Share

Bab 10

Author: Leona Valeska
last update publish date: 2026-04-03 22:48:26

Kabut putih yang pekat mulai menelan iring-iringan kuda saat mereka melewati batas luar Hutan Obsidian.

Pohon-pohon di sini tidak seperti pohon di pinggiran Ravenshire; batangnya hitam legam, menjulang tinggi dengan dahan-dahan yang saling melilit, menutupi sebagian besar cahaya matahari yang tersisa.

Emily menarik napas, namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tajam dan membekukan, kontras dengan pelipisnya yang masih basah oleh keringat akibat memikul beban logistik tadi.

Akar-akar poho
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 101

    Fajar menyingsing dengan warna abu-abu pucat yang menembus jendela tinggi di ruang kerja sayap timur kastil. Emily berdiri dengan canggung di depan meja mahoni besar yang kini tampak jauh lebih mengintimidasi daripada biasanya.Di depannya, Thomas sedang merapikan setumpuk besar perkamen dengan gerakan tangan yang lambat namun sangat presisi. Pria tua itu mengenakan kacamata tipis di ujung hidungnya, menatap Emily dengan tatapan yang seolah bisa menembus kulit penyamarannya.“Elian, kau sudah siap untuk melakukan tugas pertamamu denganku?” tanya Thomas dengan suara serak khas orang tua.Emily hanya tersenyum tipis, tidak memberikan jawaban apa pun selain hanya mengangguk pasrah.“Jadi, Tuan Duke benar-benar memilihmu,” ucap Thomas bahkan wajahnya tidak memperlihatkan keterkejutan. “Aku sudah menduganya sejak kau berhasil menyusun daftar inventaris gudang anggur dengan akurasi yang tidak biasa bagi seorang pelayan baru.”Emily segera memasang wajah paling polos yang bisa ia bentuk. Ia

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 100

    Lampu gas di dinding kantor pelabuhan itu mendesis, seolah ikut menertawakan nasib Emily yang kini terjepit di antara peluang emas dan jurang kematian.Keputusan Kael barusan bukan lagi sekadar tawaran pekerjaan, melainkan sebuah maklumat yang tidak bisa diganggu gugat. Emily merasakan beban berat menekan pundaknya; sebuah paradoks yang membuatnya mual sekaligus waspada.“Keputusanku sudah bulat,” ujar Kael sambil mematikan cerutunya di asbak perak yang berat.“Thomas akan mulai melatihmu besok pagi setelah fajar menyingsing. Kau akan belajar cara menyandikan surat, memverifikasi manifes kargo, dan yang paling penting, belajar tutup mulut.”Emily meremas ujung seragamnya, berusaha menutupi gemetar di jemarinya. “Tuan, saya hanya khawatir pengabdian saya yang terbatas akan menghambat urusan besar Anda. Posisi asisten pribadi adalah jantung dari kekuasaan Ravenshire.”“Justru karena itu aku memilihmu,” Kael menatapnya dengan tajam. “Jantung yang baru haruslah kuat dan belum terkontamina

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 99

    Emily merasakan dingin menjalar hingga ke ujung jarinya saat ia menatap gelas wiski yang diletakkan Kael tepat di depannya. Tawaran itu, atau lebih tepatnya instruksi, itu terdengar seperti lonceng kematian bagi penyamarannya.Jika ia berada terlalu dekat dengan Kael, setiap gerak-geriknya akan diawasi secara mikroskopis. Satu kesalahan kecil, dan identitasnya sebagai Emily Dawson akan terungkap.“Tuan Duke, Anda pasti bercanda,” Emily tertawa kecil yang dipaksakan, mencoba mengalihkan ketegangan.“Saya ini Elian, anak desa yang lebih sering menjatuhkan piring daripada menyusun kalimat. Jangankan dokumen negara, menghitung jumlah sendok di dapur saja saya sering keliru.”Kael menyesap wiskinya perlahan, matanya tidak sekalipun beralih dari wajah Emily.“Kecerobohan adalah alasan bagi orang-orang yang malas melatih fokus mereka, Elian. Kau tidak bodoh. Seorang pria bodoh tidak akan bisa menganalisis jalur pelayaran Selat Hitam sepertimu tadi.”“Itu hanya keberuntungan, Tuan! Saya bersu

