ホーム / Romansa / Pelukan Hangat Sang Letnan / 05. Kedatangan Adik Ipar

共有

05. Kedatangan Adik Ipar

作者: Nyemoetdz Kim
last update 公開日: 2026-05-05 14:10:56

Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam. Tugas negara memanggilnya kembali ke istana hari ini, namun hatinya masih tertambat pada ranjang tempat Salwa terbaring.

​Galang tahu ia tidak bisa membiarkan Salwa sendirian. Salwa, sama seperti dirinya, adalah pejuang di rimba beton Jakarta. Wanita itu merantau dari daerah, membawa luka masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada sembarang orang. Setelah ibunya tiada dan ayahnya pergi tanpa kabar, sebuah luka yang Galang pun tidak tega untuk mengungkitnya, Salwa tumbuh di bawah asuhan paman dan bibinya. Di Jakarta, Galang adalah satu-satunya "rumah" yang ia miliki.

​Untuk itulah, Galang telah menghubungi satu-satunya keluarga yang ia miliki di kota ini, Giska, adik perempuannya yang sedang menempuh kuliah semester akhir di salah satu universitas negeri di Jakarta.

​Pintu kamar terbuka pelan. Seorang gadis muda dengan tas ransel dan wajah yang sangat mirip dengan Galang masuk dengan langkah terburu-buru. Itulah Giska. Meskipun mereka bersaudara, sifat Giska jauh lebih ekspresif dibandingkan kakaknya yang kaku.

​"Mas Galang," bisik Giska sambil mendekat. Ia melihat Salwa yang masih tertidur lelap dengan perban di dahi. Wajah Giska langsung berubah sedih. "Ya ampun, Mbak Salwa... kok bisa sampai begini, Mas?"

​Galang memberi isyarat dengan meletakkan telunjuk di bibir agar adiknya mengecilkan suara. Ia membawa Giska ke sudut ruangan. "Kecelakaan motor semalam. Mas harus segera masuk dinas pagi ini, ada pengamanan rute kunjungan kenegaraan. Kamu bisa jaga dia sampai kuliahmu mulai?"

​Giska mengangguk mantap. Ia tahu betul betapa berartinya Salwa bagi kakaknya. Sejak mereka berdua merantau ke Jakarta, Galang sebagai prajurit dan Giska sebagai mahasiswi, kakaknya itu selalu menjadi sosok yang sangat protektif. "Tenang saja, Mas. Giska nggak ada kelas sampai siang nanti. Giska bakal jagain Mbak Salwa. Mas dinas saja dengan tenang."

​Galang menepuk bahu adiknya pelan. "Terima kasih, Dek. Hanya kita berdua yang dia punya di sini. Kabari Mas kalau dokter datang atau kalau dia butuh sesuatu yang tidak ada di sini."

​Di ruangan itu, ada sebuah keheningan yang penuh makna. Tiga anak manusia yang sama-sama jauh dari kampung halaman, saling menggantungkan harapan. Galang dan Giska datang dari keluarga prajurit yang disiplin di daerah, berjuang di Jakarta untuk memperbaiki nasib. Sementara Salwa, dengan segala kerapuhan latar belakang keluarganya, telah menjadi bagian dari keluarga kecil mereka di perantauan.

​Galang mendekat ke ranjang Salwa untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Ia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Salwa yang mulai bergerak bangun. "Sayang, aku harus bertugas. Giska di sini menjagamu. Aku akan kembali secepat yang aku bisa."

​Salwa membuka matanya sedikit, melihat sosok Galang yang sudah kembali berwibawa dengan aura pengawal presidennya. "Mas..." suaranya masih lemah.

​"Iya, aku di sini. Ada Giska juga," ucap Galang sambil menunjuk adiknya yang kini melambaikan tangan kecil ke arah Salwa.

​Salwa tersenyum tipis. Kehadiran Giska membuatnya merasa tidak begitu kesepian. Sebagai sesama perantau, mereka sering menghabiskan waktu bersama saat Galang sedang dinas luar kota. Giska adalah sosok adik yang selalu diinginkan Salwa, dan Salwa adalah sosok kakak yang selalu melindungi Giska.

​Setelah memberikan instruksi terakhir pada Giska tentang obat-obatan dan makanan, Galang meraih jas hitamnya. Begitu jas itu menempel di tubuhnya yang tinggi semampai, sosok pria lembut yang tadi mengusap punggung Salwa seolah lenyap. Yang ada kini adalah Galang Baraka, sang Paspampres yang mematikan.

