Share

Bab 4

Author: Velune
last update publish date: 2026-09-14 11:05:50

Tangan Anindya sedikit bergetar saat dia membuka pintu kamar. Apalagi saat melihat kamar itu gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi. Hanya bayangan Arkalana yang terduduk di sisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, itu pun bisa terlihat karena cahaya dari luar ruangan yang pintunya Anin buka sebelum akhirnya dia tutup kembali.

“Permisi, tuan. Saya masuk ya. Saya bawa makanan,” ucap Anindya pelan sembari meraba saklar lampu yang berada di dalam kamar itu.

Aroma tak sedap sudah menyusup masuk ke hidungnya. Bau amis, bau keringat, dan juga bau air seni terasa begitu menyengat. Jujur saja, perut Anin terasa mual saat masuk lebih dalam. Entah kenapa bisa sekotor dan sebau ini. Kemarin juga sudah seperti ini, hanya saja tidak terlalu buruk. Namun sekarang, rasanya bertambah parah. Apa memang tidak ada yang membersihkan?

‘Astaghfirullah.’ Anindya terkejut setengah mati saat melihat kondisi kamar. Begitu lampu hidup, suasana kamar langsung bisa terlihat jelas. Apalagi keadaan Arka.

Lelaki itu masih mengenakan pakaian kemarin. Sudah kusut, lembab, dan kotor. Tatapannya kosong memandang jendela yang tirainya tertutup rapat. Wajahnya pucat pasi dengan kantung mata yang menghitam jelas. Tubuh gagahnya terlihat lemah dan tak berdaya.

Apa sejak kemarin tidak ada yang mengurusnya? Sungguh demi apapun, Anindya sangat iba.

“Tuan.” Anindya berjalan pelan menuju Arkalana. Namun, jantungnya dibuat terhenyak saat lelaki itu menoleh ke arahnya dengan tatapan kosong. Mirip sekali seperti mayat hidup.

Grep

Anin terkejut setengah mati saat tiba-tiba saja Arkalana mencengkram pergelangan tangannya. Hampir saja bubur dan gelas yang ada di dalam nampan tumpah jika tidak dia tahan.

“Tu-tuan …”

“Katakan padaku kalau kau juga berniat membunuhku dan menyiksaku, kan. Katakan padaku!”

Suara teriakan itu membuat Anindya memejamkan matanya sesaat. Dia menggeleng cepat. “Tidak, tuan. Saya tidak berniat begitu.”

Arka menatapnya tajam. Tatapan yang semula kosong kini semakin mengerikan.

“Tuan … saya datang kesini untuk bekerja. Ibu saya sakit, mana mungkin saya berniat untuk membunuh tuan. Saya cuma mau bekerja. Tuan Alaric meminta saya untuk mengantar makanan.” Anindya semakin meringis saat tangannya terasa berdenyut.

“Kau berbohong,” geram lelaki itu.

Anindya menggeleng kuat. “Tidak. Saya tidak berbohong. Saya cuma butuh uang untuk pengobatan ibu.”

Arkalana menghempaskan tangan Anindya kuat. Namun karena tenaganya lemah jadi Anin tidak sampai terjatuh. Dia hanya bergeser sedikit dan meringis akibat sisa cengkraman di lengannya.

Sedangkan Arka sudah memalingkan wajah. Tangannya mengusap kepala, dan dia tampak meringis.

“Tuan kenapa? Apa ada yang sakit? Tuan makan dulu ya.”

Arkalana menunduk. “Kalau kau hanya ingin membuatku cepat mati, lebih baik kau pergi.”

Anin terpaku. Dia menatap mangkuk bubur di tangannya dan juga bungkus obat di bawah mangkuk itu.

Apa benar keadaan Arka semakin memburuk setelah meminum obat ini? Jika tidak dia berikan, bagaimana reaksinya?

“Saya tidak berniat begitu, tuan. Saya hanya …”

“Keluar!”

