แชร์

2. Basah-basahan

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-22 13:55:32

Sekujur tubuh Pram mendadak kaku. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. 

Sementara itu tangan Pram yang lain memeluk pinggang Sisil yang begitu ramping. Tubuh keduanya saling menempel.

Setelah beberapa saat, Pram pada akhirnya kembali sadar. Ia lalu melepaskan Sisil dari genggamannya perlahan, memastikan wanita itu dapat berdiri tegap. 

“Ma-maaf, Bu! Saya nggak sengaja!” seru Pram dengan nada panik.

Sisil menggeleng. “Ahh.. bukan salah kamu, Mas…. Aku yang nggak hati-hati,” ia seolah mengabaikan tangan Pram. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi sudah jatuh ke lantai.”

Pram kembali kaget. Suara Sisi lagi-lagi seperti mendesah.

Pram bahkan sampai menggoyangkan kepalanya beberapa kali, berpikir ia sedang berhalusinasi lagi.

“Makasih ya, Mas, sudah nolongin aku,” Sisil meletakkan tangannya di dada Pram.

“I-iya, Bu,” jawab Pram terbata. Di hadapannya, Sisil masih tersenyum.

Ketika Sisil menjauhkan tangannya dari dada Pram, Pram merasakan wanita itu seperti mengelus dadanya singkat. Itu membuat isi kepala Pram mulai tumpang tindih. 

‘Ah, mungkin perasaanku aja,’ gumam Pram. 

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Bu,” Pram pada akhirnya berpamitan. 

Kali ini Sisil mengangguk. “Ohh.. iya, Mas Pram, silakan!” 

Pram melangkah mendahului Sisil ke pintu depan. Ia mengangguk sopan sekali lagi sebelum berjalan pulang. 

Dibalut rasa penasaran, Pram menoleh lagi. 

Di ambang pintu, Sisil masih berdiri, matanya memerhatikan Pram. Wanita itu tersenyum, lalu mengedipkan salah satu matanya. 

Melihatnya, Pram buru-buru berpaling. Wajahnya memanas. Pram lantas teringat kejadian tadi, ia melirik telapak tangannya, yang tadi tak sengaja menyentuh dada Sisil. 

Isi kepalanya semakin aneh!

Ketika Pram sedang dibuat pusing oleh kejadian-kejadian tadi, di kejauhan ia melihat mobil dari suami Sisil yang mendekat ke arah rumah mereka. 

Pram pun mempercepat langkahnya. 

‘Astaga.. Aku mikir apa barusan!’ marah Pram pada dirinya sendiri. 

Begitu sampai di rumah, ia segera mandi untuk merendam rasa panas yang berkecamuk di dalam pikiran dan hatinya. Berhadapan dengan wanita bersuami seperti Sisil tentu membuatnya kewalahan. Apalagi sebagai seorang pria single yang masih minim interaksi dengan lawan jenis.

Setelah mandi dan makan malam, Pram berbaring di atas kasur, bersiap untuk tidur. 

Belum sempat memejamkan mata, Pram menerima panggilan dari Bi Surti, pembantu Sisil. “Mas Pram, kamu disuruh Ibu ke rumah lagi. Kran air di kamar mandinya bocor!” 

Meski lelah dan ingin beristirahat, Pram tetap bersiap. Ia keluar rumahnya, lalu menghampiri Bi Surti dengan membawa peralatan pertukangannya kembali.

Sementara itu pintu kamar Sisil sudah terbuka lebar tanpa perlu diketuk. Sisil menyambutnya dengan wajah sedikit panik. “Mas, kamar mandiku banjir! Mana Bapak keluar lagi barusan,” ia langsung mengarahkan Pram menuju kamar mandinya di sudut kamar.

“Permisi, coba saya lihat dulu,” dengan cekatan Pram memeriksa penyebabnya. “Krannya berkarat dan retak sebagian, Bu,” lanjutnya memberikan penjelasan setelah memeriksanya.

“Wah, malam-malam begini, beli kran dimana, dong?” wajah Sisil yang cantik berubah pias, membuat Pram tak tega melihatnya.

