MasukSuasana di dalam mobil berangsur hening, setelah emosi Reva lebih stabil. Napasnya masih terdengar berat, tetapi isak tangisnya sudah berganti menjadi helaan napas yang panjang .Elbara, yang sejak tadi setia menemani Reva, menoleh dengan tatapan simpati. Ia tahu, meskipun persidangan telah dimenangkan, luka baru yang dibuka oleh teriakan Arseno di ruang sidang jauh lebih menyakitkan.Elbara membetulkan posisi duduknya, suaranya terdengar sangat hati-hati agar tidak mengagetkan Reva. "Kau mau kita ke tempat yang tenang? Ke Resort Blue Ocean,” tawar Elbara memecah kesunyian. “Di sana kau bisa memulihkan diri, menjauh dari kejaran wartawan, dan tidak ada satu orang pun yang akan mengganggumu."Reva terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jalanan dari balik jendela mobil. Pikirannya masih dipenuhi oleh ekspresi bersalah Baskoro dan tuduhan Arseno. Untuk saat ini, ia memang butuh ruang untuk bernapas, tempat di mana bunyi deburan ombak bisa menenggelamkan suara-suara jahat di kepalanya
Ketika sidang dimulai, Reva duduk dengan tangan saling bertaut erat. Sementara Elbara di sampingnya sesekali memeriksa dokumen terakhir, meski fokusnya lebih banyak terbagi pada napas Reva yang terdengar pendek. Di kursi terdakwa, Arseno mulai gelisah. Kepercayaan dirinya yang setebal baja kini retak, usai kesaksian Siska dan bukti digital yang dihadirkan Elbara.Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hakim Ketua Lukman memasuki ruangan. Semua orang berdiri dalam keheningan yang menegangkan.Setelah pembukaan yang formal, sang Hakim mulai membacakan putusan sela yang dinantikan."Menimbang segala bukti forensik digital, kesaksian saksi kunci, serta rekam jejak transaksi keuangan yang sah," suara Hakim Ketua menggema, "Maka Pengadilan Negeri memutuskan bahwa terdakwa Arseno terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah atas tindak pidana terorisme domestik dan percobaan penculikan terhadap saksi korban Reva Anindya, pelecehan seksual terhadap Saudari Siska, serta tindak pidana pencucian uang
Suasana di depan Pengadilan Negeri pagi itu terasa begitu tegang. Barisan jurnalis dari berbagai media massa sudah memadati tangga masuk. Sementara puluhan aparat kepolisian berjaga ketat untuk mengantisipasi bentrokan. Hari ini adalah hari penentuan, sidang lanjutan yang akan menghadirkan saksi kunci sekaligus menuju putusan yang sangat krusial.Elbara Limantara merapikan dasi sutranya yang berwarna biru gelap. Ia menoleh ke arah Reva yang tampak sedikit pucat, tetapi tetap berdiri tegak dengan mata yang memancarkan keberanian."Maaf, Reva, satu minggu terakhir ini konsentrasiku terpecah. Aku jarang memantau langsung perkembangan kasusmu," ucap Elbara pelan, suaranya terdengar tulus di tengah kebisingan. "Tapi hari ini, aku berjanji akan mendampingimu sampai kita menang."Reva menatap Elbara, tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak pagi tadi. "Aku mengerti, Bara. Kau sedang sibuk mencari Kageo. Kehadiranmu di sini sudah lebih dari cukup bagiku."Di saat keheningan singkat itu te
Usai menonton film, Rezon menuntun Izora menuju sebuah restoran Jepang premium yang berada di lantai atas mal.Rezon memesan sushi dan daging wagyu terbaik. Ia juga meminta pelayan membawakan semua jenis hidangan penutup. "Makanlah sepuasmu, Izora. Aku ingin melihatmu kembali berenergi, setelah ketakutan di dalam bioskop," ujar Rezon bersemangat.Izora menatap tumpukan daging di depannya dengan mata berbinar. "Kau ingin membuatku gemuk?""Aku ingin membuatmu bahagia," balas Rezon dengan kedipan mata.Selepas makan siang menjelang sore yang mengenyangkan, Rezon tidak langsung membawa Izora pulang. Ia meminta gadis itu mengemudikan mobilnya, menuju sebuah area perbukitan di pinggiran kota. Taman itu menghadap langsung ke pemandangan kota dari ketinggian. Di tengah taman, terdapat beberapa gazebo kayu yang dihiasi lampu-lampu kecil."Ini tempat aku pergi merenung, ketika pikiranku kusut," tutur Rezon, saat mereka melangkah masuk ke gazebo.Setelah duduk, Rezon membuka tas yang ia bawa
