LOGIN“Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”
“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap. Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap. “Enak tuan?” Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya. “Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.” “Diamlah!” Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan. Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan. Tangan Arka gemetar setiap kali suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Bukan hanya karena lapar, tapi karena dia merasa kalau sekarang dia sangat menyedihkan. Hanya untuk semangkuk bubur saja dia harus menunggu lama. Padahal dulu dia bisa makan apapun yang dia inginkan. “Tuan … kenapa menangis?” Arka terkesiap saat mendengar pertanyaan gadis pelayan itu. Tangannya berhenti memegang sendok, dia usap dengan cepat wajahnya yang sudah basah. Air mata sialan ini tanpa sadar menetes dengan sendirinya. “Tuan baik-baik saja? Kalau buburnya tidak enak, biar saya ganti ya?” Arka diam. Dia tidak mengindahkan apa yang gadis itu tanya. Tangannya terus melahap bubur hingga habis, tak peduli ada air mata yang menetes. Tak ada yang tahu betapa hancur dan terluka hatinya sekarang. Tak akan ada yang tahu betapa terpuruknya seorang Arkalana Sigrid Vayudipta dengan keadaan yang menyedihkan ini. Padahal dulu dia bisa melakukan apapun dengan kekuasaan yang dia miliki. Namun sekarang, dia hanya seorang manusia tidak berguna bagai sampah. “Tuan.” Melihat Arka yang hanya diam, Anin mendekatinya. Namun tiba-tiba … Prang! Gadis itu langsung terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Arka melemparkan mangkuk buburnya begitu kuat ke dinding yang ada di sampingnya. Tubuh gadis itu sampai terhenyak dan mematung untuk beberapa detik. Membiarkan suara pecahan mangkuk yang menggema di dalam kamar kosong itu. “Tu-tuan …” Arka menatapnya tajam. Deru nafasnya sudah berbeda. Bukan karena dia marah, tapi karena dia sadar jika di dalam bubur itu sudah dicampur dengan obat yang membuat kesehatannya selama ini tidak pernah pulih. Arka tertawa, namun tawa yang terdengar getir. “Agh…” Dia meremas kemeja di bagian dadanya kuat. Rasa sakit itu mulai datang lagi. Rasa sakit yang membuat dia seakan ingin mati saat itu juga. “Tuan kenapa?” Anin panik, dia mendekati Arka dan memandangi wajahnya yang sudah pucat. Sungguh, Arka sudah tak mampu lagi untuk mengatakan apapun. Rasa sesak dan sempit di dadanya membuat dia tidak berdaya. Jangankan untuk bergerak, untuk berbicara rasanya sudah tidak mampu. “Ah sakit.” Tubuhnya yang tertunduk hampir terjatuh ke lantai jika tidak dengan cepat Anin menahan bahunya. “Tuan, ya Allah. Kenapa?” Dia panik setengah mati menahan tubuh Arka. Namun tak lama, Arka kejang. Dan itu semakin membuat Anin kebingungan. Beruntungnya, kejang itu tak lama, namun Arka langsung terkulai dan tidak sadarkan diri. Anin menyandarkan tubuh Arka di kursi rodanya, lalu dia berlari keluar dari kamar. Berniat untuk meminta bantuan. Namun, begitu pintu dia buka, Alaric ternyata sudah berdiri di depan sana. “Dia sudah makan buburnya?” tanya lelaki itu bahkan sebelum Anin memberitahu keadaan Arka. “Tuan … Tuan Arka kejang dan sekarang pingsan. Saya gak tahu kenapa dia begitu. Tolong dia tuan.” Alaric menoleh ke dalam. Ya, dia hanya menoleh. Bibirnya tampak tersenyum samar. “Tidak apa-apa. Dia memang seperti itu setelah meminum obatnya. Itu hanya efek samping. Di dalam obat itu ada obat penenang juga.” “Tapi itu obat atau racun, kenapa tuan Arka sampai sesak nafas dan kejang?” “Sembarangan.” Alaric menatapnya kesal. “Itu karena tubuhnya yang