Home / Romansa / Pelayan Cantik Milik Tuan Muda / 18. Kamu hanya Pemuas Nafsunya

Share

18. Kamu hanya Pemuas Nafsunya

Author: CeliiCaaca
last update Huling Na-update: 2025-12-21 23:06:48
Pukul delapan pagi.

Diana membuka matanya perlahan, disambut cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai. Kepalanya masih terasa berat, seperti ada denyut tumpul yang menetap di pelipis.

Ia mengerjap beberapa kali, lalu menghela napas panjang sebelum menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang.

"Ssst. Kepalaku berat sekali," keluhnya dengan suara seraknya.

Saat kesadarannya mulai utuh, jantungnya mendadak berdegup kencang.

Ini bukan kamarnya.

Diana menoleh cepat ke kanan, lalu ke kiri. Seprai berwarna gelap, aroma maskulin yang begitu khas, lemari besar dengan pintu kaca, semuanya terlalu familiar, namun bukan miliknya. Matanya membola. Ia masih berada di kamar Daniel.

“Ya Tuhan …,” gumamnya pelan.

Ia langsung beranjak duduk lebih tegak dan kedua kakinya turun dari ranjang. Tangan Diana meremas rambutnya sendiri, frustasi. Ia memaki dirinya dalam hati.

Bodoh. Ceroboh. Bagaimana bisa ia tertidur di kamar tuannya? Bagaimana jika ada yang melihat? Bagaimana jika ini menimbulkan masal
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   36. Kamu Mulai Suka padanya?

    Diana menelan salivanya dengan susah payah begitu melihat Sari di hadapannya. Tenggorokannya terasa kering ketika ia menatap Sari yang berdiri tepat di depan pintu ruang kerja Daniel yang tertutup rapat.Tatapan Sari tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat Diana merasa terintimidasi, sebuah tatapan penuh selidik khas seseorang yang sudah lama bekerja di rumah itu dan mengenal setiap sudut serta rahasianya.“Sa-saya …,” suara Diana sempat terhenti. Bibirnya mengatup kembali, sementara otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar wajar dan tidak mencurigakan.Jantungnya berdetak kencang, seolah takut kebohongan kecil yang akan ia ucapkan terdengar terlalu rapuh.Beberapa detik kemudian, Diana akhirnya memberanikan diri melanjutkan. “Saya diminta membersihkan lemari buku,” ujarnya pelan. “Atas perintah Tuan Daniel, Mbak.”Sari mengerutkan keningnya. Kedua alisnya terangkat, lalu matanya melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Daniel.Ada jeda singkat sebelum ia kembali menatap

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   35. Kepergok Pelayan Lain

    “Ma-maksud Tuan, di sini?” tanya Diana bahkan nada suaranya terdengar gagap.Daniel mengangguk sembari beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Diana yang berdiri kaku di hadapannya.“Ya. Kenapa? Kamu mau menolakku? Kamu pikir kamu bisa menolakku, hm?” bisik Daniel dengan nada seraknya.Diana menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Tidak, Tuan.”“Kalau begitu, buka bajumu sekarang juga.”Diana menelan ludahnya lalu menoleh ke arah pintu ruangan itu. “Bukankan sebaiknya dikunci dulu pintunya, Tuan? Saya takut ada orang yang datang.”Daniel menghela napas kasar. “Silakan.”Diana dengan cepat melangkah menuju pintu lalu dengan tangan gemetar dia mengunci pintu tersebut. Memejamkan matanya sejenak untuk menyiapkan mentalnya melayani Daniel di pagi hari ini.Diana kembali melangkah menghampiri Daniel yang kini sudah duduk di sofa dengan tangan menyender di bahu sofa yang dia duduki.Sorot mata yang gelap itu menatap Diana tanpa suara. Diana lantas membuka satu persatu kancing seragam pel

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   34. Sebagai Ganti Semalam