Anin terkesiap. Dia memandang Arka lirih, lelaki itu masih saja memegangi kepalanya. Lalu, matanya juga menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Anin dengar jika kamar ini kedap suara. Jadi seharusnya pembicaraan mereka tidak akan terdengar bukan.

“Tuan …” Anin mendekat ragu. “Ini cuma bubur,” ucapnya.

Arka menatapnya tajam.

“Tidak ada campuran obat,” bisik Anin dengan suara pelan. Takut terdengar Alaric di luar sana.

Arka masih menatapnya, lalu tatapan mata itu jatuh saat Anin mengangkat mangkuk bubur itu dan melihat ada bungkus obat yang masih utuh di sana.

“Kalau tidak ingin minum obatnya, tidak apa-apa. Tapi setidaknya, makan bubur dulu untuk mengisi perut. Tuan pasti lapar kan?” ujarnya kembali.

Kali ini Arka yang terpaku. Dia menatap wajah Anin. Gadis itu tersenyum. Senyum tulus yang baru kali ini dia lihat ada di rumah yang seperti neraka ini.

“Kalau tuan tidak percaya, biar saya makan duluan bubur ini.”

Arka menggeleng. “Aku tidak mau bekasmu. Kemarikan.”

Anin langsung tersenyum, dia menyerahkan mangkuk bubur itu pada Arka. Lelaki itu langsung melahapnya dengan cepat.

Sekarang Anin tahu, kenapa Arka terlihat kurus dan lemah, dan setiap kali dia makan dia selalu seperti orang yang kelaparan, itu karena Arka pasti hanya makan sekali sehari. Dan itu pun hanya dengan semangkuk bubur.

Kenapa mereka kejam sekali?

Kedua adiknya? Kakeknya? Apa tidak ada yang peduli padanya?

Beberapa menit kemudian Arka selesai makan. Tidak ada mangkuk yang melayang seperti kemarin, tidak ada sesak yang tiba-tiba datang, dan tidak ada reaksi apapun yang Arka berikan.

Lelaki ini baik-baik saja.

Sembari membersihkan kamar, Anin terpaku.

‘Jadi benar kalau obat itu sebenarnya racun. Walaupun aku awam tentang obat-obatan, tapi aku nggak sebodoh itu tahu tentang reaksi obat. Lihat sekarang, tuan Arka baik-baik saja. Bahkan dia terlihat lebih bertenaga setelah makan. Seharusnya ini gak boleh diteruskan. Kasihan tuan Arka. Aku harus tanya ibu, ibu pasti tahu. Apalagi dia udah lama bekerja di sini,’ batinnya dalam hati.

Malam itu Anin membersihkan kamar Arka, tapi dia tidak diperbolehkan untuk membantu lelaki itu membersihkan diri. Arka hanya meminta Anin untuk membantunya berbaring di atas ranjang, lalu setelah itu dia diminta keluar.

Anin tidak tahu kenapa, hanya saja dia ingat kemarin, dan mungkin saja Arka ingin Alaric tahu jika dia sudah tidak sadar setelah pengaruh obat yang dicampur ke dalam buburnya. Dan beruntungnya Alaric percaya, lelaki itu juga tidak menaruh curiga pada Anin setelah gadis itu keluar dari dalam kamar. Apalagi saat melihat Arka sudah tergeletak tak berdaya. Dia pikir, masih seperti biasa.

Keesokan harinya. Saat Anin akan pergi dari rumah itu untuk kuliah dan melihat ibunya, langkahnya berhenti saat tak sengaja mendengar percakapan di ruang tamu.

“Lihat keadaan kamu sekarang, Arkalana. Kamu hanya pria lumpuh yang gak punya masa depan. Bahkan untuk mengurus dirimu sendiri saja kamu sudah nggak mampu. Aku gak mau menghabiskan sisa hidupku hanya untuk mengurus orang cacat sepertimu.”

