Share

Pelayan Pilihan Tuan Arka
Pelayan Pilihan Tuan Arka
Author: Velune

Bab 1

Author: Velune
last update publish date: 2026-09-14 10:46:18

"Buang obat itu, atau aku patahkan tanganmu!” teriak Arkalana begitu murka.

Gelas kaca berisi air jatuh pecah ke lantai usai dilemparkan oleh Arka yang menolak meminum obat.

Alaric hanya tersenyum tipis, dia merapikan kerah kemeja putihnya yang tak berkerut sedikit pun.

"Kak Arka makin hari makin emosional. Ini obat dari dokter khusus yang dipanggil Kakek. Kalau tidak diminum, bagaimana Kakak bisa sembuh?" ucap Alaric, dia adik kedua Arka.

"Dokter pilihan Kakek? Kau pikir aku tidak tahu apa isi kapsul itu?" bentak Arka dari atas kursi roda. Matanya merah, tajam menembus manik mata adiknya. Badannya tegap, tetapi kedua kakinya terkulai layu di atas kursi roda.

"Kakak mulai paranoid. Depresi akibat vonis lumpuh memang berat. Kakek sampai prihatin melihat Kakak yang selalu mengamuk setiap hari,” sahut Kaizar, adik ketiga Arka yang berdiri bersandar di ambang pintu, bersedekap dada sambil terkekeh pelan menatapnya.

"Kalian berdua..." Suara Arka berat, penuh akan amarah yang tertahan di tenggorokan.

Kakinya tidak bisa bergerak sejak kecelakaan tunggal yang terjadi beberapa bulan lalu. Rem mobil mewahnya tiba-tiba blong. Sebuah kecelakaan rekayasa yang terlalu rapi untuk dipercaya.

"Sudahlah, Kak. Istirahat saja. Oh ya, tunanganmu, maksudku mantan tunanganmu mengirim salam untukmu. Dia bilang dia tidak bisa menjenguk karena tidak tega melihat calon suaminya menjadi cacat dan tidak berguna! Mungkin besok dia akan datang sekaligus untuk memutuskan pertunangan kalian,” cerocos Alaric sengaja meledek Arka sambil meletakkan butiran obat baru di meja samping tempat tidur.

Sontak amarah Arka makin meledak saat Alaric sengaja menyebut tentang hal itu. Viona, tunangannya memang sudah lama tidak datang setelah dia divonis mengalami kelumpuhan.

"Keluar!" teriak Arka. Tangannya menyapu bersih vas bunga di sampingnya hingga pecah berhamburan.

Alaric dan Kaizar saling melempar pandang penuh kemenangan sebelum melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

Mereka tahu persis aturan Vayudipta, Hanya keturunan sah dari satu ayah dan satu ibu yang berhak menjadi pewaris utama. Tanpa Arka, aturan itu harus runtuh. Dan jalan terbaik meruntuhkannya adalah membuat Arka gila dan tak berdaya.

Di dalam kamar yang luas itu, Arka mengepalkan tangannya. Dia bukan pria lemah dan bukan menjadi pria tempramental tanpa sebab.

Sejak kecil dia dididik sebagai harimau. Namun, keberadaannya di atas kursi roda dengan tubuh yang terus digerogoti obat beracun dari kedua adiknya membuat posisinya terpojok.

Di mata Kakek Vayudipta, Arka kini hanyalah cucu sulung yang depresi, temperamental, dan tidak stabil secara mental. Bagiamana mungkin dia bisa bangkit kembali dan meneruskan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Setelah kepergian Alaric dan Kaizar, Pintu kamar kembali terbuka pelan.

"Mau ngapain lagi kalian?! Sudah kubilang keluar!" bentak Arka tanpa menoleh.

"Ma-maaf, Tuan..."

Suara itu asing. Halus, sedikit bergetar, tetapi tidak terdengar panik.

Arka memutar roda kursinya dengan kasar. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda mengenakan kemeja lusuh yang kepanjangan dan celana jeans pudar. Rambutnya diikat asal-asalan, memegang nampan berisi mangkuk bubur panas dan segelas air putih.

"Siapa kau? Kenapa kau yang mengantar bubur? Di mana Bi Asnah?" tanya Arka dingin.

"Saya Anindya, Tuan. Anaknya Bi Asnah," jawab gadis itu jujur.

Dia mengumpulkan segala keberanian lalu melangkah masuk, mengabaikan pecahan keramik dan vas bunga yang berserakan di lantai meski banyak pertanyaan di kepala.

“Siapa yang menyuruhmu masuk, dan aku tanya dimana Bi Asnah?” kembali Arka berteriak.

