Share

Bab 3

Author: Velune
last update publish date: 2026-09-14 10:57:52

Ini hari kedua Anindya bekerja di rumah keluarga Vayudipta. Sesuai perjanjian jika dia akan menginap dan pulang di pagi hari. Dan ketika sore hari, Anin akan datang lagi untuk memasak makan malam keluarga ini. Sejak malam tadi, Anin tak lagi mendatangi kamar Arka. Alaric berkata jika dia tidak perlu mengantar makanan sebab Arka masih tertidur. Pun begitu dengan pagi tadi dia masih tidak dibiarkan melihat lelaki itu. Tak ada yang bisa Anin lakukan selain hanya menurut.

Setelah dari ruang makan untuk menyiapkan tempat makan, Anin kembali ke dapur. Di sana, bibi Maria, salah satu ART yang bekerja di rumah itu langsung menyambutnya. Dia langsung bertanya banyak hal pada Anin. Mungkin dia mencemaskan pekerjaan Anin selama satu hari semalam. Apakah bisa membuat tuan Vayudipta puas atau tidak. Tapi ternyata, jawaban yang Anin berikan bisa membuat dia lega.

“Syukurlah. Pokoknya jangan sekali-kali membuat ulah di rumah ini ya. Apalagi sampai berbicara kalau nggak diminta,” ujarnya.

Anin mengangguk. “Iya, bi. Anin juga nggak berani kok. Ibu juga udah pesan kalau Anin jangan sembarangan melakukan apapun di rumah ini. Bahkan untuk berbicara aja juga gak boleh selain sama bibi dan mang Ujang. Tugas Anin cuma masak.”

“Nah bagus kalau kamu tahu. Karena kalau kita buat masalah sedikit saja, maka kita pasti akan dihukum. Iya kalau cuma dipotong gaji, tapi kalau sampai dikeluarkan bisa gawat.”

“Gawat?” Anin memandang bibi Maria bingung.

“Iya. Kalau sudah dikeluarkan, hidup kita gak akan tenang lagi, Nin.”

“Kenapa begitu, bibi?”

Bibi Maria tampak menoleh ke arah pintu dapur. Lalu dia berjalan mendekati Anindya sembari berbisik pelan.

“Ketika masuk ke dalam rumah ini, kita para pekerja sudah membuat perjanjian dan disumpah. Kita bekerja di bayar mahal tapi harus mentaati peraturan, tapi jika kita membuat masalah maka kita akan dihukum. Bukan hukuman penjara dari polisi, tapi dari mereka sendiri.”

Anindya langsung mengernyit mendengar penjelasan bibi Maria. “Kenapa dari mereka sendiri?”

“Karena mereka tidak ingin kita mengatakan apapun tentang keadaan di rumah ini kepada orang luar. Ibu kamu pasti udah memberitahu tentang hal itu kan? Nah jadi, tuan besar Vayudipta sudah punya tempat sendiri untuk menghukum para pekerjanya yang melakukan kesalahan.”

Anindya mengangguk mengerti. “Apa sudah ada yang pernah dihukum, bibi?”

“Sudah. Dengar-dengar sudah ada beberapa pelayan yang sampai sekarang gak ada kabarnya. Ada yang beberapa tahun, belasan tahun bahkan gosipnya yang puluhan tahun juga ada.”

Jantung Anindya serasa berdernyut mendengar itu.

Kenapa mengerikan sekali hukuman di keluarga ini? Apa karena mereka keluarga bangsawan maka dari itu peraturannya begitu ketat.

“Heh, kok malah bengong. Udah ayo mulai masak biar bibi bantu. Kamu udah tahu kan apa saja yang menjadi menu favorite keluarga ini?”

Ucapan bibi Maria membuat Anindya tersadar dari lamunan. Dia mengangguk dan langsung memandang bahan masakan yang sudah tersedia dan tinggal dieksekusi.

“Sudah, bibi. Malam ini ayam bakar madu untuk tuan Alaric dan tuan Kaizar. Sup ayam asparagus untuk tuan besar, sedangkan bubur ayam untuk tuan Arkalana.”

“Ya, benar. Syukurlah kalau kamu sudah hafal. Semoga saja masakan kamu sama seperti ibumu ya agar cucu-cucu tuan besar menyukainya.”

