Masuk"Teruskan sentuhanmu sebentar lagi, Raka, aku mohon," bisik Maya dengan vokal yang kian serak dan bergetar hebat.Raka tidak langsung memenuhi permintaan itu secara membabi buta, melainkan memilih untuk memperlambat ritme pergerakan tangannya.Jemari kasarnya menelusuri permukaan paha mulus Maya dengan tekanan yang sangat lembut, hampir serupa bisikan angin di atas kulit."Sabar, Mbak Maya... permainan berkelas itu tidak boleh dilakukan terburu-buru," sahut Raka rendah di depan bibir Maya.Sensasi gesekan melambat itu justru menjadi siksaan erotis yang luar biasa hebat bagi staf administrasi yang sudah dibutakan gairah tersebut.Maya memejamkan matanya rapat-rapar, menahan napas saat ibu jari Raka mengusap lipatan paha dalamnya dengan putaran melingkar yang begitu halus."A-aku tidak bisa tahan kalau kamu menyiksaku pelan-pelan begini, Raka..." rintih Maya pasrah seraya membusungkan dadanya."Mbak harus belajar menikmati setiap detiknya," balas Raka dengan bisikan penuh intimidasi yan
"Kenapa harus bergeser, Raka? Bukannya posisi seperti ini buat kamu makin betah di bawah sana?" goda Maya sambil menyandarkan punggungnya santai.Jemari kaki Maya yang lentur bergerak maju, menyentuh tepat di tengah dada bidang Raka yang terbungkus kemeja seragam murahnya.Raka menelan ludah yang terasa sangat kering di tenggorokannya, merasakan desakan lembut ujung kaki Maya yang seolah menahannya untuk tidak beranjak."Mbak Maya jangan bercanda, nanti kalau ada staf lain yang lihat bagaimana?" ujar Raka seraya berusaha mengatur napasnya yang mulai memburu.Pandangan mata Raka yang semula ragu perlahan berubah, memancarkan binar lapar dan godaan liar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.Maya tersenyum misterius, menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat Raka yang masih berlutut pasrah di antara kedua kakinya."Nggak akan ada yang lihat, mereka masih di jalan," bisik Maya pelan seraya sengaja menjatuhkan pulpen mewahnya ke lantai.Pulpen itu menggelinding persis di dekat lutu
Di pagi harinya, Raka mengayunkan gagang pel dengan ritme yang teratur, sesekali bersiul kecil mengikuti irama lagu yang terngiang di kepalanya.Rasa lelah sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Otot-otot lengannya yang kekar bergerak santai, sementara pikirannya masih sesekali melayang pada kenikmatan terlarang yang ia reguk sebelumnya.Semangatnya pagi ini sedang berada di puncak.Tak lama kemudian, suara langkah kaki berhak tinggi itu terdengar di telinga Raka."Selamat pagi, Raka," sapanya setelah tiba di hadapan Raka.Raka akhirnya menoleh, lalu menghentikan gerakan pelnya sejenak.Maya—staf administrasi bernasib baik yang selalu tampil rapi sedang berdiri di sana dengan senyum manisnya.Raka kemudian mengulas senyum tipis dan mengangguk dengan gestur sopan yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang staf kebersihan."Selamat pagi juga, Mbak Maya," balas Raka ramah sebelum kembali memegang gagang pel.Raka menduga Maya akan langsung berjalan menuju kubikel kerjanya, menyalakan kompute
Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan
Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan
“Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara rendah, terkontrol, namun menyimpan getaran halus yang menembus hening ruangan."Saya







