เข้าสู่ระบบ"Aduh, jangan, Bu. Bahaya banget kalau main di sini. Nanti kalau tiba-tiba Dara atau yang lainnya masuk dapur gimana? Bisa kena serangan jantung mereka," ucap Pram sambil buru-buru menjauh dari jangkauan tangan Sisil yang sudah mulai liar membuka kancing kemejanya.
Sisil nampak mengerucutkan bibirnya, ia melangkah maju lagi hingga tubuhnya semakin menempel pada Pram. "Justru itu serunya, Mas Pram. Semakin menegangkan itu bakal semakin asyik. Kamu nggak pengen apa ngerasain sensasi teSatu buah ubin keramik berukuran tiga puluh sentimeter persegi akhirnya berhasil terlepas sepenuhnya dari lantai, menyisakan gumpalan semen kering yang hancur berantakan menjadi serpihan debu di sekitarnya.“Hati-hati, Mas Pram. Pelan-pelan aja, takutnya nanti malah merusak sesuatu yang ada di bawahnya,” bisik Bunga dengan nada suara yang teramat lembut namun sarat akan rasa cemas yang mendalam, ia sedikit membungkukkan tubuhnya hingga gundukan granat tangan di balik kaosnya nampak bergoyang menggoda tepat di samping kepala Pram.Pram tidak menyahut, fokusnya sudah terkunci ke bawah lantai. Ia kembali memasukkan ujung linggis besi itu ke celah keramik di sebelahnya, lalu mencongkelnya lagi dengan sekali hentakan kuat. Ia mengulangi proses bertenaga itu berkali-kali hingga akhirnya ada empat buah ubin keramik yang berhasil terlepas seluruhnya dari lantai ruangan, menciptakan sebuah lubang berbentuk kotak persegi yang cukup besar di bawah kolong meja makan tersebut.Pram melonggo deng
Pram menyandarkan punggungnya di pintu lemari, memijat keningnya yang mulai terasa pening karena teka-teki ini seolah sengaja mempermainkan logikanya. Sendok tua dan prangko. Dua benda itu selalu muncul bersamaan di dua tempat berbeda, yaitu di gudang Sisil dan di lemari peninggalan orang tuanya sendiri. Keterkaitan ini pasti bukan sebuah kebetulan belaka. Pasti ada maksud tersembunyi yang ingin disampaikan melalui simbol-simbol remeh ini.Bunga yang mendengar suara gaduh dari dalam kamar segera berdiri dari kursi kayu dan melangkah mendekati ambang pintu kamar dengan raut wajah yang dipenuhi rasa khawatir. Kaos tipisnya nampak sedikit basah oleh keringat siang, memperlihatkan cetakan samar dari penyangga dada yang menopang gundukan granat tangan miliknya. “Gimana, Mas? Nggak ketemu apa-apa ya di dalam lemari itu?”Pram mendongak, menatap Bunga dengan pandangan mata yang nampak sangat lelah sekaligus bingung. “Nggak ada, Nga. Cuma ada baju-baju tua. Dan yang bikin aku makin pusing,
Bunga yang melihat hal itu tidak bisa lagi tinggal diam dan duduk manis di kursi kayu seperti tadi. Perasaannya mulai merasa tidak enak dan canggung yang luar biasa setelah mengetahui fakta bahwa pria yang sedang menyapu lantai kotor itu sebenarnya adalah anak dari sosok juragan besar yang dulunya sangat dihormati oleh kakeknya sendiri. Dengan gerakan yang agak kikuk, Bunga maju mendekat lalu merebut kemoceng dari atas meja, turut membantu Pram membersihkan sisa perkakas tua milik Bondan. Kaos oblong putih tipis yang dikenakannya ikut bergoyang pelan setiap kali tangannya bergerak, sesekali memperlihatkan belahan dada bagian atas yang membusung indah di balik kain karena posisi tubuhnya yang agak membungkuk.Pram yang menyadari hal itu sempat mencuri pandang ke arah sepasang semangka Bunga yang nampak padat berisi, namun ia segera menepis pikiran liarnya karena otaknya masih dipenuhi teka-teki tentang asal-usul orang tuanya sendiri. Mereka berdua bekerja dalam keheningan yang cuku