Viona melepaskan cincin pertunangan di jarinya, lalu melemparkannya dengan kejam tepat ke pangkuan Arka. Cincin itu jatuh di sana sebelum akhirnya terhempas ke atas lantai.

Anindya yang berdiri di sebalik dinding langsung terpaku mendengar pembicaraan yang sangat sensitif ini. Seharusnya dia sudah pergi keluar. Tapi karena luasnya rumah ini membuatnya salah jalan dan berakhir di ruang pertemuan keluarga. Langkahnya langsung berhenti saat mendengar kabar yang sangat menyakitkan itu. Matanya mengintip ke arah ruang tamu, dimana sudah berkumpul dua keluarga bangsawan. Dia tahu ini lancang, tapi sungguh dia penasaran.

Tampak Ibu Viona ikut berdiri di sebelah puterinya. Dia menatap Arka tajam. “Keluarga Adiningrat tidak bisa memiliki menantu cacat seperti ini. Nama Adiningrat tidak boleh ternoda. Lebih baik pernikahan ini batal!”

“Nyonya Adiningrat. Saya memang tidak bisa memaksa jika pernikahan ini harus dilanjutkan. Saya juga tidak ingin membuat Viona kesulitan di kemudian hari. Jika memang ingin dibatalkan, keluarga kami tidak akan memaksa,” ucap tuan besar Vayudipta.

Nyonya besar di keluarga Adiningrat itu mengangguk. Dia bersama puterinya langsung pergi dan keluar dari rumah itu setelah meninggalkan luka dan juga rasa sakit yang membuat Arka hanya bisa tertunduk tanpa bisa mengatakan apapun. Wajahnya tak menunjukkan sedikitpun semangat hidup selain hanya keputusasaan yang besar.

Suasana ruang tamu langsung hening setelah kepulangan keluarga Adiningrat yang seharusnya menjadi menantu di keluarga ini.

Tuan besar Vayudipta mendekati cucunya yang terduduk di kursi roda. Dia menatap Arka lekat. Belum ada sepatah katapun yang dia ucapkan selain hanya helaan nafas panjang yang terasa berat. Hingga beberapa detik kemudian, dia mulai berbicara.

“Kenapa kau hanya diam saat mereka menghinamu?”

Arka diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

“Mau sampai kapan Arkalana? Apa kau ingin mati dengan cara seperti ini?”

Hening. Arka sama sekali tak ingin menjawab selain hanya tertunduk dengan tangan yang tampak mengepal di atas pangkuan.

“Sudahlah, kakek. Jangankan untuk berbicara dengan keluarga Adiningrat. Untuk menjawab pertanyaan kita saja kak Arka tidak bisa. Mungkin dia masih berat untuk menerima semuanya.” Alaric yang sejak tadi ada di sana langsung beranjak dari sofa. Dia berjalan mendekati Arkalana dan berdiri di belakang kursi rodanya.

Tuan Vayudipta kembali menghela nafas. Dia terlihat kesal, kecewa, marah, tapi juga iba. Hanya saja dia tak bisa banyak berbicara karena keadaan Arka yang depresi seperti ini. Ditambah dengan kedatangan calon istrinya yang malah membatalkan pernikahan. Tuan Vayudipta tahu jika sekarang mental Arka benar-benar berantakan.

Kecelakaan parah enam bulan lalu menyebabkan kehidupan Arka berubah total. Dia dinyatakan lumpuh, dan keadaannya semakin hari bukan semakin membaik tapi malah semakin parah. Bahkan Arka tak ingin berbicara dengan siapapun selain hanya orang-orang yang ingin dia temui.

“Bawa ke kamarnya. Jangan biarkan dia sendiri. Katakan pada dokter Sona untuk memeriksanya lagi,” ujar tuan Vayudipta.

“Baik, kakek.” Alaric langsung mendorong kursi roda Arka menuju kamarnya di lantai dua.

