LOGINDunia terasa berputar saat Emily membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa rasa terbakar di tenggorokannya, seolah ia baru saja menelan bara panas.Ia terbatuk hebat, mengeluarkan dahak hitam yang bercampur dengan abu. Tubuhnya gemetar kedinginan di atas tanah yang lembap, kontras dengan memori terakhirnya tentang udara yang sanggup mengelupas kulit.“Uhuk! Uhuk... di mana... di mana ini?” rintihnya parau.Ia mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut seakan dihantam gada besi. Emily menatap tangannya yang hitam legam oleh jelaga. Pakaian pelayannya compang-camping, beberapa bagian hangus, namun ia masih hidup.Ia menoleh ke arah timur dan melihat semburat cahaya oranye yang masih menyala di kejauhan, sisa-sisa Gedung Bea Cukai yang kini sudah rata dengan tanah.Ia seharusnya mati di sana. Ia ingat betul saat atap itu runtuh dan api mengurung setiap celah udara. Namun, sekarang ia berada di tengah hutan pinus yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk prajurit Kael. Bagaimana mung
“Elian! Elian, keluar dari sana!”Lucian menjerit hingga kerongkongannya terasa pecah. Ia mencoba menerjang barikade api yang kini melahap ambang pintu, namun sebuah tangan kekar menyentak kerah bajunya dan melemparnya mundur ke atas tanah yang becek.“Tetap di tempatmu, Pelayan!” bentak seorang prajurit Kael, sambil mengacungkan tombaknya agar Lucian menjauh. “Gedung itu sudah jadi tungku neraka. Kau mau mati konyol?”“Pelayan itu... temanku ada di dalam!” Lucian berbohong dengan suara gemetar, air mata mengalir bebas membelah debu di pipinya. “Biarkan aku masuk sebentar saja!”“Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali tikus dan kecoa,” sahut prajurit lain sambil tertawa kasar, lalu menatap kobaran api yang membubung tinggi ke langit malam. “Duke sudah memerintahkan pembersihan total. Mundur, atau kau akan kami seret ke barak!”Lucian berpaling ke arah Kael yang berdiri tidak jauh dari sana. Tampak Sang Duke berdiri tegak dengan tangan bersedekap, wajahnya yang tampan terpantul cah
Hawa panas yang menyesakkan menyambar wajah Emily saat ia mencoba menerobos koridor yang kini dipenuhi lidah api. Asap hitam pekat menggulung di langit-langit, turun perlahan seperti tirai maut yang siap mencekik siapa pun di bawahnya.Emily menutup hidung dan mulutnya dengan sobekan celemek, namun rasa panas itu tetap menembus hingga ke paru-parunya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan bara.“Sedikit lagi, Emily! Jangan berhenti!” teriak Lucian, suaranya parau karena asap.“Aku di belakangmu!” sahut Emily, suaranya nyaris hilang di tengah deru api yang melahap kayu kering.Lantai di bawah kaki mereka bergetar hebat. Struktur bangunan tua dari awal abad ke-20 ini tidak dirancang untuk menahan suhu seekstrim ini.Minyak tanah yang disiramkan para prajurit Kael telah meresap jauh ke dalam pori-pori kayu, menciptakan jalur api yang bergerak lebih cepat daripada langkah kaki mereka.“Pintu samping itu! Lihat, cahayanya sudah dekat!” Lucian menunjuk ke sebuah ambang pintu k
Langkah kaki di tangga kayu itu semakin dekat, menciptakan derit yang seolah menghitung sisa waktu hidup mereka. Emily mencengkeram lengan baju Lucian, matanya terpaku pada bayangan yang perlahan turun ke ruang arsip.Namun, alih-alih sosok pengawal Kael dengan baju zirah gemerincing, yang muncul adalah seorang pria dengan napas tersengal dan pakaian hitam yang compang-camping.“Jacob?” bisik Emily, nyaris tak terdengar.Pria itu tersentak, tangannya yang memegang belati segera terangkat sebelum ia mengenali wajah Emily di balik temaram cahaya api yang mulai merayap dari jendela luar. Jacob, tangan kanan Johan yang paling dipercaya segera menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru.“Nona Emily? Apa yang Anda lakukan di sini?” suara Jacob serak, penuh dengan ketegangan yang nyata. “Anda harus pergi. Sekarang juga!”“Jacob, dokumennya!” Emily mengabaikan peringatan itu, tangannya menunjuk ke laci rahasia yang baru saja ia temukan.“Aku menemukannya, tapi lacinya kosong. Di mana doku
Emily merunduk rendah, memanfaatkan bayangan pilar batu untuk menghindari sorot mata para pengawal yang sibuk mengangkat tong minyak terakhir. Bau menyengat minyak tanah sudah merayap masuk ke paru-parunya, sebuah peringatan bisu bahwa waktu adalah kemewahan yang tidak ia miliki.Dengan gerakan gesit, ia memanjat bingkai jendela samping yang kayu-kayunya sudah rapuh dimakan usia, lalu melompat masuk ke dalam kegelapan gedung.Suasana di dalam jauh lebih mencekam daripada yang ia bayangkan. Udara terasa berat, penuh dengan debu yang beterbangan dan bau apak dari kertas-kertas yang membusuk selama bertahun-tahun.Cahaya bulan hanya masuk dalam garis-garis tipis melalui celah atap yang bocor. Emily melangkah dengan hati-hati, berusaha agar kakinya tidak menginjak pecahan kaca yang berserakan.Tepat saat ia melewati deretan lemari kayu besar, sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul dari kegelapan dan membekap mulutnya dengan keras.“Mmpff—!”Emily meronta, jantungnya seolah ingin melompat ke
Gedung Bea Cukai Lama itu berdiri seperti raksasa yang sekarat di ujung dermaga. Pilar-pilar batunya yang bergaya kolonial telah menghitam akibat polusi jelaga dan kelembapan laut selama puluhan tahun.Suasana di sana sunyi, hanya deru angin laut yang membawa bau amis dan kayu busuk. Emily turun dari kudanya, menatap fasad bangunan yang tampak angker di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis.“Sisir setiap lantai!” perintah Kael. Suaranya memecah keheningan malam dengan otoritas yang tak terbantahkan. “Jangan biarkan satu tikus pun meloloskan diri. Jika kalian menemukan Johan, bawa dia hidup-hidup padaku.”Para prajurit bergerak cepat, mendobrak pintu jati besar yang sudah lapuk dengan sekali hantam. Mereka masuk dengan obor di tangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.Emily mengikuti di belakang Kael, langkah kakinya terasa berat di atas lantai marmer yang retak dan berdebu. Namun, setelah pencarian selama lima belas menit, gedung itu tetap membisu. T







