LOGIN"Ehmm, Mas Pram... aku kesepian banget di rumah. Ibu udah berangkat pagi-pagi, terus si Bunga sama Intan juga udah ngampus bawa mobil sendiri-sendiri," bisik Dara dengan suara yang berat dan penuh tekanan, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Pram.
Pram menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak liar."Emangnya kamu nggak ada kegiatan lain, Ra? Bukannya kapan hari kamu sibuk banget nyiapin rencana butik baru itu? Kok malah kelihatan nyanta"Ohhh ituuu... tadi Mas Pram lagi ngajarin Ibu senam kebugaran di dalem, biar otot-otot kaki Ibu cepet pulih dan nggak kaku lagi," sahut Sisil cepat dengan nada bicara yang dibuat sealami mungkin, meski napasnya masih sedikit tersisa jejak gairah yang baru saja padam."Iya, Bu Sisil semangat banget pengen cepet sembuh. Makanya tadi latihannya agak ngoyo, kami jadi kayak abis angkut beras di pasar gini keringetnya. Sampe lepek semua baju," imbuh Pram sembari mengusap lehernya yang basah dengan punggung tangan, mencoba menutupi rasa gugup yang sempat menyelinap.Intan yang tadinya menatap penuh selidik akhirnya melunakkan pandangannya. "Walah, pantesan aja keringetan begitu. Kirain ada apa. Semoga Ibu cepet pulih ya, biar bisa jalan-jalan lagi sama kami," kata Intan lembut sembari tersenyum lebar, tidak menyadari bahwa senam yang dilakukan ibunya jauh lebih panas daripada sekadar olah raga biasa.Mereka bertiga pun segera melangkah masuk ke arah dapur untuk meletakkan berbagai kantong p
Pram mendorong daster rumahan Sisil lebih ke atas, melewati dadanya yang membusung hingga kain itu berhenti dan menumpuk di sekitar leher. Kini terlihat jelas sepasang semangka yang terbuka sepenuhnya karena Sisil memang sedang tidak memakai penyangga dada. Kulitnya yang putih nampak kontras dengan area puncak yang memerah akibat gairah yang memuncak."Udah kembali berisi, Bu. Pas di rumah sakit itu Bu Sisil kelihatan kurus banget, saya sampai sedih liatnya. Hmmm," bisik Pram sembari mengagumi keindahan tubuh nyonya majikannya yang mulai pulih.Pram menunduk dan melumat salah satu gunung itu dengan rakus, sementara tangannya yang lain meremas sisi satunya lagi. Di bawah sana, pahanya masih terus menghentak, memberikan guncangan-guncangan bertenaga yang membuat tubuh Sisil bergetar hebat di atas kasur."Ohhhhh Masss... shhhh... hmmm. Ahhhh terusss! Jangan berhenti!" Sisil mendesah menggila, merasakan dua sensasi nikmat sekaligus di bagian atas dan bawah. Ia merasakan lidah Pram yan
"Sini Mas, jangan jauh-jauh," bisik Sisil dengan nada yang sangat haus, tangannya yang lentik segera menarik tengkuk Pram dengan bertenaga hingga bibir mereka kembali bertemu dalam pagutan yang jauh lebih dalam.Sisil nampaknya benar-benar seperti tak ada bosannya berpagut dengan Pram. Lidahnya bergerak lincah, menyapu setiap sudut rongga mulut Pram dengan ritme yang cepat. Suara kecipak basah dari lidah yang saling membelit memenuhi kesunyian kamar yang pengap itu. Tangan Pram tidak tinggal diam. Ia mulai meraba area bukit barisan Sisil yang menonjol di balik daster tipisnya. Ia meremas gumpalan semangka itu dengan lembut namun bertenaga, merasakan tekstur kenyal yang sangat padat membal di telapak tangannya."Hmmmm!" lenguh Sisil tertahan di tengah ciuman mereka. Ia melengkungkan punggungnya, membiarkan dadanya semakin tertekan ke tangan Pram yang kini mulai memilin bagian ujung yang mengeras di balik daster.Pram perlahan melepaskan ciumannya, beralih memberikan kecupan-kecupa