"Ibu… Ibu saya masuk rumah sakit. Sakitnya parah dan harus dioperasi. Jadi... saya yang menggantikan tugas Ibu merawat Tuan hari ini,” jawab Anin dengan bibir bergetar.

"Aku tidak butuh pelayan baru. Pergi!” usir Arka tanpa banyak berpikir.

Dengan kondisinya yang seperti itu, dia menjadi sulit percaya pada semua orang dan menganggap semua orang adalah penipu bermuka dua yang ingin membunuhnya.

"Saya tidak bisa pergi, Tuan. Saya butuh pekerjaan ini. Saya butuh uang untuk biaya operasi Ibu dan bayar uang semesteran kampus minggu depan,” jawab Anin sambil berjalan mendekat, meletakkan nampan di meja yang jauh dari jangkauan Arka.

Arka tertawa sinis, suara tawa yang hampa dan mengerikan. "Kau pikir aku peduli dengan urusan pribadimu? Pergi sebelum aku panggil pengawal untuk menyeretmu keluar!"

"Jangan Tuan. Tidak perlu panggil pengawal. Nanti saya pergi sendiri. Tapi, Tuan harus makan bubur ini dulu," sahut Anin berusaha bersikap tenang.

Dia berlutut di dekat lantai, mulai memunguti pecahan vas bunga satu per satu dengan tangan telanjang.

Arka menyipitkan mata. Sikap gadis ini berbeda dari pelayan lain yang biasanya gemetar ketakutan atau langsung melarikan diri jika dia mengamuk.

"Kau tidak takut padaku?" tanya Arka dengan tatapan yang sangat tajam. Berusaha terus menebarkan gertakan, tapi gadis itu masih juga terlihat tenang.

Anin menghentikan gerakannya sejenak. Dia memberanikan diri menatap langsung ke mata Arka sebelum menjawab.

"Saya lebih takut tidak bisa bayar operasi Ibu saya daripada takut pada Tuan yang ngamuk di atas kursi roda."

Kamar itu mendadak hening. Belum pernah ada orang lain, selain kedua adiknya sendiri, yang berani menyindir kondisi Arka secara terang-terangan seperti itu. Apalagi ini hanya seorang pelayan. Cukup berani.

"Apa katamu? Kau sengaja menyindirku?" Arka menatapnya tajam. Tangannya bahkan sudah mengepal karena begitu emosinya dia.

"Tidak berani Tuan. Tapi saya tau, Tuan marah karena merasa tidak berdaya, kan? Ibu saya sering cerita. Tuan itu orang hebat, pemimpin cerdas. Tapi sekarang Tuan membiarkan diri Tuan hancur hanya karena mengurung diri dan melampiaskan amarah pada orang yang salah,” jawab Anin sambil berdiri, membersihkan tangannya. Dia mencoba memuji majikan barunya itu, meski kini kondisinya terpuruk.

"Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku!" bentak Arka sambil memajukan kursi rodanya hingga tepat di depan Anin.

Tanpa aba aba, dia mencengkeram pergelangan tangan Anin dengan sangat kuat dan membuat gadis itu memohon ampun.

“Ampun Tuan, tolong lepaskan…” pinta Anin.

Bukannya melepaskan, Arka justru makin mengeratkan cengkeramannya.

"Tahu apa kau soal rasanya dijebak, diracuni, dan dikhianati. Hah?”

Anin merintih pelan karena cengkeraman itu terasa amat keras, tetapi mata cokelatnya tidak goyah sedikit pun. Dia terus menatap Arka sambil menahan sakit.

"Kalau Tuan tahu sedang dijebak dan diracuni, kenapa Tuan cuma diam saja dan menyerah? Tuan malah menyerang pelayan lemah seperti saya? Untungnya apa Tuan? Awh…. Sakit Tuan…tolong lepaskan…”

Arka seketika terpaku mendengar jawaban dari Anin. Arka merasa ucapan Anin ada benarnya. Tidak ada gunanya melampiaskan amarah pada anak pembantu itu. Tangannya perlahan melepaskan pergelangan tangan Anin.

Setelah cengkeraman tangan Arka terlepas, Anin menarik napas dalam-dalam agar bisa kembali tenang. Dengan hati hati dia berjalan mengambil nampan bubur lalu kembali ke hadapan Arka.

"Maaf Tuan, sebenarnya saya tidak peduli dengan konflik keluarga Tuan. Tugas saya di sini cuma memastikan Tuan tetap baik baik saja sampai Ibu saya sembuh, agar saya mendapatkan gaji saya. Jadi, Tuan bisa makan bubur ini dulu untuk mengisi perut,” ujar Anin menggunakan kesempatan diamnya Arka untuk kembali bicara.

