Share

Bab 5. Sentuhan gairah

last update Last Updated: 2026-02-07 23:48:38

Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.

Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.

Glek!

‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.

Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.

Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda.

"Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi.

"I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.

Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.

Nikita berdiri. Jubah sutra itu bergoyang, memperlihatkan belahan dadanya yang semakin terbuka saat dia berjalan mendekatiku.

"Di dalam kamar mandi. Kran di wastafelnya gak bisa nutup rapat, airnya merembes terus ke bawah."

Dia berhenti tepat di depanku.

Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa mencium aroma sabun mandinya yang segar bercampur dengan parfum melati yang sangat kuat.

Aku mengangguk pelan, dadaku masih berdetak cepat karena pemandangan gila ini. “Kalau gitu, Aris periksa dulu ya, Bu.”

"Aku tunggu di sini," ucapnya sambil menepuk bahuku pelan.

Aku segera masuk ke kamar mandi yang sangat luas itu. Dindingnya dilapisi marmer putih dengan aksen emas, sangat kontras dengan kamar mandiku yang hanya beralaskan semen.

Dulu, saat ayahku belum menikah dengan Nikita, aku memang sudah sering masuk ke kamar ini. Tapi, semenjak ada Nikita, aku sama sekali tidak pernah lagi masuk ke kamar ini. Semua interiornya ternyata sudah diubah.

Wanita itu benar-benar berusaha mengambil alih rumah ini.

Aku segera berlutut di depan wastafel dan membuka lemari bawahnya untuk mengecek pipa di bawahnya.

Sial, tanganku sedikit gemetar saat memegang kunci inggris gara-gara teringat paha mulus dan buah kenyal tanpa penghalang itu.

Aku berusaha fokus pada pipa di depanku, tapi aroma parfum Nikita seolah sudah memenuhi seluruh ruangan ini, membuatku semakin tidak fokus!

"Gimana, Aris? Bisa?"

Aku tersentak dan menoleh sedikit. Ternyata Nikita sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dia bersandar di kusen pintu dengan tangan melipat di bawah dada.

Gerakan itu justru membuat buah kenyalnya semakin tertekan dan menonjol keluar dari balik jubahnya.

"Sepertinya cuma ada baut yang longgar, Bu. Sebentar lagi selesai," jawabku tanpa berani menoleh lama.

Aku kembali bekerja, mencoba mengabaikan keberadaannya yang hanya berjarak dua meter dariku. Namun, tiba-tiba aku merasakan hawa hangat mendekat. Nikita berjalan masuk dan berjongkok di sampingku.

Saat dia berjongkok, jubah mandinya yang pendek otomatis tersingkap lebih tinggi. Lututnya yang putih bersih bersentuhan dengan lenganku.

Aku bisa melihat dengan jelas pangkal pahanya yang sangat mulus dari jarak sedekat ini. Ditambah dengan wangi tubuhnya dari sedekat ini yang semakin aduhai.

Kepalaku terasa pusing, semua darahku seolah berkumpul di bagian bawah.

Lalu, dia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, membuat buah kenyal itu langsung menekan punggungku.

"Bagian mana yang rusak?" tanyanya dengan nada yang terasa tegas, badannya sedikit bergoyang seperti sengaja menggesekkan buahnya ke punggungku.

‘Tahan, Ris. Dia ini nenek sihir yang rebut rumahmu!’ ingatku dalam hati.

Aku menghela napas sejenak untuk menenangkan diri.

"Ini... cuma bautnya saja, Bu. Sudah kencang sekarang," kataku sambil buru-buru menutup pintu lemari wastafel.

Aku berdiri, dan Nikita juga ikut berdiri. Karena posisi kami yang sangat dekat di ruang yang sempit, dadaku nyaris bersentuhan dengan dadanya.

Aku bisa melihat napas Nikita mulai tidak teratur. Matanya menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, lalu perlahan turun ke arah celanaku yang sedari tadi sudah membentuk gundukan besar karena tidak sanggup menahan reaksi tubuhku dan tidak bisa kusembunyikan.

Tangan Nikita perlahan naik dan mengusap dadaku. "Aku jadi merasa bersalah karena sudah mengusirmu dulu. Padahal... kamu sangat rajin dan sekarang sudah tumbuh jadi pria yang … sangat perkasa."

Aku menelan ludah, kaget dan bingung. Kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu?

Terlebih, kalimat terakhirnya benar-benar membuat pikiranku semakin melayang bebas.

"N–nggak apa-apa, Bu. Aris jadi bisa sekalian belajar mandiri," jawabku senormal mungkin.

Nikita tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Kalau kamu nurut sama Ibu, Ibu janji hidupmu nggak akan susah lagi. Kamu nggak perlu lagi kerja kasar di pelabuhan."

Hembusan napasnya yang hangat membuat bulu kudukku berdiri. Apalagi, saat dia memanggil dirinya sendiri dengan sebutan ‘Ibu’. Padahal, selama ini dia tidak pernah seperti itu.

Aku merasa sangat tersiksa.

Tepat saat itu, jemarinya terulur menyentuh bahuku. Aku langsung tersentak.

“B–Bu …”

Nikita tidak menjawab. Tangannya semakin berani mengusap dadaku, membuatku semakin gila. Bingung antara mau menikmati atau memberontak.

‘Dia ini maunya apa sih?!’ gerutuku dalam hati.

Setiap kali aku berusaha mundur, dia malah menarik celanaku dengan tangannya yang lain agar aku tertahan.

“Sudah Ibu bilang, tugasmu sekarang nurut sama Ibu,” katanya penuh penekanan, senyum tipis muncul di wajahnya.

