LOGINTelinga Ara berdenging mendengar perkataan Vance. Seketika napasnya terasa tercekat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya begitu kuat hingga dia kesulitan menarik udara.Memuakkan, katanya."Sepenting apa dia sampai membuatmu seperti ini?" Vance tak menyadari bahwa kata-katanya perlahan mengikis habis kesabaran Ara. Dia melangkah mendekat pada gadis yang menundukkan kepala dalam-dalam. "Apa karena dia pernah peduli padamu?" imbuhnya, sengaja menekankan kata 'pernah'.Tubuh Ara menegang. Pertanyaan itu terasa seperti ledakan yang dilemparkan tepat ke wajahnya, memaksanya menatap kenyataan yang selama ini berusaha dia hindari.Jarak antara dirinya dan sang tuan memang sudah sejauh itu. Bahkan rasa peduli yang dulu pernah Anthony tunjukkan tak lagi cukup untuk menutupi luka yang kini menganga di dalam hatinya. Semua itu terasa seperti serpihan masa lalu yang telah dibuang.Sama seperti dirinya.Ekspresi Ara mengeruh. Air mata yan
Vance menghela napas entah untuk yang ke berapa kalinya dalam tiga jam terakhir.Sepasang mata beriris merah darah itu tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik manusia yang tengah menyiram bunga beberapa langkah di depannya. Sesekali, gadis yang terus memasang senyum lebar di wajahnya itu memetik bunga untuk dimasukkan ke dalam keranjang, lalu memotong tangkai yang terserang hama dengan begitu telaten.Mendadak, gadis bernama lengkap Jung Ara berubah menjadi tukang kebun.Vance masih ingat betul bagaimana perubahan sikap Ara terlihat begitu kentara. Gadis yang biasanya tenggelam dalam lamunan kini seolah lenyap, digantikan oleh sosok yang riang, sibuk, dan tampak tidak memiliki beban hidup sedikit pun.Terlalu dipaksakan.Semuanya bermula sejak malam setelah insiden naga sialan yang hampir menculik Ara—malam ketika gadis itu berkata ingin menenangkan diri.Satu jam kemudian, Ara kembali tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya berba
Lorong rumah terasa begitu sunyi. Hanya suara langkah kaki Ara yang pelan menyentuh lantai kayu, disertai desir angin malam yang menyusup melalui celah jendela. Ara berjalan tanpa tujuan pasti.Yang dia inginkan hanyalah menjauh sejenak. Menjauh dari kamar. Dari rasa sesak di dadanya. Dan terutama, dari bayangan Anthony J. Wallenstein yang terus memenuhi pikirannya.Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, tubuhnya mendadak menegang."Ah—" Erangan lirih lolos dari bibirnya. Seketika, rasa nyeri yang tajam menusuk mata kanannya. Ara refleks mengangkat tangan dan menutup sisi wajahnya. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba. Berdenyut dan panas, menusuk hingga ke pelipis. Napasnya tercekat."A-apa ini ...."Tubuhnya sedikit limbung hingga satu tangannya harus bertumpu pada dinding. Rasa sakit itu tidak berhenti. Sebaliknya, malah semakin kuat. Seolah ada sesuatu yang bergerak di balik kelopak matanya.Sesuatu yang hidup. Denyu
“Sephael.” Sosok berpakaian serba putih itu memanggil saudaranya yang tengah berjalan di tepian telaga. Bibir tebal Jivael menyunggingkan senyum ramah, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pedang perak yang masih berlumuran darah.Sosok yang dipanggil Sephael menoleh, lalu membalas dengan seulas senyum. “Jivael. Bukankah hari ini kau tidak menerima tugas apa pun dari Ayah? Kenapa pedangmu berlumuran darah seperti itu?”Helaian pirang Jivael berayun bersamaan dengan dirinya yang berdiri di samping pemegang kasta tertinggi para seraphim. Dia tertawa renyah. Dengan santai, dia melemparkan pedangnya ke telaga. Namun, air suci itu sama sekali tidak ternodai oleh darah di pedangnya.“Aku baru saja menumbangkan seekor naga yang naik ke permukaan.”“Jivael, kau memang selalu berbuat seenaknya.”“Apa? Yang kulakukan adalah perbuatan mulia.” Dia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan ke depan, membuat pedang yang sebelumnya dia lempar ki
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpikan sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Dengan kedua tangan mengepal, dia berbalik dan mengejar Anthony yang hendak menuruni tangga. Vance menggapai pundak lebar pria itu, lalu menariknya hingga langkah iblis tak bersayap tersebut terhenti. “Apa yang kau maksud dengan Ara bertemu mereka?” Sepasang mata Vance memicing saat Anthony menyingkirkan tangannya dari pundak. Dalam hati, Vance berharap semua itu tidak benar. Dia tahu, sosok yang memiliki nama Anthony J. Wallenstein bukanlah tipe yang suka bergurau. Bahkan melemparkan guyonan pun terasa mustahil bagi iblis berwajah datar itu. Namun, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk percaya.
"Apa yang terjadi padanya?"Vance berlari mendekat begitu melihat Anthony membawa Ara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nada suaranya terdengar tajam, sarat kepanikan yang sejak tadi menyesakkan dada.Dia benar-benar khawatir.Beberapa saat lalu, Vance menyaksikan sendiri bagaimana seekor naga menculik Ara dan membawanya terbang jauh ke langit. Dia telah berlari sekuat tenaga, mengejar tanpa henti, tetapi tubuhnya tak memiliki sayap untuk menyusul makhluk terkutuk itu.Yang lebih mengusiknya adalah sesuatu yang terasa janggal. Ada bagian waktu yang seolah hilang dari ingatannya.Baru beberapa puluh detik lalu Ara dibawa pergi, dan Anthony sama sekali tidak terlihat di sana. Lalu bagaimana bisa sekarang gadis itu berada dalam pelukannya?"Apa Ara baik-baik saja?" tanya Vance lagi, langkahnya cepat mengikuti Anthony yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dahi Anthony berkerut tipis. Wajahnya dingin, tetapi aura d
"Kau bisa pergi ... jika kau mau."Wajah Ara memucat, kalimat itu menghantamnya keras. Tangannya mencengkeram pakaian Anthony, gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh. Kepalanya menggeleng berulang kali, sementara matanya terpejam erat."Apa Tuan i
"Anthony!" Anthony, katanya. Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan. Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya. Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh punda
" ... Ara?" Waktu seolah berhenti. Anthony setengah memeluk tubuh tak berdaya milik Ara. Telapaknya yang dilapisi sarung tangan putih menekan punggung gadis Jung, tetapi warna putihnya perlahan ternoda oleh darah yang mengalir deras dari luka yang menghiasi dada serta punggung Ara. Beberapa detik
Jika kalian berpikir bahwa makhluk selain manusia tidak bisa bermimpi, maka kalian salah. Saat ini, roh anjing hitam itu tengah berada di alam bawah sadarnya. Dia berlari dengan keempat kakinya di padang yang sunyi, menuju sosok seorang pria yang duduk di bawah pohon. Dalam mimpi itu, tubuhnya tida







