Share

BAB 4. Penjarah

Penulis: depdep
last update Tanggal publikasi: 2025-10-04 07:01:36

"Kenapa kaget?"

Mana mungkin Alisia tidak terkejut saat dirinya disebut sebagai kucing kecil?

"Menurutmu, siapa yang tidak terkejut dan malah berterima kasih setelah dirinya disamai dengan seekor binatang?"

"Lagi pula kucing bukan binatang yang menjijikkan."

Alisia tentu saja tau soal itu. "Meski lucu dan menggemaskan, tetap saja jangan menyamakan orang lain dengan binatang. Tidak semuanya bisa menerima itu, termasuk aku."

Hal ini malah mengingat Alisia pada sang ibu. Saat Ethan butuh tubuh Margaret, rangkaian kalimat rayuan dia utarakan termasuk memanggil wanita itu dengan nama binatang.

Meski dalam bayangan dan pendengaran keduanya panggilan itu terdengar lucu dan menambah gairah, tetap saja di mata Alisia, sang ibu hanya diperlakukan sebagai binatang.

Ethan hanya menginginkan saat butuh untuk membuang spermanya, tanpa memikirkan perasaan dan penolakan dari Margaret. Terutama saat malam pertama keduanya.

"Lupakan itu kalau kamu tidak senang mendengarnya. Lagi pula aku berniat untuk memberi bantuan pada orang yang aku anggap lemah, bukan bermaksud melukai."

Alisia paham sekarang. Mengingat bagaimana dirinya kelelahan setelah berjalan berjam-jam lamanya, penampilannya tadi pagi pasti tampak begitu menyedihkan.

"Aku berterima kasih karena kamu sudah membawaku kesini dan tidak membiarkanku di jalanan begitu saja. Terima kasih karena sudah menampungku di rumahmu hari ini."

"Sama-sama."

Karena semua urusannya dengan lelaki ini sudah selesai, Alisia pikir ini lah waktu yang tepat untuk berpamitan.

Bagaimana pun juga, Alisia harus mencari tempat yang aman secepatnya. Dan kalau memungkinkan, harus tempat yang tidak terjangkau oleh keluarga Patel.

Barbara pasti tidak akan membiarkannya begitu saja. Karena dengan kepergian Alisia, itu artinya Aurelie lah yang harus menikah dengan keluarga Kensington.

Alisia yakin kalau orang-orang mungkin sudah dikerahkan untuk mencari keberadaannya sekarang. Terlalu lama disini hanya menunda proses pelariannya.

"Karena sekarang aku sudah bangun setelah istirahat dengan baik hingga badanku juga terasa segar, apa aku boleh pergi sekarang?"

"Dimana rumahmu?"

Alisia rasa itu bukan pertanyaan yang perlu dia jawab. Terutama memberitahu dari keluarga mana asalnya.

"Aku tidak pulang ke rumah setelah ini karena harus pergi ke suatu tempat. Saat kita bertemu, aku sedang diperjalanan kesana."

"Kemana tujuanmu?"

Alisia belum memiliki tujuan jelas karena yang dia pikirkan hanyalah meninggalkan keluarga Patel terlebih dulu. Sisanya bisa dia pikirkan setelah benar-benar terlepas dari keluarga itu.

"Ada suatu tempat yang ingin aku kunjungi. Hmm... keluarga ibuku."

"Berikan alamatnya dengan jelas agar aku bisa mengantarmu kesana."

"Oh, tidak perlu." Alisia segera menolak. Sayangnya dia terlihat begitu panik hingga lelaki itu menatapnya heran.

"Terima kasih atas tawarannya. Tapi aku tidak ingin merepotkan kamu lagi. Aku bisa pergi sendiri."

"Sudah ku bilang bukan kalau aku tidak merasa direpotkan? Katakan kemana aku harus mengantarmu."

"Sejujurnya aku lebih suka untuk pergi sendiri saja." Alisia menolak lagi.

"Kamu akan berjalan kaki seperti sebelumnya? Begitu? Bahkan tanpa kamu tau dimana posisi rumahku sekarang?"

Benar! Alisia tidak tau posisi rumah ini tepatnya ada dimana. Bisa saja di dekat kediaman keluarga Patel bukan?

"Memangnya ada dimana rumahmu ini?"

"Yang pasti cukup jauh dari tempat aku menemukanmu tadi."

Alisia mengigit bibirnya karena jawaban itu terlalu membingungkan.

