Share

Bab 110

Author: Leona Valeska
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-18 00:41:06

Derap langkah kaki para prajurit Ravenshire menggema di sepanjang koridor kastil yang dingin, menyertai kepulangan Duke Kael dari pertemuan terakhirnya dengan para petinggi pelabuhan.

Emily berjalan di barisan belakang bersama Thomas, mendekap sisa berkas dengan kepala menunduk, mencoba mencerna teka-teki sosok berjubah hitam yang hingga kini belum terpecahkan. Atmosfer kastil terasa semakin mencekam seiring malam yang kian larut.

Begitu mereka tiba di depan ruang kerja pribadi sang Duke, Thoma
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 110

    Derap langkah kaki para prajurit Ravenshire menggema di sepanjang koridor kastil yang dingin, menyertai kepulangan Duke Kael dari pertemuan terakhirnya dengan para petinggi pelabuhan.Emily berjalan di barisan belakang bersama Thomas, mendekap sisa berkas dengan kepala menunduk, mencoba mencerna teka-teki sosok berjubah hitam yang hingga kini belum terpecahkan. Atmosfer kastil terasa semakin mencekam seiring malam yang kian larut.Begitu mereka tiba di depan ruang kerja pribadi sang Duke, Thomas melangkah maju mendekati Kael yang sedang melepas jubah hitam besarnya.“Tuan Duke,” panggil Thomas dengan nada sopan. “Apakah pekerjaan konstruksi ini akan segera direalisasikan dalam minggu ini?”Kael mengangguk perlahan, menyerahkan jubahnya pada pelayan lain yang berjaga di pintu.“Beberapa bangsawan dari wilayah barat dan perwakilan dewan kota sudah sepakat untuk menanam modal besar di proyek bendungan ini. Jadi, kita tidak akan kekurangan dana sepeser pun sampai proyek itu selesai dibuat

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 109

    Kael menatap datar Emily, pandangannya begitu menusuk hingga seolah mampu menembus topeng penyamaran yang dipakainya. Detik berikutnya, sang Duke membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan laut utara yang kelabu.“Aku sangat yakin,” ucap Kael, suaranya terdengar sangat mutlak dan dingin.“Tidak ada toleransi lagi untuk mengeksekusi mereka. Raja sendiri yang menandatangani dekret eksekusi itu, Elian. Jika penguasa tertinggi negeri ini saja berani bertindak sejauh itu, itu artinya kesalahan yang dilakukan oleh Dawson memang nyata dan tak terbantahkan.”Emily mengepalkan jemarinya di balik map kulit, merasakan gejolak kemarahan yang beradu dengan rasa ngeri. “Jadi, keputusan raja adalah kebenaran mutlak bagi Anda, Tuan Duke?” tanyanya lirih.“Di wilayah ini, hukum mahkota adalah jangkar,” sahut Kael tanpa menoleh. “Dan aku tidak akan membiarkan jangkar itu lepas hanya karena sebuah keraguan emosional.”Emily tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya kelu. Ia hanya b

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 108

    Emily melangkah perlahan mendekati meja kerja mahoni yang besar, tempat Kael sedang duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.Pria itu tampak sangat fokus meneliti lembar demi lembar cetak biru proyek bendungan utara. Udara di dalam ruang kerja itu terasa berat oleh keheningan, hanya diinterupsi oleh ketukan ritmis dari jemari Kael yang bebas di atas meja.“Ini dokumen hasil penjualan dua tahun lalu dan kalkulasi material yang Anda minta, Tuan Duke,” ucap Emily dengan suara serak Elian yang terjaga. Ia lalu menyodorkan tumpukan kertas yang sudah dirapikan dengan sangat presisi.Kael menerima berkas itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. “Kau sudah memeriksa semuanya?”“Sudah, Tuan. Seluruh prosedur pengiriman, jadwal bongkar muat di dermaga, hingga rincian anggaran untuk alokasi beton dan baja sudah saya salin secara mendetail sesuai dengan instruksi terakhir Anda,” jelas Emily tenang, meski jantungnya berdegup kencang mengingat rahasianya baru saja dibon

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 107

    Emily menelan salivanya dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sekering gurun. Ia lalu melangkah mendekati meja Thomas, bahkan mengabaikan batasan hierarki yang selama ini ia patuhi.“Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri, Tuan Thomas? Sebagai orang yang menyusun dokumen ini dan menyaksikan segalanya dari dekat, apakah Anda percaya bahwa Lord Dawson adalah seorang koruptor? Apakah Anda benar-benar yakin Johan adalah pengkhianat?”Thomas menghentikan gerakan tangannya. Ruang arsip itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara gesekan samar dedaunan dari luar jendela. Pria tua itu terdiam cukup lama, memandangi ujung pena bulunya yang masih basah oleh tinta hitam.Setelah helaan napas yang terdengar begitu panjang dan melelahkan, Thomas bangkit dari kursinya.Langkah kakinya yang lambat membawanya berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah pelabuhan di bawah sana yang kini mulai ramai oleh lalu lalang kapal uap dan para pekerja yang memi

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 106

    Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah jendela ruang arsip bawah tanah, menerangi jutaan partikel debu yang menari-nari di atas tumpukan dokumen kuno.Emily menyisir baris demi baris berkas keuangan dari dua tahun lalu, mencari manifes penjualan batubara yang diminta Kael sebagai bahan kalkulasi material bendungan baru. Jemarinya yang cekatan mendadak berhenti pada selembar perkamen dengan tepian yang menguning.Dada Emily berdesir hebat. Di sudut kanan bawah kertas itu, tertera sebuah stempel lilin merah berbentuk lambang resmi Kementerian Keuangan era kejayaan ayahnya. Namun, begitu matanya meneliti goresan tinta di samping segel tersebut, dahinya berkerut dalam.‘Ini stempel Ayah,’ batin Emily, jantungnya mulai bertalu keras. ‘Tapi coretan huruf-huruf ini... ini terlalu miring, terlalu kaku. Ini sama sekali bukan guratan pena milik Ayah.’Kejanggalan itu terasa begitu nyata hingga membuat Emily merinding. Ia segera membawa perkamen tersebut mendekati meja Thomas yang sejak

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 105

    Angin pesisir berembus membawa uap garam yang dingin, menerbangkan ujung jubah hitam Kael yang berdiri kokoh seperti pilar batu di atas pasir pantai yang landai.Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis tipis berwarna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Kael berdiri mematung dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, tatapannya kosong menyisir hamparan ombak yang mulai pasang.Emily berdiri beberapa langkah di belakangnya, membiarkan butiran pasir halus masuk ke sela-sela sepatunya. Ia mengamati punggung tegap itu, merasakan aura kesepian yang mendalam terpancar dari sang Duke. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga Emily memberanikan diri untuk memecah sunyi.“Tuan Duke,” panggil Emily lirih. Suaranya hampir tertutup suara deburan ombak. “Jika saya boleh lancang, apakah ada sesuatu yang sedang membebani pikiran Anda?”Kael tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas panjang, membiarkan udara laut yang beku mengisi paru-parunya sebelum mengembuskanny

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status