Share

Bab 51 - Cium Aku

Penulis: Apple Cherry
last update Tanggal publikasi: 2026-05-30 10:23:59
Sasa menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang masih menggila. Ia tidak mungkin jujur. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, Javendra pasti akan menghabisi para penjaga itu, dan posisi Sasa di mata pelayan lain akan semakin buruk karena dianggap sebagai pemicu masalah.

"Itu ... memang hantu, Tuan,” sahut Sasa cepat. Ia membelalakkan matanya, memasang ekspresi ketakutan yang dibuat-buat agar terlihat meyakinkan.

"Hah? Hantu sungguhan?” sahut Javendra.

"Em,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (27)
goodnovel comment avatar
wieanton
kasih sasa minum anggur biar badannya hangat, kasih yg banyak biar pd oleng kalian berdua jd tmbh hot
goodnovel comment avatar
wieanton
javendra benar2 arogan & egois, gk ada rasa kasian biarkan sasa istirahat, cape banget kerja disitu gaji gede jg. tp sasa udah gk bs kmn2 lg, udah terikat smp javen bosan ke dia.
goodnovel comment avatar
Sri Yati
sasa saja berpikir dua kali untuk melaporkan penjaga yang berniat melec3hkan nya, semoga ada balasan dari kebaikanmu sa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 561 - Pihak Yang Ketakutan

    Salju tipis mulai turun membasahi kaca jendela raksasa sebuah vila megah di pinggiran kota Zurich, Swiss. Udara dingin yang menembus celah bangunan seolah tak mampu menyurutkan hawa panas yang mendadak menguasai ruangan tengah berkarpet tebal tersebut. Helena Pratama berdiri mematung di dekat perapian yang menyala. Di tangannya, sebuah ponsel pintar tanpa kartu identitas resmi tergenggam begitu erat hingga ujung jemarinya yang berpoles kuteks merah tua memucat kaku. Napas wanita paruh baya itu berembus kencang dan tidak beraturan. Sorot matanya yang biasanya penuh keangkuhan kini berganti menjadi pancaran kepanikan luar biasa. "Apa yang kamu katakan?" suara Helena terdengar gemetar, setengah berbisik saat berbicara dengan lawan bicaranya di seberang telepon. "Coba ulangi lagi kalimatmu barusan!" Dari balik pengeras suara ponsel yang dibatasi jaringan terenkripsi, suara seorang pria terdengar berhati-hati. "Laporan dari informan kita di Rumah Sakit Medika Utama baru saja masuk, Ny

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 560 - Dendam Yang Masih Membara

    Arka mendongak lambat, menatap petugas itu dengan sorot mata yang dingin tanpa ekspresi. "Pesan apa?" "Tim pengacaramu yang lama secara resmi mengundurkan diri," jawab petugas itu sambil melihat lembaran kertas di papan jepitnya. "Mereka baru saja menyerahkan surat pembatalan kuasa hukum ke kantor sekretariat. Semua asetmu yang dibekukan membuat mereka menolak melanjutkan pendampingan kasusmu." Arka tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis, seolah sudah menduga respons para pengacara materialistis itu. "Begitu? Baguslah. Lagi pula aku tidak butuh pengacara penakut seperti mereka." Petugas itu menggaruk tengkuknya, agak herat melihat ketenangan Arka di saat situasi hukumnya makin memburuk. "Kamu tidak berniat mengajukan pengacara ditunjuk negara?" "Tidak perlu," jawab Arka singkat dan tegas. "Aku bisa mengurus hidupku sendiri." Petugas itu mendengus pelan. "Terserah kamu. Tapi ingat, persidangan awalmu ditetapkan minggu depan. Kalau tidak ada pengacara, posisimu bakal makin berat

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 559 - Dia Yang Ada di dalam Sel

