로그인Suasana kamar yang kedap suara itu kini hanya dipenuhi oleh dentum musik malam yang berat, bersahutan dengan suara erangan Sisil dan bunyi becek dari gesekan cairan gairah di area pribadinya. Mereka berdua kini terlibat dalam ritual gila, saling mengocok sendiri milik masing-masing di dalam satu ruangan yang sama, terpisahkan jarak beberapa meter namun saling mengunci pandangan dengan mata yang dipenuhi hasrat purbawi yang teramat liar dan menjerat.Pram semakin mempercepat gerakan tangannya pada meriam miliknya, membayangkan bagaimana rasanya jika benda keras itu yang sedang mengocok isi lembah curam Sisil yang berlendir hangat, membuat napasnya ikut menderu kencang menahan beban nikmat yang nyaris mencapai ubun-ubun.Sisil yang menyaksikan ketegangan tubuh kekar Pram di atas ranjang mendadak menghentikan bungkaman jarinya di dalam relungnya, ia menarik keluar kedua jarinya yang basah kuyup, lalu berdiri dari kursi dengan tubuh yang gemetaran sisa dari rangsangan hebat tadi. Ia mel
Sekarang, tubuh Sisil benar-benar polos di bagian tengah dan atas, hanya tersisa garter belt merah dan sepasang stoking merah terawang yang membungkus kaki jenjangnya hingga ke batas paha. Pemandangan kawah gelap miliknya yang kini sudah nampak sangat basah oleh lubrikasi alami terpampang nyata di depan mata Pram.Sisil kembali meraih botol gel di atas meja. Kali ini, ia menuangkan cairan bening itu ke telapak tangan kanan dalam jumlah yang cukup banyak. Sambil terus meliuk liar mengikuti ketukan musik, Sisil membawa tangan kanannya yang sudah berlumur gel itu turun ke bawah, langsung menempelkannya tepat di atas pusat hulu ledak miliknya sendiri.Pram mendesah berat melihat pemandangan itu, ia memajukan tubuhnya hingga duduk di ujung ranjang, bersiap untuk melompat turun. "Bu Sisil, saya udah nggak tahan. Biar saya aja yang lanjutin megang itu!""Tetap di tempatmu, Mas Pram! Jangan berani-berani maju satu senti pun atau tarian ini aku hentikan sekarang!" ancam Sisil dengan tatapan
Sisil tidak menghentikan liukan tubuhnya, ia justru semakin berani menggoyangkan daging bawah pinggulnya ke kiri dan ke kanan, membuat untaian G-string merah itu semakin menjiplak ketat bentuk kawah gelap miliknya yang tersembunyi. Ia memutar tubuhnya membelakangi Pram, menunggingkan sedikit bantalan belakangnya yang bulat dan mulus, memberikan pemandangan yang membuat tongkat baseball Pram semakin berdenyut tegang, sebelum akhirnya ia berbalik kembali dengan senyuman yang teramat genit."Lihat saja dan nikmati setiap gerakanku, Mas Pram. Jangan berani-berani beranjak dari tempat dudukmu atau menyentuhku kalau kamu nggak mau aku hukum malam ini," sahut Sisil dengan nada pura-pura galak di sela-sela liukan tubuhnya yang semakin panas dan sensual.Pram hanya bisa mencengkeram sprei ranjang dengan erat untuk menahan dirinya agar tidak melompat dari kasur dan langsung menerkam Sisil. Otot-otot tubuhnya menegang keras menyaksikan bagaimana Sisil mulai meliukkan dadanya, membuat sepasang
"Aku balik kamar dulu. Nanti agak maleman kalau sudah sepi, aku kirim pesan ke ponselmu ya, sayang," kata Sisil sembari bangkit dan membantu Pram merapikan kembali pakaiannya yang sempat berantakan karena pagutan panas mereka di gazebo tadi.Sisil memberikan satu kedipan mata yang sangat menggoda sebelum melangkah anggun meninggalkan halaman belakang, membiarkan jubah tidurnya bergoyang lembut memperlihatkan lekuk daging bawah pinggul miliknya yang padat."Baik, Bu. Saya mau bikin kopi dulu di dapur kalau begitu, sekalian nunggu situasi bener-bener aman," sahut Pram sembari menatap kepergian majikannya dengan senyuman penuh arti.Setelah Sisil pergi, Pram segera melangkah ke dapur yang sudah sepi. Ia menyeduh secangkir kopi hitam kental tanpa gula, lalu membawanya kembali ke gazebo belakang yang kini sudah sunyi senyap. Sambil menikmati kehangatan kopinya, Pram menyulut sebatang rokok. Asap putih mengepul dari bibirnya, berbaur dengan angin malam yang sejuk. Pikirannya melayang mem