Anindya langsung tersenyum getir. Dia hanya bisa mengangguk pelan dan mulai mengerjakan pekerjaannya.

Kata orang masakannya enak. Anindya selalu belajar memasak bersama ibunya di rumah di sela kegiatannya kuliah dan juga merangkai bunga di toko sahabatnya. Tak ada yang istimewa dari kehidupan seorang Anindya Gayatri. Dia hidup dari hasil ibunya yang bekerja menjadi pelayan di rumah keluarga bangsawan Vayudipta selama sebelas tahun ini. Dari hasil bekerja di rumah ini, Anin bisa kuliah dan hidup tanpa kekurangan.

Hanya saja, satu minggu ini ibunya mulai sakit-sakitan. Dokter memvonisnya mengalami kebocoran jantung. Ibu Anindya tak lagi bisa bekerja seperti biasa. Mereka butuh uang untuk biaya kuliah Anindya yang sebentar lagi wisuda dan juga untuk pengobatan ibunya. Jadi mau tidak mau Anin harus menggantikan ibunya bekerja di rumah ini agar mereka tidak kehilangan pemasukan.

Beruntungnya, tuan besar Vayudipta memberi izin untuk Anindya menggantikan ibunya. Mungkin karena kepercayaan, maka dari itu Anindya bisa dengan mudah menginjakkan kaki di rumah ini.

“Hei, kamu.”

Tiba-tiba suara berat seseorang membuat Anindya yang sedang berkutat di depan kompor sedikit terkejut. Dia berbalik dan langsung terpaku saat melihat Alaric sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan mata yang tajam dan wajah yang dingin tak bersahabat.

Buru-buru Anindya membungkukkan tubuhnya, sama seperti bibi Maria.

“Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya Anindya sopan. Wajahnya tenang, tapi tidak dengan jantungnya. Apa Alaric mendengar pembicaraan mereka?

“Makan malam untuk Arkalana sudah selesai?” tanya lelaki itu.

Anindya langsung menghela nafas lega. Dia pikir Alaric akan bertanya tentang hal yang tak bisa dia jawab. Atau dia mendengar pembicaraan mereka yang sedang membicarakan peraturan di rumah ini.

“Sudah tuan, tinggal disajikan,” jawabnya. Tanpa berani untuk memandang wajah lelaki itu.

“Sajikan sekarang dan antar ke kamarnya.”

“Baik, tuan. Saya … akan mengantarnya ke kamar tuan Arka,” jawab Anin sedikit gugup. Dia mendadak teringat bagaimana menghadapi Arkalana kemarin. Anin berharap jika pertemuannya dengan Arkalana kali ini tidak akan seburuk kemarin.

“Aku akan mengantarmu dan menunggumu di depan pintu, sampai aku memastikan jika kamu telah memberikan semua bubur dan obat itu.” Lelaki itu menyerahkan sebuah plastik obat berisi kapsul pada Anindya.

‘Obat ini lagi,’ batin Anindya dalam hati. Tiba-tiba saja dia teringat akan reaksi Arka usai memakan dan meminum obat itu kemarin. Hatinya benar-benar tidak tega.

“Jangan bengong! Lakukan tugasmu! Ibumu sudah tahu tentang obat ini dan biasanya dia melakukannya tanpa diminta.” Alaric menatap Anin yang malah terdiam memandangi bungkus obat itu.

Anindya tersentak. Buru-buru dia langsung menyiapkan makan malam untuk Arka. Setelah semua tersaji, dia pergi menuju kamar Arka bersama Alaric di lantai atas.

Di depan lift, mereka berpapasan dengan Kaizar. Lelaki itu baru saja keluar dari lift. Matanya menatap Anindya datar. Bahkan dia memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Kenapa dia di sini lagi?” tanyanya dingin pada Alaric. Tapi matanya tetap pada Anindya yang membawa makanan Arka.

“Dia menggantikan bibi Asnah. Jadi mulai sekarang dia akan terus ada di sini untuk merawat Arka dan menyiapkan makanan kita.”

“Sembarangan sekali memasukkan orang ke dalam rumah,” kata Kaizar lagi. Seperti tidak suka sekali melihat ada orang asing di dalam rumah ini.