Arka menatap gadis di depannya dengan tatapan menelisik. Di mata Anin, tidak ada rasa kasihan yang merendahkan seperti yang ditunjukkan Kakeknya, tidak ada kepalsuan seperti milik Alaric dan Kaizar, dan tidak ada ketakutan layaknya para pelayan sebelumnya. Yang ada hanya keteguhan orang miskin yang sedang bertahan hidup.

"Baiklah, aku akan makan buburnya. Tapi aku tidak akan mau memakan obat beracun itu.”

Anin terpaku mendengar perkataan Arka. Matanya melirik obat di atas meja yang masih belum disentuh, hanya saja Arka tidak tahu kalau sebenarnya di dalam bubur yang Anin bawa juga sudah dicampur obat oleh Alaric sebelum masuk ke dalam sini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 5

    Anin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 4

    Tangan Anindya sedikit bergetar saat dia membuka pintu kamar. Apalagi saat melihat kamar itu gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi. Hanya bayangan Arkalana yang terduduk di sisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, itu pun bisa terlihat karena cahaya dari luar ruangan yang pintunya Anin buka sebelum akhirnya dia tutup kembali.“Permisi, tuan. Saya masuk ya. Saya bawa makanan,” ucap Anindya pelan sembari meraba saklar lampu yang berada di dalam kamar itu.Aroma tak sedap sudah menyusup masuk ke hidungnya. Bau amis, bau keringat, dan juga bau air seni terasa begitu menyengat. Jujur saja, perut Anin terasa mual saat masuk lebih dalam. Entah kenapa bisa sekotor dan sebau ini. Kemarin juga sudah seperti ini, hanya saja tidak terlalu buruk. Namun sekarang, rasanya bertambah parah. Apa memang tidak ada yang membersihkan?‘Astaghfirullah.’ Anindya terkejut setengah mati saat melihat kondisi kamar. Begitu lampu hidup, suasana kamar langsung bisa terlihat jelas. Apalagi

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 3

    Ini hari kedua Anindya bekerja di rumah keluarga Vayudipta. Sesuai perjanjian jika dia akan menginap dan pulang di pagi hari. Dan ketika sore hari, Anin akan datang lagi untuk memasak makan malam keluarga ini. Sejak malam tadi, Anin tak lagi mendatangi kamar Arka. Alaric berkata jika dia tidak perlu mengantar makanan sebab Arka masih tertidur. Pun begitu dengan pagi tadi dia masih tidak dibiarkan melihat lelaki itu. Tak ada yang bisa Anin lakukan selain hanya menurut.Setelah dari ruang makan untuk menyiapkan tempat makan, Anin kembali ke dapur. Di sana, bibi Maria, salah satu ART yang bekerja di rumah itu langsung menyambutnya. Dia langsung bertanya banyak hal pada Anin. Mungkin dia mencemaskan pekerjaan Anin selama satu hari semalam. Apakah bisa membuat tuan Vayudipta puas atau tidak. Tapi ternyata, jawaban yang Anin berikan bisa membuat dia lega. “Syukurlah. Pokoknya jangan sekali-kali membuat ulah di rumah ini ya. Apalagi sampai berbicara kalau nggak diminta,” ujarnya.Anin menga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 2

    “Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap.Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap.“Enak tuan?”Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya.“Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.”“Diamlah!”Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan. Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan. Tangan Arka gemetar s

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 1

    "Buang obat itu, atau aku patahkan tanganmu!” teriak Arkalana begitu murka.Gelas kaca berisi air jatuh pecah ke lantai usai dilemparkan oleh Arka yang menolak meminum obat.Alaric hanya tersenyum tipis, dia merapikan kerah kemeja putihnya yang tak berkerut sedikit pun. "Kak Arka makin hari makin emosional. Ini obat dari dokter khusus yang dipanggil Kakek. Kalau tidak diminum, bagaimana Kakak bisa sembuh?" ucap Alaric, dia adik kedua Arka."Dokter pilihan Kakek? Kau pikir aku tidak tahu apa isi kapsul itu?" bentak Arka dari atas kursi roda. Matanya merah, tajam menembus manik mata adiknya. Badannya tegap, tetapi kedua kakinya terkulai layu di atas kursi roda."Kakak mulai paranoid. Depresi akibat vonis lumpuh memang berat. Kakek sampai prihatin melihat Kakak yang selalu mengamuk setiap hari,” sahut Kaizar, adik ketiga Arka yang berdiri bersandar di ambang pintu, bersedekap dada sambil terkekeh pelan menatapnya."Kalian berdua..." Suara Arka berat, penuh akan amarah yang tertahan di t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status