Home / Romansa / Pelukan Hangat Sang Letnan / 02. Goyahnya Fokus Paspampres

Share

02. Goyahnya Fokus Paspampres

Author: Nyemoetdz Kim
last update publish date: 2026-05-05 14:03:56

Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di telinga kirinya. Namun, kewibawaan yang biasanya memancar kuat dari garis rahang tegasnya kini tampak retak.

​Galang adalah pria yang dilatih untuk tidak memiliki emosi saat bertugas. Sebagai Paspampres, ia adalah mesin yang diprogram untuk melindungi nyawa orang nomor satu di negeri ini. Namun, saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya sesaat setelah ia menyelesaikan sterilisasi area “Salwa kecelakaan, sekarang di RS Medika” seluruh kendali diri yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap.

​Selama bertugas tadi, ponsel di saku celananya memang bergetar berkali-kali. Getaran yang terus-menerus itu sempat membuatnya kehilangan fokus selama sepersekian detik, sebuah dosa besar bagi seorang pengawal kepresidenan. Ia baru bisa memeriksa ponselnya saat tugas selesai dan Presiden sudah aman di dalam kediaman. Saat ia mencoba menelepon balik, suaranya gemetar, namun panggilannya tak kunjung diangkat. Ketakutan yang lebih besar dari ancaman sniper mana pun mulai merayap di dadanya.

​Kini, Galang berdiri di depan pintu kamar perawatan. Langkah kakinya yang biasanya mantap dan tegap, kini terasa berat. Begitu pintu bergeser, pemandangan di depannya menghancurkan hatinya.

​Salwa Rumi, wanita yang tiga bulan lagi akan bersanding dengannya di pelaminan, terbaring lemah. Ada perban di dahi dan lengannya. Wajah mungil yang biasanya ceria itu kini pucat pasi, dengan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Salwa mengalami kecelakaan motor saat pulang kerja, seorang pengendara ceroboh menyerempetnya hingga ia terjatuh.

​Begitu mata mereka bertemu, tangis Salwa pecah.

​"Galang..." suaranya parau, penuh dengan nada aduan yang manja, nada yang hanya ditujukan untuk Galang.

​Galang mendekat dengan cepat, mengabaikan segala protokol ketenangan yang ia miliki. Ia berlutut di samping tempat tidur, meraih tangan Salwa yang bebas dari infus, dan mengecupnya lama. Ketegasan seorang pengawal presiden itu luntur seketika. Di depan Salwa, ia bukan lagi "The Ghost Sniper" atau perisai hidup presiden. Ia hanyalah seorang pria yang sedang ketakutan kehilangan dunianya.

​"Aku di sini, sayang. Aku di sini," bisik Galang. Suaranya yang bariton dan biasanya dingin, kini terdengar sangat lembut dan sarat akan penyesalan. "Maafkan aku... maaf aku tidak mengangkat teleponmu tadi. Aku sedang tugas."

​Salwa terisak, menyembunyikan wajahnya di telapak tangan Galang yang besar dan kapalan akibat latihan senjata. "Sakit, Galang... kakiku sakit sekali. Tadi jalannya gelap, aku takut..."

​Sifat manja Salwa keluar dengan alaminya. Bagi orang lain, mungkin kemanjaan Salwa dianggap berlebihan, namun bagi Galang, itulah yang membuatnya merasa hidup. Di dunia Galang yang penuh dengan kekerasan, taktik, dan bahaya, sifat manja Salwa adalah tempatnya berlabuh. Ia suka merasa dibutuhkan. Ia suka saat Salwa memintanya membuka tutup botol, atau saat Salwa menangis hanya karena jempolnya terjepit pintu. Itu membuatnya merasa memiliki fungsi lain selain sebagai pelindung negara, yakni sebagai pelindung seorang wanita yang ia cintai.

​"Jangan menangis lagi, ya? Kalau kamu menangis, aku rasanya ingin menghancurkan gedung ini karena tidak bisa menjagamu," ucap Galang dengan nada bercanda yang getir. Ia mengusap air mata di pipi Salwa dengan ibu jarinya yang tegas.

