Beranda / Romansa / Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa / Si Bungsu yang Misterius

Share

Si Bungsu yang Misterius

Penulis: Risca Amelia
last update Tanggal publikasi: 2025-10-09 01:18:39

Usai keluar dari kamar Tuan Markus, Moza mengikuti langkah Thalia yang cepat dan tegas.

Seiring dengan langkah mereka menuju paviliun, terlihat lampu gantung sederhana yang menyala redup di setiap jarak sepuluh meter. Lantainya bukan terbuat dari marmer, melainkan keramik abu-abu bermotif garis. Di sekelilingnya terdapat tembok tinggi yang dicat putih bersih.

“Ini adalah asrama pelayan,” kata Thalia tanpa menoleh. “Tamu dari luar tidak boleh masuk. Bahkan para Tuan Muda jarang sekali kemari, kecuali ada urusan penting.”

Thalia tetap berjalan di depan Moza, menyusuri lorong yang lebih rendah dari lantai utama mansion. Di sepanjang sisi kiri dan kanan, berjejer pintu-pintu kecil dengan nomor dan nama pelayan yang tertulis di papan kayu.

“Akan kutunjukkan letak kamarmu. Kopermu sudah dibawa oleh Ninda kemari,” pungkas Thalia dengan suara datar.

Mereka terus melangkah sampai di ujung koridor, di mana hanya ada satu pintu yang tersisa.

Thalia merogoh saku bajunya, lalu mengeluarkan sebuah kunci perak. Setelah memutarnya pada lubang kunci, pintu berwarna cokelat itu terbuka dengan suara berderit.

Moza melongok ke dalam, memperhatikan ruangan yang akan menjadi tempatnya berteduh. Kamar itu cukup nyaman, hampir seukuran dengan kamarnya di kota Sarima.

Ada tempat tidur, lemari pakaian, dan sebuah kursi rotan yang dilengkapi meja kecil. Sementara di pojok kamar, kopernya sudah diletakkan dengan rapi.

"Duduklah, Moza. Ini adalah kamarmu," pungkas Thalia.

Ia berdiri di hadapan Moza dan mulai menjelaskan peraturan yang berlaku di mansion.

“Dengarkan baik-baik peraturan bagi para pelayan, hafalkan di luar kepala. Pertama, jam kerja dimulai pukul enam pagi dan selesai pada pukul delapan malam. Bila ada tugas tambahan, akan diberikan uang lembur sesuai keputusan para Tuan Muda.”

Moza mengangguk.

“Kedua, sikap dan perilaku harus sopan, penuh hormat, tidak boleh membantah perintah dari Tuan Markus maupun kelima Tuan Muda. Pelayan dilarang bersitatap terlalu lama dengan para Tuan Muda, apalagi melakukan kontak fisik.”

Thalia menjeda kalimatnya sejenak, kemudian memandang Moza dengan sorot tajam.

"Peraturan ketiga, dan yang paling penting adalah menjaga kerahasiaan. Apa yang terjadi di mansion, tidak boleh diceritakan kepada siapapun, baik itu keluarga, teman, maupun unggahan di media sosial. Jika ketahuan membocorkan privasi keluarga Limantara, kau akan langsung diberhentikan dan dituntut secara hukum.”

Moza menelan ludah. Menjadi pelayan di mansion ini sama artinya dengan terkurung dalam sangkar emas. Namun, semakin aneh peraturan yang berlaku, ia justru semakin tertarik untuk menaklukkannya.

Selesai memberitahu Moza, Thalia menunjuk seragam pelayan yang sudah terlipat di atas tempat tidur. Warnanya merah tua dengan renda putih, yang dilengkapi sepasang kaus kaki hitam.

“Seragam ini harus dipakai setiap hari selama bekerja. Sekarang mandilah dan ganti bajumu dengan seragam.”

“Maaf, Bu Thalia,” sela Moza memberanikan diri. “Tadi, Tuan Rezon meminta saya membuatkan puding delima untuk Tuan Muda Kageo. Saya harus mengantarnya ke mana?”

“Ke lantai dua. Kamar Tuan Muda Kageo letaknya paling ujung,” jawab Thalia. “Puding yang tadi masih tersisa, sudah kusimpan di lemari pendingin. Kau bisa mengambilnya di dapur dan mengantarnya ke kamar Tuan Muda Kageo.”

Thalia kemudian mencodongkan tubuh sedikit ke arah Moza, seperti hendak memberikan petuah yang sangat penting.

