Share

Kesalahan Masa Lalu

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2025-12-16 15:50:38

Rezon baru saja tiba di lobi rumah sakit. Ia melangkah cepat menuju ruang kerjanya yang terletak di ujung koridor eksekutif lantai tiga. Sebagai Kepala Rumah Sakit sekaligus dokter bedah ternama, ruangan Rezon adalah yang paling luas dibandingkan dokter lain.

Beberapa perawat dan staf yang berpapasan dengannya memberikan sapaan hormat. Namun, pikiran Rezon sudah melompat ke daftar pasien yang harus dikunjungi pagi ini.

Seperti biasa, asisten setianya, Perawat Sonya, sudah berdiri di depan pintu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Nia Khair
jadi gimna2 aku bingung dan penasaran,,yg tdur sama Moza itu dasta. ,rezon atau saudara yang mana...
goodnovel comment avatar
Mukramah
menegangkan.....hmmmmmm
goodnovel comment avatar
Aofana Aofani
AP lg dong kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pertemuan Pertama dan Terakhir

    Walau hatinya pedih, Reva tidak ingin menunjukkan kerapuhan di hadapan Baskoro. Ia pun menaikkan pandangan dan menjawab dengan mantap."Papa saya... juga sudah meninggal, Pak," jawab Reva dengan nada datar. "Bahkan sebelum saya lahir ke dunia ini."Mata Baskoro terbelalak. Ada kilat keterkejutan yang nyata, seolah jawaban itu adalah hantaman fisik bagi jiwanya. Namun sebelum ia sempat merespons, Reva sudah menyambung kalimatnya dengan tatapan lurus ke piring."Tapi saya beruntung karena memiliki ayah lain yang sangat menyayangi saya. Hanya saja... Beliau juga sudah tiada beberapa tahun lalu," pungkas Reva. Ia kembali menyuap potongan kecil daging ke mulutnya untuk menenangkan diri.Baskoro berdehem sejenak, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak."Ternyata kita hampir senasib, Reva. Kamu kehilangan kedua orang tuamu, sedangkan saya... kehilangan putri saya."Gerakan tangan Reva terhenti di udara. Ia mendongak sejenak, untuk memastikan telinganya tidak salah mendengar."Jika

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Di mana Ayahmu?

    Taksi yang ditumpangi Reva berhenti tepat di depan restoran The Clarinet, sebuah restoran fine dining bertema mediterania yang sangat prestisius. Reva turun dengan langkah ragu. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara waspada dan rasa penasaran yang membuncah. Saat melintasi area parkir, mata Reva tertuju pada sebuah sedan hitam panjang dengan plat nomor khusus. Itu mobil yang sama, yang terparkir di pengadilan kemarin.‘Baskoro sudah di dalam,’ batin Reva sembari menggigit bibirnya.Baru saja Reva hendak menyapa pelayan di pintu depan, pria tegap yang kemarin menghampirinya muncul dari balik pilar. "Selamat siang, Nona Reva. Anda sudah datang," sapa ajudan itu dengan nada formal yang sangat sopan. "Mari saya antarkan ke meja Tuan Baskoro. Beliau sudah menunggu Anda sejak sepuluh menit yang lalu."Reva hanya mengangguk kecil, mengikuti langkah pria itu melewati lorong-lorong restoran yang dihiasi lukisan abstrak. Mereka berhenti di sebuah area private di sudut ruangan, yang m

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kembalilah dengan Selamat

    Mendengar percakapan itu, Dastan pun menyambar ponsel dari tangan Moza. "Halo, Bara! Ini aku. Apa benar Kageo menghilang dari mansion?""Kak, kau sudah mendarat?" Elbara terkejut. "Iya, Kageo tidak kembali semalaman. Bibi Thalia bilang dia mungkin menginap di apartemen pribadinya. Tapi, aku baru saja mengecek lewat resepsionis dan apartemen itu kosong."Dastan langsung mematikan sambungan tanpa kata pamit. Ia beralih ke ponselnya sendiri, menekan nomor Kageo dengan harapan tipis yang tersisa. Namun, suara operator yang dingin kembali menyambutnya. “Nomor yang Anda tuju tidak aktif.”Suara mekanis tersebut membuat Dastan mengetatkan rahangnya. Terlihat jelas, bahwa ia belum bisa menerima kenyataan pahit mengenai keterlibatan sang adik. "Kau benar, Moza. Kageo menghilang. Dia yang membawa Kayden."Dastan terdiam sejenak, menatap kosong ke arah jendela. "Pantas saja ... di foto itu Kayden terlihat begitu nyaman memakan burger. Dia tidak menangis, tidak terlihat seperti tawanan. Itu ka