Rezon sedang duduk tegak di ruang sterilisasi di Rumah Sakit Limantara. Ia menatap tangan kanannya yang masih terbungkus perban putih. Di sampingnya, Izora berdiri dengan setia, sesekali merapikan bajunya untuk menghilangkan rasa gugup.Hari ini adalah momen yang dinantikan Rezon, setelah lebih dari dua minggu harus menahan diri dari aktivitas yang berat.Dokter Christopher, salah satu dokter senior yang juga merupakan bawahan kepercayaan Rezon, mulai menggunting kain kasa itu dengan hati-hati. Lapisan demi lapisan perban terlepas, menyingkap bekas luka yang kini sudah mengering sempurna.Begitu perban sudah tanggal, Rezon perlahan menggerakkan jemarinya. Ia mengepal, lalu membuka telapak tangannya berkali-kali. Senyum lega langsung terbit di wajahnya. "Bebas juga akhirnya," gumam Rezon pelan. Ia menoleh ke arah Christopher. "Jadi, Christopher, kapan aku bisa kembali ke ruang operasi? Jadwal bedah sudah menumpuk."Christopher memeriksa elastisitas kulit dan kekuatan otot tangan Rezon
Ciuman itu terasa begitu memabukkan, seolah-olah waktu di dalam kamar hotel berhenti berputar. Brielle bisa merasakan kehangatan napas Elzen dan debaran jantung pria itu yang seirama dengan miliknya. Namun, tepat saat suasana menjadi semakin intens, Elzen justru tiba-tiba menarik diri. Ia melepaskan tautan bibir mereka dengan lembut.Brielle terkesiap, matanya terbuka perlahan dengan binar yang masih tampak linglung. Ada sedikit rasa kehilangan yang tersirat di wajahnya, saat dekapan Elzen sedikit merenggang.Elzen menarik napas panjang yang tersengal, mencoba menenangkan gejolak di dalam dadanya.Ia menangkup wajah cantik Brielle dengan kedua tangan. Ibu jarinya mengusap bibir gadis itu yang basah dan sedikit bengkak."Aku harus mengakhiri ini sekarang, sebelum aku menginginkan lebih darimu," bisik Elzen dengan suara serak."Aku sudah berjanji pada diriku sendiri... aku akan menjagamu dengan terhormat sampai kita menikah di depan altar."Brielle tertegun. Jantungnya serasa berhenti
Aya kemudian mendorong kursi roda Kageo menuju bagian tengah festival. Di sana terdapat wahana "Nostalgic Rail Express", sebuah kereta mini yang melaju mengelilingi seluruh area Festival. Wahana ini memang lebih lambat, tetapi menawarkan pemandangan yang menarik tanpa harus bersusah-payah.Tiba d
Matahari pukul empat sore masih terasa menyengat. Cahaya berdiri mematung di selasar depan klinik. Ia sengaja tidak menunggu di dalam ruangan ber-AC, melainkan berdiri di dekat pilar besar pintu masuk. Sedikit tersembunyi dari pandangan rekan-rekan kerjanya. Tanpa sadar, jemari Aya terus merema
Di dalam kamar yang temaram, Moza membimbing Reva menuju tepi ranjang. Suasana sunyi apartemen, seolah menjadi pelindung bagi dua wanita ini dari bisingnya dunia luar. Moza mendudukkan Reva dengan hati-hati. Sementara Reva menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan ujung piyamanya, ia me
Mendengar pertanyaan Kageo, Aya tidak memalingkan wajah. Ia justru menatap langsung ke dalam manik mata pria itu. "Saya tidak ada tujuan lain, selain memastikan Anda tetap hangat," jawab Aya dengan suara yang tenang."Seperti janji saya tadi, saya akan bertanggung jawab selama kita melakukan sesi







