Share

Bab 2

Author: Velune
last update publish date: 2026-09-14 10:51:21

“Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”

“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap.

Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap.

“Enak tuan?”

Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya.

“Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.”

“Diamlah!”

Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan.

Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan.

Tangan Arka gemetar setiap kali suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Bukan hanya karena lapar, tapi karena dia merasa kalau sekarang dia sangat menyedihkan. Hanya untuk semangkuk bubur saja dia harus menunggu lama. Padahal dulu dia bisa makan apapun yang dia inginkan.

“Tuan … kenapa menangis?”

Arka terkesiap saat mendengar pertanyaan gadis pelayan itu. Tangannya berhenti memegang sendok, dia usap dengan cepat wajahnya yang sudah basah. Air mata sialan ini tanpa sadar menetes dengan sendirinya.

“Tuan baik-baik saja? Kalau buburnya tidak enak, biar saya ganti ya?”

Arka diam. Dia tidak mengindahkan apa yang gadis itu tanya. Tangannya terus melahap bubur hingga habis, tak peduli ada air mata yang menetes. Tak ada yang tahu betapa hancur dan terluka hatinya sekarang. Tak akan ada yang tahu betapa terpuruknya seorang Arkalana Sigrid Vayudipta dengan keadaan yang menyedihkan ini. Padahal dulu dia bisa melakukan apapun dengan kekuasaan yang dia miliki. Namun sekarang, dia hanya seorang manusia tidak berguna bagai sampah.

“Tuan.” Melihat Arka yang hanya diam, Anin mendekatinya.

Namun tiba-tiba …

Prang!

Gadis itu langsung terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Arka melemparkan mangkuk buburnya begitu kuat ke dinding yang ada di sampingnya. Tubuh gadis itu sampai terhenyak dan mematung untuk beberapa detik. Membiarkan suara pecahan mangkuk yang menggema di dalam kamar kosong itu.

“Tu-tuan …”

Arka menatapnya tajam. Deru nafasnya sudah berbeda. Bukan karena dia marah, tapi karena dia sadar jika di dalam bubur itu sudah dicampur dengan obat yang membuat kesehatannya selama ini tidak pernah pulih.

Arka tertawa, namun tawa yang terdengar getir. “Agh…” Dia meremas kemeja di bagian dadanya kuat. Rasa sakit itu mulai datang lagi. Rasa sakit yang membuat dia seakan ingin mati saat itu juga.

“Tuan kenapa?” Anin panik, dia mendekati Arka dan memandangi wajahnya yang sudah pucat.

Sungguh, Arka sudah tak mampu lagi untuk mengatakan apapun. Rasa sesak dan sempit di dadanya membuat dia tidak berdaya. Jangankan untuk bergerak, untuk berbicara rasanya sudah tidak mampu.

“Ah sakit.” Tubuhnya yang tertunduk hampir terjatuh ke lantai jika tidak dengan cepat Anin menahan bahunya.

“Tuan, ya Allah. Kenapa?” Dia panik setengah mati menahan tubuh Arka. Namun tak lama, Arka kejang. Dan itu semakin membuat Anin kebingungan. Beruntungnya, kejang itu tak lama, namun Arka langsung terkulai dan tidak sadarkan diri.

Anin menyandarkan tubuh Arka di kursi rodanya, lalu dia berlari keluar dari kamar. Berniat untuk meminta bantuan.

Namun, begitu pintu dia buka, Alaric ternyata sudah berdiri di depan sana.

“Dia sudah makan buburnya?” tanya lelaki itu bahkan sebelum Anin memberitahu keadaan Arka.

“Tuan … Tuan Arka kejang dan sekarang pingsan. Saya gak tahu kenapa dia begitu. Tolong dia tuan.”

Alaric menoleh ke dalam. Ya, dia hanya menoleh. Bibirnya tampak tersenyum samar. “Tidak apa-apa. Dia memang seperti itu setelah meminum obatnya. Itu hanya efek samping. Di dalam obat itu ada obat penenang juga.”

“Tapi itu obat atau racun, kenapa tuan Arka sampai sesak nafas dan kejang?”

“Sembarangan.” Alaric menatapnya kesal. “Itu karena tubuhnya yang tidak sehat. Sudah, jangan banyak bertanya. Tugasmu sudah selesai. Sekarang biarkan Arka istirahat.”

“Tapi dia nggak bergerak lagi, tuan.” Anin menoleh ke dalam, dia tidak tega melihat Arka yang sudah tidak berdaya di kursi rodanya.

