LOGIN
"Buang obat itu, atau aku patahkan tanganmu!” teriak Arkalana begitu murka.
Gelas kaca berisi air jatuh pecah ke lantai usai dilemparkan oleh Arka yang menolak meminum obat. Alaric hanya tersenyum tipis, dia merapikan kerah kemeja putihnya yang tak berkerut sedikit pun. "Kak Arka makin hari makin emosional. Ini obat dari dokter khusus yang dipanggil Kakek. Kalau tidak diminum, bagaimana Kakak bisa sembuh?" ucap Alaric, dia adik kedua Arka. "Dokter pilihan Kakek? Kau pikir aku tidak tahu apa isi kapsul itu?" bentak Arka dari atas kursi roda. Matanya merah, tajam menembus manik mata adiknya. Badannya tegap, tetapi kedua kakinya terkulai layu di atas kursi roda. "Kakak mulai paranoid. Depresi akibat vonis lumpuh memang berat. Kakek sampai prihatin melihat Kakak yang selalu mengamuk setiap hari,” sahut Kaizar, adik ketiga Arka yang berdiri bersandar di ambang pintu, bersedekap dada sambil terkekeh pelan menatapnya. "Kalian berdua..." Suara Arka berat, penuh akan amarah yang tertahan di tenggorokan. Kakinya tidak bisa bergerak sejak kecelakaan tunggal yang terjadi beberapa bulan lalu. Rem mobil mewahnya tiba-tiba blong. Sebuah kecelakaan rekayasa yang terlalu rapi untuk dipercaya. "Sudahlah, Kak. Istirahat saja. Oh ya, tunanganmu, maksudku mantan tunanganmu mengirim salam untukmu. Dia bilang dia tidak bisa menjenguk karena tidak tega melihat calon suaminya menjadi cacat dan tidak berguna! Mungkin besok dia akan datang sekaligus untuk memutuskan pertunangan kalian,” cerocos Alaric sengaja meledek Arka sambil meletakkan butiran obat baru di meja samping tempat tidur. Sontak amarah Arka makin meledak saat Alaric sengaja menyebut tentang hal itu. Viona, tunangannya memang sudah lama tidak datang setelah dia divonis mengalami kelumpuhan. "Keluar!" teriak Arka. Tangannya menyapu bersih vas bunga di sampingnya hingga pecah berhamburan. Alaric dan Kaizar saling melempar pandang penuh kemenangan sebelum melangkah keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Mereka tahu persis aturan Vayudipta, Hanya keturunan sah dari satu ayah dan satu ibu yang berhak menjadi pewaris utama. Tanpa Arka, aturan itu harus runtuh. Dan jalan terbaik meruntuhkannya adalah membuat Arka gila dan tak berdaya. Di dalam kamar yang luas itu, Arka mengepalkan tangannya. Dia bukan pria lemah dan bukan menjadi pria tempramental tanpa sebab. Sejak kecil dia dididik sebagai harimau. Namun, keberadaannya di atas kursi roda dengan tubuh yang terus digerogoti obat beracun dari kedua adiknya membuat posisinya terpojok. Di mata Kakek Vayudipta, Arka kini hanyalah cucu sulung yang depresi, temperamental, dan tidak stabil secara mental. Bagiamana mungkin dia bisa bangkit kembali dan meneruskan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Setelah kepergian Alaric dan Kaizar, Pintu kamar kembali terbuka pelan. "Mau ngapain lagi kalian?! Sudah kubilang keluar!" bentak Arka tanpa menoleh. "Ma-maaf, Tuan..." Suara itu asing. Halus, sedikit bergetar, tetapi tidak terdengar panik. Arka memutar roda kursinya dengan kasar. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda mengenakan kemeja lusuh yang kepanjangan dan celana jeans pudar. Rambutnya diikat asal-asalan, memegang nampan berisi mangkuk bubur panas dan segelas air putih. "Siapa kau? Kenapa kau yang mengantar bubur? Di mana Bi Asnah?" tanya Arka dingin. "Saya Anindya, Tuan. Anaknya Bi Asnah," jawab gadis itu jujur. Dia mengumpulkan segala keberanian lalu melangkah masuk, mengabaikan pecahan keramik dan vas bunga yang berserakan di lantai meski banyak pertanyaan di kepala. “Siapa yang menyuruhmu masuk, dan aku tanya dimana Bi Asnah?” kembali Arka berteriak. "Ibu… Ibu saya masuk rumah sakit. Sakitnya parah dan harus dioperasi. Jadi... saya yang menggantikan tugas Ibu merawat Tuan hari ini,” jawab Anin dengan bibir bergetar. "Aku tidak butuh pelayan baru. Pergi!” usir Arka tanpa banyak berpikir. Dengan kondisinya yang seperti itu, dia menjadi sulit percaya pada semua orang dan menganggap semua orang adalah penipu bermuka dua yang ingin membunuhnya. "Saya tidak bisa pergi, Tuan. Saya butuh pekerjaan ini. Saya butuh uang untuk biaya operasi Ibu dan bayar uang semesteran kampus minggu depan,” jawab