​Ia memakai earpiece-nya kembali. "Elang 1 masuk frekuensi. Saya menuju titik penjemputan," ucapnya ke dalam radio komunikasi.

​Giska melihat perubahan aura kakaknya dengan rasa kagum sekaligus ngeri. "Mas Galang benar-benar seperti orang berbeda kalau sudah pakai jas itu," gumamnya dalam hati.

​Sebelum keluar, Galang menatap Giska tajam. "Jaga dia, Giska. Jangan biarkan dia turun dari tempat tidur sendiri. Kalau ada apa-apa, telepon langsung."

​"Siap, Komandan!" canda Giska sambil melakukan hormat militer main-main.

​Galang hanya menggelengkan kepala, namun ada binar terima kasih di matanya. Ia melangkah keluar dengan gagah, derap sepatunya terdengar tegas di lorong rumah sakit. Di luar sana, ancaman dan protokol ketat menantinya. Namun di dalam kamar itu, ia meninggalkan sebagian hatinya yang paling lunak.

​Sepeninggal Galang, Giska segera duduk di kursi yang tadi diduduki kakaknya. Ia memegang tangan Salwa. "Mbak, Mas Galang tadi malam nggak tidur sama sekali, ya? Mukanya tegang banget pas aku datang."

​Salwa mengangguk pelan. "Dia selalu begitu, Gis. Padahal dia sendiri pasti capek setelah bertugas seharian. Mas-mu itu... saking tegaknya, kadang lupa kalau dia juga manusia."

​Giska tertawa kecil. "Itulah Mas Galang, Mbak. Tapi buat Mbak Salwa, dia rela jadi manusia biasa. Dia cerita ke aku kalau Mbak itu dunianya. Jadi, Mbak harus cepat sembuh, ya? Biar Mas Galang nggak gila di lapangan karena kepikiran Mbak terus."

​Salwa tersenyum, meski tubuhnya masih terasa remuk. Di kota sebesar Jakarta, di tengah dinginnya dinding rumah sakit, ia merasa hangat. Bukan karena suhu ruangan, tapi karena ia tahu ia memiliki "keluarga" yang tulus menjaganya. Galang dengan ketegasannya yang melindungi, dan Giska dengan keceriaannya yang menghibur.

​Mereka adalah orang-orang yang saling menjaga di tanah perantauan, membangun benteng pertahanan bukan dengan senjata, melainkan dengan kasih sayang yang tulus. Sementara di luar sana, Galang Baraka sedang berdiri di barisan depan pengamanan presiden, dengan pikiran yang jauh lebih fokus karena ia tahu, cintanya berada di tangan yang aman.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   40. Kebenaran di Sudut Kumuh

    Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.​Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain.​"Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.​Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."​Salwa mengangguk kaku. Langkahnya

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   39. Fisik yang Dipaksa Tumbang

    Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.​Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.​Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.​Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   38. Di Dalam Keheningan Klinik

    Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.​Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.​Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   37. Penolakan di Tengah Kerapuhan

    Kemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.​Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.​Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   36. Keheningan yang Meledak

    Gerbang asrama Paspampres yang biasanya tampak kokoh dan berwibawa, siang itu terasa seperti tembok penjara di mata Salwa. Ia duduk di kursi kayu panjang di pos keamanan, di bawah tatapan waspada namun sopan dari para petugas jaga. Perutnya masih melilit hebat, kombinasi antara nyeri datang bulan dan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia mengabaikan tawaran segelas air dari petugas, tenggorokannya terlalu kering bahkan untuk sekadar menelan ludah.​Waktu seolah melambat. Setiap menit yang berlalu di bawah denting jam dinding pos jaga terasa seperti siksaan. Di kepalanya, kalimat ayahnya terus berputar seperti kaset rusak: “Dia sudah memberiku uang, dia sudah menyuruhku menjauh!”​Sekitar empat puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari balik gedung utama. Galang Baraka berjalan dengan langkah tegap, masih mengenakan seragam taktis yang gagah. Ia tampak sedang berbincang dengan seorang perwira lain, sesekali mengangguk tegas. Dari kejauhan, Galang sudah m

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   35. Pertemuan yang Menghancurkan

    Siang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas.​"Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."​Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.​Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   04. Sisi Manusiawi di Balik Seragam

    Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   03. Sentuhan yang Menenangkan

    Lampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu be

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   02. Goyahnya Fokus Paspampres

    Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di te

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   01. Letnan Galang Baraka

    ​Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status