Home / Fantasi / Iblis Yang Mencintaiku / 51 - Adu Argumen

Share

51 - Adu Argumen

Author: Shiooki
last update publish date: 2026-04-24 20:34:51

"Apa yang terjadi padanya?"

Vance berlari mendekat begitu melihat Anthony membawa Ara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nada suaranya terdengar tajam, sarat kepanikan yang sejak tadi menyesakkan dada.

Dia benar-benar khawatir.

Beberapa saat lalu, Vance menyaksikan sendiri bagaimana seekor naga menculik Ara dan membawanya terbang jauh ke langit. Dia telah berlari sekuat tenaga, mengejar tanpa henti, tetapi tubuhnya tak memiliki sayap untuk menyusul makhluk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Iblis Yang Mencintaiku    182 - Musnahkan Dia

    "Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dalam pikiran karena mereka tidak

  • Iblis Yang Mencintaiku    181 - Pertemuan kembali 

    "Ini kekalahanmu, Juslandier."Makhluk setengah malaikat dan setengah iblis itu bergeming. Dia terlentang di atas tanah yang basah oleh darah dan hujan, tampak seperti seseorang yang telah kehilangan alasan untuk bangkit.Pedang masih mengarah ke tubuhnya. Ratusan pasang mata memandangnya. Para malaikat dan para iblis, musuh maupun kawan, tetapi Juslandier Bloodfallen tidak memedulikan satu pun dari mereka.Dia bahkan tidak peduli saat dipermalukan di depan seluruh pasukan, dan tidak peduli jika hari ini namanya tercatat sebagai pihak yang kalah. Dan mungkin, kematian sedang berdiri tepat di hadapannya.Rasa sakit berlomba-lomba mengekang tubuhnya, meresapi setiap siksaan yang melanda ketika darah di dadanya mengucur makin deras."JUSLANDIER!"Suara Mikhail menggema, penuh kemarahan dan frustrasi."Bangun, Bodoh!"Juslandier mendengar suara Mikhail, menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura seperti seorang pengecut da

  • Iblis Yang Mencintaiku    180 - Kekalahan Sang Putra Mahkota

    Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar,

  • Iblis Yang Mencintaiku    182 - Musnahkan Dia!

    "Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dal

  • Iblis Yang Mencintaiku    179 - Air Mata di Tengah Peperangan

    Perang demi perang kembali terjadi, telah dilakukan oleh para malaikat dan iblis, seolah hal itu memang ditakdirkan untuk saling menghancurkan. Kilatan cahaya petir menyambar langit. Guntur menggelegar tanpa henti. Awan hitam bergulung di atas kepala mereka, membuat dunia terlihat semakin suram.Di antara ribuan malaikat dan iblis yang saling bertempur, Juslandier berdiri diam. Biasanya, setiap kali Jivael turun ke medan perang, merekalah yang akan saling berhadapan karena hanya Jivael yang mampu membuatnya merasa tertantang, dan hanya Juslandier yang mampu membuat Jivael mengerahkan seluruh kemampuannya.Namun, kali ini berbeda. Jivael berada jauh darinya, target utama sang panglima Nirvana bukanlah dirinya, melainkan Jattandier. Dan yang lebih aneh lagi, tidak ada satu pun malaikat yang mencoba menyerangnya."Sephael ...." Juslandier mendongak. Malaikat yang sedari tadi hanya mengamati itu perlahan turun dari langit, melayang beberapa meter di atasnya. Tatapan mereka bertemu, dan Ju

  • Iblis Yang Mencintaiku    178 - Umpan yang Tersambar

    "Juslandier!" Suara salah satu iblis menggema dari barisan pasukan Abyss.Yang dipanggil tertegun. Dia bahkan tidak menyadari bahwa namanya sedang diteriakkan hingga menggema di angkasa, pikirannya masih tenggelam di tempat lain. Masih terjebak dalam kemarahan, kehilangan, dan bayangan seseorang yang terus menghantui setiap sudut kesadarannya.Araphael.Nama itu terus muncul, dan menolak pergi. Seolah ingin mengingatkannya bahwa dirinya gagal melindungi, mempertahankan, bahkan gagal mengucapkan hal yang paling ingin dia katakan.Juslandier memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.Terima kasih, Mikhail.Meski tidak mengatakannya dengan lantang, Juslandier menyadari bahwa dirinya nyaris tenggelam dalam pikiran gelapnya sendiri, dan itu sangat berbahaya.Tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan karena lucu, melainkan karena dirinya baru menyadari betapa dekatnya dia dengan kegilaan. Seakan mengulur waktu dan tak memedulikan sang kakak serta ayahnya yang bisa mengurus diri

  • Iblis Yang Mencintaiku    126 - Hukum Yang Dimanipulasi

    Pemilik tanah Abyss hendak membalik lembar berikutnya dari buku besar yang berisi nama-nama calon penghuni neraka ketika sebuah aroma yang sangat familier menyapa indra penciumannya, membuat tangannya seketika berhenti. Sepasang mata merah darah itu menyipit.Tak lama kemudian, halaman yan

  • Iblis Yang Mencintaiku    124 - Bujukan Demi Bujukan

    "Jadi, apa kau mau menerimanya?"Ara meremas jemari Anthony yang menggenggamnya, lalu dia menggigit bibir bawahnya pelan. Sejujurnya dia tidak ingin menerimanya. Bukan karena tidak menghargai permintaan Anthony, tetapi dirinya tahu bahwa sayap tersebut adalah bagian paling berharga bagi ib

  • Iblis Yang Mencintaiku    123 - Luka yang Ditangisinya

    “Kau terluka, Tuan. Punggungmu terluka ....” Suara Ara bergetar pelan. Begitu pula kedua tangannya yang kini menyentuh punggung Anthony dengan sangat hati-hati, seolah sedikit tekanan saja dapat membuat pria itu semakin hancur.Ujung jemarinya bergerak perlahan di atas permukaa

  • Iblis Yang Mencintaiku    120 - Sebuah Pertanyaan

    Meski hatinya masih dipenuhi ketakutan, meski keraguan itu belum benar-benar hilang. Jung Ara tetap berharap.Berharap bahwa semua kata-kata itu ditujukan untuk dirinya, tanpa campur tangan siapa pun.Tanpa bayang-bayang Araphael di dalamnya.Bersama Tuan Wallen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status