tidak sehat. Sudah, jangan banyak bertanya. Tugasmu sudah selesai. Sekarang biarkan Arka istirahat.” “Tapi dia nggak bergerak lagi, tuan.” Anin menoleh ke dalam, dia tidak tega melihat Arka yang sudah tidak berdaya di kursi rodanya. “Nanti aku yang akan memindahkan dia ke tempat tidur.” “Tapi …” “Anin … ingat kataku. Tugasmu hanya merawat Arka. Jadi biarkan dia beristirahat. Setelah kau menyiapkan makan malam untuk kakek, kau bisa kembali untuk membersihkan kamar ini.” Anin terdiam. Jujur saja hatinya merasa ada yang janggal. Banyak hal yang ingin dia tahu tentang Arkalana. Apa sebenarnya yang dialami oleh lelaki itu? Beberapa saat kemudian di ruang makan keluarga Vayudipta. Ruang makan itu hening. Bahkan suara denting sendok dan piring tak terdengar sama sekali. Padahal ketiga lelaki berbeda usia ini sedang menyantap makan malam yang Anin masak sore tadi. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Di keluarga Vayudipta tak boleh ada yang berbicara ketika sedang makan. Tak boleh ada suara, bahkan hanya suara denting sendok di piring. Benar-benar hening dan rapi. Mereka bertiga duduk dengan gestur tubuh berwibawa layaknya orang-orang bangsawan pada umumnya. Anin yang berdiri bersama dua pelayan lain dan juga asisten tuan Vayudipta di belakang mereka hanya bisa memandang sambil menahan debar jantung yang sejak tadi bergemuruh. Hingga akhirnya, suara denting sendok di piring tuan besar Vayudipta mengakhiri makan malam mereka kali itu. Tak lama, Alaric dan Kaizar juga ikut menyudahi makan mereka. “Anindya Gayatri.” “Enggih, tuan besar. Saya.” Anin maju mendekat ke belakang tuan Vayudipta saat tuan besar itu memanggilnya. Dia menunduk sopan, menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang paling dihormati di keluarga itu. “Masakanmu sama seperti Asnah. Cocok di lidahku. Aku mengizinkanmu untuk tetap bekerja di sini.” “Terima kasih tuan besar.” “Lalu bagaimana dengan mengurus Arkalana? Apa kamu bersedia?” Anindya tertegun untuk beberapa saat. Dia melirik ke arah adik-adik Arkalana yang saat itu hanya berani meliriknya tanpa ikut campur. “Saya bersedia, tuan. Tapi seperti perjanjian di awal, saya ada di sini dari sore sampai pagi hari. Di siang hari saya harus kuliah dan menjaga ibu di rumah.” “Ya. Bagus. Kamu hanya perlu memberinya makan saat dia bangun. Tapi jika dia sedang tertidur, jangan pernah diganggu atau dibangunkan. Dia akan marah jika tidurnya terganggu.” “Baik, tuan.” “Satu lagi.” Tuan Vayudipta menoleh sedikit ke arah Anin. Dan itu membuat jantung Anin semakin berdebar kencang. Jujur saja berhadapan dengan tuan besar ini sungguh membuat nyalinya menciut. Aura yang pria sepuh ini miliki cukup kuat dan dominan. Dia benar-benar terlahir sebagai bangsawan sesungguhnya hingga hanya dengan tatapan matanya saja sudah bisa mengintimidasi. “Jangan sekali-kali kamu membocorkan keadaan Arkalana ke dunia luar. Baik itu pada orang terdekatmu sekalipun. Jika ada yang tahu bagaimana keadaan Arkalana yang sebenarnya, maka kamu akan aku hukum dengan hukuman yang berat.” Anin langsung menelan ludah mendengar itu. “Enggih, tuan besar. Baik, saya berjanji tidak akan membocorkan keadaan tuan Arka pada siapapun,” jawabnya. Pria sepuh itu hanya mengangguk. Dia langsung beranjak dari kursinya. Dengan sigap asistennya memberikan tongkat kayu yang selalu tuan Vayudipta bawa kemanapun dia pergi. “Apa kakek jadi pergi ke Bandung besok pagi?” tanya Alaric yang juga ikut bangun dari kursinya. “Ya. Kau jaga kakakmu dengan baik. Kabari jika terjadi sesuatu.” “Baik,” jawab Alaric dengan senyum simpulnya. Senyum yang langsung berubah seketika saat mobil tuan besar Vayudipta sudah pergi meninggalkan rumah itu. ‘Tenang saja, kakek. Aku akan mengurus cucu sulung kesayanganmu itu agar tidak merepotkan kita lagi.’Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban
