แชร์

83. Rencana Berhasil

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-19 09:27:38

"Tante, Intan cuma mau ada acara di luar bentar kok, nggak bakal lama juga," sahut Intan sambil menghentakkan kakinya ke tanah, membuat gaun pendeknya terangkat sedikit dan memperlihatkan paha mulusnya yang kencang.

Cindy melipat kedua tangannya di bawah dada, menekan dua buah semangka ranum miliknya, namun matanya tetap menatap Pram dengan tajam. "Pasti ini semua pengaruh buruk dari pelayan itu, kan? Dia sengaja ngajak kamu buat yang tidak-tidak di luar sana, dasar nggak tahu diri kamu ya, Pra
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   439. Kerinduan Lama

    Mereka makan dengan lahap, denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring putih mahal terdengar beraturan di ruang makan yang mewah itu. “Suasananya beda banget ya, Bu Sisil, dibanding saat kita makan desak-desakan di atas karpet rumah sewa kemarin," kata Pram sembari menyuap nasi hangat ke mulutnya.Sisil tersenyum simpul, ia membetulkan posisi duduknya yang membuat daster lembut tipisnya mencetak jelas sepasang semangka miliknya yang membusung indah. "Iya, Mas. Tapi jujur, momen harmonis dan kebersamaan kita di sana nggak bakal bisa aku lupa. Di sana kita bener-bener ngerasa senasib sepenanggungan.""Eh, tapi tetep di rumah ini kita bisa harmonis kok, kayak keluarga Srimulat yang tiap hari ada aja kelakuannya!" ucap Intan menyela sembari terkekeh, mengingatkan kembali tentang candaan mereka saat dalam perjalanan meninggalkan rumah sewa kemarin.Seketika semuanya terbahak mendengar celetukan Intan yang blak-blakan. Suasana tegang akibat ingatan masalah yang ditimbulkan keluarga

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   438. Kilas Balik

    “Hmmm, capek juga habis geser-geser barang banyak tadi. Ternyata tenaga pelayan kayak aku ada batasnya juga ya,' gumam Pram sembari menghempaskan bokongnya di kursi plastik depan rumah kecilnya yang terletak di luar pagar utama rumah megah Sisil.Matahari mulai condong ke arah barat, menyisakan gurat warna jingga yang membasuh dinding rumah kecil itu. Pram segera bangkit dan masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air dingin, ia membiarkan sisa-sisa kelelahan dan aroma keringat seharian ini hanyut. Setelah merasa segar, ia mengenakan kaos polos hitam yang mencetak jelas otot dadanya yang bidang dan celana kain santai. Ia kemudian merebahkan diri di kasur sempit yang sejak dulu menjadi tempat peraduannya, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Jemari kasarnya bergerak lincah di atas layar, memeriksa tumpukan pesan yang masuk. Ada beberapa pesan dari Tari dan Sarah. Tari, yang dulu sangat ketus dan selalu menghinanya, kini justru mengirimkan pesan-p

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   437. Tunjukkan Perubahan Dulu

    "Kita sudah sampai di rumah singgah, Pak," kata Pram sembari menarik rem tangan dan beranjak keluar untuk membukakan pintu mobil SUV hitam yang ia kemudikan.Mobil Mini Cooper milik Pram yang dikendarai Dara menyusul masuk ke halaman rumah bergaya minimalis tropis itu. Sisil turun dari kursi penumpang dengan gerakan yang tetap genit, membetulkan letak blus indahnya yang ketat sehingga menonjolkan sepasang semangka miliknya yang ranum. Dara menyusul di belakangnya dengan langkah tegas dan wajah berwibawa."Bunga dan Intan nggak ikut, Bu?" tanya Pram sembari mulai membuka pintu bagasi."Mereka biar bantu Bi Surti buat nata barang dari mobil box tadi, Mas Pram. Kasihan Bi Surti kalau sendirian di rumah utama," jawab Sisil sembari melangkah anggun menuju teras.Sisil mengambil kunci dari tas bermereknya, lalu membuka pintu utama rumah tersebut. Wangi pengharum ruangan yang khas segera menyerbak. "Rumah ini cuma satu lantai, Paman, Tante, Sinar. Tapi ruangannya cukup luas dan tamannya

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   436. Panggilan Dari Kepolisian

