Share

14. Pelayan Khusus

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 23:42:18

Pintu rumah terbuka dengan bunyi yang cukup keras untuk membuat Diana yang baru saja keluar dari ruang kerja Daniel menghentikan langkahnya.

Wanita paruh baya itu sudah duduk di sofa ruang tengah, tas mahalnya diletakkan di samping, dan punggungnya tegak dengan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan.

Alis Manda terangkat saat melihat Diana.

“Siapa kamu?” tanyanya dingin, suaranya tegas tanpa basa-basi.

Diana terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak oleh tatapan tajam wanita itu.

Ia tidak tahu siapa yang berdiri tak jauh darinya, namun ada sesuatu dari sorot mata dan sikapnya yang membuat Diana refleks menegakkan tubuh.

“S-selamat siang,” sapa Diana akhirnya lalu menelan salivanya. “Saya Diana. Saya pelayan baru di rumah ini, Nyonya,” jawabnya dengan gugup.

Manda menyipitkan mata. “Pelayan? Sejak kapan kamu bekerja di rumah ini?” tanyanya dengan suara datarnya.

“Iya, Nyonya,” jawab Diana cepat, berusaha tetap sopan. “Sejak dua hari yang lalu, Nyonya.”

“Kalau begitu,” kata Manda, nada
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   34. Sebagai Ganti Semalam

    Pagi itu udara di lorong lantai satu mansion terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau pucat di lantai marmer yang mengilap.Diana membuka pintu kamarnya perlahan, masih dengan rambut yang tergerai dan wajah lelah akibat tidur yang tak nyenyak semalaman.Dia berniat menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa sebagai rutinitas yang selama ini membantunya menenangkan pikiran.Namun langkahnya terhenti seketika.Tepat di depan pintu kamarnya, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan sorot mata yang sulit ditebak.Jas rumah berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, meski raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang sama pekatnya dengan malam yang baru saja berlalu.“Tu-Tuan Daniel?” Diana spontan menyebut nama itu dengan nada suara yang terdengar lebih pelan dari yang ia kira.Kepalanya sontak menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong itu memang sepi, hanya suara jam dinding di kejauhan yang berdetak teratur.Tidak a

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   33. Sudah Punya Penggantinya

    Malam merambat perlahan di rumah itu. Jam dinding di lorong utama berdetak pelan, jarumnya tepat menunjuk angka sepuluh ketika Diana berdiri di depan pintu kamar Daniel.Seperti malam-malam sebelumnya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan, lalu masuk setelah tak mendengar jawaban apa pun.Lampu kamar menyala redup. Aroma alkohol langsung menyergap inderanya dan membuat Diana refleks mengerutkan kening.Pandangannya tertuju pada sosok Daniel yang duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu pada paha, kepala tertunduk dalam diam yang berat.“Tuan Daniel?” panggil Diana pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan kamar. “Saya sudah di sini.”Daniel tidak langsung merespons. Dia tetap diam, seolah tidak menyadari kehadiran Diana. Detik-detik berlalu dan membuat dada Diana terasa semakin sesak.Dia lalu melangkah mendekat dengan hati-hati sembari memperhatikan botol minuman yang tergeletak di lantai yang sudah kosong.Baru ketika Diana berdir

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   32. Melarangnya Bertemu Lagi

    “Tidak ada yang perlu dibicarakan,” ucap Daniel dengan nada terdengar rendah, datar, namun mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. “Aku tidak akan membiarkan Diana resign dari rumahku.”Kalimat itu jatuh begitu saja bahkan tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk membantah. Andra yang berdiri di hadapan mereka tampak hendak membuka mulut, namun Daniel sudah lebih dulu melangkah maju.Tangannya meraih pergelangan Diana dengan kuat meski tidak kasar, namun cukup tegas untuk menunjukkan bahwa keputusan itu mutlak.“Daniel!” Andra mencoba memanggil pria itu.Namun Daniel sama sekali tidak menoleh. Dia hanya menarik Diana bersamanya, melangkah cepat menuju mobil mewah yang terparkir tak jauh dari taman.Langkah Diana tertatih, nyaris terseret. Jantungnya berdentum keras, kepalanya penuh, sementara tubuhnya seolah kehilangan kendali.“Daniel, tunggu! Kita belum selesai bicara!” teriak Andra kembali terdengar dan kali ini lebih keras.Daniel berhenti sesaat te

