เข้าสู่ระบบMalam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di telinga kirinya. Namun, kewibawaan yang biasanya memancar kuat dari garis rahang tegasnya kini tampak retak.
Galang adalah pria yang dilatih untuk tidak memiliki emosi saat bertugas. Sebagai Paspampres, ia adalah mesin yang diprogram untuk melindungi nyawa orang nomor satu di negeri ini. Namun, saat sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya sesaat setelah ia menyelesaikan sterilisasi area “Salwa kecelakaan, sekarang di RS Medika” seluruh kendali diri yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Selama bertugas tadi, ponsel di saku celananya memang bergetar berkali-kali. Getaran yang terus-menerus itu sempat membuatnya kehilangan fokus selama sepersekian detik, sebuah dosa besar bagi seorang pengawal kepresidenan. Ia baru bisa memeriksa ponselnya saat tugas selesai dan Presiden sudah aman di dalam kediaman. Saat ia mencoba menelepon balik, suaranya gemetar, namun panggilannya tak kunjung diangkat. Ketakutan yang lebih besar dari ancaman sniper mana pun mulai merayap di dadanya. Kini, Galang berdiri di depan pintu kamar perawatan. Langkah kakinya yang biasanya mantap dan tegap, kini terasa berat. Begitu pintu bergeser, pemandangan di depannya menghancurkan hatinya. Salwa Rumi, wanita yang tiga bulan lagi akan bersanding dengannya di pelaminan, terbaring lemah. Ada perban di dahi dan lengannya. Wajah mungil yang biasanya ceria itu kini pucat pasi, dengan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Salwa mengalami kecelakaan motor saat pulang kerja, seorang pengendara ceroboh menyerempetnya hingga ia terjatuh. Begitu mata mereka bertemu, tangis Salwa pecah. "Galang..." suaranya parau, penuh dengan nada aduan yang manja, nada yang hanya ditujukan untuk Galang. Galang mendekat dengan cepat, mengabaikan segala protokol ketenangan yang ia miliki. Ia berlutut di samping tempat tidur, meraih tangan Salwa yang bebas dari infus, dan mengecupnya lama. Ketegasan seorang pengawal presiden itu luntur seketika. Di depan Salwa, ia bukan lagi "The Ghost Sniper" atau perisai hidup presiden. Ia hanyalah seorang pria yang sedang ketakutan kehilangan dunianya. "Aku di sini, sayang. Aku di sini," bisik Galang. Suaranya yang bariton dan biasanya dingin, kini terdengar sangat lembut dan sarat akan penyesalan. "Maafkan aku... maaf aku tidak mengangkat teleponmu tadi. Aku sedang tugas." Salwa terisak, menyembunyikan wajahnya di telapak tangan Galang yang besar dan kapalan akibat latihan senjata. "Sakit, Galang... kakiku sakit sekali. Tadi jalannya gelap, aku takut..." Sifat manja Salwa keluar dengan alaminya. Bagi orang lain, mungkin kemanjaan Salwa dianggap berlebihan, namun bagi Galang, itulah yang membuatnya merasa hidup. Di dunia Galang yang penuh dengan kekerasan, taktik, dan bahaya, sifat manja Salwa adalah tempatnya berlabuh. Ia suka merasa dibutuhkan. Ia suka saat Salwa memintanya membuka tutup botol, atau saat Salwa menangis hanya karena jempolnya terjepit pintu. Itu membuatnya merasa memiliki fungsi lain selain sebagai pelindung negara, yakni sebagai pelindung seorang wanita yang ia cintai. "Jangan menangis lagi, ya? Kalau kamu menangis, aku rasanya ingin menghancurkan gedung ini karena tidak bisa menjagamu," ucap Galang dengan nada bercanda yang getir. Ia mengusap air mata di pipi Salwa dengan ibu jarinya yang tegas. Salwa menatap Galang, matanya yang sembab menatap garis rahang calon suaminya yang masih tampak tegang. "Kamu jangan galak-galak lagi kalau sama aku. Tadi pas aku jatuh, aku kepikiran kamu bakal marah karena aku nggak hati-hati." Galang tersenyum tipis, sebuah senyum langka yang hanya bisa dilihat oleh Salwa. "Mana bisa aku marah sama kamu? Aku cuma marah pada diriku sendiri. Harusnya aku yang jemput kamu, harusnya aku tidak membiarkanmu pulang sendirian." "Tapi kan kamu kerja, jaga Pak Presiden," sahut Salwa sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur manja yang selalu berhasil membuat jantung Galang berdegup kencang. "Pak Presiden lebih penting." Galang menggeleng pelan. