Share

Bab 15

Penulis: Gali Pratama
last update Tanggal publikasi: 2026-08-11 22:38:07

"Kenapa harus bergeser, Raka? Bukannya posisi seperti ini buat kamu makin betah di bawah sana?" goda Maya sambil menyandarkan punggungnya santai.

Jemari kaki Maya yang lentur bergerak maju, menyentuh tepat di tengah dada bidang Raka yang terbungkus kemeja seragam murahnya.

Raka menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokannya, merasakan desakan lembut ujung kaki Maya yang seolah menahannya untuk tidak beranjak.

"Mbak Maya jangan bercanda, nanti kalau ada staf lain yang lihat bagaimana?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 18

    Tok tok!“Masuk!” titah sang penghuni di dalam ruangan tersebut.Raka lantas membuka pintu tersebut dan menutupnya kembali."Selamat pagi, Bu. Tadi Mbak Maya bilang Bu Clara suruh saya ke sini, ada kerjaan apa ya, Bu?" sapa Raka seraya melangkah masuk dengan senyum hangatnya yang sopan.Raka berbalik dan melangkah mendekat, berniat menunjukkan sikap profesionalnya sebagai staf yang siap menerima perintah dari atasan mewahnya.Srekkk...Clara memutar kursi kerjanya perlahan, menyambut kedatangan Raka dengan tatapan mata yang dipenuhi gairah liar tak tertahankan.Jakun Raka naik turun seketika; ia menelan ludahnya yang amat kering saat matanya disuguhi pemandangan spektakuler di balik meja mahoni.“A-apa-apaan ini…,” gumam Raka dengan pelan.Clara rupanya telah melepas kemeja sutra putihnya, memperlihatkan sepasang buah dada yang sangat besar, padat, dan montok berkilau tanpa balutan kain.Dua gumpalan indah berkulit mulus porselen itu terpampang bebas di udara, lengkap dengan puncak me

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 17

    "Tahan napasmu, Mbak Maya... aku akan melepaskan kain tipis ini sekarang," bisik Raka dengan suara amat rendah tepat di samping telinga sang staf admin.Jemari Raka yang kasar dan berurat mulai mengait tepi celana dalam renda merah muda milik Maya, siap meluncurkannya turun menyingkap keindahan mutlak.Namun, sebelum kain itu bergeser lebih jauh, ketukan keras langkah kaki berhak tinggi bergema memecah heningnya koridor luar yang semula sunyi.Tak... tak... tak...Suara ketukan high heels yang ritmis, tegas, dan penuh wibawa itu seketika membuat Raka membeku kaku di bawah kolong meja.Raka mengenali betul ketukan langkah berkelas tersebut; itu adalah irama langkah kaki Bu Clara, sang CEO yang baru saja mengurungnya kemarin."Maya? Kamu sudah di kubikel pagi-pagi begini?" panggil sebuah suara wanita yang dingin, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak dari arah pintu masuk.Suara Clara meluncur tajam, membuat Raka menghentikan seluruh pergerakan jarinya di atas kulit hangat Maya dan memili

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 16

    "Teruskan sentuhanmu sebentar lagi, Raka, aku mohon," bisik Maya dengan vokal yang kian serak dan bergetar hebat.Raka tidak langsung memenuhi permintaan itu secara membabi buta, melainkan memilih untuk memperlambat ritme pergerakan tangannya.Jemari kasarnya menelusuri permukaan paha mulus Maya dengan tekanan yang sangat lembut, hampir serupa bisikan angin di atas kulit."Sabar, Mbak Maya... permainan berkelas itu tidak boleh dilakukan terburu-buru," sahut Raka rendah di depan bibir Maya.Sensasi gesekan melambat itu justru menjadi siksaan erotis yang luar biasa hebat bagi staf administrasi yang sudah dibutakan gairah tersebut.Maya memejamkan matanya rapat-rapar, menahan napas saat ibu jari Raka mengusap lipatan paha dalamnya dengan putaran melingkar yang begitu halus."A-aku tidak bisa tahan kalau kamu menyiksaku pelan-pelan begini, Raka..." rintih Maya pasrah seraya membusungkan dadanya."Mbak harus belajar menikmati setiap detiknya," balas Raka dengan bisikan penuh intimidasi yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 15

    "Kenapa harus bergeser, Raka? Bukannya posisi seperti ini buat kamu makin betah di bawah sana?" goda Maya sambil menyandarkan punggungnya santai.Jemari kaki Maya yang lentur bergerak maju, menyentuh tepat di tengah dada bidang Raka yang terbungkus kemeja seragam murahnya.Raka menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokannya, merasakan desakan lembut ujung kaki Maya yang seolah menahannya untuk tidak beranjak."Mbak Maya jangan bercanda, nanti kalau ada staf lain yang lihat bagaimana?" ujar Raka seraya berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu.Pandangan mata Raka yang semula ragu perlahan berubah, memancarkan binar lapar dan godaan liar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Maya tersenyum misterius, menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat Raka yang masih berlutut pasrah di antara kedua kakinya."Nggak akan ada yang lihat, mereka masih di jalan," bisik Maya pelan seraya sengaja menjatuhkan pulpen mewahnya ke lantai.Pulpen itu menggelinding persis di dekat lutu

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 14

    Di pagi harinya, Raka mengayunkan gagang pel dengan ritme yang teratur, sesekali bersiul kecil mengikuti irama lagu yang terngiang di kepalanya.Rasa lelah sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Otot-otot lengannya yang kekar bergerak santai, sementara pikirannya masih sesekali melayang pada kenikmatan terlarang yang ia reguk sebelumnya.Semangatnya pagi ini sedang berada di puncak.Tak lama kemudian, suara langkah kaki berhak tinggi itu terdengar di telinga Raka."Selamat pagi, Raka," sapanya setelah tiba di hadapan Raka.Raka akhirnya menoleh, lalu menghentikan gerakan pelnya sejenak.Maya—staf administrasi bernasib baik yang selalu tampil rapi sedang berdiri di sana dengan senyum manisnya.Raka kemudian mengulas senyum tipis dan mengangguk dengan gestur sopan yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang staf kebersihan."Selamat pagi juga, Mbak Maya," balas Raka ramah sebelum kembali memegang gagang pel.Raka menduga Maya akan langsung berjalan menuju kubikel kerjanya, menyalakan kompute

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 13

    Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status