LOGINPandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.
Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil. "Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku. Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya. Apa ini miliknya? Sepertinya ukurannya pas. Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering. "Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!" Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua. Tiba-tiba… Byur! Prang! Dia menyiramkan sebotol air tepat di atas tubuhku hingga membuatku basah kuyup, lalu melempar botolnya hingga mengenai dadaku. “Otak mesum! Berani-beraninya pegang barang pribadiku!” teriaknya, suaranya semakin melengking dia terlihat begitu sangat marah. Ternyata dia sudah berganti pakaian, memakai kaos putih yang sangat ketat hingga menonjolkan bentuk dadanya, dan celana pendek yang hanya menutupi separuh pahanya. "I-itu, Vira... jemurannya jatuh kena angin," jawabku panik sambil mengusap-usap dadaku yang nyeri karena botol itu. Aku juga langsung menyembunyikan celana dalam pink itu di belakang punggungku. "Ya terus kenapa nggak langsung ditaruh?! Malah dicium-cium gitu! Dasar mesum, jadi kotor kan kena tanganmu!" bentak Vira dengan wajah yang memerah. “Nggak sudi aku pake itu lagi jadinya.” "Enggak, aku nggak cium," sanggahku panik. "Halah, alasan! Awas aja kamu aku aduin Mama!" Dia mendengus kasar lalu masuk kembali ke dalam kamar sambil membanting pintu geser balkonnya. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Orang-orang ini benar-benar membuatku senam jantung! Aku segera meletakkan kembali kain pink itu di atas tumpukan jemuran lainnya dan merapikan tiang jemuran yang roboh. Tanganku masih terasa sedikit gemetar. Aroma yang tertinggal di telapak tanganku benar-benar mengganggu konsentrasiku. **** Sore harinya, badanku sudah terasa sangat lengket dan kotor. Matahari benar-benar menguras tenagaku, tapi setidaknya taman samping sudah terlihat jauh lebih rapi. Saat aku sedang mencuci tangan di kran luar, sebuah mobil sedan mewah masuk ke garasi. Itu mobil Nikita. Aku berdiri diam, menunggu dia turun. Tadi, aku sempat mendapat kabar dari rumah sakit. Katanya, ayahku semakin drop dan sedang diberi perawatan yang lebih intensif, hanya saja belum bisa dijenguk. Aku yakin, kabar itu pasti membuat Nikita senang karena dia bisa segera menyusun rencana untuk menguasai semua harta ayahku. Tak lama, Nikita keluar dari mobil. Penampilannya masih sangat rapi dengan setelan kantornya, tapi dia sudah melepaskan blazernya, menyisakan kemeja putih yang sedikit basah karena keringat di bagian punggungnya, membuatnya menempel ketat di kulit. Dia berjalan ke arahku. Aku menunduk, tidak berani menatap matanya langsung. Tapi dalam hati, aku bertekad kuat, “Aku pastikan kamu dapat balasan, nenek sihir!” "Sudah selesai, Aris?" tanya Nikita. Suaranya terdengar agak rendah dan berat. "Sudah, Bu. Tinggal beresin alat saja," jawabku pelan, sebenarnya agak malas berhadapan dengannya. Nikita berhenti tepat di depanku. Jarak kami sangat dekat, mungkin hanya satu langkah. Aku bisa mencium aroma parfum melatunya yang kuat, bercampur dengan hawa panas dari tubuhnya yang baru keluar dari mobil. Aku melirik ke bawah, melihat rok spannya yang sangat ketat menonjolkan bentuk pinggulnya yang besar. "Kamu... keringatan sekali ya," ucapnya dengan suara sedikit bergetar, seperti orang gugup. Tiba-tiba, dia mengulurkan tangannya dan mengusap tetesan keringat yang mengalir di leherku menggunakan ujung jarinya. Aku tersentak kaget, kulitnya terasa dingin dan halus, membuat bulu kudukku