Aku semakin bingung, ingin menghindar tapi selalu ditahan. Sementara tubuhku malah terus bereaksi ketika tangannya semakin turun ke bawah.

“T–Tapi, Bu … mhh …”

Saat itu, lagi-lagi tangan Nikita semakin berani menjelajahi area terlarangku. Tangannya menari di luar celanaku sambil menekannya beberapa kali.

“Bu … jangan …” rintihku pelan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 9. Suara desahan lagi!

    Aku sempat meliriknya sekilas. Vira mematung, matanya yang tadi melotot marah kini terpaku pada dadaku.Entah apa yang sedang dia perhatikan, botol minuman di tangannya dia remas pelan. Ekspresinya yang galak mendadak berubah jadi aneh, seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat."Kenapa, Nona? Ada yang salah?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.Vira tersentak, wajahnya langsung merona merah padam. "Apaan sih! PD banget! Aku cuma mau bilang... kerja yang bener! Jangan malah pamer badan kucelmu itu! Jijik tahu nggak!"Tapi dia belum beranjak pergi, tatapannya beberapa kali menatap dada dan bagian bawahku.Aku baru sadar, celanaku basah sehingga si gatot tercetak jelas, malah bagian kepalanya sangat terlihat jelas.“Eh!” Aku langsung menutupinya dengan tanganku.“Dasar gila!” ketusnya, nada suaranya keras tapi sedikit bergetar. Dia langsung menjauh dan berbalik dengan gerakan terburu-buru.Dan tiba-tiba…“Aaa…!” Vira terpeleset. Dengan cepat, aku berusaha men

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 8. Nafsu nenek sihir

    "Cepat, Aris... ayo masukkan sekarang..." bisiknya serak, tidak sabar.Aku tidak menunggu dua kali. Aku mulai menggesekkan kepala si gatot di pinggiran surgawi itu.Lembut, hangat, licin.‘Gila, pantes aja Gunawan kegirangan main sama ini orang. Luar aja kerasa enak gini!’ batinku bersorak.“Ahh … Aris kenapa malah dimainin begitu. Cepat masukkan!” rintih Nikita tak tahan, bahkan dia menggerakkan pinggulnya sendiri, membuat barang berhargaku seperti ingin disedot masuk.Aku menatap wajah laparnya lekat-lekat. Jika sedang seperti ini, Nikita benar-benar terlihat seperti wanita murahan yang haus sentuhan, sangat berbeda dengan Nikita si ibu tiri galak itu.“Kenapa buru-buru sekali, Bu …” kataku lirih sembari terus memainkan ujung si gatot di area kenikmatan itu.Namun, lagi-lagi Nikita menggoyangkan pinggulnya tak sabar. Wajahnya semakin merah, tatapan matanya lebih gelisah.“Ibu udah gak tahan, Aris …”Ah, aku paham sekarang. Wanita ini benar-benar bisa kehilangan akal kalau sudah di

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 7. Gairah memuncak

    Dia sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut sutra tipis itu ke dadaku.Sentuhan itu membuat si gatot yang tadinya sempat meredup karena takut, kini kembali menegang keras.Aku merasa seperti sedang disiksa. Bau melati di tubuhnya kini bercampur dengan bau ketakutan dan gairah yang menyesakkan."Tapi Bu...," sanggahku, meskipun tanganku sendiri sudah mulai gatal untuk membalas pelukannya.Cuma pria nggak normal yang akan diam saja setelah mendapat serangan petang seperti ini!Nikita tersenyum tipis, senyum yang sangat licik namun mematikan. Dia meraih tanganku dan meletakkannya kembali di pinggangnya yang ramping."Tugasmu hari ini belum selesai, Aris. Kamu belum benar-benar 'nurut' sama Ibu," katanya sambil menekan pinggulnya ke arahku. “Memangnya kamu tega melihat ayahmu itu tersiksa terus begitu?”Aku langsung membelalakkan mataku. Dia mau mengancamku dengan memakai ayahku?!Sialan, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.Aku hanya bisa berdiri diam, menikma

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 6. Hampir ketahuan

    Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan suaraku.Aku ini ingin membalas perbuatannya, tapi kenapa dia malah membuatku gila sendiri seperti ini?!“Jangan di tahan, Aris …” bisik Nikita tepat di telingaku, sesekali dia juga meniup telingaku, membuatku semakin merinding.Namun, saat tangannya ingin masuk ke dalam celanaku, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!"Ma! Mama sudah tidur? Vira mau pinjam catokan rambut, punyaku rusak!"Suara melengking Vira membuat kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan panik dan merapikan jubahnya yang sudah sangat berantakan. Wajahnya yang tadi merona kini berubah sedikit pucat karena terkejut."Vira?! Sebentar! Mama lagi di kamar mandi!" teriak Nikita sambil memberi isyarat padaku untuk diam.“B–Bu, gimana ini?” tanyaku panik."Lama banget sih, Ma? Vira masuk ya?!" suara Vira kembali terdengar dibarengi dengan kenop pintu diputar terdengar jelas.Nikita menatapku dengan mata melotot. Dia menarik lenganku dengan kasar dan mendorongku m

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 5. Sentuhan gairah

    Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.Glek!‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda."Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi."I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.Nikita

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 4. Janjian di kamarnya

    Pandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil."Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku.Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya.Apa ini miliknya?Sepertinya ukurannya pas.Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering."Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!"Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua.Tiba-tiba…Byur!Prang!Dia menyiramkan sebotol air tepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status