​Salwa menatap Galang, matanya yang sembab menatap garis rahang calon suaminya yang masih tampak tegang. "Kamu jangan galak-galak lagi kalau sama aku. Tadi pas aku jatuh, aku kepikiran kamu bakal marah karena aku nggak hati-hati."

​Galang tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang hanya bisa dilihat oleh Salwa. "Mana bisa aku marah sama kamu? Aku cuma marah pada diriku sendiri. Harusnya aku yang jemput kamu, harusnya aku tidak membiarkanmu pulang sendirian."

​"Tapi kan kamu kerja, jaga Pak Presiden," sahut Salwa sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur manja yang selalu berhasil membuat jantung Galang berdegup kencang. "Pak Presiden lebih penting."

​Galang menggeleng pelan. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Salwa. "Malam ini, di ruangan ini, kaulah satu-satunya prioritasku. Negara bisa menunggu, tapi kamu tidak."

​Galang kemudian berdiri sebentar untuk memperbaiki selimut Salwa dengan gerakan yang sangat telaten, sangat kontras dengan tangannya yang biasa memegang senapan sniper. Ia kemudian duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, tidak berniat pergi barang seinci pun.

​Malam itu, Galang Baraka membuktikan bahwa di balik seragam hitam yang tangguh dan paras tampan yang berwibawa, ada hati yang sangat lembut. Ia adalah pria yang bisa melumpuhkan lawan dari jarak satu kilometer, namun bertekuk lutut di hadapan tangisan manja wanita yang dicintainya. Ia menikmati peran ini, menjadi sandaran bagi Salwa Rumi, menjadi pria yang selalu dibutuhkan untuk menghapus air mata dan meredam ketakutan.

​Bagi Galang, menjaga keselamatan Presiden adalah kehormatan, namun menjaga senyum Salwa adalah tujuan hidupnya. Di kamar rumah sakit yang sunyi itu, sang pengawal presiden akhirnya melepaskan seluruh topeng ketegarannya, hanya menjadi Galang, pria yang akan melakukan apa saja demi keselamatan wanita di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   40. Kebenaran di Sudut Kumuh

    Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.​Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain.​"Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.​Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."​Salwa mengangguk kaku. Langkahnya

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   39. Fisik yang Dipaksa Tumbang

    Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.​Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.​Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.​Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   38. Di Dalam Keheningan Klinik

    Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.​Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.​Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   37. Penolakan di Tengah Kerapuhan

    Kemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.​Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.​Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   36. Keheningan yang Meledak

    Gerbang asrama Paspampres yang biasanya tampak kokoh dan berwibawa, siang itu terasa seperti tembok penjara di mata Salwa. Ia duduk di kursi kayu panjang di pos keamanan, di bawah tatapan waspada namun sopan dari para petugas jaga. Perutnya masih melilit hebat, kombinasi antara nyeri datang bulan dan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia mengabaikan tawaran segelas air dari petugas, tenggorokannya terlalu kering bahkan untuk sekadar menelan ludah.​Waktu seolah melambat. Setiap menit yang berlalu di bawah denting jam dinding pos jaga terasa seperti siksaan. Di kepalanya, kalimat ayahnya terus berputar seperti kaset rusak: “Dia sudah memberiku uang, dia sudah menyuruhku menjauh!”​Sekitar empat puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari balik gedung utama. Galang Baraka berjalan dengan langkah tegap, masih mengenakan seragam taktis yang gagah. Ia tampak sedang berbincang dengan seorang perwira lain, sesekali mengangguk tegas. Dari kejauhan, Galang sudah m

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   35. Pertemuan yang Menghancurkan

    Siang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas.​"Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."​Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.​Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   05. Kedatangan Adik Ipar

    Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   04. Sisi Manusiawi di Balik Seragam

    Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   03. Sentuhan yang Menenangkan

    Lampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu be

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   01. Letnan Galang Baraka

    ​Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status