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   31. Ikut Denganku saja

    “A-apa?” Mata Diana sontak membola mendengarnya.Wajahnya memucat seketika, seolah kata-kata Andra baru saja menghantam kesadarannya tanpa ampun. “Sepupu Mas Andra?” ucapnya lirih bahkan nyaris tak percaya.“Iya,” jawab Andra di seberang sana.Suaranya terdengar tenang, namun terselip keheranan yang sama. “Aku pun tidak menyangka kalau kamu kerja di sana. Kalau aku nggak tanya ke Mira, mungkin aku nggak akan tahu kalau kamu sekarang kerja di rumah Daniel.”Diana terdiam. Tangannya yang memegang ponsel bergetar halus. Nama Kiara yang tiba-tiba muncul dalam percakapan ini terasa seperti benang kusut yang mendadak ditarik terlalu keras.Dia lalu menelan salivanya perlahan karena tenggorokannya terasa kering, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Kiara adalah sepupu Andra.Diana memejamkan mata beberapa detik, mencoba menyusun ulang pikirannya.Dia tidak pernah tahu apa pun tentang latar belakang Kiara selain fakta bahwa wanita itu a

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   30. Kiara adalah Sepupuku

    Diana nyaris menjatuhkan kain lap yang masih digenggamnya ketika langkah kaki itu terdengar di ambang ruang makan.Tubuhnya refleks menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat saat sosok yang dikenalnya muncul dari balik pintu.“Mas Lino sejak kapan ada di sini?” tanya Diana dengan suara sedikit meninggi, matanya membulat menahan keterkejutan yang belum sepenuhnya reda.Lino yang baru saja berdiri di dekat meja makan menoleh santai. Wajahnya tampak biasa saja, seolah kehadirannya di sana bukan hal yang mengejutkan sama sekali. Sementara Diana, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.“Kata Mbak Angela, Mas Lino sama Mbak Sari mau ke pasar?” ucap Diana lagi, dan kali ini nadanya lebih pelan, namun tetap menyiratkan kegugupan yang sulit dia sembunyikan.“Iya,” jawab Lino ringan.Dia lalu meraih sebuah apel dari mangkuk buah di atas meja makan, lalu menggosok permukaannya dengan ujung kausnya. “Baru mau berangkat. Sopirnya tadi habis cuci mobil dulu,” ucapnya menjelaskan.Lino menggigit ap

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   29. Itu pun Atas Perintahnya

    Diana melangkah keluar dari kamar dengan langkah hati-hati, seolah lantai marmer yang dingin itu bisa berderit dan mengkhianati kegelisahannya.Pintu kamar Daniel telah tertutup rapi di belakangnya, namun bayangan percakapan pagi tadi masih membekas jelas di benaknya. Dadanya terasa sesak, napasnya belum sepenuhnya kembali teratur.Begitu dia berbelok ke lorong utama, langkahnya terhenti.Angela berdiri tak jauh darinya.Wanita itu tengah membawa keranjang berisi seprai bersih, namun langkahnya terhenti tepat ketika pandangannya jatuh pada Diana yang keluar dari kamar Daniel.Alis Angela langsung mengerut, kerutan di dahinya tampak jelas, penuh tanda tanya yang tak perlu diucapkan.“Diana? Apa yang kamu lakukan di kamar Tuan Daniel?” tanyanya ingin tahu.Diana refleks menegang. Tenggorokannya terasa kering. Dia lalu menelan salivanya dengan susah payah sebelum akhirnya memaksakan suara keluar dari bibirnya.“S-saya baru saja merapikan tempat tidur Tuan Daniel, Mbak,” ucap Diana cepat,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status