Share

Bab 3. Celana dalam pink

last update Last Updated: 2026-02-06 20:29:55

Dengan gerakan panik yang terlihat kikuk, dia segera menurunkan kakinya dan menarik ujung daster sutranya untuk menutupi paha mulusnya yang tadi sempat terpampang nyata.

Wajahnya yang cantik seketika berubah merah padam, antara malu dan amarah yang meluap-luap.

"Heh, Gembel! Kenapa kamu ada di sini?!" bentaknya dengan suara melengking, tangannya gemetar menunjuk ke arahku.

Aku segera mengerjap kaget dan langsung menundukkan kepala sedalam mungkin. Aku berusaha mengatur napas yang tiba-tiba terasa sesak.

Bayangan celana dalam putih tipis yang menempel ketat di lipatan paha Vira tadi seolah tidak mau hilang dari mataku. Benar-benar pemandangan yang membuat jantungku berdegup tidak karuan.

"M-maaf, Vir ... aku cuma mau ambil air minum. Aku benar-benar nggak sengaja," jawabku dengan suara yang sengaja kubuat bergetar, seolah-olah aku ketakutan setengah mati. Kalau tidak, bisa-bisa aku dihajar habis olehnya dan ibunya.

"Nggak sengaja matamu! Kamu pasti sudah lama berdiri di situ sambil liatin aku, kan?!" Vira berdiri dari kursinya, berjalan mendekatiku dengan langkah menghentak.

Setiap langkahnya membuat daster tipis itu bergoyang mengikuti irama tubuhnya yang sintal. Aroma harum sabun mandi mahal dan wangi rambutnya yang segar menyeruak saat dia berhenti tepat di depanku.

Aku berdiri tegak, tapi meski kepalaku menunduk, kepalanya hanya setinggi dadaku. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana dadanya naik-turun dengan cepat di balik kain tipis itu.

Dua bukit kembar yang putih dan kencang itu tampak sangat padat, seolah mendesak ingin keluar.

"Jawab! Kamu lihat apa tadi?!" bentaknya lagi, tangannya mencengkeram kerah kaosku.

"Aku... aku nggak lihat apa-apa, Vira. Sumpah," bisikku sambil mencoba mengalihkan pandangan ke samping.

Jarak yang sangat dekat ini membuatku bisa merasakan hangat tubuhnya, sesuatu yang membuat celanaku terasa semakin sempit dan menyesakkan.

"Bohong! Dasar kuli pelabuhan otak mesum! Lagian kamu ini udah diusir dari rumah ini, kenapa masih berani datang ke sini? Mau maling kamu ya?!"

"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?"

Suara dingin dan berwibawa itu memecah ketegangan. Kami berdua menoleh. Nikita berdiri di sana, sudah tampil sangat elegan dengan pakaian kantornya.

Blazer hitam yang pas di badan dan rok span yang sangat ketat memperlihatkan lekuk pinggulnya yang berisi. Rambutnya disanggul rapi, sangat berbeda dengan penampilannya yang berantakan di atas meja mahoni semalam.

‘Ah kenapa dia muncul lagi, sih. Bisa panjang ini urusannya!’ gerutuku dalam hati.

Vira langsung melepaskan kerah kausku dan menoleh pada ibunya dengan wajah mengadu.

"Ma! Kenapa si gembel ini bisa ada di sini?!" teriak Vira dengan wajah jijik.

Aku hanya menunduk, berdiri diam di dekat dispenser air. "Maaf, Vira..."

"Jangan panggil aku nama! Panggil aku Nona Vira!" bentaknya lagi.

Nikita tidak ikut memaki. Dia justru melangkah perlahan menuju meja makan, mengambil secangkir kopi dan menyesapnya. Matanya yang tajam diam-diam menyapu tubuhku dari atas sampai bawah.

