Mag-log inLampu neon di ruang rawat kelas satu itu meredup, menyisakan pendar kekuningan dari lampu nakas yang memberikan kesan hangat di tengah dinginnya aroma antiseptik rumah sakit. Di sana, di sisi tempat tidur yang sempit, Galang Baraka masih setia duduk. Sosoknya yang jangkung tampak sedikit terlalu besar untuk kursi kayu di ruangan itu, namun ia tidak peduli. Jas hitamnya sudah tersampir di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat menonjol di tangan yang terbiasa menahan tolak balik senapan kaliber berat.
Galang menatap Salwa dengan tatapan yang tidak akan pernah dipercayai oleh rekan-rekan setimnya di Paspampres. Jika di lapangan ia adalah pria dengan tatapan elang yang mampu mengintimidasi lawan hanya dengan satu lirikan, di sini, di hadapan Salwa Rumi, tatapan itu melunak menjadi samudera kasih sayang yang begitu dalam. Salwa memejamkan matanya rapat-rapat. Keningnya berkerut, menahan rasa nyeri yang berdenyut dari luka lecet di sekujur tubuh dan benturan keras pada pinggulnya. Sesekali, rintihan kecil lolos dari bibirnya yang pucat. Setiap kali rintihan itu terdengar, hati Galang rasanya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. "Sshhh... aku di sini, Salwa. Aku di sini," bisik Galang. Suaranya rendah, lembut, dan menenangkan, berbeda jauh dengan suara lantang yang biasa ia gunakan saat memberi instruksi taktis di bawah ancaman peluru. Salwa merintih lagi, tubuhnya sedikit gelisah karena rasa remuk yang menyiksa setiap kali ia mencoba mencari posisi tidur yang nyaman. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Galang mengulurkan tangannya yang besar. Ia menyelipkan jemarinya di bawah punggung Salwa yang tidak terbalut perban, lalu mulai mengusapnya dengan gerakan melingkar yang sangat pelan dan ritmis. Galang tahu, tangannya yang kapalan ini mungkin terasa kasar, namun ia berusaha memberikan kelembutan maksimal. Ia mengusap punggung itu dengan penuh perasaan, seolah-olah setiap usapannya bisa menyerap rasa sakit yang diderita calon istrinya. "Sakit, Lang... semua badanku sakit," gumam Salwa tanpa membuka mata. Suaranya parau karena baru saja habis menangis sesenggukan. Dalam kondisi seperti ini, sifat manjanya meningkat berkali-kali lipat. Ia ingin Galang terus ada di sana, ia ingin Galang memperhatikannya setiap detik, dan Galang dengan senang hati memberikannya. "Iya, aku tahu. Sabar ya, sayang. Obatnya sedang bekerja. Tidurlah, aku tidak akan ke mana-mana," jawab Galang. Ia tidak banyak bicara, karena memang ia bukan tipe pria yang puitis. Namun, setiap gerakannya adalah sebuah pernyataan cinta yang lebih kuat dari ribuan kata-kata. Sangat ironis jika melihat kontras dalam hidup Galang. Beberapa jam yang lalu, ia berdiri tegap di zona merah, siap menembus jantung siapa pun yang mengancam keamanan negara. Ia adalah lambang ketegasan, kedisiplinan, dan kedinginan profesionalisme. Namun sekarang, ia hanyalah seorang pria yang rela punggungnya pegal berjam-jam demi memastikan seorang wanita bisa tidur lebih tenang. Galang menyukai dinamika ini. Ia menyukai bagaimana Salwa selalu menjadi orang yang paling banyak bicara dalam hubungan mereka. Salwa yang akan menceritakan tentang drama di kantornya, tentang kucing tetangga yang melahirkan, atau tentang warna gorden yang ingin dia pasang di rumah mereka nanti. Galang biasanya hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk atau memberikan komentar singkat, namun ia mengingat setiap detail kecil yang diucapkan Salwa. Bagi Galang, Salwa adalah cahaya yang mencegahnya menjadi "mesin" sepenuhnya. Pekerjaannya menuntutnya untuk