“Nanti aku yang akan memindahkan dia ke tempat tidur.”

“Tapi …”

“Anin … ingat kataku. Tugasmu hanya merawat Arka. Jadi biarkan dia beristirahat. Setelah kau menyiapkan makan malam untuk kakek, kau bisa kembali untuk membersihkan kamar ini.”

Anin terdiam. Jujur saja hatinya merasa ada yang janggal. Banyak hal yang ingin dia tahu tentang Arkalana. Apa sebenarnya yang dialami oleh lelaki itu?

Beberapa saat kemudian di ruang makan keluarga Vayudipta.

Ruang makan itu hening. Bahkan suara denting sendok dan piring tak terdengar sama sekali. Padahal ketiga lelaki berbeda usia ini sedang menyantap makan malam yang Anin masak sore tadi.

Namun, peraturan tetaplah peraturan. Di keluarga Vayudipta tak boleh ada yang berbicara ketika sedang makan. Tak boleh ada suara, bahkan hanya suara denting sendok di piring. Benar-benar hening dan rapi. Mereka bertiga duduk dengan gestur tubuh berwibawa layaknya orang-orang bangsawan pada umumnya.

Anin yang berdiri bersama dua pelayan lain dan juga asisten tuan Vayudipta di belakang mereka hanya bisa memandang sambil menahan debar jantung yang sejak tadi bergemuruh.

Hingga akhirnya, suara denting sendok di piring tuan besar Vayudipta mengakhiri makan malam mereka kali itu.

Tak lama, Alaric dan Kaizar juga ikut menyudahi makan mereka.

“Anindya Gayatri.”

“Enggih, tuan besar. Saya.” Anin maju mendekat ke belakang tuan Vayudipta saat tuan besar itu memanggilnya. Dia menunduk sopan, menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang paling dihormati di keluarga itu.

“Masakanmu sama seperti Asnah. Cocok di lidahku. Aku mengizinkanmu untuk tetap bekerja di sini.”

“Terima kasih tuan besar.”

“Lalu bagaimana dengan mengurus Arkalana? Apa kamu bersedia?”

Anindya tertegun untuk beberapa saat. Dia melirik ke arah adik-adik Arkalana yang saat itu hanya berani meliriknya tanpa ikut campur.

“Saya bersedia, tuan. Tapi seperti perjanjian di awal, saya ada di sini dari sore sampai pagi hari. Di siang hari saya harus kuliah dan menjaga ibu di rumah.”

“Ya. Bagus. Kamu hanya perlu memberinya makan saat dia bangun. Tapi jika dia sedang tertidur, jangan pernah diganggu atau dibangunkan. Dia akan marah jika tidurnya terganggu.”

“Baik, tuan.”

“Satu lagi.” Tuan Vayudipta menoleh sedikit ke arah Anin. Dan itu membuat jantung Anin semakin berdebar kencang.

Jujur saja berhadapan dengan tuan besar ini sungguh membuat nyalinya menciut. Aura yang pria sepuh ini miliki cukup kuat dan dominan. Dia benar-benar terlahir sebagai bangsawan sesungguhnya hingga hanya dengan tatapan matanya saja sudah bisa mengintimidasi.

“Jangan sekali-kali kamu membocorkan keadaan Arkalana ke dunia luar. Baik itu pada orang terdekatmu sekalipun. Jika ada yang tahu bagaimana keadaan Arkalana yang sebenarnya, maka kamu akan aku hukum dengan hukuman yang berat.”

Anin langsung menelan ludah mendengar itu. “Enggih, tuan besar. Baik, saya berjanji tidak akan membocorkan keadaan tuan Arka pada siapapun,” jawabnya.

Pria sepuh itu hanya mengangguk. Dia langsung beranjak dari kursinya. Dengan sigap asistennya memberikan tongkat kayu yang selalu tuan Vayudipta bawa kemanapun dia pergi.

“Apa kakek jadi pergi ke Bandung besok pagi?” tanya Alaric yang juga ikut bangun dari kursinya.

“Ya. Kau jaga kakakmu dengan baik. Kabari jika terjadi sesuatu.”

“Baik,” jawab Alaric dengan senyum simpulnya.

Senyum yang langsung berubah seketika saat mobil tuan besar Vayudipta sudah pergi meninggalkan rumah itu.

‘Tenang saja, kakek. Aku akan mengurus cucu sulung kesayanganmu itu agar tidak merepotkan kita lagi.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 20

    Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 19

    Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 18

    Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 17

    Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 16

    Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 15

    “Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status