    Pagi itu udara di lorong lantai satu mansion terasa lebih dingin dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau pucat di lantai marmer yang mengilap.Diana membuka pintu kamarnya perlahan, masih dengan rambut yang tergerai dan wajah lelah akibat tidur yang tak nyenyak semalaman.Dia berniat menuju dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa sebagai rutinitas yang selama ini membantunya menenangkan pikiran.Namun langkahnya terhenti seketika.Tepat di depan pintu kamarnya, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan sorot mata yang sulit ditebak.Jas rumah berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya, meski raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang sama pekatnya dengan malam yang baru saja berlalu.“Tu-Tuan Daniel?” Diana spontan menyebut nama itu dengan nada suara yang terdengar lebih pelan dari yang ia kira.Kepalanya sontak menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong itu memang sepi, hanya suara jam dinding di kejauhan yang berdetak teratur.Tidak a

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   33. Sudah Punya Penggantinya

    Malam merambat perlahan di rumah itu. Jam dinding di lorong utama berdetak pelan, jarumnya tepat menunjuk angka sepuluh ketika Diana berdiri di depan pintu kamar Daniel.Seperti malam-malam sebelumnya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pelan, lalu masuk setelah tak mendengar jawaban apa pun.Lampu kamar menyala redup. Aroma alkohol langsung menyergap inderanya dan membuat Diana refleks mengerutkan kening.Pandangannya tertuju pada sosok Daniel yang duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, siku bertumpu pada paha, kepala tertunduk dalam diam yang berat.“Tuan Daniel?” panggil Diana pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan kamar. “Saya sudah di sini.”Daniel tidak langsung merespons. Dia tetap diam, seolah tidak menyadari kehadiran Diana. Detik-detik berlalu dan membuat dada Diana terasa semakin sesak.Dia lalu melangkah mendekat dengan hati-hati sembari memperhatikan botol minuman yang tergeletak di lantai yang sudah kosong.Baru ketika Diana berdir

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   32. Melarangnya Bertemu Lagi

    “Tidak ada yang perlu dibicarakan,” ucap Daniel dengan nada terdengar rendah, datar, namun mengandung tekanan yang membuat udara di sekitar mereka seolah membeku. “Aku tidak akan membiarkan Diana resign dari rumahku.”Kalimat itu jatuh begitu saja bahkan tanpa memberi ruang bagi siapa pun untuk membantah. Andra yang berdiri di hadapan mereka tampak hendak membuka mulut, namun Daniel sudah lebih dulu melangkah maju.Tangannya meraih pergelangan Diana dengan kuat meski tidak kasar, namun cukup tegas untuk menunjukkan bahwa keputusan itu mutlak.“Daniel!” Andra mencoba memanggil pria itu.Namun Daniel sama sekali tidak menoleh. Dia hanya menarik Diana bersamanya, melangkah cepat menuju mobil mewah yang terparkir tak jauh dari taman.Langkah Diana tertatih, nyaris terseret. Jantungnya berdentum keras, kepalanya penuh, sementara tubuhnya seolah kehilangan kendali.“Daniel, tunggu! Kita belum selesai bicara!” teriak Andra kembali terdengar dan kali ini lebih keras.Daniel berhenti sesaat te

  • Pelayan Cantik Milik Tuan Muda   31. Ikut Denganku saja

    “A-apa?” Mata Diana sontak membola mendengarnya.Wajahnya memucat seketika, seolah kata-kata Andra baru saja menghantam kesadarannya tanpa ampun. “Sepupu Mas Andra?” ucapnya lirih bahkan nyaris tak percaya.“Iya,” jawab Andra di seberang sana.Suaranya terdengar tenang, namun terselip keheranan yang sama. “Aku pun tidak menyangka kalau kamu kerja di sana. Kalau aku nggak tanya ke Mira, mungkin aku nggak akan tahu kalau kamu sekarang kerja di rumah Daniel.”Diana terdiam. Tangannya yang memegang ponsel bergetar halus. Nama Kiara yang tiba-tiba muncul dalam percakapan ini terasa seperti benang kusut yang mendadak ditarik terlalu keras.Dia lalu menelan salivanya perlahan karena tenggorokannya terasa kering, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.Kiara adalah sepupu Andra.Diana memejamkan mata beberapa detik, mencoba menyusun ulang pikirannya.Dia tidak pernah tahu apa pun tentang latar belakang Kiara selain fakta bahwa wanita itu a

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status