LOGIN"Kakak baik-baik saja, Sasa." "Aku tahu Kakak selalu bilang begitu." Sasa mengerucutkan bibir. "Tapi bukan berarti Kakak harus terus melakukan semuanya sendirian. Aku sudah punya Mas Javen yang selalu menemaniku. Aku juga ingin Kakak punya seseorang yang bisa membuat Kakak bahagia." Kenzo menatap adiknya beberapa saat. Ada kehangatan dalam perkataan Sasa, tetapi pertanyaan itu juga membuatnya kembali memikirkan wanita yang tadi melintas di benaknya. Ia tidak tahu mengapa pikirannya justru kembali kepada wanita tersebut. Padahal, ia memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan sebelum keberangkatan. Namun, ada sesuatu tentang pertemuan terakhir mereka yang belum benar-benar bisa ia abaikan. Kenzo akhirnya mengembuskan napas pendek, kemudian menjawab dengan nada tenang. "Kakak belum memikirkan pernikahan, Sasa. Sekarang masih banyak yang harus Kakak urus. Keselamatanmu, kondisi Papa, dan perusahaan masih menjadi prioritas." Sasa tampak kurang puas dengan jawaban itu. "
Senyum Sasa mengembang. Ia tahu ayahnya selalu mengkhawatirkannya, terlebih setelah berbagai kejadian yang membuat keluarga mereka sulit merasa tenang. Mendengar bahwa Aldebaran terus menanyakan dirinya membuat kerinduannya semakin terasa. "Iya, Kak. Nanti setelah pulang dari rumah sakit dan beristirahat sebentar, aku akan minta Mas Javen mengantarku ke rumah Papa. Aku juga sangat merindukan Papa." Javendra mengusap jemari istrinya sebelum ikut menanggapi. "Aku sendiri yang akan mengantarmu menemui Papa, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkan perjalanan atau hal lainnya. Kalau kondisimu sudah memungkinkan, kita berangkat bersama." Sasa menoleh kepada suaminya dan mengangguk senang. Ia memang ingin segera bertemu Aldebaran, tetapi tidak ingin memaksakan diri sebelum benar-benar pulih. Kenzo memperhatikan keduanya sejenak. Setelah memastikan Javendra akan mengantar Sasa, ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Waktu k
Sasa spontan menahan tawa. Di sisi lain, Kenzo kembali bertanya kepada Javendra tentang pengamanan yang akan diberlakukan setelah Sasa pulang. Javendra menjelaskan bahwa ia sudah mengatur penjagaan tambahan di kediaman mereka, termasuk memastikan orang-orang yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk sembarangan. Kenzo masih mengajukan beberapa pertanyaan. Javendra menjawab semuanya, tetapi semakin lama ekspresinya semakin masam. “Kenzo, aku sudah menyiapkan pengamanan. Para pengawal juga sudah mendapatkan instruksi baru. Apa masih ada hal lain yang ingin kamu periksa?” “Bagaimana dengan pengawasan di sekitar rumah?” “Sudah.” “Pintu masuk samping?” “Sudah.” “Orang-orang yang bertugas malam?” “Sudah, Kenzo.” “Bagus. Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana.” Javendra menatapnya beberapa saat. “Kalau kamu ingin sekalian memeriksa jadwal para pengawalku, katakan saja. Aku bisa memberikan salinannya.” Kenzo mengernyit. “Aku tidak perlu jadwal mereka.” “Syu
“Mulai sekarang, Ibu tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun tanpa ditemani. Walaupun cuma sebentar.” Sasa berkedip. “Bahkan kalau aku cuma ingin ke taman sebentar?” “Iya. Harus ada yang menemanimu.” “Kalau ke ruang makan?” “Ibu atau Javendra akan menemanimu.” Sasa menatap Amara, lalu melirik suaminya yang justru mengangguk setuju. “Kalau ke minimarket di depan rumah?” “Tidak perlu ke minimarket dulu,” jawab Javendra cepat. “Apa pun yang kamu butuhkan, bilang saja. Aku bisa meminta seseorang membelinya.” Sasa membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia ingin mengatakan bahwa semuanya terdengar berlebihan. Ia mengerti mereka khawatir, tetapi dirinya masih bisa berjalan, berbicara, dan melakukan beberapa hal sederhana. Dokter memang menyuruhnya beristirahat, bukan melarangnya bergerak sama sekali tanpa pengawasan. Namun, melihat wajah Amara yang sungguh-sungguh dan Javendra yang seolah siap membuat daftar larangan sepanjang satu halaman, Sasa mengurungkan niatnya.
“Benar. Namun, ada beberapa hal yang perlu Ibu dan keluarga perhatikan. Kondisi kandungan Ibu masih lemah setelah kejadian kemarin. Tubuh Ibu mengalami tekanan yang cukup besar, baik secara fisik maupun emosional. Jadi, meskipun sekarang kondisinya sudah membaik, bukan berarti Ibu boleh langsung kembali beraktivitas seperti biasa.” Senyum lega di wajah Sasa perlahan berubah menjadi ekspresi serius. Ia mendengarkan dengan saksama ketika dokter melanjutkan penjelasannya. “Untuk sementara, Ibu perlu banyak beristirahat dan menjalani bed rest sesuai anjuran. Hindari aktivitas yang menguras tenaga, jangan mengangkat benda berat, dan jangan memaksakan diri ketika tubuh terasa lelah. Kalau dokter menyarankan istirahat di tempat tidur, itu harus benar-benar dijalankan.” Javendra mengangguk. “Baik, Dok. Lalu, bagaimana dengan pemeriksaan selanjutnya?” “Kontrol rutin satu bulan sekali, sesuai jadwal yang akan kami berikan. Namun, kalau muncul keluhan sebelum jadwal kontrol, jangan menun
Pagi itu, suasana ruang perawatan VVIP terasa lebih tenang dibandingkan kemarin. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menerangi ranjang tempat Sasa berbaring. Wajahnya sudah terlihat lebih segar, meskipun tubuhnya masih terasa lemas setelah kejadian yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit. Javendra duduk di kursi di samping ranjang. Sejak membuka mata, Sasa sudah mendapati suaminya berada di sana. Bahkan ketika ia bangun untuk mencuci muka dan berganti pakaian, pria itu tidak benar-benar meninggalkannya sendirian. Seorang perawat memang sempat membantu, tetapi Javendra tetap menunggu tidak jauh dari pintu kamar mandi. Awalnya, Sasa menganggap suaminya hanya sedang memastikan kondisinya membaik. Namun, ketika Javendra kembali menanyakan apakah ia merasa pusing, mual, nyeri, atau mengalami keluhan lain, Sasa mulai menyadari bahwa perhatian suaminya kali ini sedikit berbeda. “Mas, aku baik-baik saja,” ujar Sasa sambil merapikan bantal di belakang punggungnya. “Kamu s
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa







