Startseite / Fantasi / Pelindung Terakhir / 13 - Hilang Kendali

Teilen

13 - Hilang Kendali

last update Veröffentlichungsdatum: 17.03.2026 18:57:05
" ... Ara?"

Waktu seolah berhenti.

Anthony setengah memeluk tubuh tak berdaya milik Ara. Telapaknya yang dilapisi sarung tangan putih menekan punggung gadis Jung, tetapi warna putihnya perlahan ternoda oleh darah yang mengalir deras dari luka yang menghiasi dada serta punggung Ara.

Beberapa detik yang terasa seperti keabadian berlalu. Anthony beralih menatap wajah gadis itu.

Ara terpejam damai di dalam pelukannya.

Wajahnya pucat.

Terlalu pucat.

Ia nyaris tidak mendengar detak jantu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pelindung Terakhir    18 - Di Bawah Kungkungan Iblis

    Dengan tangan mereka yang saling menggenggam, Vance berjalan mengiringi langkah Ara yang tenggelam dalam diam.Tak ada kata yang keluar dari bibir gadis itu, tetapi Vance bisa merasakannya—gelombang emosi yang kacau, berat, dan tak terarah. Ikatan di antara mereka membuat semuanya terasa jelas: kegelisahan, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam … sesuatu yang bahkan Ara sendiri mungkin enggan akui.Vance menoleh beberapa kali ke arahnya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, sebagai makhluk yang sebagian besar hidupnya dihabiskan sebagai anjing, kata-kata bukanlah keahliannya.Dulu, ia hanya perlu berada di samping Sam—diam, setia, kadang menjadi tempat bersandar, dan menghiburnya.Sekarang ... ia tidak dapat melakukan apa pun selain menggenggam tangannya sedikit lebih erat ketika gadis itu terus-menerus menghela napas.Begitu mereka sampai di depan kediaman Wallenstein, langkah Ara terhenti. Ia memandangi cahaya lampu yang terlihat di balik setiap jendela, terasa hangat dan hidup … k

  • Pelindung Terakhir    17 - Gadis Malang

    Saat ini hampir menjelang siang, tetapi udara terasa lembap. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, menutupi sebagian jalan setapak yang harus mereka lalui menuju gereja.Ara menarik coat-nya sedikit lebih rapat.Dingin. Atau mungkin … hanya perasaannya saja?Di sampingnya, Vance berjalan dengan langkah ringan dalam wujud anjing hitam. Namun, telinganya terus bergerak, waspada pada setiap suara kecil di sekitar mereka.Rumah-rumah yang mereka lewati perlahan berubah. Dari bangunan besar bergaya klasik, menjadi rumah-rumah tua dengan cat mengelupas. Jendela tertutup rapat. Terlalu rapat. Seolah-olah penghuni di dalamnya tidak ingin melihat … atau dilihat.Ara memperlambat langkahnya. "Vance .…""Ya?""Apa kau merasakannya juga?"Vance tidak langsung menjawab. Namun, langkahnya sedikit bergeser, kini lebih dekat ke Ara. "Ya."Satu kata. Pendek. Namun, cukup membuat Ara yakin ada sesuatu yang mengawasi mereka. Yang jelas bukan manusia.Ara menelan ludah. Ia mencoba mengalihka

  • Pelindung Terakhir    16 - Ada Aku

    "Jika kau penasaran, kenapa tidak buka saja pintunya dan bertanya langsung? Atau … aku saja yang melakukannya?" tanya Vance. Ikatan di antara mereka membuatnya bisa merasakan kegelisahan Ara dengan jelas.Mendengar itu, Ara menatap pintu di hadapannya, lalu ke knopnya, seolah benda itu benar-benar memanggilnya untuk disentuh.Hanya butuh sedikit keberanian, sedikit saja, dapat dipastikan Ara akan membuka pintunya di saat ini juga. Namun, pada akhirnya Ara memilih untuk berbalik. "Ayo, Vance."Ara memilih pergi.Vance tidak langsung mengikuti. Sejenak ia mendongak, menatap pintu itu. Ia tahu betul perasaan khawatir siapa yang tertinggal di sana. Tak lama setelahnya, ia menyusul Ara menuruni tangga."Mungkin … perubahan wujudnya saat itu membebani tubuhnya.""Perubahan?" Ara berhenti di anak tangga terakhir, menatap Vance dengan alis bertaut."Sepertinya dia jarang menggunakan wujud aslinya," lanjut Vance. "Kau ingat saat dia menyerang iblis itu? Dia terlihat marah … dan kehilangan kend