berdiri. Tangannya bergerak berani, seperti sengaja melakukannya untuk membuatku tidak nyaman. Tapi, sikapnya benar-benar jauh berbeda dari biasanya yang cenderung kasar. ‘Aneh ini orang,’ batinku. "M-maaf, Bu," kataku sambil mundur satu langkah. Nikita tidak marah. Dia justru memperhatikan dadaku yang telanjang. Tatapanya aneh bagiku. Kalau aku tidak salah mengartikan, dia ini malah terlihat seperti sengaja ingin menyentuhku. Sejak dia masuk ke kamarku malam itu, tatapannya selalu seperti itu kepadaku. Dia diam selama beberapa detik, matanya perlahan turun ke arah celana panjangku yang juga basah oleh keringat dan menempel ketat di bagian tengah. Refleks, aku menutupi bagian itu dengan tanganku. "Nanti malam, jam sembilan kamu ke kamarku," ucap Nikita tiba-tiba. Aku mendongak, merasa bingung. "Eh? Ngapain, Bu?" "Kran di kamar mandiku bocor. Aku nggak mau panggil tukang malam-malam begini, nggak enak sama tetangga. Kamu aja yang benerin,” jelasnya dengan tatapan arogan. Aku menghela napas pelan, sangat pelan. Aku benar-benar dijadikan pembantu di sini. "Oh oke, Bu. Nanti Aris bawain kunci inggrisnya," jawabku akhirnya. "Bagus. Ingat, jangan sampai Vira atau Tasya tahu. Aku nggak mau mereka terganggu tidurnya cuma karena masalah kran," tambahnya dengan nada yang sangat serius. Tasya adalah anak bungsunya. "Iya, Bu. Aris mengerti,” jawabku patuh meskipun merasa sedikit malas. Nikita mengangguk, lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah. Aku memperhatikan punggungnya, melihat bagaimana pinggulnya bergoyang indah di balik rok ketat itu. Pemandangan itu membuatku semakin semangat untuk segera mengunggah video panasnya dengan Gunawan. Tapi, aku belum menemukan akses ke situs yang paling terpercaya dan bisa langsung membuatnya viral. *** Tok... tok... tok... "Bu? Ini Aris,” kataku sambil mengetuk pintu kamar utama. Malam itu, tepat pukul 9 seperti yang diminta Nikita, aku datang ke kamarnya dengan sekotak perkakas. "Masuk," suara Nikita terdengar dari dalam. Aku mendorong pintu perlahan. Kamar itu sangat luas, hampir tiga kali lipat ukuran kamarku di pelabuhan dulu. Rumah ini memang besar, kamarku dulu juga besar seperti ini, tapi sekarang sudah diambil alih oleh Vira. Aroma melati di sini jauh lebih kuat dan memabukkan. Aku melihat Nikita sedang duduk di tepi ranjang besarnya. Dia tidak lagi memakai baju kantor. Dia hanya mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna merah marun. Dan jelas sekali, dia tidak memakai pakaian dalam!Aku sempat meliriknya sekilas. Vira mematung, matanya yang tadi melotot marah kini terpaku pada dadaku.Entah apa yang sedang dia perhatikan, botol minuman di tangannya dia remas pelan. Ekspresinya yang galak mendadak berubah jadi aneh, seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat."Kenapa, Nona? Ada yang salah?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.Vira tersentak, wajahnya langsung merona merah padam. "Apaan sih! PD banget! Aku cuma mau bilang... kerja yang bener! Jangan malah pamer badan kucelmu itu! Jijik tahu nggak!"Tapi dia belum beranjak pergi, tatapannya beberapa kali menatap dada dan bagian bawahku.Aku baru sadar, celanaku basah sehingga si gatot tercetak jelas, malah bagian kepalanya sangat terlihat jelas.“Eh!” Aku langsung menutupinya dengan tanganku.“Dasar gila!” ketusnya, nada suaranya keras tapi sedikit bergetar. Dia langsung menjauh dan berbalik dengan gerakan terburu-buru.Dan tiba-tiba…“Aaa…!” Vira terpeleset. Dengan cepat, aku berusaha men