Aku bisa merasakan tatapannya seperti sedang mengulitiku, tapi tanpa makian. Dan entah kenapa tatapannya sesekali berhenti sejenak di bagian bawahku. Entah itu hanya pikiranku atau tidak, tapi itu terlihat sangat jelas.

"Sudahlah, Vira. Mama yang suruh dia tinggal sementara. Dia bisa jadi pembantu gratisan di rumah ini selama ayahmu belum sembuh," ucap Nikita dengan nada datar.

Vira mengerutkan kening, menatap ibunya dengan bingung. "Pembantu? Kita kan sudah ada Bi Inah dan Gunawan!"

"Gunawan sibuk mengurus mobil dan antar jemput Mama. Aris bisa bantu-bantu di taman atau bagian yang berat-berat. Sudah, jangan protes!" Nikita menatapku tajam. "Aris, setelah ini kamu ke taman samping. Cabutin rumput liar di sana. Mengerti?"

"Iya, Bu. Aris mengerti," jawabku patuh setelah melihat tatapannya yang menusuk tajam.

Nikita berdiri, merapikan blazernya yang menekan ketat di bagian pinggulnya yang besar.

Sebelum pergi, ia berjalan melewati tempatku berdiri. Sangat dekat, hingga lengan kami bersentuhan. Aroma parfum melatunya yang menyengat seolah mengunci sarafku.

"Kerja yang benar. Jangan sampai aku melihatmu malas-malasan. Ingat, kamu harus ikuti semua perintahku," bisiknya dengan suara yang sedikit ditekan.

Sialan!

Vira yang melihat itu langsung menyipitkan matanya. "Ma... Mama kok aneh sih? Kenapa ngomongnya begitu? Kenapa juga Mama jadi baik sama dia?"

Nikita menoleh tenang, dahinya sedikit berkerut. "Aneh apa?! Mama cuma kasih instruksi biar dia nggak manja! Sudah, Mama berangkat dulu! Kamu jangan ribut sama dia."

Nikita pergi dengan langkah tenang, suara sepatu hak tingginya beradu nyaring dengan lantai marmer.

Vira tetap tinggal di sana, menatapku dengan penuh kebencian. Dia berjalan mendekatiku yang masih memegang gelas air, lalu tanpa diduga, dia menyambar sisa jus jeruknya dan menyiramkannya ke arah kakiku.

Pyurr!

Lantai marmer yang bersih itu kini basah dan lengket.

"Dengar ya, Gembel. Meskipun Mama izinin kamu tinggal, jangan harap hidupmu tenang. Aku akan buat kamu menyesal karena udah berani balik ke sini!" ancam Vira dengan tatapan tajam.

Dia memutar tubuhnya dan melenggang pergi, membiarkan daster pendeknya berkibar memperlihatkan betis dan paha belakangnya yang mulus.

Aku hanya diam. Dengan sedikit rasa enggan, aku mengambil lap di dekat wastafel dan mulai berjongkok untuk membersihkan lantai yang basah.

Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang terus dipicu oleh kejadian-kejadian gila sejak semalam.

Aku berdiri, membawa ember dan peralatan taman menuju halaman samping. 

Aku menendang udara kosong dengan kesal. “Ah, kampret!”

Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, aku mulai mencabuti rumput liar.

Karena udara terasa semakin panas dan menyesakkan, aku melepaskan kaosku, membiarkan punggung dan dadaku terkena angin.

Aku terus bekerja, mencoba mengabaikan rasa panas yang menjalar di tubuhku setiap kali membayangkan tatapan aneh Nikita dengan bayangan suara seksinya saat digagahi Gunawan dan paha mulus Vira tadi.

“Perasaan dulu mereka gak segila itu deh penampilannya, kenapa sekarang jadi begitu ya,” tanyaku pada diri sendiri sambil terus mencabuti rumput.

Aku menggelengkan kepalaku. “Biarin lah, yang penting aku bisa di sini lagi, gak perlu tinggal di kamar panas sempit di pelabuhan itu. Dan yang pasti, aku bisa kumpulin banyak bukti buat bales mereka.”

