Início / Romansa / Pelukan Hangat Sang Letnan / 01. Letnan Galang Baraka

Compartilhar

Pelukan Hangat Sang Letnan
Pelukan Hangat Sang Letnan
Autor: Nyemoetdz Kim

01. Letnan Galang Baraka

last update Data de publicação: 2026-05-05 14:00:50

​Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja turun dari panggung runway, namun dengan aura yang jauh lebih mengintimidasi.

​Garis rahangnya yang tegas tampak mengeras saat ia menekan earpiece di telinga kirinya.

​"Elang 1 siap di posisi. Area steril," ucapnya dingin. Suaranya rendah, bariton yang penuh wibawa.

​Sebagai anggota Paspampres Grup A, Galang bukan sekadar perisai hidup. Ia adalah perpaduan antara otak encer lulusan terbaik akademi militer dan ketangkasan fisik yang di atas rata-rata. Di kalangan rekan sejawatnya, Galang dijuluki sebagai "The Ghost Sniper" karena kemampuannya melumpuhkan target dari jarak dua kilometer tanpa sekali pun meleset.

​Malam itu, Presiden dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan yang cukup berisiko. Galang sudah mempelajari denah lokasi selama berjam-jam. Ia tidak hanya menghafal pintu keluar, tapi juga frekuensi udara, kecepatan angin untuk jalur peluru, hingga pola gerakan para pelayan.

​Saat iring-iringan mobil kepresidenan mulai bergerak, Galang duduk di kursi depan mobil pengawal. Matanya terus memindai setiap sudut jalan.

​"Baraka," suara komandannya terdengar lewat radio. "Intelijen mendeteksi adanya pergerakan anomali di sektor empat. Tetap waspada."

​"Diterima. Saya akan mengambil alih pengawasan manual di titik buta," jawab Galang.

​Sesampainya di lokasi, kerumunan wartawan dan pendukung mulai memadati area. Di tengah keriuhan itu, otak pintar Galang menangkap sesuatu yang janggal. Seorang pria di lantai tiga gedung seberang tidak memegang kamera, melainkan sesuatu yang memantulkan cahaya kecil, lensa bidik.

​Dalam hitungan detik, Galang tidak berteriak panik. Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit dipercaya oleh mata telanjang.

​"Posisi darurat! Shield up!" perintahnya sambil menarik sang Presiden masuk ke dalam dekapan bahunya yang kokoh, melindunginya dengan tubuhnya sendiri sementara tangan kanannya sudah siap pada posisi mencabut senjata cadangan di balik jasnya.

​Duni seolah melambat bagi Galang. Di antara napas yang teratur dan detak jantung yang tenang, ia harus memutuskan, Bertahan di tempat, atau melumpuhkan sang penembak sebelum peluru pertama melesat?

​*

Galang tidak pernah ragu. Baginya, pertahanan terbaik adalah serangan yang presisi. Dalam hitungan milidetik, ia menghitung variabel di kepalanya: jarak 450 meter, kecepatan angin rendah, dan sudut elevasi 15 derajat.

​"Tetap rendah! Masuk ke barikade!" perintah Galang kepada tim ring satu lainnya.

​Sambil terus memayungi tubuh Presiden dengan bahunya yang lebar, Galang memberikan kode visual kepada rekannya untuk mengambil alih perlindungan fisik. Begitu Presiden aman di balik pintu antipeluru mobil kepresidenan, Galang tidak ikut masuk. Ia justru berputar, memanfaatkan pilar beton gedung sebagai perlindungan.

​Ia tidak menggunakan senjata api laras pendeknya. Di balik bagasi taktis mobil pengawal yang terbuka sedikit, ia meraih custom compact sniper rifle yang sudah ia siapkan untuk situasi darurat seperti ini.

​Satu Tembakan, Satu Jawaban

​Galang menarik napas dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya dan menenangkan denyut nadinya hingga di bawah 60 detak per menit. Paras tampannya yang biasanya tenang kini berubah menjadi sangat dingin dan fokus. Melalui lensa bidik, ia melihat ujung laras senapan musuh menyembul dari jendela lantai tiga.

​Tiga... dua... satu...

​DOR!

​Satu tembakan tunggal dilepaskan. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk melumpuhkan. Peluru Galang menghantam tepat pada mekanisme pelatuk senjata lawan, menghancurkannya seketika dan membuat si penembak gelap terjatuh karena syok kinetik.

​"Target dilumpuhkan. Saya bergerak untuk pengamanan subjek," lapor Galang singkat.