Usai Pram mandi dan berganti pakaian bersih, keadaan di ruang tengah sudah nampak lengang. Hanya ada suara deru kipas angin tua yang berputar lambat. Pram mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sembari melangkah mencari keberadaan penghuni lainnya."Lho Bu, ke mana semuanya? Kok sepi banget, pada tidur lagi?" tanya Pram saat mendapati Sisil sedang duduk sendirian di kursi ruang tengah sembari menyesap teh hangat."Mereka bertiga tadi bawa mobilmu, Mas. Nganter Bi Surti ke pasar sore buat belanja kebutuhan dapur sekalian beli barang-barang kebutuhan wanita. Maaf ya, tadi aku nggak ijin dulu pas mereka bawa mobilnya, soalnya kamu masih di kamar mandi," jawab Sisil sembari meletakkan cangkirnya."Oh, iya, nggak apa-apa Bu. Kayak sama siapa aja?! Saya kan cuma pelayan, Bu. Nggak pantes kalau harus dimintain ijin segala buat urusan keluarga," kata Pram rendah hati, meski dalam hati ia merasa senang dihargai seperti itu.Sisil menggeleng pelan, menatap Pram dengan binar mata yang penu
"Kamu inget kan, Tar, pas aku buru-buru balik ke rumah Bu Sisil soalnya ponsel dia sama tiga anaknya mendadak nggak aktif semua?" tanya Pram sembari menyandarkan bahunya di tembok minimarket, mengamati kepulan asap rokoknya yang tertiup angin sore."Iya, Mas. Itu kan aku juga yang maksain kamu biar buruan berangkat karena perasaanku nggak enak. Emang kenapa, Mas? Ada hubungannya sama masalah yang kamu maksud?" sahut Tari di seberang telepon, nadanya terdengar sangat cemas.Pram menarik napas dalam, membuangnya perlahan sebelum memberikan kabar pahit itu. "Bu Sisil sakit, Tar. Beliau lumpuh!""Apaa?! Tante Sisil yang tadinya seger bugar dan anggun gitu sekarang lumpuh? Kok bisa, Mas?! Nggak mungkin!" pekik Tari, suaranya terdengar pecah seolah hampir menangis mendengar kondisi tantenya yang ia sayangi."Tenang dulu, Tar. Aku belum kelar ceritanya. Dengerin dulu pelan-pelan," potong Pram berusaha menenangkan emosi gadis itu agar tidak meledak di telepon."I-iya, Mas. Maaf. Terus gimana
Tari, keponakan Sisil yang kini sudah menjadi salah satu wanitanya itu tentu akan ia sembunyikan agar tidak diketahui oleh keluarga Sisil."Aku angkat telepon dulu ya. Kayaknya penting," ucap Pram singkat sembari berjalan menjauh ke pojokan teras belakang yang lebih sepi."Siapa, Mas? Kok mukamu langsung berubah gitu?" tanya Dara penasaran, namun Pram sudah lebih dulu menempelkan ponselnya ke telinga."Halo, Bu. Saya sedang dengan dua majikan saya, Dara dan Intan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Pram dengan nada bicara yang sangat formal dan kaku, seolah-olah ia sedang berbicara dengan klien penting atau orang asing yang sangat ia hormati."Eh, ada Kak Dara sama Kak Intan ya? Ya udah Mas, nanti aja aku telepon lagi kalau kamu lagi sendiri. Tapi kamu baik-baik aja kan di sana? Nggak sakit?" suara Tari di seberang telepon terdengar melembut."Saya baik-baik saja, Bu. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Pram singkat sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut dengan cepat. Ia meng
"Aduh Sar, maaf banget... tapi barusan majikanku telepon, ada hal penting banget yang harus diselesaikan di kota secepatnya," ucap Pram dengan nada tergagap, wajahnya yang tadi penuh gairah mendadak berubah tegang.Sarah yang baru saja menjatuhkan handuknya hingga memperlihatkan sepasang timun suri
"Wah, walaupun villanya kecil, tapi nyaman banget ya, Mas. Udaranya sejuk, pas banget buat kita yang lagi butuh pelarian dari hiruk pikuk kota," ucap Sarah sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan angin pegunungan menyapu wajah cantiknya yang khas Timur Tengah.Pram mengangguk se
Tangan Sarah dengan lihai memandu ujung mercusuar Pram kembali ke pintu kawah gelapnya yang masih berdenyut sisa ronde pertama.“Gilaaa, punyamu beneran bikin aku ngefly, Masss!“Sarah mengerang sangat kuat, suaranya melengking memenuhi kamar vila yang sejuk itu saat pedang pusaka Pram kembali meny
Pram tersenyum lebar. "Tenang aja, Sar, aku nggak ada yang marahin kalau jalan bareng wanita secantik kamu. Aman jaya pokoknya.""Yeay! Seru nih! Ya udah, ayo kita berangkat sekarang biar nggak kesiangan di jalan," seru Sarah dengan nada riang. Ia segera bangkit dari ranjang empuknya dan meraih se