LOGINJangan lupa berikan gems dan like ya. Yang mau lihat visual kelima Tuan Muda Limantara, bisa kepoin tiktok author : @riscaamelia861
Kegembiraan yang nyata memancar dari wajah renta Tuan Markus. Matanya yang semula sayu karena kantuk, mendadak berbinar terang mendengar nama cucu bungsunya.Pria tua itu lantas menepuk sandaran kursi rodanya dengan penuh semangat."Kageo? Kenapa anak itu harus minta izin segala? Bukankah ini adalah rumahnya sendir?” tanya Tuan Markus dengan suara yang lebih bertenaga. “Thalia, cepat suruh Kageo masuk dan bergabung dengan kakak-kakaknya di sini. Jangan biarkan dia menunggu di udara malam!"Mendengar ucapan sang kakek, ekspresi Dastan berubah seketika. Ada ketegangan yang terlihat jelas dari cara ia mengepalkan tangannya di samping tubuh. Baginya, pertemuan ini adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja bila tidak ditangani dengan kepala dingin."Opa, biar aku yang menemui Kageo di depan," ujar Dastan.Moza segera bangkit berdiri untuk mengikuti suaminya. Rezon, Elbara, dan Elzen serentak hendak menemani sang kakak. Akan tetapi, Dastan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar m
Suara serak milik Tuan Markus memecah keheningan di ruang tengah mansion. Pria tua itu menatap cucu-cucunya dengan binar mata yang lembut."Aku senang melihat kalian semua berkumpul di sini, apalagi dengan membawa pasangan masing-masing," ucap Tuan Markus sambil mengedarkan pandangan. "Sekarang, mari kita makan. Aku tidak mau dua calon cicitku di perut Moza lapar, karena terlalu lama menunggu."Moza tersenyum haru mendengar perhatian sang kakek. "Terima kasih, Opa," jawabnya lembut.Rombongan keluarga besar itu pun beranjak menuju ruang makan yang megah. Di sana, Thalia bersama beberapa pelayan sudah berdiri siaga di samping meja panjang yang dipenuhi hidangan istimewa. Aroma lezat dari berbagai masakan menggoda selera, menciptakan suasana hangat di Mansion Limantara.Mereka mulai menempati kursi masing-masing. Reva, yang masih merasa sedikit asing dengan kemegahan ini, memilih duduk di samping Moza untuk mencari ketenangan. Setelah semua duduk, Tuan Markus memberikan isyarat."Sil
Ketika mobil Dastan memasuki gerbang mansion, seperti ada aliran listrik yang menjalar di udara. Kehadiran tiga mobil mewah yang terparkir di halaman depan, menjadi pertanda bahwa seluruh “Tuan Muda” keluarga Limantara telah berkumpul di sarang mereka.Moza menyentuh lengan Dastan, matanya memancarkan kegelisahan. "Dastan, ayo kita masuk lebih cepat. Kita harus membantu Reva dan Bara,” bisik Moza. “Aku takut situasi di dalam memanas, karena masalah pergantian calon pengantin itu."Dastan mematikan mesin mobilnya, lalu menatap sang istri penuh ketenangan. Ia merapikan anak rambut Moza yang sedikit berantakan karena angin malam. "Tenanglah, Sayang. Elbara seorang pengacara handal yang pandai bicara. Dia pasti bisa membela dirinya dan Reva di hadapan Opa Markus. Aku sangat yakin pada kemampuan adikku."Moza menggelengkan kepala, bibirnya mengerucut tipis. "Bara memang hebat, tapi aku memikirkan Reva. Dia belum pernah mengalami situasi seperti ini, berhadapan langsung dengan otoritas te
Dastan benar-benar membuktikan ucapannya. Di sebuah salon premium di pusat kota, pria itu duduk tenang di sofa lobi dengan laptop di pangkuannya.Kehadiran Dastan tampak kontras dengan suasana sekitarnya yang penuh dengan wanita. Meski ia hanya mengenakan setelan kasual, tetapi kharisma seorang Dastan Limantara tidak dapat disembunyikan.Beberapa wanita yang baru masuk atau sedang menunggu giliran berkali-kali melirik. Bahkan, ada yang sengaja memperlambat langkah hanya untuk mencuri pandang.Ketampanan Dastan yang maskulin, serta sikap telatennya menunggu pasangan di salon, membuat banyak wanita berbisik iri."Lihat itu, jarang sekali ada pria setampan dia mau bersabar di salon sampai membawa pekerjaan," bisik seorang wanita muda kepada temannya."Istrinya sangat beruntung," sahut yang lain.Namun, Dastan tetaplah Dastan. Ia bersikap dingin dan acuh tak acuh. Baginya, lobi salon itu tak ubahnya ruang kerja sementara. Matanya hanya terpaku pada deretan angka dan laporan di layar lapt