    Suara dentang pintu besi beradu keras menggelegar kaku, membelah keheningan koridor blok tahanan yang remang-remang. Langkah kaki sipir yang berat berangsur-angsur menjauh, meninggalkan gema tumit sepatu di atas lantai beton sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya. Di dalam sel berukuran tiga kali empat meter yang berbau semen lembap dan cat murahan, Arka Danuarta duduk termenung di atas dipan semen. Kedua kakinya selonjor kaku. Kemeja sutra buatan Italia yang biasa melekat rapi di tubuh tegapnya kini telah berganti dengan kaos tahanan berwarna oranye kusam yang berukuran agak longgar. Garis rahangnya yang biasanya bersih kini tertutup bayangan selapis cambang tipis yang tumbuh liar. Posisinya saat ini benar-benar terkunci rapat dari dunia luar. Aset-aset resminya disita atas perintah kejaksaan, sementara seluruh rekening bank utamanya dibekukan tanpa sisa oleh kekuatan gabungan Maheswara Corp dan Vanguard Group. Secara finansial dan hukum, Arka sudah dilumpuhkan total hingga tak berd

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 558 - Perhatian Yang Takkan Habis

    Javendra membukakan pintu mobil dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap erat pinggang Sasa yang tampak lemas. Udara sore di pelataran rumah sakit terasa agak dingin, membuat Sasa sedikit menyusutkan tubuhnya di balik dada tegap suaminya. Wajahnya yang sembab dan matanya yang memerah menjadi bukti betapa hancurnya perasaan wanita itu setelah melihat kondisi Bu Andini yang masih belum ada kemajuan. "Pelan-pelan," bisik Javendra lembut saat membantu Sasa duduk di kursi penumpang. Pria itu menunduk, memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya, lalu mengecup dahi Sasa dengan waktu yang cukup lama. "Sekarang kita cari makan dulu, setelah itu pulang. Kamu harus istirahat total." Sasa hanya mengangguk lemah. Kepalanya menyandar pada sandaran kursi, membiarkan Javendra menutup pintu mobil dengan amat perlahan sebelum pria itu memutar menuju pintu kemudi. Begitu Javendra duduk di sampingnya dan melajukan kendaraan meninggalkan area rumah sakit, Sasa mengalihkan pan

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 557 - Suamimu, Javendra Prakasa Maheswara

    Mobil hitam yang dikendarai Javendra melaju membelah jalanan pedesaan yang mulai beraspal mulus. Pepohonan hijau rimbun yang tadi mengapit sepanjang jalan tanah kini perlahan berganti dengan pemukiman warga. Di dalam kabin, suasana terasa tenang setelah emosi yang menguras tenaga di pemakaman tadi. Javendra melirik Sasa yang menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Wajah istrinya tampak pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata yang menegaskan betapa lelahnya ia secara fisik dan emosional. Javendra melepaskan tangan kirinya dari kemudi, lalu menggenggam jemari Sasa yang terasa dingin. "Kita mampir makan dulu, ya?" ujar Javendra pelan. "Dari pagi kamu belum masuk makanan sama sekali." Sasa menoleh pelan, lalu menggeleng lambat. "Aku belum lapar, Mas. Tenggorokanku masih terasa ganjal kalau harus makan sekarang." Javendra menghentikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Pria itu memutar posisi tubuhnya menghadap Sasa, menatap istrinya dengan raut wajah yang mengeras karena cema

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 556 - Luka Yang Harus Diobati

    "Saya Javendra, suami anak Anda." Sasa menarik napas, menatap suaminya yang begitu tegas. "Saya berjanji di depan Anda... saya akan mencintai, menghormati, dan melindungi putri Anda dengan seluruh hidup saya." "Putri Anda ... sangat luar biasa, dia cantik, baik dan punya segalanya yang saya tidak punya." Javendra berkata tulus. "Dia membuat hidup pria menyedihkan seperti saya jadi punya arti." Sasa menatap Javendra dengan bibir yang gemetar. "Saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti atau membuat putri Anda menangis lagi, itu tidak akan terjadi selama saya masih bernapas." Mendengar janji itu keluar dari mulut suaminya, Sasa menggenggam erat tangan Javendra yang berada di bahunya. Rasa hangat dan aman menjalar ke seluruh tubuhnya, mengikis perlahan rasa dingin dan duka yang menyelimuti dadanya. Sementara itu, di dekat gerbang pemakaman yang berjarak belasan meter, Kenzo masih berdiri bersandar pada pintu mobilnya. Pria itu menyilangkan kedua tangan di dada, memperh

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 6 - Gunakan Dadamu Yang Seksi Itu

    Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status