Anindya langsung berlari ke arah lain. Dia tidak ingin mereka tahu jika dia menguping. Hanya saja, hatinya yang semakin iba melihat keadaan Arka.

Arka sudah depresi, hidupnya hancur, dan sekarang tunangannya juga sudah membatalkan pernikahan mereka.

Kenapa semua orang yang ada di kehidupan Arkalana seolah ingin benar-benar menghancurkan mental lelaki ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang pernah diperbuat Arkalana hingga semua orang tidak ada yang berpihak padanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 20

    Malam itu, Anin kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang didengarnya di ruang kerja Alaric. Ada sesuatu tentang kecelakaan Arka yang sengaja disembunyikan, dan dia merasa rahasia itu berkaitan dengan kebencian Alaric terhadap kakaknya.Namun, semakin dia memikirkannya, semakin dia teringat pada sebuah kejadian beberapa waktu lalu.Saat itu, Anin sedang berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan ibunya. Dia melihat Alaric datang menjemput dua orang wanita paruh baya. Satu masih sehat dan satu lagi duduk di kursi roda.Saat itu, Anin mengira perempuan tersebut adalah kerabat keluarga Vayudipta. Namun, sekarang dia mulai bertanya-tanya.Mengapa Alaric menjemput perempuan itu sendirian? Mengapa tidak ada anggota keluarga lain yang menemaninya?Dan mengapa dia tidak pernah mendengar kabar tentang perempuan tersebut setelah kejadian itu?Anin membalikkan tubuhnya, lalu menghela napas panjang."Jangan-jangan ..." gumamnya pelan.Pikiran itu terasa mustahil

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 19

    Malam mulai larut ketika Anin kembali ke dapur untuk mengambil nampan makan malam. Dia baru saja selesai membersihkan diri dan menyiapkan makanan di meja makan untuk Kaizar. Dapur sudah sepi. Mungkin Bibi Maria sudah pulang ke kamarnya, sementara sebagian lampu di area dapur sudah mulai dimatikan. Seperti biasa, rumah ini akan semakin menyeramkan ketika malam hari.Setelah menyiapkan makan malam untuk Arka, tanpa menunggu waktu lama, Anin langsung pergi menuju kamar lelaki itu di lantai dua.Sekarang dia sudah tidak takut lagi. Sepertinya, dia mulai terbiasa dengan suasana di rumah ini. Dan juga, mulai terbiasa dengan Arka.Saat melewati ruang kerja kecil di dekat tangga, langkah Anin mendadak terhenti. Dia mengernyit, lalu menoleh ke arah sebuah ruangan.Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Awalnya dia tidak berniat menguping. Namun, sebuah suara dari dalam membuatnya mengurungkan langkah.Setan dalam dirinya menggoda Anin untuk harus mendengarkan pembicaraan itu. Dia memasang telinga

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 18

    Arka terdiam cukup lama setelah mengatakan bahwa dirinya membenci aturan keluarga ningrat yang sudah turun-temurun itu. Tatapannya beralih ke arah jendela yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu di balik sana yang lebih menarik daripada percakapan mereka.Anindya tidak berusaha memotong keheningan. Dia hanya berdiri di dekat meja, merapikan gelas kosong yang tadi sempat dilihatnya.“Kalau tuan nggak mencintai Nona Viona, kenapa tuan tetap menerima pertunangan itu?” tanyanya kemudian.Arka meliriknya sekilas. Dia menghela nafas panjang. “Karena sejak kecil aku sudah diajari bahwa keinginanku tidak pernah lebih penting daripada nama keluarga.”“Bahkan untuk urusan pernikahan?”“Hmm. Terutama untuk urusan pernikahan.” Arka tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana. “Di keluarga ini, semuanya punya aturan. Siapa yang pantas menjadi pewaris, siapa yang berhak mengambil keputusan, bahkan siapa yang boleh menjadi pasangan hidupku. Kakek menyebutnya tradisi. Bagiku, itu hanya cara