Selepas penyatuan raga yang meluruhkan segala pembatas, terjadi perubahan drastis dalam diri Kageo. Pria itu menanggalkan jubah monster yang selama ini ia pakai.Kageo menunjukkan sisi manjanya yang tak terduga—sisi polos yang selama ini terkubur di bawah lapisan dendam. Di meja makan, ia hanya menatap piringnya dengan pandangan malas sampai Aya duduk di sampingnya."Suapi aku," pintanya menuntut perhatian.Aya tidak lagi mendesah kesal atau merasa terancam. Ia mengambil sendok dan menyuapi Kageo dengan gerakan yang penuh ketulusan. Tak hanya itu, Kageo seperti enggan melakukan apa pun sendiri. Ia meminta Aya membantunya mengenakan kemeja, menyisir rambut, dan bersikeras agar sang istri menemaninya melukis.Aya melakukan semua itu dengan hati yang ringan. Menyadari bahwa di balik keangkuhannya, Kageo hanyalah jiwa yang sangat haus akan kasih sayang.Suasana kamar kembali sunyi di malam hari. Aya sibuk merapikan pakaian mereka ke dalam koper besar di sudut ruangan. Setelah selesai, i
Hujan di luar sana seolah menjadi saksi atas pergeseran atmosfer yang terjadi di dalam kamar.Suhu tubuh Kageo yang tadinya sedingin es, kini merayap naik hingga terasa membara. Panas ini bukan lagi akibat demam atau reaksi anemia aplastik, melainkan lahir dari hasrat yang tersulut di tengah kesunyian.Aya bisa merasakan deru napas Kageo yang semakin memburu di ceruk lehernya. Begitu pula detak jantung pria itu yang berpacu kencang.Kageo membuka matanya, menatap Aya dengan rasa lapar yang tak terbendung."Cahaya..." suara Kageo terdengar sangat serak. "Aku ingin menciummu."Sebelum Aya sempat menjawab, jemari Kageo menyelusup ke dagunya, mengangkat wajahnya sedikit untuk mengunci tatapan mereka. Detik berikutnya, Kageo menunduk dan menyesap bibir Aya. Ciuman itu dalam dan menuntut, sebuah luapan emosi dari seorang pria yang baru saja ditarik dari ambang kematian.Lidah mereka pun saling bertautan, menghapus hawa dingin yang masih tersisa.Tatkala oksigen mulai menipis, Kageo melepas
Reva tertegun di tempatnya berdiri. Pikirannya berkecamuk antara rasa syukur dan rasa tidak enak hati yang mendalam. Bagaimana mungkin pria ini bisa begitu baik? Sudah memberikan diskon biaya hukum yang tidak masuk akal, kini Elbara bahkan menawarkan apartemen sebagai tempat perlindungan.Mereka ba
Reva sadar posisi mereka sangat intim. Kaki Reva berada di antara kedua kaki Elbara, dan tangannya kini terkunci di dalam genggaman pria itu."P-Pak Elbara?" bisik Reva dengan suara bergetar, menyadari kekonyolan tindakannya.Elbara tidak langsung melepaskan genggamannya. Ia menatap Reva sejenak, m
Moza baru saja membuka matanya ketika ia merasakan kehadiran seseorang di sisi ranjang.Dastan duduk di sebelah Moza dengan kemeja kerja yang rapi. Namun, ia tidak memegang ponsel atau tablet seperti biasanya.Di hadapannya, di atas meja nakas, sudah tersedia nampan perak berisi sarapan yang tampak
"Anda pikir dengan melibatkan mama saya, Anda sudah menang?" desis Izora memecah keheningan. "Saya pastikan, lain kali rencana Anda tidak akan pernah berhasil."Rezon tetap fokus mengemudi untuk menuju kawasan hotel bintang lima di pusat kota . Ia tampak tak peduli dengan omelan Izora di sepanjang