Mereka makan dengan lahap, denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring putih mahal terdengar beraturan di ruang makan yang mewah itu. “Suasananya beda banget ya, Bu Sisil, dibanding saat kita makan desak-desakan di atas karpet rumah sewa kemarin," kata Pram sembari menyuap nasi hangat ke mulutnya.Sisil tersenyum simpul, ia membetulkan posisi duduknya yang membuat daster lembut tipisnya mencetak jelas sepasang semangka miliknya yang membusung indah. "Iya, Mas. Tapi jujur, momen harmonis dan kebersamaan kita di sana nggak bakal bisa aku lupa. Di sana kita bener-bener ngerasa senasib sepenanggungan.""Eh, tapi tetep di rumah ini kita bisa harmonis kok, kayak keluarga Srimulat yang tiap hari ada aja kelakuannya!" ucap Intan menyela sembari terkekeh, mengingatkan kembali tentang candaan mereka saat dalam perjalanan meninggalkan rumah sewa kemarin.Seketika semuanya terbahak mendengar celetukan Intan yang blak-blakan. Suasana tegang akibat ingatan masalah yang ditimbulkan keluarga
“Hmmm, capek juga habis geser-geser barang banyak tadi. Ternyata tenaga pelayan kayak aku ada batasnya juga ya,' gumam Pram sembari menghempaskan bokongnya di kursi plastik depan rumah kecilnya yang terletak di luar pagar utama rumah megah Sisil.Matahari mulai condong ke arah barat, menyisakan gurat warna jingga yang membasuh dinding rumah kecil itu. Pram segera bangkit dan masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air dingin, ia membiarkan sisa-sisa kelelahan dan aroma keringat seharian ini hanyut. Setelah merasa segar, ia mengenakan kaos polos hitam yang mencetak jelas otot dadanya yang bidang dan celana kain santai. Ia kemudian merebahkan diri di kasur sempit yang sejak dulu menjadi tempat peraduannya, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.Jemari kasarnya bergerak lincah di atas layar, memeriksa tumpukan pesan yang masuk. Ada beberapa pesan dari Tari dan Sarah. Tari, yang dulu sangat ketus dan selalu menghinanya, kini justru mengirimkan pesan-p
"Ya daging wagyu ini lah yang dimasak, emangnya daging apa lagi?" jawab Pram sambil berusaha tetap tenang meski punggungnya baru saja digoda habis-habisan oleh dua gundukan kenyal milik Intan.Intan mencebikkan bibirnya yang dipoles lipstik tipis, ia menatap Pram dengan tatapan yang sangat menantan
"Mas Pram... dari mana aja kok baru pulang jam segini?" tanya Sisil dengan suara yang berat dan tatapan mata yang tampak sangat menuntut."Maaf, Bu Sisil. Semalam saya terpaksa menginap di rumah sakit, soalnya nggak tega liat kondisi Bi Surti sendirian di sana," ucap Pram sambil berdiri kaku di dep
Pram tersenyum, jemarinya membelai bahu polos Dara yang kuning langsat. "Gimana kalau kita cari makan siang di luar aja? Bukannya aku nggak mau masak lagi buat kamu, tapi kayaknya asyik juga kalau kita ganti suasana sebentar. Biar pikiranmu makin rileks.""Setuju banget! Tapi sebelum pergi, kita ha
Sisil masih tergeletak lemas di atas kasur tipis itu, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya yang memerah. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu menoleh ke arah Pram dengan senyuman yang sangat santai, seolah tidak ada beban sama sekali. "Nggak apa-apa, Mas Pram. Malah enak rasanya