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 98

    Kael berbalik dan memberi isyarat dengan lambaian tangan agar Emily mengikutinya menuju sebuah bangunan kayu permanen yang berdiri kokoh di ujung dermaga.Itu adalah kantor otoritas pelabuhan pribadi milik keluarga Ravenshire. Begitu pintu kayu jati yang berat itu terbuka, aroma tembakau cerutu yang pekat langsung menyergap, bercampur dengan bau kertas perkamen tua dan minyak pelumas mesin yang menyengat.Ruangan itu berantakan dengan cara yang sangat maskulin. Peta-peta navigasi berukuran besar dipaku secara serampangan di dinding, beberapa menunjukkan rute laut menuju benua seberang dengan garis-garis merah yang tegas. Di tengah ruangan, sebuah meja mahoni besar tertimbun dokumen-dokumen yang disegel lilin.“Duduklah, Elian. Aku benci bicara dengan orang yang berdiri di belakangku seolah mereka sedang bersiap untuk menusuk,” perintah Kael sambil melangkah menuju kursinya yang empuk.Emily menarik sebuah kursi kayu sederhana dengan ragu. “Tempat ini... sangat penuh dengan informasi,

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 97

    Emily terkesiap, kepalanya segera tertunduk dalam hingga dagunya hampir menyentuh kerah seragamnya yang kasar. Ia bisa merasakan aliran darah menderu di pelipisnya.“Tentu saja tidak, Tuan Duke. Ampuni kelancangan saya. Saya hanya seorang pelayan ceroboh yang khawatir jika keterlambatan kita akan membuat Nyonya Habbart murka karena makan malam Anda mendingin.”“Makan malam bisa dipanaskan kembali, Elian. Tapi rasa ingin tahu yang meluap-luap? Itu sering kali berakhir dengan tragedi,” sahut Kael, suaranya tenang namun memiliki ketajaman seperti mata pisau yang baru diasah.Dalam tunduknya, batin Emily bergolak hebat. Ia teringat pada sore-sore yang panjang di perpustakaan rumah keluarga Dawson, di mana aroma cerutu ayahnya bercampur dengan bau kertas perkamen kuno.“Emily, jangan hanya melihat gambar petanya,” suara ayahnya terngiang jelas di benaknya.“Lihatlah rute perdagangannya. Siapa yang menguasai pelabuhan, dia yang memegang nadi kekaisaran. Diplomasi bukan soal siapa yang palin

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 96

    Kael mulai melangkah menyusuri dermaga kayu yang berderit, tangannya disilangkan di balik punggung yang tegak lurus.Emily mengikuti di belakang, setiap langkahnya terasa berat seolah-olah papan kayu di bawah kakinya adalah jerat yang siap mengunci.Langit di ufuk barat telah berubah menjadi palet jingga dan ungu, memantulkan cahaya tembaga yang berkilauan di atas riak air laut yang tenang.Pemandangan itu seharusnya indah, namun bagi Emily, warna merah di langit itu mengingatkannya pada kobaran api yang menghanguskan hidupnya di Bea Cukai.Keheningan di antara mereka hanya dipecah oleh pekikan burung camar yang terbang rendah dan deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang dermaga.Emily meremas tas kulit yang ia bawa, merasakan tekanan dari kertas yang tersembunyi di balik korsetnya. Ia merasa tercekik oleh kesunyian ini.“Tuan Duke,” suara Emily keluar tipis, nyaris tertelan angin laut.Kael tidak menoleh. Ia terus berjalan dengan langkah panjang yang efisien.“Bicaralah jika

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status