Pram terdiam seribu bahasa, ia tidak langsung mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya pada Bunga yang berdiri di sampingnya. Pikirannya kini mendadak dipenuhi oleh teka-teki baru dan misteri besar atas fakta mengejutkan yang baru saja ia temukan di dalam gudang berdebu ini. Jika orang tuanya adalah juragan besar yang bahkan dihormati oleh Pak Cipto, lalu kenapa ia bisa berakhir menjadi seorang pelayan rendahan di rumah anak dari bawahan orang tuanya sendiri? Apakah Sisil tahu soal rahasia besar ini selama mereka memadu kasih di atas ranjang?Bunga yang menyadari perubahan sikap Pram mulai menatap pelayan serba bisa itu dengan tatapan aneh dan penuh tanda tanya. Ia menyentuh lembut lengan kekar Pram yang nampak menegang keras.“Kenapa, Mas Pram? Kamu kok mukanya langsung pucat begitu setelah lihat foto itu? Apa kamu mengenal orang-orang yang ada di dalam foto lama kakek ini?” tanya Bunga dengan suara lembutnya yang khas, mencoba mencari tahu apa yang sedang disembunyikan oleh pria
“Lho, Nga?! Bukannya kamu tadi bilang mau ngerjain tugas kuliah di dalam kamar?” tanya Pram sembari menoleh, tangannya yang masih memegang sapu lidi tertahan di udara melihat kemunculan gadis itu.Bunga tersenyum tipis, langkah kakinya yang lambat membawa tubuhnya mendekati ambang pintu gudang. “Bosen, Mas. Jenuh banget di dalam kamar terus dari tadi ngetik nggak selesai-selesai. Makanya aku kesini mau cari suasana baru aja.”Pram memperhatikan penampilan Bunga yang nampak sangat santai pagi ini. Gadis lemah lembut itu hanya mengenakan celana jeans ketat selutut yang membungkus rapi bentuk daging bawah pinggulnya yang mungil, dipadukan dengan kaos oblong putih tipis. Karena kaosnya agak ketat, bentuk sepasang semangka milik Bunga yang masih kencang dan padat nampak menonjol samar di balik kain, lengkap dengan jiplakan tali penyangga dada yang melintang di punggung mulusnya. Saraf di bawah celana Pram sempat berdenyut sedetik mengingat bagaimana kelembutan bukit barisan itu selalu m
“Iya nih, Tan. Ujung paha Ibu kanan kiri kayaknya iritasi deh. Gatel gitu dari semalam, terus nggak tahan gatel akhirnya Ibu garuk-garuk, eh sekarang malah jadi agak perih begini pas dipakai jalan,” sahut Sisil dengan senyuman yang dipaksakan seanggun mungkin, berusaha keras menutupi keterkejutannya agar tidak merusak wibawanya di depan anak-anak.Mendengar pengakuan ibunya, Bunga yang duduk di seberang meja langsung meletakkan sendoknya dengan raut wajah cemas. “Ibu kenapa nggak bilang dari tadi? Aku punya salepnya di kamar, bagus banget buat ngilangin lecet atau iritasi kulit.”Sisil mengembuskan napas lega karena perhatian anak-anaknya teralih pada masalah gatal biasa. “Ya udah, nanti sehabis sarapan Ibu minta ya, Sayang.”Dara yang duduk di sebelah Intan menghentikan kunyahannya sejenak. Dengan raut wajah yang tegas dan penuh perhatian, ia menatap ke arah ibunya. “Gimana kalau aku antar Ibu ke dokter kulit aja hari ini? Biar langsung diperiksa sekalian, takutnya malah tambah para
"Mas Pram, ini kacau banget! Ada pertengkaran ronde baru di sini. Tante Cindy sama Tari lagi adu mulut parah banget di ruang tengah!" seru Dara dari seberang telepon, suaranya terdengar panik bercampur geram.Pram segera menekan tombol loudspeaker agar Sisil yang masih bersandar di bahunya bisa iku
"Ayo cepat jalan, Mas. Aku suntuk banget di rumah, rasanya kepalaku mau meledak kalau lama-lama di sini," ucap Sisil sesaat setelah ia membanting pintu mobil dengan keras. Napasnya masih menderu cepat, dan Pram bisa melihat bahwa riasan di wajah anggun Sisil sedikit berantakan akibat emosi yang me
"Bu Sisil, ini steaknya sudah jadi. Tapi porsinya agak kebanyakan sih, kayaknya ini cukup buat makan empat orang sekaligus," ucap Pram sambil membawa sepiring besar steak wagyu yang aromanya sangat menggugah selera ke ruang makan yang bernuansa mewah namun sepi itu.Sisil menoleh dengan mata yang s
"Cuma peduli sama diriku sendiri?" ulang Sisil dengan nada yang sangat rendah, seolah ia baru saja mendengar lelucon paling konyol di dunia. Matanya yang tajam menatap Cindy tanpa berkedip, sementara jubah mandi tebal yang ia kenakan berguncang mengikuti napasnya yang mulai memburu karena menahan