"Bisa bantu arahkan aku ke pusat kota? Termasuk tunjukkan dimana aku bisa menemukan taksi. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk membantuku."

Pusat kota lah akhirnya dipilih Alisia sebagai dalih. Bagaimana pun juga, dia bisa bersembunyi diantara orang ramai dari pengejaran keluarga Patel saat disana.

"Tidak ada taksi yang berkeliling disekitar sini."

"Kenapa tidak ada?" Alisia bertanya heran.

"Karena area ini adalah milik pribadi. Setelah melewati hutan, baru kamu sampai di pinggir kota."

Ternyata dirinya berada di tempat yang antah berantah. Bahkan membayangkannya saja, Alisia pikir dirinya akan berjalan jauh.

"Jadi bisa dibilang kalau rumahmu ini dikelilingi hutan?"

"Bisa dibilang begitu."

Jawaban yang terdengar tidak yakin sekali. Berarti tidak ada jalan lain selain menerima tawaran dari lelaki ini. Ternyata Alisia memang butuh untuk diantar.

"Apa aku bisa merepotkan kamu sekali lagi? Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengantarku ke pusat kota."

"Tentu. Aku bisa mengantar kamu ke pusat kota."

Alisia tersenyum lega. Dia benar-benar bertemu dengan orang yang sangat baik. Tuhan ternyata masih menyayanginya. Dan mungkin ini berkat doa ibunya juga sepanjang hidup.

"Terima kasih karena sudah membantuku sekali lagi. Aku beruntung bertemu denganmu."

"Sama-sama."

Alisia mendorong selimut dari kakinya. "Kalau begitu, dimana tas milikku? Aku harap kamu tidak meninggalkannya di jalanan begitu saja. Karena—"

"Karena itu hasil dari menjarah rumah orang lain?"

Alisia melongo. Apa dirinya baru saja dikatakan sebagai seorang pencuri?

"Itu tidak benar. Uang dan perhiasan itu adalah milikku dan mendiang ibuku." Jelas tuduhan itu membuat Alisia tersinggung.

"Jelaskan sebelum aku berpikir untuk membawamu ke kantor polisi yang ada di pusat kota."

Jadi itu alasan lelaki ini menawari untuk mengantarnya? Karena berniat untuk membawanya ke kantor polisi dengan tuduhan sudah menjarah rumah?

"Aku memiliki masalah di rumah. Dan... itu adalah cerita yang panjang dan membosankan."

"Aku punya waktu untuk mendengarnya selama beberapa menit. Katakan secara ringkas."

Sayangnya Alisia tidak tertarik untuk membicarakan kehidupan pribadinya. Terutama pada lelaki asing yang bahkan namanya saja masih belum dia ketahui.

"Intinya aku tidak mengambil milik orang lain. Semua perhiasan, uang dan pakaian di dalam tas itu, semuanya adalah milikku. Aku bersumpah."

"Tidak terdengar cukup meyakinkan."

Alisia meringis. "Oh, ayolah? Itu semua benar-benar milikku."

"Untuk sekarang, kamu keluar dulu dari kamarku. Didepan pintu sudah ada pelayan sedang menunggumu. Ikuti dia ke kamar tamu."

Alisia benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran lelaki ini. Setelah menuduhnya sebagai pencuri, sekarang dia seperti membuka kesempatan untuknya menjarah rumah ini.

Bukan kah seharusnya lelaki ini sedikit waspada terhadap orang yang dianggapnya berpotensi untuk melakukan hal buruk?

"Kenapa aku harus kesana?"

"Lalu kamu mau tetap disini? Ingin mandi berdua bersamaku? Aku tidak keberatan."

"Tapi aku yang keberatan." Alisia melompat turun dari ranjang. "Berarti kita akan melanjutkan pembicaraan setelah mandi?"

"Tepatnya setelah makan bersama. Apa kamu tidak lapar?"

"Kamu benar-benar tuan rumah yang baik," puji Alisia karena dia memang lapar sekarang.

Alisia melihat kiri dan kanan sebelum melangkahkan kaki ke arah pintu yang lebih besar. Ternyata pilihannya tepat. Dia tidak membuka pintu lain yang tampaknya menuju kamar mandi.

Sebelum menutup kembali pintu kamar itu, Alisia memperhatikan lelaki yang ada diatas ranjang. Tatapan tajam lelaki itu masih tertuju padanya.