selalu waspada, curiga, dan siap membunuh. Namun saat bersama Salwa, ia diizinkan untuk menjadi manusia kembali. Ia diizinkan untuk menjadi hangat. Salwa perlahan mulai tampak lebih tenang. Usapan tangan Galang di punggungnya seolah menjadi mantra yang mengusir perlahan rasa nyeri yang menyiksa. Napas Salwa mulai teratur, meskipun sesekali masih ada isakan kecil yang tertinggal. Galang memperhatikan wajah Salwa di bawah cahaya redup. Ia memperhatikan bulu mata Salwa yang lentik namun basah, dan hidung kecilnya yang memerah. Garis rahang Galang yang biasanya mengeras karena ketegangan tugas, kini tampak lebih rileks. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, mencium kening Salwa dengan lembut dan lama, sebuah janji bisu bahwa ia akan menjadi pelindung wanita ini seumur hidupnya, bukan karena tugas negara, tapi karena tugas hati. "Tidurlah, Rumi," bisiknya lagi. Ponsel Galang di atas nakas kembali bergetar. Sebuah pesan dari komandan timnya menanyakan laporan situasi pasca-insiden di lapangan tadi. Galang melirik ponsel itu, namun ia tidak segera mengambilnya. Ia tidak ingin gerakannya membuat Salwa terbangun atau merasa kehilangan sentuhannya. Bagi dunia, Galang Baraka adalah sosok yang tak tersentuh, pria dingin dengan kemampuan militer yang mematikan. Namun di dalam ruang rawat ini, ia hanyalah seorang pria yang tengah menjaga separuh jiwanya. Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang seberapa akurat bidikan sniper-nya, tapi tentang seberapa lembut ia bisa memperlakukan orang yang ia cintai di saat-saat paling rapuh. Galang terus mengusap punggung Salwa, menjaga ritmenya, membiarkan malam berlalu dengan kesunyian yang penuh makna. Ia akan terjaga sepanjang malam jika perlu, memastikan bahwa saat Salwa membuka mata besok pagi, wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah pria yang tidak akan pernah membiarkannya terluka lagi. Di bawah pengawasan "The Ghost Sniper" yang kini berubah menjadi penjaga hati, Salwa akhirnya tenggelam dalam tidur yang lelap, merasa aman di tengah pelukan tak kasat mata dari pria yang paling dicintainya.Jakarta pagi ini tidak memberikan belas kasihan. Panasnya mulai menyengat sejak pukul sembilan, menciptakan fatamorgana di atas aspal hitam yang masih menyimpan trauma bagi Salwa. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan dan rasa nyeri di perut yang masih sesekali mencubit, Salwa kembali ke pelataran mini market itu. Ia mengabaikan saran Giska yang memintanya istirahat, mengabaikan puluhan pesan dari Galang yang tak satu pun ia buka.Namun, sosok dengan rompi oranye itu tidak ada. Area parkir itu kini diisi oleh orang lain."Maaf, Pak. Juru parkir yang kemarin di sini... yang agak tua, di mana ya?" tanya Salwa pada penjual minuman di dekat sana.Pria itu menatap Salwa dari atas ke bawah. "Oh, si Pak Hendrawan? Dia lagi sakit kayaknya, Neng. Gara-gara kejadian kemarin pingsan atau apa gitu. Kalau mau cari, dia tinggal di bedeng ujung gang itu. Masuk saja, cari rumah yang paling pojok yang atapnya pakai terpal biru."Salwa mengangguk kaku. Langkahnya
Lampu sorot lapangan asrama Paspampres masih menyala benderang, membelah kegelapan malam yang kian larut. Di tengah keheningan markas yang biasanya hanya diisi oleh derap langkah penjaga, Galang Baraka sedang berperang dengan dirinya sendiri.Sejak kembali dari kosan Salwa, fokusnya hancur berkeping-keping. Pria yang dikenal memiliki konsentrasi setajam laser, yang mampu menahan napas selama puluhan detik demi satu tembakan presisi, kini merasa otaknya seperti televisi dengan sinyal yang rusak. Bayangan Salwa yang pingsan di gerbang, wajah pucatnya di klinik, dan yang paling menyiksa, keheningan dinginnya, terus berputar tanpa henti.Galang tahu, dalam kondisinya saat ini, ia adalah ancaman bagi dirinya sendiri dan objek VVIP yang ia lindungi. Seorang perisai hidup tidak boleh memiliki retakan di hatinya, karena retakan itu akan menjadi pintu masuk bagi kelalaian yang mematikan.Galang mulai berlari. Bukan lari santai untuk menjaga kebugaran, melainkan