Anin sambil berjalan mendekat, meletakkan nampan di meja yang jauh dari jangkauan Arka. Arka tertawa sinis, suara tawa yang hampa dan mengerikan. "Kau pikir aku peduli dengan urusan pribadimu? Pergi sebelum aku panggil pengawal untuk menyeretmu keluar!" "Jangan Tuan. Tidak perlu panggil pengawal. Nanti saya pergi sendiri. Tapi, Tuan harus makan bubur ini dulu," sahut Anin berusaha bersikap tenang. Dia berlutut di dekat lantai, mulai memunguti pecahan vas bunga satu per satu dengan tangan telanjang. Arka menyipitkan mata. Sikap gadis ini berbeda dari pelayan lain yang biasanya gemetar ketakutan atau langsung melarikan diri jika dia mengamuk. "Kau tidak takut padaku?" tanya Arka dengan tatapan yang sangat tajam. Berusaha terus menebarkan gertakan, tapi gadis itu masih juga terlihat tenang. Anin menghentikan gerakannya sejenak. Dia memberanikan diri menatap langsung ke mata Arka sebelum menjawab. "Saya lebih takut tidak bisa bayar operasi Ibu saya daripada takut pada Tuan yang ngamuk di atas kursi roda." Kamar itu mendadak hening. Belum pernah ada orang lain, selain kedua adiknya sendiri, yang berani menyindir kondisi Arka secara terang-terangan seperti itu. Apalagi ini hanya seorang pelayan. Cukup berani. "Apa katamu? Kau sengaja menyindirku?" Arka menatapnya tajam. Tangannya bahkan sudah mengepal karena begitu emosinya dia. "Tidak berani Tuan. Tapi saya tau, Tuan marah karena merasa tidak berdaya, kan? Ibu saya sering cerita. Tuan itu orang hebat, pemimpin cerdas. Tapi sekarang Tuan membiarkan diri Tuan hancur hanya karena mengurung diri dan melampiaskan amarah pada orang yang salah,” jawab Anin sambil berdiri, membersihkan tangannya. Dia mencoba memuji majikan barunya itu, meski kini kondisinya terpuruk. "Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku!" bentak Arka sambil memajukan kursi rodanya hingga tepat di depan Anin. Tanpa aba aba, dia mencengkeram pergelangan tangan Anin dengan sangat kuat dan membuat gadis itu memohon ampun. “Ampun Tuan, tolong lepaskan…” pinta Anin. Bukannya melepaskan, Arka justru makin mengeratkan cengkeramannya. "Tahu apa kau soal rasanya dijebak, diracuni, dan dikhianati. Hah?” Anin merintih pelan karena cengkeraman itu terasa amat keras, tetapi mata cokelatnya tidak goyah sedikit pun. Dia terus menatap Arka sambil menahan sakit. "Kalau Tuan tahu sedang dijebak dan diracuni, kenapa Tuan cuma diam saja dan menyerah? Tuan malah menyerang pelayan lemah seperti saya? Untungnya apa Tuan? Awh…. Sakit Tuan…tolong lepaskan…” Arka seketika terpaku mendengar jawaban dari Anin. Arka merasa ucapan Anin ada benarnya. Tidak ada gunanya melampiaskan amarah pada anak pembantu itu. Tangannya perlahan melepaskan pergelangan tangan Anin. Setelah cengkeraman tangan Arka terlepas, Anin menarik napas dalam-dalam agar bisa kembali tenang. Dengan hati hati dia berjalan mengambil nampan bubur lalu kembali ke hadapan Arka. "Maaf Tuan, sebenarnya saya tidak peduli dengan konflik keluarga Tuan. Tugas saya di sini cuma memastikan Tuan tetap baik baik saja sampai Ibu saya sembuh, agar saya mendapatkan gaji saya. Jadi, Tuan bisa makan bubur ini dulu untuk mengisi perut,” ujar Anin menggunakan kesempatan diamnya Arka untuk kembali bicara. Arka menatap gadis di depannya dengan tatapan menelisik. Di mata Anin, tidak ada rasa kasihan yang merendahkan seperti yang ditunjukkan Kakeknya, tidak ada kepalsuan seperti milik Alaric dan Kaizar, dan tidak ada ketakutan layaknya para pelayan sebelumnya. Yang ada hanya keteguhan orang miskin yang sedang bertahan hidup. "Baiklah, aku akan makan buburnya. Tapi aku tidak akan mau memakan obat beracun itu.” Anin terpaku mendengar perkataan Arka. Matanya melirik obat di atas meja yang masih belum disentuh, hanya saja Arka tidak tahu kalau sebenarnya di dalam bubur yang Anin bawa juga sudah dicampur obat oleh Alaric sebelum masuk ke dalam sini.Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil
Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga
Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara
Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat
Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua
“Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li