"Sekali lagi, terima kasih untuk semua bantuanmu."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 71. Jika Posisimu Milikku

    Saat melihat mobil Alexander sampai di vila mereka, Adrian tau kalau dirinya harus bersiap untuk mendengar amukan kemarahan dari sang kakak.Apapun yang dilakukan Alexander, dirinya tidak boleh menunjukkan perlawanan. Sebab hanya lelaki itu yang bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah yang menimpanya.Akhir pekan memang biasanya Adrian manfaatkan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Sebab lima hari kerja sudah dia lalui dengan penuh tekanan sehingga tubuhnya merasa lelah baik secara fisik maupun mental.Adrian merasa dirinya sudah bekerja dengan baik. Tapi di mata Alexander, dia selalu dianggap tidak becus atas apapun yang dilakukannya. Dan sang ayah yang selalu mendengarkan apa kata Alexander malah menyetujui hal itu dengan santai.Bagaimana Adrian tidak merasa akan gila karena harus menghadapi kedua lelaki itu selama lima hari dalam seminggu?Jadi hanya bersenang-senang seperti itu lah yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki suasana hatinya agar b

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 70. The After Morning Pill

    Apa yang sudah aku lakukan?Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya saat Alisia terbangun dalam pelukan Ken.Keduanya berada diatas tempat tidur yang ada di dalam kamar. Ken yang kini memeluk Alisia tampak masih tidur di belakangnya.Tidak butuh bermenit-menit lamanya untuk Alisia mengingat semua yang sudah dia lakukan bersama Ken. Dimulai dari lelaki itu menjemputnya untuk makan siang, ciuman, seks diatas sofa hingga akhirnya Alisia tertidur karena kelelahan.Katanya penyesalan akan selalu datang paling akhir. Ketika semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, perasaan itu akan muncul untuk menyiksa pemiliknya.Dan mungkin itulah yang dirasakan Alisia sekarang.Dia menyesal karena sudah mengikuti keinginan tubuhnya tanpa memikirkan dengan baik apa yang akan dia hadapi setelah semuanya terjadi.Alisia juga menyesal karena sudah menaruh harapan pada Ken. Bahwa lelaki itu yang akan menghentikannya dari keinginan untuk mendapat sentuhan

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 69. Klaim Kepemilikan

    Tanpa Alisia melarangnya pun sudah pasti Reed tidak akan berhenti. Melakukan itu hanya lah suatu bentuk kebodohan yang tidak akan pernah dia lakukan.Terutama disaat Reed bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Alisia sedang melingkupi dirinya saat ini.Bagaimana Alisia meremasnya dan memberikan rangsangan yang memusingkan kepalanya hanya karena gairah yang terus meningkat.Dan betapa nikmatnya penyatuan mereka sekarang yang bisa membuat Reed menggila jika dihentikan secara paksa.Rasanya begitu luar biasa mendebarkan. Alisia mampu mengobrak-abrik benteng pertahanan Reed sejak perempuan itu berada dalam jangkauan tangannya.Reed tidak tau apa alasan yang membuatnya bisa berakhir diantara kedua paha Alisia selain gairah dan ketertarikan fisik. Tapi ada satu hal yang pasti dia ketahui. Bahwa semua yang dia pelajari selama ini seolah tidak berguna setelah dihadapkan pada seorang Alisia Patel.Sejak kecil Reed sudah diberikan pengetahuan tentang seks. Hal itu merupakan salah satu materi pel

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 68. Seks Pertama

    Erangan dan juga rengekan Alisia terus terdengar seiring dengan sentuhan Ken di bagian kewanitaannya.Lelaki itu masih mengusap dan mengelusnya dengan ibu jari, juga menjilatnya menggunakan lidah hingga Alisia merasa seperti akan gila dibuatnya.Rasanya seluruh tubuh Alisia seperti mengeluarkan hawa panas. Kepalanya pusing karena gairah. Perutnya pun menegang karena sibuk menahan diri agar tidak membasahi Ken.Alisia pikir dirinya benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya sekarang. Karena rasanya dia tidak mau menghentikan semua ini.Satu hal yang diinginkan Alisia sekarang. Sesuatu yang pasti akan membuatnya menggelepar karena kenikmatan. Dan Ken pasti akan memberikan hal itu padanya beberapa saat lagi jika lelaki itu tidak berhenti.Namun Ken tiba-tiba menarik kepalanya menjauh, membuat Alisia memanggilnya tidak terima. "Ken?"Lagi-lagi Ken berhenti disaat Alisia akan mendapatkan apa yang dia nantikan. Apa yang dilakukan Ken jelas tidak menyenangkan.Namun berhentinya Ken bukan den