“Pintu kamar Tuan Muda Kageo biasanya tidak dikunci. Tapi, kau tidak boleh langsung masuk. Ketuk pintu dulu, dan tunggu sampai dia memberi izin. Setelah mengantar puding, segera keluar tanpa banyak bicara. Tuan Muda Kageo sangat sensitif, tidak suka diganggu."

Moza mengangguk dengan hati berdebar.

Pintu kamar yang tidak dikunci. Sifat yang sensitif. Sungguh, kepribadian Kageo bagaikan teka-teki yang sulit ditebak.

Selepas Thalia pergi, Moza mendekati tempat tidur dan mengangkat seragam merah itu. Ia merabanya sejenak, merasakan tekstur kain yang halus.

Seragam pelayan ini bukan sekadar kain, melainkan simbol bahwa perjuangannya melawan ketidakadilan akan segera dimulai.

Tanpa membuang waktu, Moza membawa seragam itu sambil berjalan keluar dari kamar. Ia menyusuri jalan sempit menuju kamar mandi umum.

Moza menyelesaikan mandinya dengan cepat, lalu mengikat rambut panjangnya membentuk ekor kuda.

Dengan penampilan baru sebagai pelayan, Moza bergegas menuju dapur utama mansion.

Sesuai petunjuk dari Thalia, ia mengambil puding delima dari lemari pendingin dan meletakkannya di atas nampan.

“Bu Thalia, saya akan mengantar puding sekarang,” pamit Moza, meminta izin.

Thalia mengangguk. “Kalau sudah selesai, cepat kembali ke dapur. Kau harus membantu pelayan yang lain menyiapkan makan malam.”

Tanpa menunggu lebih lama, Moza mengangkat nampan dan berjalan ke ruang tengah. Langkahnya mantap, walau hatinya dirundung gelisah.

Memang secara fisik Kageo paling lemah dibandingkan para kakaknya, tetapi ia harus tetap waspada. Bisa jadi orang yang tampak tak berdaya, justru merupakan sosok yang paling berbahaya.

Terlebih, pria di malam itu pernah menyinggung soal ‘kesembuhan’. Dan, di antara kelima putra Limantara hanya Kageo yang sakit dan duduk di kursi roda.

Berusaha menepis kecemasannya, Moza menapaki anak tangga hingga tiba di lantai dua. Ia melewati lima kamar yang tertutup rapat, sebelum akhirnya berhenti di depan pintu paling sudut.

Yakin bahwa itu kamar Kageo, Moza menarik napas panjang lalu mengangkat tangan kanannya.

Tok… tok… tok!

Tidak ada jawaban.

Dari dalam, Moza justru mendengar alunan musik klasik, seperti suara biola berpadu dengan piano. Melodinya mengalir indah, menyayat, sekaligus penuh kerinduan.

Moza mengetuk lagi beberapa kali, tetapi hasilnya tetap nihil. Tak ada suara yang menyahut dari dalam.

Selama beberapa detik, Moza menimbang-nimbang langkah apa yang harus diambilnya. Tidak mungkin ia terus menunggu di sini tanpa kejelasan.

Teringat perkataan Thalia bahwa pintu kamar Kageo tidak dikunci, Moza memberanikan diri untuk menekan tuas. Benar saja, pintu itu terbuka dengan mudah.

Sedikit ragu, Moza berjalan perlahan ke dalam.

Kamar Kageo hanya diterangi lampu meja kecil. Di dinding, tergantung biola antik, gitar akustik, serta sebuah saksofon, yang menandakan kecintaan pemiliknya terhadap musik.

“Selamat sore, Tuan Muda Kageo. Saya Moza, pelayan baru. Tuan Rezon menyuruh saya mengantarkan puding delima ke kamar Anda," sapa Moza memperkenalkan diri.

Ia mengarahkan pandangan ke sekeiling, mencoba mencari keberadaan Kageo.

Detik berikutnya, Moza terpaku ketika pintu kamar mandi terbuka. Seorang pria muda keluar dengan bathrobe hitam yang terbuka di dada, menampakkan kulit pucat berkilau bak mutiara.

Wajahnya tampan, bukan dengan ketegasan maskulin melainkan memancarkan kelembutan seorang pangeran.

“Siapa kamu?” tanyanya curiga. Mata hazel pria itu membesar begitu melihat Moza berdiri di tengah kamar.

Moza tergagap.