Namun, ketika angin datang agak kencang, jemuran pakaian yang tak jauh dari tempatku roboh.

BRAK!

Beberapa pakaian terbang ke halaman. Dan saat aku menoleh ke arah jemuran itu, tiba-tiba sebuah celana dalam renda berwarna pink jatuh di wajahku.

PUK!

Wangi!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 9. Suara desahan lagi!

    Aku sempat meliriknya sekilas. Vira mematung, matanya yang tadi melotot marah kini terpaku pada dadaku.Entah apa yang sedang dia perhatikan, botol minuman di tangannya dia remas pelan. Ekspresinya yang galak mendadak berubah jadi aneh, seolah dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat."Kenapa, Nona? Ada yang salah?" tanyaku dengan nada sedikit menantang.Vira tersentak, wajahnya langsung merona merah padam. "Apaan sih! PD banget! Aku cuma mau bilang... kerja yang bener! Jangan malah pamer badan kucelmu itu! Jijik tahu nggak!"Tapi dia belum beranjak pergi, tatapannya beberapa kali menatap dada dan bagian bawahku.Aku baru sadar, celanaku basah sehingga si gatot tercetak jelas, malah bagian kepalanya sangat terlihat jelas.“Eh!” Aku langsung menutupinya dengan tanganku.“Dasar gila!” ketusnya, nada suaranya keras tapi sedikit bergetar. Dia langsung menjauh dan berbalik dengan gerakan terburu-buru.Dan tiba-tiba…“Aaa…!” Vira terpeleset. Dengan cepat, aku berusaha men

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 8. Nafsu nenek sihir

    "Cepat, Aris... ayo masukkan sekarang..." bisiknya serak, tidak sabar.Aku tidak menunggu dua kali. Aku mulai menggesekkan kepala si gatot di pinggiran surgawi itu.Lembut, hangat, licin.‘Gila, pantes aja Gunawan kegirangan main sama ini orang. Luar aja kerasa enak gini!’ batinku bersorak.“Ahh … Aris kenapa malah dimainin begitu. Cepat masukkan!” rintih Nikita tak tahan, bahkan dia menggerakkan pinggulnya sendiri, membuat barang berhargaku seperti ingin disedot masuk.Aku menatap wajah laparnya lekat-lekat. Jika sedang seperti ini, Nikita benar-benar terlihat seperti wanita murahan yang haus sentuhan, sangat berbeda dengan Nikita si ibu tiri galak itu.“Kenapa buru-buru sekali, Bu …” kataku lirih sembari terus memainkan ujung si gatot di area kenikmatan itu.Namun, lagi-lagi Nikita menggoyangkan pinggulnya tak sabar. Wajahnya semakin merah, tatapan matanya lebih gelisah.“Ibu udah gak tahan, Aris …”Ah, aku paham sekarang. Wanita ini benar-benar bisa kehilangan akal kalau sudah di

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 7. Gairah memuncak

    Dia sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut sutra tipis itu ke dadaku.Sentuhan itu membuat si gatot yang tadinya sempat meredup karena takut, kini kembali menegang keras.Aku merasa seperti sedang disiksa. Bau melati di tubuhnya kini bercampur dengan bau ketakutan dan gairah yang menyesakkan."Tapi Bu...," sanggahku, meskipun tanganku sendiri sudah mulai gatal untuk membalas pelukannya.Cuma pria nggak normal yang akan diam saja setelah mendapat serangan petang seperti ini!Nikita tersenyum tipis, senyum yang sangat licik namun mematikan. Dia meraih tanganku dan meletakkannya kembali di pinggangnya yang ramping."Tugasmu hari ini belum selesai, Aris. Kamu belum benar-benar 'nurut' sama Ibu," katanya sambil menekan pinggulnya ke arahku. “Memangnya kamu tega melihat ayahmu itu tersiksa terus begitu?”Aku langsung membelalakkan mataku. Dia mau mengancamku dengan memakai ayahku?!Sialan, wanita ini benar-benar tahu cara memanfaatkan situasi.Aku hanya bisa berdiri diam, menikma