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 67. Kamu Cantik, Aku Suka

    Tentu saja Alisia sadar bahwa tidak ada untungnya bermain-main dengan ketertarikan dan gairah dari seorang lelaki.Tidak ada gunanya pula menguji sebatas mana pengendalian diri dan batas kesabaran seorang lelaki.Terlebih lelaki itu adalah Ken, yang Alisia tau memiliki ketertarikan secara fisik terhadapnya. Lelaki yang bahkan bisa memanfaatkan situasi disaat Alisia mabuk, apalagi ketika Alisia bertindak dalam kondisi sadar.Dan Alisia pun tentu tau apa yang dilakukannya sekarang bisa membuatnya menyesal beberapa saat lagi. Terutama jika ciuman mereka bisa berlanjut pada kegiatan yang tidak seharusnya terjadi.Tapi bolehkah Alisia menikmatinya untuk sebentar saja? Disaat akal sehatnya masih bisa berjalan dengan baik dan tau kapan waktunya dia harus berhenti.Orang-orang bilang, tidak butuh cinta agar dua orang bisa berhubungan badan. Jangankan rangsangan, hanya dengan kesediaan masing-masing saja, seks bisa terjadi.Tanpa peduli yang melakukannya adalah pasangan yang bersama karena ter

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 66. Ciuman Frustasi

    Ini ciuman yang kasar dan menggebu-gebu. Rasanya seolah bibir Alisia akan dimakan oleh Ken.Gerakannya persis sama seperti pagi tadi, hanya saja Alisia merasa berbeda.Entah pengaruh suasana pembicaraan mereka beberapa saat lalu atau apa, Alisia pikir ciuman kali ini bukan sebagai bentuk gairah Ken yang tiba-tiba bangkit karena dirinya.Melainkan seperti pelampiasan frustasi, meski Alisia tidak tau kenapa Ken harus merasakannya. Tidak ada yang salah dari pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu.Alisia tidak bisa membayangkan bagaimana situasi bibirnya kini saat dikuasai oleh Ken. Tarikan, hisapan bahkan gigitan Ken berikan secara bergantian pada kedua bibirnya.Tidak sakit, tapi membuat Alisia merasa takut akan terlena.Ken masih tidak melepaskannya bahkan setelah Alisia berusaha untuk mendorong dadanya menjauh.Cengkraman Ken di kedua lengannya pun bertambah kuat setiap kali Alisia memberikan perlawanan.Ken menggigit bibir bawahnya saat Alisia dengan sengaja menutup rapat kedua b

  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 65. Burung yang Terbang Bebas

    Dari pintu ruang kerja yang tiba-tiba terbuka, Ken muncul dengan penampilan yang tak serapi pagi tadi. Meski begitu, Ken masih terlihat tampan seperti biasa.Kedatangan Ken tentu saja mengejutkan Alisia dan Emma. Keduanya sudah mengakhiri pelajaran mereka beberapa saat lalu dan hampir selesai merap

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 63. Adik Tak Berguna

    Semalam Alexander benar-benar tidak pulang ke rumah ayahnya. Lelaki itu memutuskan untuk menginap di salah satu apartemen miliknya yang tak jauh letaknya dari kantor.Sementara waktu, Alexander putuskan untuk tidur di apartemen. Suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja sehingga saat melihat ibu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 64. Impian Sederhana

    Mendesah panjang, Alisia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kepalanya menengadah agar bisa memperhatikan langit-langit ruang kerja yang akan menjadi milik calon istri Ken di masa depan nanti.Alisia sengaja meminta jeda pada Emma selama sepuluh menit untuk mendinginkan kepalanya.Padahal b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Pelukan Hangat Musuh Keluarga   BAB 61. Mencuri Celana Dalam

    Setelah mereka selesai sarapan, Ken masuk ke dalam ruang kerjanya. Lelaki itu akan menunggu kedatangan sang sekretaris disana sambil memulai pekerjaan, sehingga Alisia tentunya tidak dibutuhkan.Karena itu Alisia diminta untuk menunggu Emma di dalam kamar agar bisa memulai pekerjaan lain yang sudah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status