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 17

    Anindya tidak tahu apa yang dibicarakan Arka dan Ziyan melalui ponselnya. Pasalnya lelaki itu hanya berbicara sebentar untuk meminta Ziyan datang ke rumah sore nanti untuk menemuinya. Setelah itu, dia memberikan lagi ponselnya pada Anin.Hanya saja Anin merasa jika Arka memang sedang merencanakan sesuatu. Tatapan matanya tak lagi kosong seperti saat pertama kali Anin datang ke rumah ini. Arka yang sekarang seperti menemukan sesuatu untuk membuat dia bisa lebih bersemangat untuk sembuh. Meskipun tetap saja, ada banyak hal yang membuat Anin bertanya-tanya.Arka tidak pernah mau berbicara dengan orang lain. Tapi dengannya, Arka tidak seperti itu. Meskipun dia pemarah, namun tetap saja banyak kata yang keluar dari bibirnya.Anin menghela nafas panjang. Dia menatap wajah ibunya yang masih tertidur dengan tenang di atas ranjang. Hari ini kesehatan ibunya sudah lebih baik. Hanya tinggal menunggu kondisi stabil untuk memasang ring jantung. CupAnindya memberikan kecupan hangat di wajah pucat

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 16

    Sejak enam bulan lebih setelah kecelakaan parah itu, malam tadi adalah malam pertama Arka tidak merasa sakit dan ketakutan sedikitpun. Dia tidak harus makan dengan rasa takut karena obat itu, dia tidak harus makan sambil menahan rasa yang tak bisa diterima lidah hanya karena dia kelaparan.Malam tadi Arka makan dengan tenang. Malam tadi malam pertamanya makan dan menikmati makanan yang benar-benar terasa nikmat setelah enam bulan lebih dia tersiksa. Dan semua karena Anindya. Gadis pelayan yang datang tiba-tiba dan merubah sedikit rasa takut di hidupnya. Gadis lugu yang membuka mata Arka agar dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semuanya.CeklekPintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata yang semula terbuka, langsung terpejam lagi. Ada langkah kaki yang masuk ke dalam. Dan Arka tahu kalau itu adalah langkah kaki Alaric. Lelaki ini pasti datang untuk memastikan kalau Arka meminum obatnya malam tadi.“Aku senang melihatmu tenang seperti ini kakakku. Daripada kau sehat, tapi kau selalu membua

  • Pelayan Pilihan Tuan Arka   Bab 15

    “Coba saja … aku ingin tahu, apakah bagian itu masih berfungsi atau tidak.”Ucapan Arka membuat Anin langsung menelan ludah. Dia memandang benda menggantung yang layu dan tersandar lemas di dua bongkahan bulat yang keriput. Matanya mengerjap, degup jantungnya tiba-tiba saja bergemuruh kuat. Untuk pertama kali dalam hidup dia malah diberikan ujian seperti ini. Memegang benda yang seharusnya tidak dia pegang.Ya Tuhan. Mata sucinya benar-benar ternodai.“Kau tidak mau?” tanya Arka sekali lagi ketika Anin malah hanya diam dan membatu di tempatnya.“A-anu, tuan. Bukan saya tidak mau. Ta-tapi …”“Aku hanya ingin tahu. Kalau itu tidak lagi berfungsi, maka hidupku juga pasti tidak akan lama lagi.”“Eh … kenapa begitu? Memangnya berpengaruh, ya?”“Ya jelas. Kenapa kau bodoh sekali. Itu juga bagian dari nyawa laki-laki. Setidaknya dia terasa ketika disentuh, tidak harus bangun sempurna.”Lagi … Anin menelan ludah. Wajahnya sudah memerah. Haruskah dia menurut? “Kalau tidak mau, jangan kau li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status