MasukAwalnya Kael hendak mengusir Emily, tangannya yang gemetar terangkat kasar untuk menepis nampan dan mengusir gadis itu dari pandangannya.Namun, gerakan Kael terhenti di udara. Emily dengan cepat menggeser gelang anyaman hitam bersimpul mati itu tepat di bawah jemari Kael, memperlihatkannya dengan jelas di bawah pendar cahaya lampu kamar.Benda usang itu membuat Kael membolakan matanya sempurna.Seluruh otot tubuhnya mendadak kaku, bukan karena racun besi hitam, melainkan karena hantaman memori lama yang mendadak menyeruak paksa dari dasar ingatannya."Kau... dari mana kau mendapatkan benda ini?!" desis Kael, suaranya bergetar hebat, kehilangan seluruh nada otoriter militernya."Aku membawanya dari Kak Johan, Kael," jawab Emily, air matanya menetes mendarat di atas selimut. "Gelang ini... gelang yang kau berikan pada kakakku saat kau menangis di sudut dapur kastil lama."Ingatan itu menghantam Kael layaknya gada besi. Mereka berteman sejak tujuh belas tahun yang lalu, saat Kael yang m
Pintu kayu ek yang tebal itu terbuka perlahan dengan derit halus yang memotong ketegangan di dalam ruangan. Tak lama kemudian, tirai sutra penahan angin di balik pintu terbuka dan Emily masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara bising.Kedua tangannya memegang sebuah nampan perak berisi semangkuk sup herba hangat yang mengepulkan uap beraroma menenangkan, aroma yang sangat akrab di indra penciuman sang Duke selama berbulan-bulan ini.Ia berjalan mendekati ranjang, langkahnya sempat tertahan sejenak saat melihat Kael yang masih terbaring lemah namun sudah sepenuhnya sadar. Tatapan mata elang pria itu langsung menusuk tajam ke arahnya, pekat dengan campuran antara amarah, harga diri yang terluka, dan kebingungan yang mendalam.Thomas mundur beberapa langkah secara hormat, memberikan ruang namun tetap mengawasi situasi dengan cemas.Emily meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jantungnya berdegup
Sinar matahari musim dingin menembus tirai sutra kamar utama kastil Ravenshire, melemparkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang mengilat. Kehangatan uap dari radiator mekanis memenuhi ruangan, mengusir hawa beku yang sempat mencengkeram kastil selama berhari-hari.Kael perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat, seolah kelopak itu terbuat dari timah. Pandangannya kabur selama beberapa saat sebelum langit-langit kamar yang berukir lambang serigala utara mulai terfokus di matanya.Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara hangat memenuhi paru-parunya. Denyut nyeri yang biasanya menghujam beringas di lutut kirinya kini sudah jauh berkurang, berganti menjadi rasa kebas yang tumpul berkat balutan perban baru yang tebal dari tabib utama.Hal pertama yang dilihat oleh Kael saat kesadarannya pulih adalah sosok Thomas. Pelayan kepala itu sedang berdiri setia di samping tempat tidurnya, dengan raut wajah lelah namun penuh kelegaan, bersiap mengganti
Matahari fajar akhirnya menyembul dari balik puncak-puncak gunung es, memantulkan cahaya putih keperakan yang berkilau di atas hamparan salju utara. Namun, keindahan itu sama sekali tidak mengurangi hawa dingin yang mencekam di dalam dinding Kastil Ravenshire.Emily berdiri termenung di sebuah balkon batu kastil yang menghadap langsung ke arah pegunungan utara yang angkuh. Tangannya yang terbungkus sarung kain rajut mencengkeram pagar pembatas batu yang membeku, sementara napasnya keluar sebagai uap-uap kecil yang langsung lenyap disapu angin fajar.Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat.Lucian, sang asisten kastil sekaligus orang kepercayaan Kael, mendatangi Emily dengan wajah yang tampak sangat kusut dan pucat pasi. Ia menghentikan langkahnya beberapa jengkal di belakang Emily, menatap punggung gadis itu dengan napas yang masih memburu."Emily..." panggil Lucian, suaranya bergetar hebat memecah kesunyian balkon batu.Emily tidak membalikkan badannya, pandangannya tetap lurus