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Salwa. "Malam ini, di ruangan ini, kaulah satu-satunya prioritasku. Negara bisa menunggu, tapi kamu tidak." Galang kemudian berdiri sebentar untuk memperbaiki selimut Salwa dengan gerakan yang sangat telaten, sangat kontras dengan tangannya yang biasa memegang senapan sniper. Ia kemudian duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, tidak berniat pergi barang seinci pun. Malam itu, Galang Baraka membuktikan bahwa di balik seragam hitam yang tangguh dan paras tampan yang berwibawa, ada hati yang sangat lembut. Ia adalah pria yang bisa melumpuhkan lawan dari jarak satu kilometer, namun bertekuk lutut di hadapan tangisan manja wanita yang dicintainya. Ia menikmati peran ini, menjadi sandaran bagi Salwa Rumi, menjadi pria yang selalu dibutuhkan untuk menghapus air mata dan meredam ketakutan. Bagi Galang, menjaga keselamatan Presiden adalah kehormatan, namun menjaga senyum Salwa adalah tujuan hidupnya. Di kamar rumah sakit yang sunyi itu, sang pengawal presiden akhirnya melepaskan seluruh topeng ketegarannya, hanya menjadi Galang, pria yang akan melakukan apa saja demi keselamatan wanita di depannya.Mobil SUV hitam milik Galang merayap pelan di balik kepadatan lalu lintas, menjaga jarak konstan sekitar tiga mobil di belakang motor matic krem yang dikendarai Salwa. Galang mematikan radio, mematikan segala gangguan, fokusnya hanya satu: punggung kecil yang tampak sangat rapuh itu. Di balik kemudi, Galang mencengkeram stir hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melihat bagaimana motor Salwa sedikit goyah saat melewati jalanan yang tidak rata. Setiap kali ada kendaraan yang menyalip Salwa dengan kasar, jantung Galang seolah berhenti berdetak. Ia ingin sekali menyalip, memposisikan mobilnya di belakang motor itu sebagai tameng, namun ia teringat janjinya pada diri sendiri untuk tidak lagi "mengatur" ruang gerak Salwa secara terang-terangan. Salwa berbelok ke sebuah apotek besar di pinggir jalan protokol. Galang menghentikan mobilnya di bahu jalan, beberapa meter sebelum apotek tersebut. Dari kaca jendela yang diturunkan sedikit, ia mengawasi Salwa turun
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang terjepit di antara gedung-gedung beton, namun suasana hati Galang jauh lebih pekat dari cuaca mana pun. Sudah dua puluh empat jam ia tidak mendengar suara Salwa. Tidak ada laporan "selamat pagi", tidak ada balasan pesan, bahkan centang biru di aplikasi percakapannya pun tidak muncul. Salwa benar-benar menghilang, seolah-olah ia telah memutuskan untuk memutus seluruh kabel yang menghubungkan dunianya dengan dunia Galang.Galang memulai pencariannya sejak fajar menyingsing. Ia mendatangi kosan Salwa, namun penjaga kos bilang Salwa tidak pulang semalam. Kamarnya gelap, gembok tambahan yang dipasang Galang masih terkunci rapat dari luar, menjadi saksi bisu bahwa penghuninya tidak pernah kembali untuk beristirahat.Panik mulai merayap di balik dada Galang yang biasanya sedingin es. Ia menghubungi Paman Salwa, satu-satunya kerabat yang ia kenal dekat."Paman, apa Salwa ada di sana? Dia tidak bisa dihubungi sejak k
Sinar matahari siang itu memantul tajam di atas aspal jalur protokol yang sedang disterilkan. Udara terasa panas dan statis, seolah-olah atmosfer sendiri sedang menahan napas. Di atas salah satu rute yang akan dilewati iring-iringan VVIP, Galang Baraka berdiri dalam formasi pengamanan ring terluar. Matanya yang biasanya sedingin es, kali ini tampak memiliki kilatan api yang tertahan.Di balik earpiece yang terpasang, suara koordinasi radio terus berdengung, namun bagi Galang, suara itu terdengar jauh. Pikirannya masih tersangkut pada bayangan Salwa yang pergi dengan penuh kebencian kemarin. Setiap detak jantungnya seolah memompa rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur menjadi satu racun yang mematikan.Ia mencoba melakukan teknik kompartemenisasi—memasukkan masalah pribadinya ke dalam kotak gelap di sudut pikirannya—namun kotak itu telah hancur. Kebenaran bahwa Salwa telah menemui ayahnya dan mendengar semua hinaan itu tanpa dirinya di samping wanita itu, membuat Galang merasa ga
Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain."Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."Salwa mengangguk kaku. Langkahnya
Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan
Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.
Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban
Lampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu be
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja







