MasukJuslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,
"Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal
Perang demi perang kembali terjadi, telah dilakukan oleh para malaikat dan iblis, seolah hal itu memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan. Kilatan cahaya petir menyambar langit. Guntur menggelegar tanpa henti. Awan hitam bergulung di atas kepala mereka, membuat dunia terlihat semakin suram.Di antara ribuan malaikat dan iblis yang saling bertempur, Juslandier berdiri diam. Biasanya, setiap kali Jivael turun ke medan perang, merekalah yang akan saling berhadapan karena hanya Jivael yang mampu membuatnya merasa tertantang, dan hanya Juslandier yang mampu membuat Jivael mengerahkan seluruh kemampuannya.Namun, kali ini berbeda. Jivael berada jauh darinya, target utama sang panglima Nirvana bukanlah dirinya, melainkan Jattandier. Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada satu pun malaikat yang mencoba menyerangnya."Sephael ...." Juslandier mendongak. Malaikat yang sedari tadi hanya mengamati itu perlahan turun dari langit, melayang beberapa meter di atasnya. Tatapan mereka bertemu, dan Ju
"Juslandier!" Suara salah satu iblis menggema dari barisan pasukan Abyss.Yang dipanggil tertegun. Dia bahkan tidak menyadari bahwa namanya sedang diteriakkan hingga menggema di angkasa, pikirannya masih tenggelam di tempat lain. Masih terjebak dalam kemarahan, kehilangan, dan bayangan seseorang yang terus menghantui setiap sudut kesadarannya.Araphael.Nama itu terus muncul, dan menolak pergi. Seolah ingin mengingatkannya bahwa dirinya gagal melindungi, mempertahankan, bahkan gagal mengucapkan hal yang paling ingin dia katakan.Juslandier memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.Terima kasih, Mikhail.Meski tidak mengatakannya dengan lantang, Juslandier menyadari bahwa dirinya nyaris tenggelam dalam pikiran gelapnya sendiri, dan itu sangat berbahaya.Tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan karena lucu, melainkan karena dirinya baru menyadari betapa dekatnya dia dengan kegilaan. Seakan mengulur waktu dan tak memedulikan sang kakak serta ayahnya yang bisa mengurus diri
"Apa yang kau bicarakan, Adikku? Dia sendiri yang memintanya. Dia memohon padaku untuk menodainya."Juslandier menggeram. Suara itu terdengar rendah dan kasar, lebih menyerupai raungan binatang buas daripada suara iblis. Rahangnya mengeras, giginya berderit menahan amarah. Urat-urat menonjol di pelipis dan lehernya hingga terlihat jelas di bawah kulit.Araphael tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu tanpa alasan. Dia mengenal Araphael. Jika sang malaikat sampai mengambil keputusan seperti itu, pasti ada sesuatu yang memaksanya.Dan dalam benak Juslandier, hanya ada satu pelaku. Jattandier-lah yang menyudutkannya.Tanpa peringatan, Juslandier melesat ke udara. Pedangnya membelah angin dengan kekuatan yang cukup untuk merobek ujung jubah Jattandier. Lalu, di saat yang sama, dia melemparkan pedangnya ke atas sementara dia merangsek maju membelah udara.Tentu hal tersebut membuat Jattandier tertawa melihat perjuangan adiknya yang ingin sekali memukulnya. Dia mengira sudah memahami p
"Angkat pedangmu, Bajingan." Suara Juslandier menggema di seluruh ruangan. "Mari bertarung sampai mati."Pintu raksasa setinggi sepuluh meter yang beberapa detik lalu dia tendang masih bergetar di engselnya. Retakan menjalar di permukaannya, sementara serpihan batu berjatuhan ke lantai. Di tangan Juslandier tergenggam pedang yang telah berlumuran darah.Lebih dari dua puluh iblis mencoba menghentikannya sejak dia menerobos masuk ke kediaman Jattandier, tidak satu pun berhasil. Mereka bahkan tidak mampu memperlambat langkahnya.Sang putra mahkota Abyss benar-benar bersungguh-sungguh. Hari ini dia datang bukan untuk meminta penjelasan, bukan untuk bernegosiasi. Bukan pula untuk mencari kebenaran.Dia datang untuk berperang. Api abadi berkobar di dalam dirinya. Manik biru samudera yang biasanya tenang kini tampak gelap dan bergolak seperti lautan yang diterjang badai, dia bahkan tidak perlu repot-repot menyembunyikan kedua matanya,Sementara di hadapannya, Jattandier masih duduk santai
“Perutku rasanya aneh,” gumam Ara seraya menyentuh perutnya, sesekali meremasnya kecil.Anthony mengernyit heran. Dia menggenggam tangan Ara lalu menyingkirkannya perlahan sebelum telapak tangannya sendiri berpindah menyentuh perut gadis itu. Lembut dan penuh kehati-hatian.
Sosok yang memiliki samudera di kedua bola matanya itu menjulurkan tangan perlahan, mengusap pipi selembut sutra milik gadis yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah Jung Ara adalah sesuatu yang sangat rapuh.Anthony menggigit bibir bawahnya samar, lalu
Anthony menyeringai kecil, sorot matanya perlahan berubah tajam. “Menyingkirkan sesuatu yang tidak perlu, dan mengambil kembali milikku yang telah dirampas oleh tikus.”“Kau—!”Jattandier menggertak marah. Api nyaris melesat dari telapak tangannya jika
“Aku akan tinggal di sini. Aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.”“Apa itu keinginanmu yang sesungguhnya?”Ara langsung mendongak. Pupilnya bergetar hebat saat mendengar pertanyaan tersebut. Dan seketika, bayangan sosok berjubah hitam bertudung kembal