“Diamlah. Sekarang minggir, aku ingin mengurus kakakmu yang tidak berguna itu,” sinis Alaric yang langsung berjalan dan mendorong sedikit tubuh Kaizar agar tidak menghalangi jalan Anin.

“Sialan. Dia juga kakakmu kalau kamu lupa,” dengus Kaizar tak terima.

Namun Alaric tak peduli, dia hanya berjalan dan langsung masuk ke dalam lift. Tentu saja Anindya langsung mengikutinya. Begitu dia masuk ke dalam lift dan kembali menghadap keluar, Kaizar juga kembali menoleh dan memandang mereka. Di sela pintu lift yang akan tertutup, Anindya bisa melihat sekilas wajah Kaizar.

‘Nah kan, benar. Dia Kai, ketua BEM di kampus. Pantas aja gak asing. Jadi di sini rumahnya. Dan selama ini ibu bekerja di rumah dia?’ Anindya hanya bisa bergumam di dalam hati setelah mengenali Kaizar.

Anindya berada di satu universitas yang sama dengan Kaizar. Mereka satu angkatan namun berbeda fakultas. Lelaki berparas tampan yang digilai mahasiswi di universitasnya itu cukup mengejutkan Anin. Pasalnya selama ini dia hanya melihat dari jauh saja atau mendengar cerita sahabatnya tentang Kaizar yang memang berasal dari keluarga bangsawan. Tak pernah menyangka jika sekarang dia bekerja di rumahnya. Dan yang semakin tidak disangka jika Kaizar yang dikenal ramah dan hangat di kampus malah terlihat dingin sekali di rumahnya sendiri.

“Ayo.” Suara Alaric membuat lamunan Anindya buyar. Dia kembali mengikuti lelaki itu yang membawanya menuju sebuah kamar yang berada di paling sudut dan jauh dari kamar-kamar yang lain.

Anindya bahkan bingung kenapa kamar Arka berada jauh seperti terisolasi dari kamar yang lain.

“Siapa nama kamu tadi?” tanya Alaric kembali.

“Saya Anindya, tuan.”

Alaric mengangguk. “Kamu masih kuliah?”

“Iya.”

“Jurusan?”

“Seni.”

Alaric menoleh ke arah Anindya, dahinya tampak mengernyit. Entah kenapa tatapan matanya membuat bulu kuduk Anin terasa meremang. Di tempat yang sunyi dan sedikit remang-remang ini dia malah memandangi Anin seperti itu.

“Emh … ada apa, tuan?” tanya Anin mulai takut dan ragu. Jangan-jangan dia akan dibawa ke kamar lain, bukan ke kamar Arkalana?

Astaghfirullah. Pikiran buruk langsung menghantui kepala Anindya sekarang. Apalagi dia ingat perkataan ibunya jika ketiga tuan muda yang ada di rumah ini sedikit berbeda. Jangan diganggu, jangan disentuh, dan jangan membuat masalah kalau tidak ingin mereka berbuat hal yang mengancam.

Keluarga Vayudipta memang dikenal sebagai keluarga dermawan dan senang membantu orang lain. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana keadaan di dalam rumah ini yang sebenarnya. Apalagi mereka semua laki-laki. Tidak ada satu orang pun keluarga perempuan di rumah ini. Aneh sekali.

“Tuan … apa ada yang salah dengan perkataan saya?” tanya Anindya sekali lagi saat Alaric terus saja memandanginya.

“Tidak. Aku hanya heran kenapa kau menjawab pertanyaanku hanya dengan sepatah kata?”

Eh … Anindya terkesiap. Apa boleh kalau dia menjawab lebih banyak?

“Ck … sudahlah. Sekarang masuk dan pastikan jika dia memakan makanan itu seperti kemarin. Setelah itu kau boleh keluar,” ujarnya.

Anin mengangguk pelan. Namun dia masih membeku memandangi bubur dan bungkus kapsul yang dia genggam. Masih teringat jelas bagaimana Arkalana yang kesakitan dan kejang setelah meminum obat ini.

Jika memang itu obat untuk menyembuhkan, kenapa kondisi Arkalana bisa seperti itu?

‘Jangan-jangan obat ini adalah racun?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 20

    Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 19

    Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 18

    Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 17

    Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 16

    Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 15

    “Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status