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 6. Hampir ketahuan

    Aku menggigit bibirku sendiri untuk menahan suaraku.Aku ini ingin membalas perbuatannya, tapi kenapa dia malah membuatku gila sendiri seperti ini?!“Jangan di tahan, Aris …” bisik Nikita tepat di telingaku, sesekali dia juga meniup telingaku, membuatku semakin merinding.Namun, saat tangannya ingin masuk ke dalam celanaku, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!"Ma! Mama sudah tidur? Vira mau pinjam catokan rambut, punyaku rusak!"Suara melengking Vira membuat kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan panik dan merapikan jubahnya yang sudah sangat berantakan. Wajahnya yang tadi merona kini berubah sedikit pucat karena terkejut."Vira?! Sebentar! Mama lagi di kamar mandi!" teriak Nikita sambil memberi isyarat padaku untuk diam.“B–Bu, gimana ini?” tanyaku panik."Lama banget sih, Ma? Vira masuk ya?!" suara Vira kembali terdengar dibarengi dengan kenop pintu diputar terdengar jelas.Nikita menatapku dengan mata melotot. Dia menarik lenganku dengan kasar dan mendorongku m

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 5. Sentuhan gairah

    Nikita duduk di tepi ranjang dengan pose yang sangat santai, namun jubah mandi sutranya yang tipis itu tidak sanggup menyembunyikan lekuk tubuhnya.Karena kain jubah itu sedikit tersingkap di bagian bawah dan jatuh mengikuti lekuk dadanya, aku bisa melihat dengan sangat jelas bayangan gelap di balik kain merah marun itu.Glek!‘Gokil! Kalau video itu kusebar, pasti langsung viral. Badannya aja semontok ini!’ teriakku dalam hati.Aku bukan pria munafik, melihat seperti ini ya jelas saja membuatku tergugah.Benar-benar tidak ada tali bra atau garis celana dalam yang terlihat. Hanya kulit putih dan bayangan yang menggoda."Cepat ke sini!" panggilnya. Suaranya terdengar penuh intimidasi."I-iya, Bu. Mana yang perlu Aris perbaiki?" jawabku sambil melangkah mendekat dengan canggung karena penampilannya itu.Aku berusaha keras menjaga pandanganku agar tetap tertuju pada kotak perkakas di tanganku, meski sudut mataku terus saja mencuri pandang ke arah paha mulusnya yang menyilang itu.Nikita

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 4. Janjian di kamarnya

    Pandanganku gelap seketika. Aroma parfum bunga yang manis bercampur dengan bau kain bersih langsung menyeruak masuk ke hidungku. Refleks, aku menarik benda itu dengan tangan yang masih kotor karena tanah taman.Aku tertegun. Kainnya sangat tipis, nyaris transparan di bagian pinggirnya, dan ukurannya... benar-benar mungil."Astaga..." gumamku lirih. Aku menoleh ke arah jemuran yang berantakan, lalu kembali menatap benda di tanganku.Entah kenapa, jantungku jadi berdegup dua kali lebih cepat hanya karena memegang benda ini. Aku teringat bagaimana Vira duduk di meja makan tadi pagi dengan daster pendeknya.Apa ini miliknya?Sepertinya ukurannya pas.Membayangkan benda sekecil ini membungkus tubuhnya yang putih mulus membuat tenggorokanku tiba-tiba terasa sangat kering."Woi, Gembel! Ngapain kamu pegang-pegang barangku?!"Suara teriakan dari atas membuatku meloncat kaget. Aku mendongak dan melihat Vira berdiri di balkon lantai dua.Tiba-tiba…Byur!Prang!Dia menyiramkan sebotol air tepa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status