    “Lho, Bu Daniah di sini toh?! Pantesan saya ngetuk pintu kamar Ibu dari tadi nggak ada jawaban sama sekali sampai saya muter ke atas,” jawab Pram dengan nada bicara yang sangat tenang, raut wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun meskipun jantungnya sempat berdegup kencang.Daniah mengerutkan kening, menatap Pram dengan sisa-sisa kecurigaan di matanya yang mulai sayu karena kurang tidur. “Ngapain kamu nyari saya ke kamar, Pram? Saya tadi di dapur lagi bantuin beresin sisa makanan.”“Itu, Bu. Saya cuma mau mastiin koper-koper besar milik Pak Bondan sudah diturunkan semua atau belum. Soalnya Bu Sisil tadi pesen lewat pesan singkat kalau jam delapan pagi ini semua harus sudah siap di depan teras. Saya tadi ke kamar Sinar juga buat nanyain kuncinya, tapi katanya dia lagi mandi,” imbuh Pram sembari melangkah turun dengan santai, tangannya merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut karena semalam terhimpit tubuh Sinar yang sedang menikmati pedang pusakanya.Daniah akhirnya mengan

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   435. Menyelinap Keluar

    "Sssttt, tenang dulu, Nar. Jangan panik," bisik Pram tepat di telinga Sinar sembari membekap pelan mulut wanita itu agar tidak bersuara terlalu keras.Pram segera berjingkat turun dari ranjang tanpa busana, gerakannya sangat lincah layaknya seekor kucing. Ia melesat masuk ke dalam kamar mandi yang berpintu kaca buram, lalu menyalakan pancuran air dengan volume maksimal. Suara gemericik air yang menghantam lantai keramik segera memenuhi ruangan, menciptakan kamuflase suara yang sempurna untuk menutupi kehadiran pria di dalam sana.Sinar menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia menyambar handuk putih yang tersampir di sandaran kursi, melilitkannya dengan terburu-buru hingga menutupi sepasang semangka miliknya yang tanpa bra, lalu melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit."Ibuuu, ada apa sih pagi-pagi begini ngetuk pintu? Aku baru aja mau mandi nih, udah nyalain air," ucap Sinar dengan nada ketus yang dibuat-buat agar nampak natural.Daniah

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   434. Sudah Janji

    “Nggak, Maasss. Aku udah janji mau main sampai jam lima pagi. Aku harus buktiin kalau aku pantas buat kamu!” racau Sinar dengan mata yang mulai sayu, namun pinggulnya masih berusaha menghentak meski tubuhnya sudah gemetaran hebat.“Sinar!” bentak Pram dengan nada rendah namun tegas.Melihat kondisi Sinar yang sudah di ambang batas kewajaran, Pram segera bertindak. Ia memegang kedua pinggul Sinar yang licin oleh keringat, lalu dengan satu gerakan tenaga yang besar, ia memaksa mendorong tubuh Sinar ke samping dan membalikkan posisi hingga kini ia yang kembali menindih wanita itu di atas ranjang. Pram mengunci kedua pergelangan tangan Sinar di atas kepala, menatap wajah wanita itu yang nampak pucat dengan sisa-sisa air mata di sudut matanya.“Dengerin aku, Nar. Kita ini bukan lagi lomba kuat-kuatan di atas kasur. Ini bukan adu panco yang harus ada pemenangnya. Kamu sadar nggak sih?! Kamu bisa celaka kalau terus-terusan maksa jantung kamu kerja sekeras itu!” ucap Pram sembari mengatur n

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   75. Orang Kurang Waras

    "Jangan sekarang, Tan. Sebentar lagi waktunya aku mulai kerja jadi pelayan di rumah Bu Sisil. Nanti kalau aku telat gara-gara kamu, yang ada malah berantakan semua jadwal pagi ini," ucap Pram sambil menggelengkan kepala, mencoba menahan gejolak gairah yang mulai memanas di pangkuannya.Intan langsu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   72. Gempa Lokal

    "Mas, jangan diangkat dulu! Jangan sampai Ibu tahu kalau aku ada di rumah kamu dalam kondisi kayak gini!" bisik Bunga panik, suaranya gemetar sementara tubuh polosnya masih menempel erat di atas tubuh Pram.Pram menatap layar ponselnya dengan ekspresi frustasi yang luar biasa. Pasalnya, Sisil lagi-

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   76. Keajaiban Dunia

    "Bi, permisi, aku mau bikin jus jeruk. Tari tadi minta dianterin ke atas," ucap Pram sambil melangkah masuk ke area dapur yang harum oleh aroma bumbu masakan.Bi Surti yang sedang merapikan rak piring segera menoleh, lesung pipitnya menyembul saat ia memberikan senyuman manis pada pria itu. "Eh, Ma

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   71. Tak Rela

    “Ada apa, Mas?“ Bunga kaget."Bunga, mending kamu nggak usah pijat aku deh. Tadi siang aku sempat pijat pelipis Intan pas dia demam, eh malah panasnya pindah semua ke aku. Aku nggak mau kamu ketularan juga gara-gara nyentuh aku," ucap Pram dengan suara parau, mencoba memperingatkan gadis lembut di

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-24
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status