Share

Bab 9

Author: Leona Valeska
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-03 22:43:45

“Elian! Jangan hanya berdiri menatap kuda. Angkat peti gandum itu ke kereta belakang!” bentak seorang bintara tinggi dengan suara yang parau.

Emily kemudian tersentak. Dia pun segera menghampiri sebuah peti kayu berisi pasokan gandum dan daging kering. Saat ia mencoba mengangkatnya, otot-otot lengannya langsung menegang hebat.

Beban itu jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Emily harus menggertakkan gigi, memaksakan seluruh tenaganya agar peti itu terangkat dari tanah.

Napasnya memburu, tera
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 13

    “Kenapa diam saja?” ucap Kael yang terdengar sangat datar dan tidak sabar. “Potong kulitnya dari bagian persendian kaki belakang. Tarik ke bawah.”Emily menelan ludahnya sambil berusaha menahan rasa mual yang mendesak di tenggorokannya.Ia lalu memposisikan mata pisau di atas kulit rusa yang masih hangat. Saat logam tajam itu menyobek lapisan kulit luar, suara robekan jaringan tubuh hewan itu terdengar nyata di telinganya.Emily memejamkan mata sejenak, sementara jemarinya yang pucat kini mulai berlumuran cairan merah yang lengket.Lucian, yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang nampan kayu kosong, menatap Emily dengan tatapan iba.Ia tahu Emily adalah seorang wanita yang tidak pernah menyentuh bangkai seumur hidupnya. Lucian ingin sekali merebut pisau itu dan menyelesaikannya dalam sekejap, namun ia sadar bahwa Kael sedang mencari alasan untuk menghukum mereka lebih berat.Dengan langkah pelan, Lucian mendekat seolah-olah ingin memberikan nampan tersebut kepada Emily agar dag

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 12

    Selama perjalanan yang melelahkan, mereka tak kunjung menemukan makanan yang bisa mereka makan.Perut Emily melilit perih, rasa lapar mulai mengikis konsentrasinya, namun ketegangan di sekitarnya jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar itu sendiri.Di depannya, Duke Kael memacu kudanya dengan pelan, punggungnya tegak lurus, menolak untuk menunjukkan kelelahan sedikit pun.Di punggung Kael tersampir busur besar yang terbuat dari kayu hitam yang diperkuat dengan lempengan besi di bagian tengahnya. Emily menatap busur itu dengan perasaan ngeri.Ia tahu seberapa besar tenaga yang dibutuhkan untuk menarik tali busur sekuat itu, dan ia tahu seberapa mematikan akurasi sang Duke.Tiba-tiba, Kael mengangkat tangannya. Pasukan di belakangnya berhenti seketika tanpa suara. Kael turun dari kuda, dia bergerak seperti seringan kucing hutan meski ia mengenakan zirah besi.Ia mengambil busur besarnya, memasang anak panah dengan ujung perak yang tajam, dan mulai membidik ke arah semak belukar di kejau

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 11

    Kegelapan di Hutan Obsidian tidak seperti kegelapan di pinggiran kota. Di sini, cahaya bulan seolah tertelan oleh tajamnya dahan-dahan pohon hitam yang saling mengunci di atas kepala.Emily duduk meringkuk di atas akar pohon yang keras sambil memeluk lututnya erat-erat. Di sekelilingnya, para prajurit Duke Kael tertidur dengan tangan tetap menggenggam hulu pedang, sementara api unggun kecil di tengah perkemahan hanya memberikan kehangatan yang minim.Auuuuuuu—Lolongan serigala membelah kesunyian malam, terdengar sangat dekat dari balik semak berduri di sisi barat.Tubuh Emily tersentak hebat. Suara itu bukan sekadar suara binatang baginya; itu adalah suara yang membangkitkan memori paling kelam dalam hidupnya.Ia seolah kembali ke malam di mana ibunya berteriak kesakitan, dengan kaki yang koyak dan darah yang mengalir deras setelah diserang oleh kawanan serigala hutan saat mereka mencoba melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan tahun lalu.“Jangan mendekat... tolong, jangan mend

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 10

    Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.Akar-akar pohon yang menonjol seperti tulang-tulang raksasa sering kali menjerat kaki kuda, membuat perjalanan menjadi sangat lambat dan melelahkan. Emily mencengkeram tali kekang kudanya dengan tangan yang mulai mati rasa karena kedinginan.Di barisan paling depan, Kael tampak tidak terpengaruh oleh suhu yang anjlok drastis. Jubah bulu serigalanya berkibar tertiup angin kencang, menutupi zirah besinya yang berkilau kusam.Meski ia memacu kudanya dengan kecepatan konstan, Emily menyadari bahwa setiap beberapa

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 9

    “Elian! Jangan hanya berdiri menatap kuda. Angkat peti gandum itu ke kereta belakang!” bentak seorang bintara tinggi dengan suara yang parau.Emily kemudian tersentak. Dia pun segera menghampiri sebuah peti kayu berisi pasokan gandum dan daging kering. Saat ia mencoba mengangkatnya, otot-otot lengannya langsung menegang hebat.Beban itu jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Emily harus menggertakkan gigi, memaksakan seluruh tenaganya agar peti itu terangkat dari tanah.Napasnya memburu, terasa sesak karena bebat kain di dadanya yang kini terasa semakin mencekik akibat aktivitas fisik yang berat.Dari sudut matanya, ia melihat Kael berdiri di tangga utama kastil. Duke itu sudah mengenakan jubah bulu serigalanya, sambil memegang sarung tangan kulit sambil mengawasi setiap detail persiapan.Matanya yang dingin tidak pernah lepas dari sosok “Elian” yang tampak kepayahan.Lucian berjalan mendekat sambil memanggul karung jerami. Melihat Emily yang wajahnya mulai memucat karena menahan be

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 8

    Kael keluar dari kolam dengan gerakan yang efisien, bahkan tidak memedulikan air yang bercucuran dari tubuhnya ke lantai marmer. Dia lalu berdiri di depan Emily, menjulang tinggi seperti menara batu yang tak tergoyahkan.“Jangan hanya berdiri di sana dengan mulut terbuka, Elian,” suara Kael tajam, memutus lamunan Emily. “Zirahku. Sekarang.”Emily langsung tersentak. Dengan tangan yang masih gemetar karena syok mendengar nama kakaknya disebut, ia melangkah menuju manekin kayu tempat zirah tempur Kael tersampir.Ia mengambil gambeson, lapisan kain pelindung tebal yang harus dikenakan sebelum lempengan besi.Kael merentangkan kedua tangannya dan membiarkan Emily mendekat. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Emily bisa merasakan panas yang menguar dari kulit Kael yang baru saja terkena air panas.Saat Emily memakaikan gambeson ke tubuh kekar itu, ia harus merapatkan tubuhnya agar bisa menjangkau bagian punggung dan bahu Kael.“Lebih cepat, Elian!” perintah Kael

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status