“Ibu nggak usah khawatir. Saya bisa mengakalinya dengan karet ban dalam. Setidaknya aman dulu malam ini, besok baru beli kran,” Pram memberikan solusi.

Sisil merasa lega, “Baguslah, Mas. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan,” ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Pram yang mendengar dan menatap Sisil menjadi sedikit bergetar hatinya. 

Pram mengalihkan getaran jiwanya dengan membuka peralatan dari tas dan mulai bekerja. Untungnya ia selalu sedia potongan karet ban dalam yang biasa ia gunakan untuk tali perkakasnya. Di belakangnya, Sisil tampak serius mengamati.

Meski melakukannya dengan hati-hati, pancuran air yang terhalang bagian karet ban seketika terpancar lebih kuat ke segala arah.

Tentu saja Pram yang tengah membetulkannya terkena semprotan air itu. Wajah dan tubuhnya basah kuyup. 

Saat Pram menoleh sejenak ke belakang, jantungnya seolah berhenti beberapa saat.

Sisil tampak menyeka bagian depan tubuhnya yang ikut basah terkena air semburan.

Pakaian tidur Sisil yang tipis seketika mencetak jelas bagian dadanya yang basah, dan tanpa pakaian dalam.

Bukannya pergi untuk berganti pakaian, Sisil justru berdiam disana. Susah payah Pram mengendalikan pandangannya yang memanas.

Pram kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya, namun–

Clang!

Kran malah patah sepenuhnya dan jatuh ke bathtub, membuat ia dan Sisil terguyur air dalam volume melimpah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   166. Rasa Sesal

    "Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   165. Kehabisan Napas

    "Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   164. Menerima Hukuman

    "Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   163. Cemberut

    Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   162. Sebuah Kecemburuan

    "Iya, aku kenal beliau," jawab Pram dengan nada kaku, berusaha menutupi kepanikan.Dara justru nampak antusias, ia melangkah maju dengan gaya anggunnya dan berdiri di samping Pram.“Wah, bagus dong kalau gitu. Jadi lebih enak kita bicaranya kalau udah saling kenal. Kenal di mana kalian sebelumnya? Kok Mas Pram nggak pernah cerita punya kenalan pemilik bangunan sehebat Tante Sonya?"Sonya segera membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Pram dengan dahi berkerut. "Kebetulan aku adalah ibu kos dari—""Sarah!" potong Pram dengan cepat, suaranya naik satu oktaf demi mencegah Sonya menyebutkan nama Tari yang bisa memicu perang dunia di keluarga Sisil. Pram melemparkan tatapan penuh isyarat pada Sonya, sebuah tatapan memohon sekaligus peringatan agar wanita itu mengikuti permainannya.Sonya segera menangkap maksud dari kode mata Pram. Ia berdehem pelan dan memperbaiki posisi kacamatanya."Sarah? Sarah siapa, Mas?" tanya Dara

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   161. Pemilik Bangunan

    "Dara, nggak usah ya. Simpan aja tenagamu buat aktivitas hari ini. Mas beneran lagi nggak mood buat begituan sekarang," kata Pram sambil menepis pelan tangan Dara yang sudah mulai merayap liar di atas pahanya.Dara seketika memundurkan duduknya kembali ke posisi semula. Wajahnya yang tegas mendadak berubah murung, bibirnya ditekuk kebawah dengan raut kecewa. "Kenapa sih, Mas? Kok ditolak mentah-mentah gitu? Apa karena servis mulut aku kemarin-kemarin kurang enak ya? Atau Mas bosen sama aku?"Pram menghela napas panjang, ia melirik sekilas ke arah Dara yang nampak sangat tersinggung. "Bukan gitu, Dara. Kamu itu hebat, aku selalu suka cara kamu pakai bibir kamu itu. Tapi jujur, Mas lagi nggak mood aja. Pikiranku masih ke mana-mana, badan juga rasanya nggak enak."Dara terdiam sejenak, ia merapikan blazernya yang sedikit terbuka memperlihatkan renda penyangga dadanya yang menggoda. "Terus, apa yang bisa bikin mood Mas Pram membaik lagi? Ak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status