مشاركة

Saya adalah Suami Moza

مؤلف: Risca Amelia
last update آخر تحديث: 2026-01-07 23:46:24

Sesuai dengan arah jari telunjuk Kayden, Dastan mengalihkan pandangan kepada Radit yang duduk mematung di kursi roda.

Untuk sesaat, suasana menjadi sangat mencekam.

Nyali Radit seketika menciut, melihat postur Dastan yang tinggi besar dan berotot. Terlebih, mata pria itu bagaikan sinar laser yang mampu melubangi dasar jiwanya.

Dengan gerakan kikuk, Radit kemudian menggeser kursi rodanya mendekat kepada sang ayah untuk mencari perlindungan.

"Papa... siapa dia?" bisiknya ketakutan.

Dastan tidak menanggapi sama sekali, seakan Radit tidak layak untuk diperhatikan. Sambil tetap menggendong Kayden, ia berjalan menuju ke kursi di sebelah Moza.

"Sebentar, Kay. Papa ingin bicara dengan Opa,” bisik Dastan lembut, kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan sebelumnya.

Lidah Moza terasa kelu, seperti terbungkus kapas tebal. Napasnya pendek-pendek, tertahan di kerongkongan. Sungguh, kehadiran Dastan saat ini bagaikan mimpi.

Tadi siang dia masih berpikir pria itu sedang di luar negeri bersama
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Han913
thor kapan update lagi, penasaran sama lanjutannya.
goodnovel comment avatar
virgostkh nsfasf88
GOOD JOB dastan......langsung pada kicep wkwkwk lanjutkan aksimu dastan,jadilah tameng dan benteng yg kokoh untuk mozza dan kayden
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Ingin Selalu Dimanjakan

    Ketika sampai di dalam mobil, Moza meraih botol air mineral dari cup holder dan menyodorkannya pada Dastan. "Minum dulu," ucapnya, masih dengan nada lembut.Dastan menerima botol itu dan meneguk airnya perlahan, berusaha meredakan rasa gatal di tenggorokannya yang terus memicu batuk. Moza memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan kening berkerut. "Apa kau masih bisa menyetir?" tanya Moza cemas.Dastan menghela napas pendek, matanya tetap fokus ke jalan. "Hanya batuk, tentu saja bisa. Aku bukan anak kecil.""Aku bisa menyetir mobil, tapi memang sudah lama tidak melakukannya. Apa aku saja yang mengemudi?" tawar Moza ragu-ragu."Tidak, Moza. Aku tidak mau membahayakanmu,” tolak Dastan, sembari menjalankan mobil dengan sangat hati-hati.Di sepanjang perjalanan, Moza berkali-kali melirik ke arah Dastan. Memantau setiap kali pria itu terbatuk atau memejamkan mata saat lampu merah. Ia berpikir mungkin Dastan jatuh sakit karena kelelahan dan tekanan dari drama keluarganya kemarin.Begitu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Didukung Para Adik

    Pada akhirnya, Dastan membuka pintu mobilnya dan mengajak Moza masuk.Saat Moza melangkah masuk, ia mendengar suara Dastan yang memang lebih serak dari biasanya, seperti tenggorokannya penuh dengan pasir.Moza menoleh saat Dastan duduk di kursi kemudi, lalu mulai memasang sabuk pengaman. "Kata Elzen kau sedang kurang sehat, lalu kenapa masih memaksakan diri mengemudi sendiri?"Dastan membelokkan mobil keluar dari parkiran, tangannya kokoh di kemudi meski wajahnya tampak sedikit pucat."Para sopir juga butuh hari libur untuk berkumpul bersama keluarganya di akhir pekan," jawab Dastan. Suaranya yang parau terdengar jelas di dalam kabin yang sunyi."Aku tidak akan mengganggu waktu mereka hanya karena urusanku."Mendengar itu, Moza terdiam sejenak. Rasa kagum yang tak terduga menyelinap di hatinya.Tak disangka, di balik citra Dastan yang dingin dan otoriter, ternyata pria itu memiliki sisi peka dan manusiawi terhadap kebutuhan para karyawannya. Sesuatu yang jarang ditemukan pada pria di