Tangan Anindya sedikit bergetar saat dia membuka pintu kamar. Apalagi saat melihat kamar itu gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi. Hanya bayangan Arkalana yang terduduk di sisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, itu pun bisa terlihat karena cahaya dari luar ruangan yang pintunya Anin buka sebelum akhirnya dia tutup kembali.“Permisi, tuan. Saya masuk ya. Saya bawa makanan,” ucap Anindya pelan sembari meraba saklar lampu yang berada di dalam kamar itu.Aroma tak sedap sudah menyusup masuk ke hidungnya. Bau amis, bau keringat, dan juga bau air seni terasa begitu menyengat. Jujur saja, perut Anin terasa mual saat masuk lebih dalam. Entah kenapa bisa sekotor dan sebau ini. Kemarin juga sudah seperti ini, hanya saja tidak terlalu buruk. Namun sekarang, rasanya bertambah parah. Apa memang tidak ada yang membersihkan?‘Astaghfirullah.’ Anindya terkejut setengah mati saat melihat kondisi kamar. Begitu lampu hidup, suasana kamar langsung bisa terlihat jelas. Apalagi
Ini hari kedua Anindya bekerja di rumah keluarga Vayudipta. Sesuai perjanjian jika dia akan menginap dan pulang di pagi hari. Dan ketika sore hari, Anin akan datang lagi untuk memasak makan malam keluarga ini. Sejak malam tadi, Anin tak lagi mendatangi kamar Arka. Alaric berkata jika dia tidak perlu mengantar makanan sebab Arka masih tertidur. Pun begitu dengan pagi tadi dia masih tidak dibiarkan melihat lelaki itu. Tak ada yang bisa Anin lakukan selain hanya menurut.Setelah dari ruang makan untuk menyiapkan tempat makan, Anin kembali ke dapur. Di sana, bibi Maria, salah satu ART yang bekerja di rumah itu langsung menyambutnya. Dia langsung bertanya banyak hal pada Anin. Mungkin dia mencemaskan pekerjaan Anin selama satu hari semalam. Apakah bisa membuat tuan Vayudipta puas atau tidak. Tapi ternyata, jawaban yang Anin berikan bisa membuat dia lega. “Syukurlah. Pokoknya jangan sekali-kali membuat ulah di rumah ini ya. Apalagi sampai berbicara kalau nggak diminta,” ujarnya.Anin menga
“Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap.Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap.“Enak tuan?”Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya.“Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.”“Diamlah!”Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan. Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan. Tangan Arka gemetar s
"Buang obat itu, atau aku patahkan tanganmu!” teriak Arkalana begitu murka.Gelas kaca berisi air jatuh pecah ke lantai usai dilemparkan oleh Arka yang menolak meminum obat.Alaric hanya tersenyum tipis, dia merapikan kerah kemeja putihnya yang tak berkerut sedikit pun. "Kak Arka makin hari makin emosional. Ini obat dari dokter khusus yang dipanggil Kakek. Kalau tidak diminum, bagaimana Kakak bisa sembuh?" ucap Alaric, dia adik kedua Arka."Dokter pilihan Kakek? Kau pikir aku tidak tahu apa isi kapsul itu?" bentak Arka dari atas kursi roda. Matanya merah, tajam menembus manik mata adiknya. Badannya tegap, tetapi kedua kakinya terkulai layu di atas kursi roda."Kakak mulai paranoid. Depresi akibat vonis lumpuh memang berat. Kakek sampai prihatin melihat Kakak yang selalu mengamuk setiap hari,” sahut Kaizar, adik ketiga Arka yang berdiri bersandar di ambang pintu, bersedekap dada sambil terkekeh pelan menatapnya."Kalian berdua..." Suara Arka berat, penuh akan amarah yang tertahan di t