Dunia di sekitar Salwa perlahan-lahan meredup. Suara bising kendaraan di luar gerbang asrama dan deru napas Galang yang memburu di sampingnya mendadak terdengar seperti gema yang menjauh. Rasa sakit di perutnya mencapai puncaknya, menciptakan kilatan putih yang membutakan sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total. Tubuh Salwa yang semula bersandar pada dinding pagar yang kaku itu pun lunglai, limbung seperti helai daun yang terlepas dari dahannya.Namun, sebelum tubuh itu sempat menyentuh aspal yang panas, sepasang lengan yang kokoh dan sigap sudah lebih dulu menangkapnya.Galang tidak memberikan ruang bagi keraguan sedikit pun. Ketangkasan taktisnya sebagai seorang Paspampres mengambil alih sepenuhnya. Tanpa memedulikan statusnya sebagai perwira yang biasanya menjaga wibawa di depan anak buah, Galang langsung menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Salwa dan tangan lainnya di bawah lipatan lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mantap, ia meng
Kemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan
Gerbang asrama Paspampres yang biasanya tampak kokoh dan berwibawa, siang itu terasa seperti tembok penjara di mata Salwa. Ia duduk di kursi kayu panjang di pos keamanan, di bawah tatapan waspada namun sopan dari para petugas jaga. Perutnya masih melilit hebat, kombinasi antara nyeri datang bulan dan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia mengabaikan tawaran segelas air dari petugas, tenggorokannya terlalu kering bahkan untuk sekadar menelan ludah.Waktu seolah melambat. Setiap menit yang berlalu di bawah denting jam dinding pos jaga terasa seperti siksaan. Di kepalanya, kalimat ayahnya terus berputar seperti kaset rusak: “Dia sudah memberiku uang, dia sudah menyuruhku menjauh!”Sekitar empat puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari balik gedung utama. Galang Baraka berjalan dengan langkah tegap, masih mengenakan seragam taktis yang gagah. Ia tampak sedang berbincang dengan seorang perwira lain, sesekali mengangguk tegas. Dari kejauhan, Galang sudah m
Siang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas."Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih
Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam.
Setelah memastikan napas Salwa benar-benar teratur dan rintihan kecil itu hilang ditelan lelap, Galang secara perlahan menarik tangannya. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang menjinakkan bom waktu yang bisa meledak hanya dengan satu getaran kecil. Ia membetulkan letak ban
Malam itu, di bawah temaram lampu selasar rumah sakit yang berbau karbol, sosok Galang Baraka tampak seperti sebuah anomali. Ia masih mengenakan seragam dinas taktisnya, jas hitam mahal yang antikusut, kemeja putih yang kini sedikit terbuka di bagian kerah, dan earpiece yang masih menggantung di te
Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jakarta, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi. Di halaman Istana Merdeka, Galang Baraka berdiri dengan posisi tegak sempurna. Setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sangat pas, seperti model yang baru saja







