Share

Bab 105

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-05-15 23:29:19

Angin pesisir berembus membawa uap garam yang dingin, menerbangkan ujung jubah hitam Kael yang berdiri kokoh seperti pilar batu di atas pasir pantai yang landai.

Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis tipis berwarna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Kael berdiri mematung dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, tatapannya kosong menyisir hamparan ombak yang mulai pasang.

Emily berdiri beberapa langkah di belakangnya, membiarkan butiran pasir halus masuk ke sela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 105

    Angin pesisir berembus membawa uap garam yang dingin, menerbangkan ujung jubah hitam Kael yang berdiri kokoh seperti pilar batu di atas pasir pantai yang landai.Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis tipis berwarna jingga kemerahan yang membakar cakrawala. Kael berdiri mematung dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung, tatapannya kosong menyisir hamparan ombak yang mulai pasang.Emily berdiri beberapa langkah di belakangnya, membiarkan butiran pasir halus masuk ke sela-sela sepatunya. Ia mengamati punggung tegap itu, merasakan aura kesepian yang mendalam terpancar dari sang Duke. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga Emily memberanikan diri untuk memecah sunyi.“Tuan Duke,” panggil Emily lirih. Suaranya hampir tertutup suara deburan ombak. “Jika saya boleh lancang, apakah ada sesuatu yang sedang membebani pikiran Anda?”Kael tidak langsung menjawab. Hanya menarik napas panjang, membiarkan udara laut yang beku mengisi paru-parunya sebelum mengembuskanny

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 104

    Roda kereta kuda yang dilapisi besi berderak konstan di atas jalanan berbatu menuju perbatasan kota, menciptakan ritme yang monoton di tengah keheningan interior kereta yang mewah.Aroma kulit jok yang mahal dan parfum maskulin Kael yang tajam memenuhi ruang sempit tersebut. Emily duduk di kursi kecil yang berhadapan dengan kedua pria berkuasa itu, tangannya mendekap erat tas kulit berisi dokumen perpajakan, sementara matanya sesekali mencuri pandang ke arah luar jendela yang mulai tertutup kabut sore.“Proyek bendungan dan jalur kereta di distrik utara adalah ambisiku yang paling besar tahun ini, Edrick,” Kael memecah kesunyian, suaranya terdengar berat di antara guncangan kereta.“Namun, hambatan birokrasi di dewan kota terus memperlambat pengiriman material. Aku butuh saranmu agar pembangunan ini berjalan tanpa satu pun gangguan teknis maupun politis.”Edrick menyandarkan punggungnya, menatap Kael dengan ketenangan seorang negarawan senior.“Membangun sebuah monumen kekuasaan tidak

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 103

    Suasana di ruang makan yang megah itu mendadak menjadi sangat sunyi setelah langkah kaki Kael menjauh dan menghilang di balik pintu kayu ek yang menuju ke arah koridor belakang.Hanya terdengar detak jam besar di sudut ruangan dan denting halus peralatan makan yang ditinggalkan. Emily masih berdiri mematung di posisinya, jemarinya meremas buku catatan hingga kertasnya sedikit koyak.Edrick meletakkan serbet kainnya ke atas meja, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Emily. Wajahnya yang semula penuh keramahan diplomatik kini berubah menjadi guratan kecemasan yang mendalam.“Emily...” bisik Edrick, suaranya parau seolah-olah nama itu adalah rahasia yang terlarang untuk diucapkan di dinding kastil ini.Emily tersentak, ia melangkah mendekat dengan cepat, memastikan tidak ada pelayan lain yang menguping di balik tirai-tirai beludru. “Paman Edrick,” jawabnya dengan nada gemetar yang tak bisa lagi ia sembunyikan. “Tolong, panggil aku Elian selama kita berada di bawah atap ini.”Edrick tersenyum

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 102

    Emily memegang perkamen jadwal itu dengan tangan yang sedikit lembap. Matanya memindai baris demi baris rencana kegiatan Duke, namun pikirannya masih tertinggal pada peringatan Thomas.Suasana di koridor utama kastil pagi ini terasa jauh lebih formal. Para pengawal berdiri dalam posisi siaga penuh, dan aroma lilin lebah yang baru saja digunakan untuk mengilapkan lantai kayu jati tercium kuat.Tiba-tiba, pintu ganda ruang rapat besar yang berlapis emas itu terbuka lebar. Dentuman beratnya membuat Emily tersentak. Ia segera berdiri tegak, merapikan rompi kainnya, dan menundukkan kepala sedalam mungkin hingga hanya ujung sepatunya yang terlihat.Langkah kaki yang berirama tegas keluar dari ruangan. Emily bisa mendengar suara bariton Kael yang sedang menanggapi lawan bicaranya dengan nada yang lebih sopan dari biasanya, namun tetap memiliki otoritas yang tak tergoyahkan.“Sangat penting bagi kita untuk memastikan stabilitas di pelabuhan utara sebelum musim dingin tiba, Edrick,” ucap Kael.

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 101

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu pucat yang menembus jendela tinggi di ruang kerja sayap timur kastil. Emily berdiri dengan canggung di depan meja mahoni besar yang kini tampak jauh lebih mengintimidasi daripada biasanya.Di depannya, Thomas sedang merapikan setumpuk besar perkamen dengan gerakan tangan yang lambat namun sangat presisi. Pria tua itu mengenakan kacamata tipis di ujung hidungnya, menatap Emily dengan tatapan yang seolah bisa menembus kulit penyamarannya.“Elian, kau sudah siap untuk melakukan tugas pertamamu denganku?” tanya Thomas dengan suara serak khas orang tua.Emily hanya tersenyum tipis, tidak memberikan jawaban apa pun selain hanya mengangguk pasrah.“Jadi, Tuan Duke benar-benar memilihmu,” ucap Thomas bahkan wajahnya tidak memperlihatkan keterkejutan. “Aku sudah menduganya sejak kau berhasil menyusun daftar inventaris gudang anggur dengan akurasi yang tidak biasa bagi seorang pelayan baru.”Emily segera memasang wajah paling polos yang bisa ia bentuk. Ia

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 100

    Lampu gas di dinding kantor pelabuhan itu mendesis, seolah ikut menertawakan nasib Emily yang kini terjepit di antara peluang emas dan jurang kematian.Keputusan Kael barusan bukan lagi sekadar tawaran pekerjaan, melainkan sebuah maklumat yang tidak bisa diganggu gugat. Emily merasakan beban berat menekan pundaknya; sebuah paradoks yang membuatnya mual sekaligus waspada.“Keputusanku sudah bulat,” ujar Kael sambil mematikan cerutunya di asbak perak yang berat.“Thomas akan mulai melatihmu besok pagi setelah fajar menyingsing. Kau akan belajar cara menyandikan surat, memverifikasi manifes kargo, dan yang paling penting, belajar tutup mulut.”Emily meremas ujung seragamnya, berusaha menutupi gemetar di jemarinya. “Tuan, saya hanya khawatir pengabdian saya yang terbatas akan menghambat urusan besar Anda. Posisi asisten pribadi adalah jantung dari kekuasaan Ravenshire.”“Justru karena itu aku memilihmu,” Kael menatapnya dengan tajam. “Jantung yang baru haruslah kuat dan belum terkontamina

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status