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   The Limantara Brothers

    Ditanya seperti itu oleh putranya sendiri, Moza bingung harus bagaimana. Apalagi, saat ia melihat Abigail juga menatapnya dengan binar mata yang sama besarnya. Menolak permintaan ini bukan hanya mengecewakan Kayden, tetapi juga akan melukai hati kecil Abigail yang merindukan kebersamaan keluarga.Tak ingin merusak keceriaan dua buah hatinya, Moza akhirnya tersenyum tipis."Mama mandi dulu ya, Sayang. Setelah itu, kita putuskan akan jalan-jalan ke mana, baru Mama menelepon Papa."Kayden dan Abigail langsung bersorak gembira. "Yeyyyy!!!" Mereka melompat kegirangan di atas ranjang hingga seprai yang sudah rapi kembali berantakan."Aku mau beli cupcake rasa stroberi, es krim cokelat yang besar, terus kita ke Fantasy World!" seru Abigail dengan wajah berseri-seri. Jarinya sibuk menghitung rencana yang sudah tersusun di kepalanya.Moza mengangguk sambil tertawa kecil. "Tunggu Mama sebentar ya, kalian bisa bermain dulu di sini."Tanpa menunda lagi, Moza masuk ke kamar mandi. Di bawah kucur

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pilihan Ada di Tanganmu

    Kaki Moza mendadak terasa lemas di pelukan Dastan. Kehangatan pria itu, kata-katanya yang tulus, semuanya seperti ombak yang mengguncang tembok pertahanan Moza. Namun, naluri untuk melindungi hatinya dari luka bangkit lebih cepat. Sebelum dirinya luluh oleh pesona Dastan, Moza buru-buru berbicara dengan nada gugup.“A-aku ingin mengatakan sesuatu, tentang Abigail,” ucap Moza sedikit terbata.“Dia meminta pulang ke mansion. Mungkin… kau bisa mengajaknya besok. Kalau aku akan tetap di sini.” Dastan tidak langsung menjawab. Tangannya masih terasa hangat di pinggang Moza. “Aku tidak setuju bila kita harus tinggal terpisah,” ujarnya tegas. “Aku akan segera mencari waktu yang tepat untuk meminta restu dari Opa Markus. Setelah….” Dastan berhenti sejenak, memastikan Moza mendengar ucapannya. “Setelah kau bersedia memaafkan aku.” Dalam kesunyian, Dastan menatap langsung ke dalam mata Moza, seolah sedang mencari secercah pengampunan di sana.Mendadak, Moza menjadi sangat gugup di bawah tat

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Membutuhkanmu Setiap Hari

    Mobil berhenti dengan mulus di area parkir privat apartemen. Tanpa membuang waktu, Dastan keluar sambil menggendong Kayden yang masih terlelap dalam tidur. Moza berjalan mengiringi di sampingnya dalam diam. Keheningan lobi dan denting lift yang membawa mereka naik, terasa begitu kontras dengan kegaduhan yang terjadi di rumah Tuan Hadinata.Begitu pintu apartemen terbuka, Dastan langsung menuju kamar Kayden. Ia membaringkan tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati, menyelimutinya, dan memastikan putranya nyaman. Moza hanya mengintip dari ambang pintu, sebelum ia melangkah menuju kamar Abigail. Di sana, ia melihat gadis kecil itu sudah tertidur lelap di atas ranjang, ditemani oleh Nuri.Setelah memastikan Abigail aman, Moza mengembuskan napas lega. Ia bergegas kembali ke kamar Kayden, tetapi Dastan sudah tidak ada di sana. Pasti pria itu telah berpindah ke kamar utama.Moza pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menemui Dastan. Entah mengapa ia merasa kotor. Bekas sentuhan R

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tingallah Bersamaku Malam Ini

    Selepas kepergian Tuan Sentosa dan Radit, suasana ruang makan itu menjadi sunyi senyap.Moza kembali menarik lengan Dastan dengan lembut. Matanya menyiratkan permohonan agar mereka segera pergi dari rumah yang menyesakkan ini. Ia tidak ingin ada perdebatan lebih jauh.Namun, Dastan tidak bergeming. Alih-alih berbalik arah, ia justru melangkah maju dan menghampiri Tuan Hadinata yang masih berdiri di ujung meja. Moza menahan napas, khawatir Dastan akan meluapkan amarahnya."Tuan Hadinata, saya meminta maaf karena tidak mengundang Anda pada pernikahan kami," tutur Dastan.Moza mengerjap berkali-kali, seolah ingin memastikan panca inderanya masih berfungsi normal. Dastan meminta maaf?Sebelum melanjutkan, pria itu sedikit membungkukkan badan—gerakan kecil yang berarti besar bagi seseorang seperti Dastan. "Sekarang, saya ingin meminta restu dari Anda. Apa Anda bersedia menerima saya sebagai suami Moza?"Lagi-lagi Moza dibuat tercengang oleh perilaku Dastan yang sangat berbeda. Mungkin j

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status