LOGINAku sempat meliriknya sekilas. Vira mematung, matanya yang tadi melotot marah kini terpaku pada dadaku.Entah apa yang sedang dia perhatikan, botol minuman di tangannya dia remas pelan. Ekspresinya yang galak mendadak berubah jadi aneh, seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat."Kenapa, Nona? Ada yang salah?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.Vira tersentak, wajahnya langsung merona merah padam. "Apaan sih! PD banget! Aku cuma mau bilang... kerja yang bener! Jangan malah pamer badan kucelmu itu! Jijik tahu nggak!"Tapi dia belum beranjak pergi, tatapannya beberapa kali menatap dada dan bagian bawahku.Aku baru sadar, celanaku basah sehingga si gatot tercetak jelas, malah bagian kepalanya sangat terlihat jelas.“Eh!” Aku langsung menutupinya dengan tanganku.“Dasar gila!” ketusnya, nada suaranya keras tapi sedikit bergetar. Dia langsung menjauh dan berbalik dengan gerakan terburu-buru.Dan tiba-tiba…“Aaa…!” Vira terpeleset. Dengan cepat, aku berusaha men
"Cepat, Aris... ayo masukkan sekarang..." bisiknya serak, tidak sabar.Aku tidak menunggu dua kali. Aku mulai menggesekkan kepala si gatot di pinggiran surgawi itu.Lembut, hangat, licin.‘Gila, pantes aja Gunawan kegirangan main sama ini orang. Luar aja kerasa enak gini!’ batinku bersorak.“Ahh … Aris kenapa malah dimainin begitu. Cepat masukkan!” rintih Nikita tak tahan, bahkan dia menggerakkan pinggulnya sendiri, membuat barang berhargaku seperti ingin disedot masuk.Aku menatap wajah laparnya lekat-lekat. Jika sedang seperti ini, Nikita benar-benar terlihat seperti wanita murahan yang haus sentuhan, sangat berbeda dengan Nikita si ibu tiri galak itu.“Kenapa buru-buru sekali, Bu …” kataku lirih sembari terus memainkan ujung si gatot di area kenikmatan itu.Namun, lagi-lagi Nikita menggoyangkan pinggulnya tak sabar. Wajahnya semakin merah, tatapan matanya lebih gelisah.“Ibu udah gak tahan, Aris …”Ah, aku paham sekarang. Wanita ini benar-benar bisa kehilangan akal kalau sudah di
Dia sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut sutra tipis itu ke dadaku.Sentuhan itu membuat si gatot yang tadinya sempat meredup karena takut, kini kembali menegang keras.Aku merasa seperti sedang disiksa. Bau melati di tubuhnya kini bercampur dengan bau ketakutan dan gairah yang menyesakkan."Tapi Bu...," sanggahku, meskipun tanganku sendiri sudah mulai gatal untuk membalas pelukannya.Cuma pria nggak normal yang akan diam saja setelah mendapat serangan petang seperti ini!Nikita tersenyum tipis, senyum yang sangat licik namun mematikan. Dia meraih tanganku dan meletakkannya kembali di pinggangnya yang ramping."Tugasmu hari ini belum selesai, Aris. Kamu belum benar-benar 'nurut' sama Ibu," katanya sambil menekan pinggulnya ke arahku. “Memangnya kamu tega melihat ayahmu itu tersiksa terus begitu?”Aku langsung membelalakkan mataku. Dia mau mengancamku dengan memakai ayahku?!Sialan, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.Aku hanya bisa berdiri diam, menikma
Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan suaraku.Aku ini ingin membalas perbuatannya, tapi kenapa dia malah membuatku gila sendiri seperti ini?!“Jangan di tahan, Aris …” bisik Nikita tepat di telingaku, sesekali dia juga meniup telingaku, membuatku semakin merinding.Namun, saat tangannya ingin masuk ke dalam celanaku, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!"Ma! Mama sudah tidur? Vira mau pinjam catokan rambut, punyaku rusak!"Suara melengking Vira membuat kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan panik dan merapikan jubahnya yang sudah sangat berantakan. Wajahnya yang tadi merona kini berubah sedikit pucat karena terkejut."Vira?! Sebentar! Mama lagi di kamar mandi!" teriak Nikita sambil memberi isyarat padaku untuk diam.“B–Bu, gimana ini?” tanyaku panik."Lama banget sih, Ma? Vira masuk ya?!" suara Vira kembali terdengar dibarengi dengan kenop pintu diputar terdengar jelas.Nikita menatapku dengan mata melotot. Dia menarik lenganku dengan kasar dan mendorongku m
Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.Glek!‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda."Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi."I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.Nikita
Pandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil."Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku.Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya.Apa ini miliknya?Sepertinya ukurannya pas.Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering."Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!"Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua.Tiba-tiba…Byur!Prang!Dia menyiramkan sebotol air tepa