"Cepat, Aris... ayo masukkan sekarang..." bisiknya serak, tidak sabar.Aku tidak menunggu dua kali. Aku mulai menggesekkan kepala si gatot di pinggiran surgawi itu.Lembut, hangat, licin.‘Gila, pantes aja Gunawan kegirangan main sama ini orang. Luar aja kerasa enak gini!’ batinku bersorak.“Ahh … Aris kenapa malah dimainin begitu. Cepat masukkan!” rintih Nikita tak tahan, bahkan dia menggerakkan pinggulnya sendiri, membuat barang berhargaku seperti ingin disedot masuk.Aku menatap wajah laparnya lekat-lekat. Jika sedang seperti ini, Nikita benar-benar terlihat seperti wanita murahan yang haus sentuhan, sangat berbeda dengan Nikita si ibu tiri galak itu.“Kenapa buru-buru sekali, Bu …” kataku lirih sembari terus memainkan ujung si gatot di area kenikmatan itu.Namun, lagi-lagi Nikita menggoyangkan pinggulnya tak sabar. Wajahnya semakin merah, tatapan matanya lebih gelisah.“Ibu udah gak tahan, Aris …”Ah, aku paham sekarang. Wanita ini benar-benar bisa kehilangan akal kalau sudah di
Dia sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut sutra tipis itu ke dadaku.Sentuhan itu membuat si gatot yang tadinya sempat meredup karena takut, kini kembali menegang keras.Aku merasa seperti sedang disiksa. Bau melati di tubuhnya kini bercampur dengan bau ketakutan dan gairah yang menyesakkan."Tapi Bu...," sanggahku, meskipun tanganku sendiri sudah mulai gatal untuk membalas pelukannya.Cuma pria nggak normal yang akan diam saja setelah mendapat serangan petang seperti ini!Nikita tersenyum tipis, senyum yang sangat licik namun mematikan. Dia meraih tanganku dan meletakkannya kembali di pinggangnya yang ramping."Tugasmu hari ini belum selesai, Aris. Kamu belum benar-benar 'nurut' sama Ibu," katanya sambil menekan pinggulnya ke arahku. “Memangnya kamu tega melihat ayahmu itu tersiksa terus begitu?”Aku langsung membelalakkan mataku. Dia mau mengancamku dengan memakai ayahku?!Sialan, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.Aku hanya bisa berdiri diam, menikma
Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan suaraku.Aku ini ingin membalas perbuatannya, tapi kenapa dia malah membuatku gila sendiri seperti ini?!“Jangan di tahan, Aris …” bisik Nikita tepat di telingaku, sesekali dia juga meniup telingaku, membuatku semakin merinding.Namun, saat tangannya ingin masuk ke dalam celanaku, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!"Ma! Mama sudah tidur? Vira mau pinjam catokan rambut, punyaku rusak!"Suara melengking Vira membuat kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan panik dan merapikan jubahnya yang sudah sangat berantakan. Wajahnya yang tadi merona kini berubah sedikit pucat karena terkejut."Vira?! Sebentar! Mama lagi di kamar mandi!" teriak Nikita sambil memberi isyarat padaku untuk diam.“B–Bu, gimana ini?” tanyaku panik."Lama banget sih, Ma? Vira masuk ya?!" suara Vira kembali terdengar dibarengi dengan kenop pintu diputar terdengar jelas.Nikita menatapku dengan mata melotot. Dia menarik lenganku dengan kasar dan mendorongku m
Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.Glek!‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda."Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi."I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.Nikita
Pandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil."Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku.Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya.Apa ini miliknya?Sepertinya ukurannya pas.Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering."Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!"Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua.Tiba-tiba…Byur!Prang!Dia menyiramkan sebotol air tepa