Benarkah Ini Kageo, putra bungsu keluarga Limantara? Kenapa dia bisa berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Juliana Nicolebu
iya,,kenapa bab kembali lagi ke awal ...
goodnovel comment avatar
Gex Ayun
knp bab nya tidak bisa di klik?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kekuatan Cinta (THE END)

    Resepsi pernikahan adik-adik Dastan digelar di sebuah restoran taman yang mewah. Usai rangkaian acara dan ramah tamah dengan tamu undangan, musik beralih ke irama yang lebih romantis. Dua pasang pengantin segera maju ke tengah untuk melakukan first dance. Kageo dan Aya berdansa dalam gaya waltz.Meskipun gerakan mereka selaras, Kageo berkali-kali melirik ke arah pintu keluar. Keinginan untuk meninggalkan keramaian sudah berada di ubun-ubun.Kageo mendekatkan wajahnya ke telinga Aya, membisikkan kata-kata dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Aku ingin segera berduaan denganmu, Sayang. Keramaian ini membuatku sesak."Aya hanya bisa tersenyum malu, wajahnya merona merah di balik veil yang sudah disingkap. Detik selanjutnya, Kageo membimbing Aya menuju kursi utama, di mana Tuan Markus dan Dastan sedang duduk mengawasi."Opa, Kak Dastan," Kageo membungkuk hormat, sengaja menunjukkan ekspresi lelah yang dibuat-buat. "Aku dan Aya harus undur diri lebih awal. Tiba-

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Lebih Banyak Tuan Muda

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan kesibukan yang luar biasa bagi Dastan. Sebagai kepala keluarga, ia memikul tanggung jawab besar untuk memastikan kebahagiaan seluruh adiknya. Pertama, ia menemani Rezon melamar Izora secara resmi di hadapan ibunya. Sebuah pertemuan penuh haru yang menandai awal perjalanan baru bagi sang dokter bedah.Tak berhenti di situ, Dastan secara khusus mendatangi Tuan Baskoro, ayah kandung Reva. Petinggi partai politik yang berpengaruh itu menerima sang CEO dengan tangan terbuka.Mengingat integritas keluarga Limantara, Tuan Baskoro dengan penuh keyakinan merestui rencana pernikahan Reva dengan Elbara.Di akhir pekan, Dastan mendampingi Elzen menemui Tuan Edward Wangsa, ayah dari Brielle.Dalam perkenalan keluarga tersebut, Dastan memutuskan untuk menanamkan investasi besar pada perusahaan keluarga Wangsa sebagai pengikat hubungan. Melihat nama besar dan kemantapan finansial keluarga Limantara, Tuan Edward tak kuasa untuk menolak calon menantu seperti Elzen

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Merindukan si Kembar

    Suasana di ruang tengah Mansion Limantara masih dilingkupi kesunyian.Moza duduk di sofa dengan jemari yang saling bertautan erat, matanya tak lepas dari arah koridor menuju ruang kerja.Kegelisahan terpancar jelas dari raut wajahnya. Moza tahu betapa dalamnya luka dan dendam yang selama ini membentengi hubungan Dastan dan Kageo.Reva, yang duduk di sampingnya, mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Moza dengan lembut. Ia bisa memahami keresahan yang tengah melanda hati sahabatnya."Tenanglah, Moza," bisik Reva memberi dukungan. "Aku yakin suamimu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Dastan adalah pria yang bijaksana, dan kehadiran Dokter Cahaya pasti membawa pengaruh positif bagi mereka semua."Moza mengangguk perlahan, meski napasnya masih terasa pendek. "Aku hanya berharap tidak ada lagi dendam, Reva. Keluarga ini harus bersatu."Tak lama kemudian, kesunyian itu pecah oleh derap langkah kaki yang berirama dari arah koridor. Suaranya terdengar kompak, tidak ada kesan terburu-bu

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Dendam Telah Berakhir

    Tuan Markus memandang Kageo dan Cahaya dengan sorot hangat, lalu meminta mereka duduk di meja makan. "Thalia, tolong siapkan hidangan lagi untuk Kageo dan istrinya. Mereka pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," perintah Tuan Markus.Sambil menatap Kageo, sang kepala keluarga itu menambahkan, "Kageo, kau dan istrimu beristirahatlah setelah makan. Besok pagi, kita bicara lagi. Ada banyak hal yang ingin Opa dengar darimu.""Baik, Opa," jawab Kageo patuh.Tuan Markus memberikan isyarat kepada perawatnya untuk mendorong kursi rodanya kembali ke kamar. Begitu pria tua itu berlalu dari ruang makan, ketegangan kembali merayap di antara para pria Limantara. Rezon adalah yang pertama bersuara. "Kageo, apa kau sudah melakukan transfusi darah selama menghilang?""Sudah, Kak. Cahaya yang membantuku dan memastikan aku mendapatkan penanganan yang tepat," jawab Kageo sambil melirik istrinya.“Selama ini, aku bersembunyi di rumah kakekku, di Desa Sentana. Aku juga menikah dengan Cahaya di s