Di luar kamar utama yang besar dan sunyi, hawa dingin koridor kastil terasa menusuk hingga ke tulang. Suara denting peralatan medis logam dan desis uap pemanas dari dalam ruangan sesekali terdengar, menandakan tabib utama kastil sedang meracik obat penawar dan membersihkan luka infeksi di kaki Kael dengan tergesa-gesa.Thomas berdiri bersama Emily di dekat pilar batu yang tinggi. Pria tua itu menatap Emily, yang sejak tadi tidak bisa diam dan terus meremas jemarinya yang membeku karena cemas.Thomas tersenyum sedih sambil mengusapi lengan Emily dengan penuh rasa sayang kebapakan, mencoba memberikan sedikit kehangatan di tengah badai takdir yang sedang mengurung mereka."Kau baru saja melakukan hal yang melampaui batas kewajiban seorang manusia, Emily," bisik Thomas, suaranya parau dan bergetar karena emosi yang tertahan."Emily, kau adalah gadis yang memiliki hati sangat baik dan tulus. Aku belum pernah melihat seseorang yang begitu gigih menyelamatkan nyawa orang yang berniat menghab
Setibanya mereka di halaman dalam kastil Ravenshire yang masih sepi dan diselimuti kabut abu-abu, derap langkah kaki kuda yang tersengal-sengal memecah keheningan fajar.Thomas dan para pelayan senior lainnya yang sedang bersiap menyambut pagi dengan membersihkan lampu gantung uap langsung terkejut setengah mati.Beberapa dari mereka bahkan menjatuhkan sapu dan wadah minyak usai melihat Johan Dawson dan Emily Dawson datang membawa pulang Duke Kael dalam kondisi mengenaskan."Astaga! Apa yang terjadi?!" teriak Thomas, wajah tuanya seketika memucat saat mengenali sosok yang terkulai di atas pelana. "Itu... Yang Mulia Duke!"Emily melompat dari kudanya dengan tergesa-gesa hingga sempat tergelincir di atas lantai batu yang licin.Dengan napas memburu dan air mata yang bercampur lelehan salju, ia berteriak dengan suara serak memerintahkan para pelayan yang masih terpaku, "Cepat bergerak! Segera panggil tabib utama kastil ke kamar atas! Kael saat ini sedang berada dalam kondisi sekarat dan
Emily memacu kudanya beberapa langkah di belakang Kael, sementara matanya terus waspada memperhatikan punggung tegap sang Duke.Tidak ada obrolan. Kael bukan tipe pria yang suka berbasa-basi saat berburu; baginya, ini adalah tugas efisiensi, bukan rekreasi.Kael tiba-tiba mengangkat tangan, memberi
“Saya ... saya baru kembali dari dapur, Tuan Duke,” jawab Emily cepat sambil menunduk.Kael melangkah keluar, mendekati Emily hingga jarak mereka hanya tersisa dua langkah. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Emily dengan intensitas yang mencekik.Emily bisa merasakan jantungnya berdegup ken
“Tahan sedikit, Elian,” gumam Lucian tanpa mendongak, dia tengah membasuh luka lecet di telapak tangan Emily dengan teliti. “Luka ini tidak seberapa dibandingkan apa yang akan Duke lakukan jika dia melihatmu melamun di aula tadi.”Emily menarik napas panjang seraya menatap uap yang naik dari mangku
“Kau bilang kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, Benny,” suara Kael memecah kesunyian, begitu tenang namun mengandung ancaman yang mematikan.“Kau bilang dia terluka dan terjebak di dalam gua itu.”Benny tampak gemetar hebat mendengar ucapan Kael barusan. “S-saya benar-benar melihatnya, Tua






