ログインDi ruang kerjanya yang megah, Javendra berdiri menatap ke luar jendela. Tatapan matanya yang dingin menerawang jauh, namun benaknya sepenuhnya dipenuhi oleh wajah Sasa dan raut memohon calon istrinya malam itu. Janji yang ia ucapkan untuk menuruti keinginan Sasa terus bergaung di kepalanya. Demi Sasa, demi ketenangan dan kebahagiaan wanita yang sangat dicintainya itu, Javendra membuang jauh-jauh egonya. Javendra memutar tubuhnya perlahan lalu menekan tombol interkom di meja kerja. "Bram, masuk ke ruanganku sekarang." Hanya dalam hitungan detik, pintu kayu jati tebal itu terdorong terbuka. Bram melangkah masuk dengan tegap dan membungkuk hormat di hadapan tuannya. "Ada instruksi baru, Tuan Javen?" Javendra merapikan lengan kemejanya yang digulung sebatas siku. Tangannya mengepal pelan sebelum memberikan perintah. "Malam ini aku harus bertemu dengan Ibu. Siapkan mobil." Bram sedikit tersentak, raut terkejut sempat melintas tipis di wajahnya sebelum ia kembali menguasai diri. "B
Di dalam ruang kerja pribadi kediaman keluarga Aldebaran, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Tuan Aldebaran duduk kaku di kursi kebesarannya yang membelakangi meja kayu jati. Wajah pria tua itu amat pucat, garis-garis kerutan di wajahnya makin mempertegas rasa lelah dan penderitaan batin yang hebat. Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah keheningan ruangan. Seorang pria bersetelan jas hitam melangkah masuk dengan terburu-buru, lalu membungkuk hormat di hadapan Aldebaran. "Tuan Aldebaran," panggil pengawal itu dengan nada khawatir yang amat jelas. Aldebaran tidak segera memutar kursinya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang yang terasa sangat berat. "Ada apa lagi?" Pengawal itu menelan ludahnya pelan sebelum kembali bersuara. "Saya ingin melaporkan perkembangan dari tempat penampungan Tuan Muda Kenzo, Tuan." Aldebaran memutar kursinya secara perlahan. Sorot matanya redup dan sangat kuyu. "Bagaimana keadaannya?" "Kondisi Tuan Muda Kenzo belum juga
Pagi harinya, suasana rumah terasa sunyi dan tenang. Sasa berjalan pelan menuju kamar ibunya membawa segelas air hangat dan nampan berisi sarapan sederhana. Pintu kamar Bu Andini yang sedikit terbuka perlahan didorong oleh Sasa. Di dalam kamar, Bu Andini sedang duduk kaku di atas kursi roda, menatap kosong ke arah jendela luar. Raut wajahnya tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam di bawah matanya, seolah wanita tua itu tidak tidur semalaman. "Ibu," sapa Sasa dengan suara lembut seraya melangkah masuk dan meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang. Bu Andini tersentak, memutar kursi rodanya secara perlahan. Sorot matanya memancarkan rasa bersalah yang amat dalam ketika menatap wajah putrinya. "Sasa... kamu belum berangkat?" Sasa menggelengkan kepala pelan. Ia menarik kursi kayu lalu duduk tepat di hadapan Bu Andini. Tangan Sasa terulur meraih kedua tangan ibunya yang terasa dingin dan sedikit gemetar, lalu menggenggamnya erat-erat. "Aku tidak ke mana-mana hari ini, Bu. Aku
Malam harinya, di dalam kamar utama kediaman Maheswara, suasana begitu tenang. Cahaya lampu dinding yang temaram menyirami ruangan, menciptakan kesan hangat. Sasa duduk di tepi ranjang berukuran besar, jari-jarinya sibuk meremas kain sprei putih yang ia duduki. Pikirannya melayang pada kejadian sore tadi di kamar Bu Andini. Wajah pucat pasi sang ibu dan reaksi paniknya saat melihat lokasi pernikahan terus membayangi benak Sasa. Ada keinginan besar dalam hatinya untuk menceritakan keanehan sikap ibunya kepada Javendra. Namun, setiap kali membayangkan wajah Javendra yang lelah sepulang dari kantor, niat itu mendadak surut. Sasa menghela napas panjang. Ia tahu betul betapa padatnya jadwal kerja Javendra belakangan ini, ditambah lagi persiapan pernikahan mereka yang megah. Javendra sudah menanggung begitu banyak hal demi membahagiakannya. Sasa tidak ingin menambah beban pikiran pria itu hanya karena kecurigaan dan asumsinya sendiri. Pintu kamar mandi terbuka. Javendra keluar dengan kem
Pagi harinya, suasana di kediaman Maheswara terasa hangat dan sibuk. Javendra mengajak Sasa mengunjungi salah satu butik langganan terkemuka yang sengaja dikosongkan khusus untuk menyambut kedatangan mereka. Di dalam ruangan berdesain elegan itu, jajaran gaun pengantin mewah berdesain eksklusif terpajang rapi. Javendra duduk di sofa kulit yang luas, memangku sebuah majalah fashion sembari mengamati tunangannya. Sasa berdiri tidak jauh dari tempat duduk Javendra, sedang memegangi gaun pengantin awal berhiaskan renda putih lembut yang baru saja diperlihatkan oleh perancang busana. "Bagaimana, Sasa? Kamu suka gaun yang ini?" tanya Javendra pelan, tatapan matanya begitu fokus menatap Sasa. Sasa mengelus bagian rendanya dengan lembut, senyum gembira terpancar dari wajahnya. "Sasa suka sekali, Mas. Desainnya cantik dan tidak terlalu berlebihan. Menurut Mas Javen bagaimana?" Javendra meletakkan majalah di meja, lalu berdiri dan berjalan mendekati Sasa. Ia melingkarkan tangannya di pingga
Di dalam ruang kerja lantai atas kediaman Maheswara, cahaya lampu gantung menerangi meja kerja dari kayu jati tebal. Javendra berdiri di dekat jendela besar, memegang cangkir kopi hitamnya yang masih mengepul. Kemeja putihnya digulung hingga ke siku, menampilkan lengan kokohnya. Pintu diketuk dua kali dengan jeda teratur. "Masuk," ujar Javendra tanpa memutar tubuhnya. Bram melangkah masuk dengan dokumen tipis di tangannya. Ia menutup pintu rapat-rapat lalu berdiri tegap beberapa langkah di belakang Javendra. "Ada laporan baru, Tuan Javen," kata Bram membuka percakapan. Suaranya rendah dan terkontrol. Javendra meminum kopinya sedikit, lalu berbalik secara perlahan. Sorot matanya dingin dan tajam. "Soal pergerakan di luar?" "Soal Tuan Aldebaran," jawab Bram lurus. "Mengenai Kenzo, sampai hari ini memang sudah tidak ada beritanya sama sekali. Entah karena Tuan Aldebaran benar-benar sudah mengasingkan Kenzo sesuai ancaman Anda sebelumnya, atau pihak mereka berusaha sekuat tenaga men
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