​Ia berlari menyeberang jalan, melompati pagar pembatas dengan gerakan seringan model atletis, dan masuk ke gedung tersebut. Ia tidak menunggu lift; ia menaiki tangga darurat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

​Di lantai tiga, si penembak gelap mencoba melarikan diri melalui pintu belakang. Namun, Galang sudah di sana. Pria itu mencoba menyerang Galang dengan pisau taktis. Dengan gerakan bela diri campuran yang efisien, Galang menangkap pergelangan tangan lawan, memutarnya hingga terdengar bunyi klik tulang yang bergeser, dan membantingnya ke lantai beton dengan satu sapuan kaki.

​"Kamu memilih hari yang salah untuk membuat masalah," bisik Galang dingin, sambil menekan leher lawan dengan lututnya, memastikan pria itu tidak bisa bergerak sedikit pun.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, ancaman telah dinetralkan. Galang merapikan jas hitamnya yang sedikit berdebu, membetulkan letak dasinya, dan kembali ke sisi mobil Presiden seolah tidak terjadi keributan besar.

​Wajahnya kembali tenang, berwibawa, dengan garis rahang yang tampak kokoh di bawah lampu jalanan.

​Presiden menurunkan kaca mobil sedikit, menatap pengawal mudanya itu. "Luar biasa, Galang. Kamu tidak apa-apa?"

​Galang menunduk hormat, sorot matanya tetap waspada memindai sekitar. "Hanya tugas rutin, Pak. Area sudah kembali kondusif. Kita bisa melanjutkan perjalanan."

​Perjalanan pun berlanjut menuju lokasi jamuan. Namun, Galang menyadari bahwa penembak tadi memiliki tato sandi di pergelangan tangannya, sebuah kode yang hanya dipahami oleh orang-orang dengan kecerdasan tingkat tinggi.

Bersambung...

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   11. Kekuatan dari Sebuah Harapan

    Langkah kaki Galang Baraka menggema di koridor markas komando Paspampres dengan ritme yang cepat dan tegas. Pagi ini, Jakarta masih berselimut kabut tipis, namun di kepala Galang, segala sesuatunya tampak sangat benderang. Ia tidak bisa membiarkan Salwa terus tenggelam dalam bayang-bayang masa lalu yang nyaris merenggut nyawanya di aspal jalanan. Bagi Galang, membiarkan orang yang ia cintai merasa tidak aman, secara fisik maupun batin, adalah sebuah kegagalan dalam tugasnya sebagai pelindung.​Sebelum apel pagi dimulai, Galang menyimpang dari jalurnya menuju ruang divisi intelijen dan pemantauan. Ia mencari seseorang yang sudah lama menjadi rekan strategisnya, seorang pria bernama Aditya, yang memiliki kemampuan luar biasa dalam melacak data digital dan jaringan informasi di seluruh penjuru kota.​Aditya sedang menyesap kopi hitam di depan jajaran monitor ketika Galang masuk. Melihat sosok Galang yang tampak lebih tegang dari biasanya, Aditya segera menurunkan kakinya dari meja.​"Bar

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   10. ​Gejolak di Balik Kelopak Mata

    Pukul lima pagi. Alarm di ponsel Galang yang berada di atas nakas bergetar dengan suara dengung rendah, sebuah protokol yang selalu ia pasang agar ia bisa bersiap sebelum matahari benar-benar naik. Bagi Galang, bangun di pagi buta adalah insting yang sudah mendarah daging. Selama sepersekian detik, ia merasa sangat enggan untuk membuka mata. Hangat tubuh Salwa dalam dekapannya, aroma rambutnya yang menenangkan, dan kesunyian kamar ini seolah-olah menjadi candu yang membuatnya ingin mengkhianati tugas negaranya hanya untuk satu jam tambahan di sana.​Namun, disiplin tetaplah disiplin. Dengan gerakan yang sangat halus, Galang meraih ponselnya dan mematikan alarm sebelum nadanya sempat memecah keheningan. Ia tetap pada posisinya, tidak langsung beranjak. Ia ingin menikmati momen terakhir sebelum ia kembali mengenakan topeng besi sebagai pengawal kepresidenan.​Tetapi, saat Galang mencoba menggeser lengannya dengan sangat perlahan agar tidak menyentuh bagian pinggul Salwa yang terluka, se

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   09. Beban Menjelang Pernikahan

