia bisa apa. Untuk kembali ke rumahnya sangat riskan. Sama saja dia cari mati dengan menampakan diri di lingkungannya lagi. Sementara itu, beberapa meter di sana, ada seorang lelaki tua yang memerhatikan Zeds dari kejauhan. Dia melepaskan topi fedora miliknya dan menaruhnya depan dada. Dia bergumam dengan mata yang terbelalak seperti akan jatuh ke tanah. “Aden?” ***Zeds tidak menduga kalau dirinya akan dihabisi di atas yacht hari ini. Keputusan Zeds keliru dengan tidak membawa serta siapa pun di atas yacht miliknya. Pikir Zeds, taman bunga milik ibunya merupakan tempat rahasia dan sakral. Tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya. Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan Zeds untuk tidak membawa satu orang pun di atas yacht miliknya menjadi kesialan yang dia sesali belakangan. Kini dia tak berdaya di tangan suruhan Barra. Lebih parah dari itu, dia terapung di tengah lautan yang jauh dari daratan. Sekali lempar ke lautan saja, mustahil Zeds bisa ditemukan dan diselamatkan. Benar saja, Zeds digusur oleh dua orang dengan tenaga besar. Dilemparkannya tubuh yang nyaris remuk itu ke lautan lepas tidak bertuan. BYUR! Seluruh tubuhnya basah. Air asin masuk ke rongga hidung, mulut dan telinga. Refleks Zeds menahan napas agar air tidak banyak yang masuk. Zeds tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kecuali tangan yang terangkat ke permukaan air. Di sana, dia b
“Lagi-lagi kamu menolong seseorang karena kasihan.” Orang itu bicara dengan dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu nggak tahu, kan, orang itu baik atau enggak. Bagaimana kalau dia seperti orang yang terakhir kali merampas kalung emasmu setelah tangannya sembuh dari luka pisau.” Ucapan itu tentu ditujukan untuk Miya. Nampaknya sebelum Zeds datang ada beberapa orang lain yang juga diselamatkan oleh Miya, tapi berakhir sial karena orang itu tidak tahu terima kasih. Orang dengan kacamata ini berusaha mengingatkan Miya. Wanita itu memang mudah merasa kasihan. “Zeds enggak akan begitu, kok. Aku yakin dia orang baik.” Miya menimpali. “Itu juga yang kamu ucapkan waktu menolong lelaki yang merampas kalungmu.” Miya kehilangan kata-kata. Dia seperti diingatkan kalau dirinya selalu melakukan kesalahan yang sama. Dan nantinya dia hanya bisa meratapi nasibnya yang sial. “Jangan khawatir, Radeya. Aku akan meremukan lelaki kurus ini kalau melakukan hal itu pada Miya
“Jadi ..., untuk sementara sampai keadaan membaik kamu boleh tinggal di indekosku. Di sebelah kamar Dhias.” Miya serius dengan tawarannya. Biarlah dia merelakan satu kamar untuk lelaki malang ini. Daripada dia menghilangkan nuraninya dengan meminta Zeds pergi padahal dia tidak memiliki tempat tinggal. Ya, Miya sudah memutuskan. Hari ini dia akan membawa Zeds pulang ke indekosnya. Sebelumnya Miya selesaikan administrasi di klinik. Dia juga minta diajari cara mengganti perban untuk Zeds nanti. Lain Miya, lain pula dengan Dhias. Kentara sekali dia tidak menyetujui usul Miya tentang membawa Zeds ke indekos miliknya. Selagi Miya ke bagian administrasi, Dhias berada di kamar Zeds sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tatapannya tidak lepas dari wajah Zeds. Seolah ia sedang memindai yang berbaring di kasur ini orang baik atau jahat. “Hei, kamu nggak merencanakan hal jahat pada Miya, kan?” Dhias menodong dengan pertanyaan yang mengintimidasi. Zeds tahu itu bukan pertanyaan yan
“Bedebah, kamu yang berusaha membunuhku. Kamu sudah merencanakan ini sejak awal.” Api kemarahan tergambarkan lewat tangan yang terkepal juga urat hijau di pelipis Zeds. Sekarang seluruh dunia hanya tahu kalau Zeds meninggal karena membakar diri di yacht. Dunia tidak akan tahu kenyataan sesungguhnya kalau Barra yang merencanakan pembunuhan itu. Termasuk sandiwara yang sedang dilakukannya di depan televisi itu. “Dengan ini saya mengumumkan, kalau Pijaraga Group akan diambil alih oleh saya sebagai pewaris satu-satunya Daniyal Pijaraga,” umum Barra kemudian. Sial! Itulah yang diinginkan Barra selama ini. Dia merencanakan semua demi bisa mencapai puncak dan memonopoli kekayaan Pijaraga. Zeds yakin Barra tidak tahu kalau dirinya selamat dari maut. Kalaupun Barra tahu dirinya masih hidup dan terdampar di pulau ini, dia pasti akan mengejar Zeds kembali. Dia tidak akan segan membunuh Zeds lagi dengan caranya yang lebih keji. Sekarang Barra sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki
Sial! Zeds hampir setengah mati tersapu ombak yang menggulung tubuhnya. Sebenarnya bisa saja Zeds berenang dan menepi dengan aman ke tepi pantai. Hanya saja saat ini badannya penuh luka, hasil bogeman mentah juga benda tumpul dari beberapa orang yang mengeroyoknya. Ajaib, Zeds tidak mati. Dia berhasil mengeluarkan air asin yang membanjir di tenggorokan. Kelopak matanya juga terbuka perlahan meski terasa berat karena bercampur dengan pasir yang menghalangi. Pikiran Zeds berkelana. Meski dia bisa melewati fase kematian di laut tadi, bukan berarti dia bisa melewati fase di pantai tak bertuan ini. Zeds sudah menyerah untuk mencoba menggerakkan tubuhnya. Nihil. Tidak bisa. Berharap seseorang akan datang untuk membantunya pun suatu hal yang mustahil. Kini Zeds hanya berdoa agar dirinya mati saja lebih cepat. Sama seperti apa yang diinginkan Barra. Kakaknya yang menjadi dalang kesialan yang dialami Zeds ini. Bagi Barra, Zeds hanya penghalang. Zeds dianggap sebagai orang bodoh dan lemah