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Masih Belum Percaya

    Moza memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Dastan. Sesudah membaca pesan masuk itu, sorot mata suaminya meredup oleh kabut ketegangan, Dengan suara bergetar, Moza memberanikan diri untuk bertanya. "Dastan... apa pesan itu dari dia? Dari... Kageo?"Napas Dastan terdengar memburu. Ia menggeleng perlahan, seolah mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai merayap. "Penculik itu baru saja mengirimkan lokasi pertemuan di luar kota," jawab Dastan."Aku tidak percaya bila Kageo yang melakukan drama murahan ini. Kau tahu sendiri, tubuhnya lemah. Kageo juga sangat menyayangi Kayden."Melihat sang suami masih belum percaya, Moza menghela napas panjang. Ia meraih tangan Dastan dan menggenggamnya erat. "Aku tidak bicara tanpa alasan, Dastan. Sudah lama aku mencurigai Kageo, tapi aku menahan diri untuk tidak mengatakannya padamu,” ungkap Moza.“Aku diam, karena aku tidak mau hubungan persaudaraan kalian rusak.”Dastan menyugar rambutnya dengan kasar, tampak frustrasi. Ia bangkit dan ber

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Takut Kehilangan

    Melihat kedatangan Dastan, Reva yang berdiri di dekat pintu langsung mengulas senyum lega. Ia mengangguk singkat ke arah Dastan, sebuah gestur penghormatan sekaligus tanda bahwa ia memberikan ruang pribadi bagi pasangan itu.Begitu Reva berlalu dan pintu tertutup rapat, dunia di dalam ruangan itu hanya milik mereka berdua.Dastan tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang lebar membawanya dalam sekejap ke sisi ranjang."Sayang... kau dan bayi kita... kalian baik-baik saja?" suara Dastan parau, sarat dengan rasa khawatir yang mendalam. Dastan duduk di tepi tempat tidur, meraih tangan Moza yang masih terpasang infus."Aku hampir kehilangan akal sehat saat menerima pesan dari Bara. Katakan, bagian mana yang masih sakit?"Merasakan sentuhan tangan suaminya yang hangat dan kokoh, Moza tak mampu lagi menahan sesak yang menghimpit dadanya. Lekas saja, ia menghambur ke pelukan Dastan, menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami.Sambil meremas kemeja Dastan, Moza terisak pelan. “Kemarin aku s

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kehadiran Pria yang Dirindukan

    Elbara menyesuaikan letak jam tangannya. Matanya melirik ke arah pintu, seolah otaknya sudah menyusun peta perjalanan menuju kantor dan mansion."Moza, aku pergi sekarang. Reva, kau mau kujemput jam berapa nanti?"Reva menggeleng pelan, memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak usah, Bara. Aku akan pulang dengan taksi saja. Aku masih ingin menemani Moza."Elbara mengangguk paham. "Hati-hati. Selalu aktifkan ponselmu."Dengan langkah lebar, pengacara muda itu meninggalkan kamar perawatan.Selepas Elbara berlalu, Moza menoleh ke arah Wulan yang masih setia berdiri di sudut ruangan."Wulan, pergilah ke kafetaria di lantai bawah. Beli makanan yang enak untuk dirimu sendiri, kau butuh tenaga.""Tapi Nyonya—""Ada Reva di sini. Pergilah," potong Moza lembut. Wulan akhirnya membungkuk hormat dan melangkah keluar, menutup pintu dengan pelan.Kini hanya ada Moza dan Reva di dalam ruangan. Suasana mendadak menjadi sangat privat. Moza memperbaiki posisi duduknya, menatap sahabatnya itu lek

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria Berkuasa yang Menutup Diri

    Tak mau memikirkan ucapan Lira lebih lama, Moza masuk ke kamar mandi. Setelah mengunci pintu, ia melepas piyama dan langsung mencucinya bersamaan dengan seragam. Moza menggosok setiap bagian dengan larutan sabun, seolah ingin mencuci noda emosional yang tertinggal.Setelah selesai, ia menyiram tub

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Permintaan Intim

    “S-saya Moza, pelayan baru” jawab Moza tergagap. “Saya sudah mengetuk pintu, tapi Tuan Muda tidak mendengar.”Pria itu terdiam. Matanya berhenti lama pada wajah Moza, seolah menikmati setiap detik kegugupan yang terpancar darinya.“Moza … seharusnya, kamu tetap menunggu sampai aku membukakan pintu.”

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tugas Berbahaya

    Setelah menerima pesanannya, Rezon membawa bungkusan makanan ke meja tempat Moza dan Abigail duduk. Ia menyerahkan burger, kentang, ayam goreng, serta dua gelas cokelat dingin bertabur marshmallow kecil di atasnya.Untuk dirinya sendiri, ia hanya mengambil satu bungkus kentang goreng tanpa saus. Dim

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Marah Atau Cemburu

    Setelah Dastan berlalu, Tuan Markus menatap Moza yang masih berdiri terpaku di tempatnya.“Letakkan nampan di meja, Moza."Moza mengangguk patuh, lantas mendekat ke meja kayu yang semalam dipakai Tuan Markus untuk menulis. Ia meletakkan nampan dengan hati-hati, supaya tidak ada makanan yang tumpah.

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status