Share

Bab 99

Author: Gali Pratama
last update publish date: 2026-09-30 00:25:21

Setengah jam kemudian, mereka akhirnya selesai memilih.

Di kursi belakang mobil, tiga sampel botol kaca kustom telah terbungkus rapi, namun perhatian Clara sama sekali tak lagi tertuju pada urusan bisnis tersebut.

Gairah yang sempat tertahan di dalam gudang tadi kini meledak sepenuhnya di dalam kabin mobil yang hangat.

Clara yang duduk di kursi penumpang depan tak mampu lagi membendung desakan hasratnya.

Dengan napas yang mulai memburu halus, jemari mulusnya bergerak gemetar membuka satu per sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 136

    Denting.Suara khas bel lift VIP berdenting halus, menandakan tabung kaca itu telah sampai di lantai paling atas gedung perkantoran.Pintu lift bergeser terbuka secara perlahan, menyajikan pemandangan lorong lantai eksekutif yang lengang namun sarat akan tensi kecanggungan yang kentara.Beberapa staf administrasi dan sekretariat divisi senior yang sedang berdiri di dekat area koridor seketika menghentikan perbincangan mereka.Mata mereka tertuju lurus ke arah pintu lift.Langkah kaki Clara yang terbalut high heels hitam ketukan beradu dengan lantai marmer mengilap, berjalan tegap dengan pandangan lurus ke depan.Di samping kirinya, Raka melangkah dengan gestur tubuh yang amat tenang, dominan, dan siap membentengi sang presdir dari segala bentuk gangguan.Atmosfer canggung langsung terasa menekan.Semua orang di lantai itu tahu persis apa yang terjadi kemarin sore: Maya, sekretaris senior yang telah bertahun-tahun mendampingi Clara, dipecat secara tidak hormat dan dikawal keluar gedung

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 135

    Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Di atas meja makan apartemen, sudah tersedia dua cangkir kopi hitam panas serta piring berisi roti panggang dan telur.Clara kini sudah duduk rapi di ujung meja. Pagi ini ia mengenakan setelan blazer abu-abu gelap dengan kemeja sutra putih di bagian dalam.Penampilannya tampak sangat profesional dan tegas seperti biasa, namun raut mukanya tidak bisa membohongi rasa lelah dan kepikiran yang masih tersisa dari insiden pemecatan Maya kemarin sore.Tangannya memegang cangkir kopi, menyesapnya perlahan seraya menatap lurus ke arah dinding kaca apartemen.Raka berjalan mendekati meja makan. Pria itu sudah tampil rapi menggunakan kemeja putih bersih, dasi hitam yang terikat presisi, serta jas yang disampirkan di lengan tangannya.Ia melangkah tenang lalu meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat berisi draf jadwal terbaru di samping piring Clara."Diminum dulu kopinya, Bu Clara," ujar Raka singkat tanpa basa-basi. Suaranya yang rendah dan tenang l

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 134

    Layar laptop di atas meja kerja kayu mahoni itu perlahan padam, menyisakan keremangan di sudut ruang tengah penthouse.Di dalam layar ponsel khususnya, data terenkripsi dari Maya sudah tersimpan aman. Raka sengaja tidak menyusul masuk ke kamar utama.Pria itu memilih menikmati hening, mengunyah setiap potongan rencana untuk membalas permainan Buana Kapital tanpa harus terburu-buru.Suara gesekan kain lembut beradu dengan lantai marmer memecah keheningan.Raka tidak menoleh mendadak, tapi sudut matanya menangkap bayangan Clara yang keluar dari kamar utama.Sang Direktur Utama berjalan pelan menyusuri koridor remang, mengenakan gaun tidur satin merah tembaga yang menjuntai halus.Rambut hitamnya terurai agak berantakan, dan raut wajah cantiknya dipenuhi cemas yang belum juga surut."Raka..." panggil Clara dengan vokal lirih, hampir berupa bisikan. "Kamu belum tidur?"Raka berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang dan luwes. Ia menyimpulkan ketegangan dari cara Clara memeluk kedua tang

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 133

    Beep.Pintu utama penthouse berbunyi pelan saat kartu akses di tangan Raka menempel pada sensor.Suasana di dalam hunian luas itu hening dan remang. Hanya lampu sudut ruang tengah yang menyala, memantulkan pendar kuning hangat di atas lantai marmer.Clara masih duduk di sofa kulit hitam. Gaun tidur satin warna merah tembaga membalut tubuhnya.Di meja kaca depan sofa, ada gelas air yang sudah dingin dan tumpukan draf berkas yang sejak tadi cuma ia pandangi.Wajah cantiknya kentara banget menyisakan lelah dan kepikiran pasca-drama pemecatan Maya siang tadi.Begitu mendengar suara langkah sepatu Raka, Clara langsung menoleh. Matanya yang tajam berbinar lega."Raka..." panggil Clara. Suaranya agak serak, tapi nada butuhnya kerasa banget. "Dari mana aja kamu jam segini baru balik?"Raka jalan mendekat tanpa terburu-buru. Ia melepas jas hitamnya, menyampirkannya di sandaran sofa, lalu melonggarkan ikatan dasinya santai. Raut wajahnya tenang dan terkontrol, seolah gak habis melintasi malam y

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 132

    "Siapa orangnya, May?" tanya Raka rendah.Maya menggeleng pelan, matanya yang sembap menatap Raka dengan kecemasan nyata. "Kalau aku sebut namanya sekarang, Raka, bukan cuma karierku yang hancur. Aku gak bakal pernah aman hidup di Jakarta.""Kamu pikir posisi kamu sekarang udah aman?" sahut Raka dengan sudut bibir terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang teramat tipis."Laporan peretasan server dan pemalsuan berkas keuangan itu udah ada di meja penyidik kapolda. Satu telepon saja dari Clara malam ini, polisi langsung jemput kamu di meja kafe ini."Maya mengepalkan kedua tangannya di atas meja, napasnya memburu cepat. "Aku cuma dikontak lewat perantara, Raka! Aku gak pernah ketemu langsung atau tatap muka sama orangnya!"Dahi Raka berkerut tipis. Matanya memicing tajam, namun raut wajahnya tetap terkontrol sempurna tanpa riak emosi berlebih. "Perantara dari mana?""Dari konsorsium competitor," bisik Maya pelan, matanya melirik gelisah ke sekeliling kafe seolah takut ada telinga

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 131

    Keluarnya Maya dari gedung perkantoran tidak lantas membuat atmosfer tegang di lantai teratas menguap begitu saja.Bagi Raka, riak ancaman yang terlihat jelas biasanya hanyalah pucuk dari gunung es yang jauh lebih besar di bawah permukaan.Raka berdiri di balik jendela kaca besar ruang kerja presdir, memandangi deretan pencakar langit Jakarta. Tatapannya tajam dan fokus.Maya memang seorang ambisius yang dendam karena terabaikan saat di Bandung, tetapi nekat memalsukan dokumen keuangan dan meretas sistem server internal adalah tindakan dengan risiko luar biasa tinggi, sebuah tindakan nekat yang terlalu rawan jika hanya didasari kekesalan pribadi semata.Pasti ada udang di balik batu, batin Raka. Ada yang menyokong atau mendanai tindakan nekatnya.Pintu ruang kerja terdengar berderit pelan.Clara melangkah mendekat, lalu menggenggam cangkir kopi hitamnya. Kemudian ikut berdiri di samping Raka, menatap lurus ke luar jendela."Apa yang lagi kamu pikirkan, Raka?" tanya Clara halus, menole

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status