แชร์

Bab 107

ผู้เขียน: Leona Valeska
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-16 23:52:31

Emily menelan salivanya dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sekering gurun. Ia lalu melangkah mendekati meja Thomas, bahkan mengabaikan batasan hierarki yang selama ini ia patuhi.

“Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri, Tuan Thomas? Sebagai orang yang menyusun dokumen ini dan menyaksikan segalanya dari dekat, apakah Anda percaya bahwa Lord Dawson adalah seorang koruptor? Apakah Anda benar-benar yakin Johan adalah pengkhianat?”

Thomas menghentikan gerakan tangannya. Ruang arsip i
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 108

    Emily melangkah perlahan mendekati meja kerja mahoni yang besar, tempat Kael sedang duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.Pria itu tampak sangat fokus meneliti lembar demi lembar cetak biru proyek bendungan utara. Udara di dalam ruang kerja itu terasa berat oleh keheningan, hanya diinterupsi oleh ketukan ritmis dari jemari Kael yang bebas di atas meja.“Ini dokumen hasil penjualan dua tahun lalu dan kalkulasi material yang Anda minta, Tuan Duke,” ucap Emily dengan suara serak Elian yang terjaga. Ia lalu menyodorkan tumpukan kertas yang sudah dirapikan dengan sangat presisi.Kael menerima berkas itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. “Kau sudah memeriksa semuanya?”“Sudah, Tuan. Seluruh prosedur pengiriman, jadwal bongkar muat di dermaga, hingga rincian anggaran untuk alokasi beton dan baja sudah saya salin secara mendetail sesuai dengan instruksi terakhir Anda,” jelas Emily tenang, meski jantungnya berdegup kencang mengingat rahasianya baru saja dibon

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 107

    Emily menelan salivanya dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sekering gurun. Ia lalu melangkah mendekati meja Thomas, bahkan mengabaikan batasan hierarki yang selama ini ia patuhi.“Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri, Tuan Thomas? Sebagai orang yang menyusun dokumen ini dan menyaksikan segalanya dari dekat, apakah Anda percaya bahwa Lord Dawson adalah seorang koruptor? Apakah Anda benar-benar yakin Johan adalah pengkhianat?”Thomas menghentikan gerakan tangannya. Ruang arsip itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam, hanya menyisakan suara gesekan samar dedaunan dari luar jendela. Pria tua itu terdiam cukup lama, memandangi ujung pena bulunya yang masih basah oleh tinta hitam.Setelah helaan napas yang terdengar begitu panjang dan melelahkan, Thomas bangkit dari kursinya.Langkah kakinya yang lambat membawanya berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah pelabuhan di bawah sana yang kini mulai ramai oleh lalu lalang kapal uap dan para pekerja yang memi

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 106

    Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah jendela ruang arsip bawah tanah, menerangi jutaan partikel debu yang menari-nari di atas tumpukan dokumen kuno.Emily menyisir baris demi baris berkas keuangan dari dua tahun lalu, mencari manifes penjualan batubara yang diminta Kael sebagai bahan kalkulasi material bendungan baru. Jemarinya yang cekatan mendadak berhenti pada selembar perkamen dengan tepian yang menguning.Dada Emily berdesir hebat. Di sudut kanan bawah kertas itu, tertera sebuah stempel lilin merah berbentuk lambang resmi Kementerian Keuangan era kejayaan ayahnya. Namun, begitu matanya meneliti goresan tinta di samping segel tersebut, dahinya berkerut dalam.‘Ini stempel Ayah,’ batin Emily, jantungnya mulai bertalu keras. ‘Tapi coretan huruf-huruf ini... ini terlalu miring, terlalu kaku. Ini sama sekali bukan guratan pena milik Ayah.’Kejanggalan itu terasa begitu nyata hingga membuat Emily merinding. Ia segera membawa perkamen tersebut mendekati meja Thomas yang sejak

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 105

    Angin pesisir berembus membawa uap garam yang dingin, menerbangkan ujung jubah hitam Kael yang berdiri kokoh seperti pilar batu di atas pasir pantai yang landai.Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis tipis berwarna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Kael berdiri mematung dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, tatapannya kosong menyisir hamparan ombak yang mulai pasang.Emily berdiri beberapa langkah di belakangnya, membiarkan butiran pasir halus masuk ke sela-sela sepatunya. Ia mengamati punggung tegap itu, merasakan aura kesepian yang mendalam terpancar dari sang Duke. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga Emily memberanikan diri untuk memecah sunyi.“Tuan Duke,” panggil Emily lirih. Suaranya hampir tertutup suara deburan ombak. “Jika saya boleh lancang, apakah ada sesuatu yang sedang membebani pikiran Anda?”Kael tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas panjang, membiarkan udara laut yang beku mengisi paru-parunya sebelum mengembuskanny

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 104

    Roda kereta kuda yang dilapisi besi berderak konstan di atas jalanan berbatu menuju perbatasan kota, menciptakan ritme yang monoton di tengah keheningan interior kereta yang mewah.Aroma kulit jok yang mahal dan parfum maskulin Kael yang tajam memenuhi ruang sempit tersebut. Emily duduk di kursi kecil yang berhadapan dengan kedua pria berkuasa itu, tangannya mendekap erat tas kulit berisi dokumen perpajakan, sementara matanya sesekali mencuri pandang ke arah luar jendela yang mulai tertutup kabut sore.“Proyek bendungan dan jalur kereta di distrik utara adalah ambisiku yang paling besar tahun ini, Edrick,” Kael memecah kesunyian, suaranya terdengar berat di antara guncangan kereta.“Namun, hambatan birokrasi di dewan kota terus memperlambat pengiriman material. Aku butuh saranmu agar pembangunan ini berjalan tanpa satu pun gangguan teknis maupun politis.”Edrick menyandarkan punggungnya, menatap Kael dengan ketenangan seorang negarawan senior.“Membangun sebuah monumen kekuasaan tidak

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 103

    Suasana di ruang makan yang megah itu mendadak menjadi sangat sunyi setelah langkah kaki Kael menjauh dan menghilang di balik pintu kayu ek yang menuju ke arah koridor belakang.Hanya terdengar detak jam besar di sudut ruangan dan denting halus peralatan makan yang ditinggalkan. Emily masih berdiri mematung di posisinya, jemarinya meremas buku catatan hingga kertasnya sedikit koyak.Edrick meletakkan serbet kainnya ke atas meja, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Emily. Wajahnya yang semula penuh keramahan diplomatik kini berubah menjadi guratan kecemasan yang mendalam.“Emily...” bisik Edrick, suaranya parau seolah-olah nama itu adalah rahasia yang terlarang untuk diucapkan di dinding kastil ini.Emily tersentak, ia melangkah mendekat dengan cepat, memastikan tidak ada pelayan lain yang menguping di balik tirai-tirai beludru. “Paman Edrick,” jawabnya dengan nada gemetar yang tak bisa lagi ia sembunyikan. “Tolong, panggil aku Elian selama kita berada di bawah atap ini.”Edrick tersenyum

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status