    Malam semakin larut, dan detak jam dinding di ruang rawat itu seolah berpacu dengan suara napas teratur Galang yang sudah terlelap. Salwa tetap terjaga. Meski tubuhnya terasa remuk dan nyeri masih berdenyut di setiap persendian, ia membiarkan matanya tetap terbuka. Ia tidak ingin bergerak sedikit pun, takut jika pergeseran kecil saja akan mengusik tidur pulas pria yang sedang memeluknya ini.​Salwa menatap wajah Galang dari jarak yang sangat dekat. Dalam tidurnya, gurat ketegasan di wajah Galang sedikit memudar, menyisakan sosok pria muda yang tampak begitu lelah. Salwa menghela napas panjang tanpa suara. Ia sadar sepenuhnya akan risiko mencintai seorang Galang Baraka. Ia memiliki cinta pria ini, cinta yang utuh, yang tulus, dan yang sangat protektif, namun ia harus menerima kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki waktunya.​Waktu Galang adalah milik negara. Milik keselamatan orang nomor satu di negeri ini. Milik protokol, misi rahasia, dan latihan-latihan militer yang ta

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   08. Satu Ranjang dalam Kesunyian

    Malam telah larut menyelimuti Jakarta, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara deru kendaraan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Pukul dua dini hari, pintu kamar rawat Salwa Rumi terbuka perlahan. Galang Baraka melangkah masuk dengan bahu yang tampak sedikit lebih turun dari biasanya. Ketegasan yang ia tunjukkan di depan Istana dan di bawah bidikan lensa sniper sepanjang hari tadi, kini ia tinggalkan di luar pintu rumah sakit.​Ia melihat Giska, adiknya, sudah terlelap di sofa bed tambahan dengan selimut menutupi setengah badannya. Giska pasti kelelahan setelah seharian menjaga Salwa sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Pandangan Galang kemudian beralih ke ranjang utama. Di sana, Salwa belum memejamkan mata. Wanita itu bersandar pada bantal yang ditumpuk, menatap pintu dengan binar yang seketika meredupkan rasa lelah di hati Galang.​"Belum tidur, Sayang?" bisik Galang seraya mendekat. Suaranya serak, bariton lembut yang hanya bisa didengar oleh Salwa.​Salwa menggele

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   07. Profesionalisme Tanpa Celah

    Waktu istirahat bagi seorang Paspampres Grup A bukanlah waktu untuk benar-benar melepaskan penat. Di sebuah ruangan taktis semi-permanen yang didirikan di belakang area pengamanan utama, Galang duduk dengan punggung tegak di sebuah kursi lipat militer. Di depannya, sebotol air mineral masih tertutup rapat. Ia baru saja selesai mengirimkan pesan singkat pada Giska, namun instingnya tidak pernah benar-benar "tidur".​Rekan-rekan setimnya sedang menikmati jatah nasi kotak sambil sedikit berkelakar untuk mencairkan ketegangan. Namun, Galang berbeda. Kepalanya sedikit miring, matanya yang tajam tidak menatap nasi di depannya, melainkan menatap layar monitor CCTV kecil yang terhubung dengan perimeter luar istana.​Tiba-tiba, suara statis terdengar di radio komunikasi pusat.​"Lapor, ada keributan di gerbang timur. Seorang pria berteriak-teriak membawa tas besar, menolak diperiksa. Petugas ring tiga sedang mencoba melakukan negosiasi."​Mendengar laporan itu, anggota lain mulai bersiaga, nam

  • Pelukan Hangat Sang Letnan   06. Dingin yang Menghangatkan

    Matahari Jakarta mulai menyengat, menciptakan fatamorgana panas di atas aspal hitam kawasan protokol. Di sana, di depan gerbang utama istana, Galang Baraka berdiri dengan posisi istirahat di tempat yang sempurna. Tubuhnya yang semampai dibalut setelan jas hitam custom-fit yang tidak menunjukkan lipatan sedikit pun. Kacamata hitam taktis menutupi sorot matanya yang tajam, sementara garis rahangnya yang tegas tampak semakin kokoh di bawah terik matahari.​Bagi siapa pun yang melihatnya, Galang adalah personifikasi dari profesionalisme tanpa cela. Tidak ada yang akan menyangka bahwa pria ini baru saja melewati malam yang penuh emosi di bangsal rumah sakit, mengusap punggung wanita yang dicintainya hingga fajar menyingsing.​Sebelum iring-iringan kepresidenan bergerak, Galang berada di ruang pengarahan singkat bersama timnya. Di sana, Kolonel Bramantyo sedang memeriksa detail rute melalui tablet digital. Begitu melihat Galang masuk dengan langkah tegap dan wajah "tanpa ekspresi" yang suda

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status