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Aku Sudah Menikah

    Kegembiraan yang nyata memancar dari wajah renta Tuan Markus. Matanya yang semula sayu karena kantuk, mendadak berbinar terang mendengar nama cucu bungsunya.Pria tua itu lantas menepuk sandaran kursi rodanya dengan penuh semangat."Kageo? Kenapa anak itu harus minta izin segala? Bukankah ini adalah rumahnya sendir?” tanya Tuan Markus dengan suara yang lebih bertenaga. “Thalia, cepat suruh Kageo masuk dan bergabung dengan kakak-kakaknya di sini. Jangan biarkan dia menunggu di udara malam!"Mendengar ucapan sang kakek, ekspresi Dastan berubah seketika. Ada ketegangan yang terlihat jelas dari cara ia mengepalkan tangannya di samping tubuh. Baginya, pertemuan ini adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja bila tidak ditangani dengan kepala dingin."Opa, biar aku yang menemui Kageo di depan," ujar Dastan.Moza segera bangkit berdiri untuk mengikuti suaminya. Rezon, Elbara, dan Elzen serentak hendak menemani sang kakak. Akan tetapi, Dastan mengangkat tangannya, memberi isyarat agar m

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Kedatangan si Bungsu

    Suara serak milik Tuan Markus memecah keheningan di ruang tengah mansion. Pria tua itu menatap cucu-cucunya dengan binar mata yang lembut."Aku senang melihat kalian semua berkumpul di sini, apalagi dengan membawa pasangan masing-masing," ucap Tuan Markus sambil mengedarkan pandangan. "Sekarang, mari kita makan. Aku tidak mau dua calon cicitku di perut Moza lapar, karena terlalu lama menunggu."Moza tersenyum haru mendengar perhatian sang kakek. "Terima kasih, Opa," jawabnya lembut.Rombongan keluarga besar itu pun beranjak menuju ruang makan yang megah. Di sana, Thalia bersama beberapa pelayan sudah berdiri siaga di samping meja panjang yang dipenuhi hidangan istimewa. Aroma lezat dari berbagai masakan menggoda selera, menciptakan suasana hangat di Mansion Limantara.Mereka mulai menempati kursi masing-masing. Reva, yang masih merasa sedikit asing dengan kemegahan ini, memilih duduk di samping Moza untuk mencari ketenangan. Setelah semua duduk, Tuan Markus memberikan isyarat."Sil

  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Tempat yang Romantis

    Mobil milik Dastan meluncur mulus memasuki area apartemen.Sebelum mobil berhenti, Dastan merogoh ponselnya dan melakukan panggilan singkat. Tak lama berselang, sosok Wulan muncul dari balik pintu lobi untuk menyongsong kedatangan mereka.Dastan keluar lebih dulu, kemudian menurunkan Kayden dari mo

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Menggoda dalam Gelap

    Suara gemericik air di kamar mandi akhirnya berhenti. Dengan cepat, Moza menyeka sudut matanya yang basah dengan punggung tangan. Tangannya yang lain segera memasukkan bingkai foto itu ke dalam laci nakas, menutup rapat-rapat bukti yang baru saja membakar jiwanya.Ia pun berpindah ke sofa kecil di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Dua Malaikat Kecil

    Setelah bercanda sejenak, Elzen beralih menatap Kayden yang masih menggandeng erat tangan Dastan. Ia merunduk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan bocah lelaki itu. Tatapannya penuh kekaguman yang jujur."Wah, jadi ini keponakan baru Paman," puji Elzen dengan senyum lebar. "Kau tampan sekali. Saa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Pelayan Lima Tuan Muda Perkasa   Pria yang Terluka

    Moza menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam detak jantungnya yang menggila.Motif apa yang tersembunyi di balik pertanyaan Dastan? Bisa jadi itu jebakan, bisa pula ujian kejujuran. Namun, kemungkinan paling berbahaya adalah pria itu benar-benar tidak tahu dan sedang mencari kebenaran.Karena i

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status