  • Pelindung Terakhir    15 - Gelisah

    Di sebuah pemakaman gereja, seekor anjing hitam berdiri diam di depan makam dengan batu nisan bertuliskan Sam. Cahaya mentari jatuh tepat di tubuhnya, membuat bulu hitam legam itu berkilau seperti pecahan intan. Ia adalah Vance. Matanya yang merah menatap batu nisan itu seolah ia benar-benar sedang berziarah, layaknya manusia yang kehilangan seseorang. Ukuran tubuhnya kini jauh lebih kecil dibanding saat ia berada dalam wujud roh sepenuhnya—hanya setinggi pinggang orang dewasa. Namun, matanya yang berwarna merah tak dapat menyembunyikan identitas asli Vance sebagai church grim berwujud black dog. "Sam .…" Ekor Vance mengibas pelan, ia melangkah mendekat. "Aku sudah terbiasa dengan kehidupan baruku … bagaimana denganmu?" Ia memejamkan mata sejenak. Lalu mendongak, menatap langit cerah yang terasa begitu jauh. "Apa kau tidur dengan tenang di sana? Apa di sana kau masih merindukan putrimu?" Tidak ada jawaban, dan tidak akan pernah ada. Namun, Vance tetap berbicara meski hanya dala

  • Pelindung Terakhir    14 - Ikatan Baru

    "Anthony!"Anthony, katanya.Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan.Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya.Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tangan itu perlahan merambat ke lehernya, lalu mencekiknya kuat. Tubuh Mikhail terangkat dari tanah. Ia menggantung di udara ketika sosok berjubah hitam milik Putra Mahkota Abyss dengan mudah mengangkatnya."Hati-hati dengan bicaramu, Mikhail," gumam sosok lain dengan suara berat. "Kau menyakiti pengantinku. Tindakanmu sama saja seperti pengkhianatan."Sorot matanya begitu tajam. Tanpa ampun ia melempar tubuh Mikhail hingga iblis itu tertusuk batang pohon besar, darah langsung mengucur dari perut serta mulutnya. Namun, Mikhail masih hidup. Ia bahkan tersenyum seraya menatap sosok yang berdiri tak jauh darinya."Sekali lagi kau menyakiti pengantinku," lanjutnya dingin, "dasar Abyss siap

  • Pelindung Terakhir    13 - Hilang Kendali

    " ... Ara?" Waktu seolah berhenti. Anthony setengah memeluk tubuh tak berdaya milik Ara. Telapaknya yang dilapisi sarung tangan putih menekan punggung gadis Jung, tetapi warna putihnya perlahan ternoda oleh darah yang mengalir deras dari luka yang menghiasi dada serta punggung Ara. Beberapa detik yang terasa seperti keabadian berlalu. Anthony beralih menatap wajah gadis itu. Ara terpejam damai di dalam pelukannya. Wajahnya pucat. Terlalu pucat. Ia nyaris tidak mendengar detak jantung gadis itu. Sementara pria asing yang tadi didorong oleh Ara membelalakkan mata, mencerna apa yang telah terjadi. Tatapannya langsung beralih ke arah hutan saat ia merasakan sebuah pergerakan. Geraman rendah langsung keluar dari tenggorokannya. Tak lama kemudian, muncul sesosok makhluk yang keluar dari bayangan hutan. Sepasang sayap hitam besar tampak terbentang di punggungnya, ujungnya masih berlumuran darah. “Ah … sepertinya sasaranku salah.” Sosok bersayap itu tersenyum santai. “T

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status