Compartir

Sebuah Mitos

last update Fecha de publicación: 2026-01-29 06:36:37

Sera duduk tegak di sofa seberang Rendra, sementara Angga kini berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan sikap sempurna. Namun, setegak apa pun ayahnya berdiri, Sera tetap bisa merasakan ketegangan di ruangan itu.

Rendra duduk bersandar pada sofa di belakangnya. Kemeja hitam dengan lengan tergulung sampai siku itu membuatnya terlihat lebih membumi daripada sosok di televisi, tetapi justru karena itu, kehadirannya terasa semakin berat.

“Sudah berapa lama?” tanya Rendra tiba-tiba.

Sera sempat mengerjap, tidak langsung mengerti.

Rendra menatapnya lurus. “Sejak terakhir kali aku melihatmu.”

Jantung Sera kembali berdetak tidak teratur.

Ia menunduk sedikit, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kurang lebih delapan tahun, Tuan.”

“Delapan tahun,” ulang Rendra pelan, seolah menimbang angka itu dalam benaknya.

Lalu ia terdiam.

Sunyi merambat beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Sera tidak tahu apakah ia harus menjawab, meminta izin, atau tetap diam.

Akhirnya, Rendra membuka suara lagi.

“Kamu sehat?”

Pertanyaan itu sederhana.

Nyaris terlalu sederhana. Namun justru karena itu, Sera tidak siap.

Ia sempat mendongak, lalu buru-buru menurunkan pandangannya lagi. “Saya baik, Tuan.”

Rendra mengamatinya sejenak. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang, tetap dalam, tetap sulit dibaca.

“Kamu terlihat lebih kurus.”

Sera menggenggam jemarinya sendiri di atas pangkuan. “Mungkin karena jadwal koas saya cukup padat.”

“Kamu masih memilih jalan ini.”

Itu bukan pertanyaan.

Lebih terdengar seperti sebuah penilaian, atau mungkin pengakuan diam-diam bahwa Rendra mengingat sesuatu yang orang lain tidak tahu.

Sera menarik napas pendek. “Ini pilihan saya, Tuan.”

Untuk sesaat, sudut bibir Rendra bergerak tipis. Bukan senyum. Hanya perubahan kecil yang begitu singkat hingga nyaris tak terlihat.

“Dulu juga begitu,” ucapnya rendah.

Angga tetap diam di tempatnya, tetapi Sera tahu ayahnya pasti mendengar perubahan halus dalam nada itu.

Sera sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

Ia tidak pernah membayangkan pertemuan mereka setelah bertahun-tahun akan berlangsung seperti ini, di ruangan VVIP rumah sakit, di bawah tatapan seorang pria yang kini menjadi presiden terpilih Iraya, namun masih bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat masa lalu terasa terlalu dekat.

Rendra menurunkan pandangan ke map di atas meja, lalu menutupnya pelan.

“Aku tidak menyangka akan menemukanmu di Narita.”

Sera mengangkat mata sedikit.

Rendra melanjutkan, nadanya datar, tetapi ada sesuatu di dalam kalimat itu yang membuat dada Sera menegang.

“Padahal kita tinggal di lingkungan yang sama selama bertahun-tahun.”

Kalimat itu terucap begitu saja.

Namun cukup untuk membuat Sera merasa seolah ada sesuatu yang sedang disentuh, sesuatu yang selama ini sengaja ia biarkan terkubur.

Sera membasahi bibirnya yang mendadak kering. “Setelah Anda berangkat ke luar negeri... saya juga lebih sering sibuk dengan sekolah, Tuan. Setelah itu kuliah. Saya jarang berada di mansion utama.”

“Jarang,” ulang Rendra pelan. Ia menatap Sera lagi, tapi tatapan itu terlalu tenang.

“Ayahmu masih mengantar ayahku setiap pagi selama bertahun-tahun,” lanjutnya. “Kamu pasti tahu banyak hal tentang rumah itu.”

Sera terdiam.

Ia memang tahu. Ia tumbuh di lingkungan itu. Tahu kapan lampu perpustakaan utama biasanya mati, tahu halaman belakang mansion akan paling sepi menjelang sore, tahu suara langkah siapa yang biasa melewati paviliun kecil tempat ia tinggal bersama keluarganya.

Namun justru karena tahu terlalu banyak, ia juga belajar untuk menjaga jarak.

“Saya hanya tahu bagian saya, Tuan,” jawabnya akhirnya pelan.

Rendra tidak segera merespons.

Angga menundukkan kepala sedikit, lalu angkat bicara dengan hati-hati. “Tuan Muda... jika ada hal yang ingin dibicarakan, saya dan Sera siap mendengarkan.”

Rendra memindahkan pandangan kepada Angga. Ia mengangguk kecil, lalu kembali menatap Sera.

“Ada.”

Satu kata itu cukup membuat ruangan terasa kembali menegang.

“Tapi bukan di sini.”

Sera tanpa sadar menegakkan punggungnya.

“Malam ini,” lanjut Rendra, “kalian berdua datang ke mansion utama.”

Kalimat itu terdengar tenang, namun tidak memberi ruang penolakan untuk Sera dan Angga.

Sera menatapnya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat lagi. “Malam ini, Tuan?”

“Iya. Ada hal yang perlu kubicarakan denganmu dan Pak Angga.” Suaranya tetap rendah. “Dan itu tidak bisa dibicarakan di rumah sakit.”

Angga langsung menunduk hormat. “Baik, Tuan Muda. Saya akan mengantar Sera ke mansion malam ini.”

Rendra hanya memberi anggukan tipis.

Sera menundukkan kepala, menatap kosong kedua tangannya yang saling meremat di pangkuan. Sera ingin bertanya pada Rendra, tentang pembicaraan apa, kenapa sekarang, kenapa harus Sera. Namun, semua pertanyaan itu tertahan di tenggorokannya.

Di hadapan pria ini, setelah sekian tahun, Sera kembali merasakan hal yang dulu paling ia benci dari dirinya sendiri. Ia tidak pernah bisa berpikir jernih saat Rendra menatapnya seperti itu.

“Kalau begitu, kalian bisa pergi sekarang,” ujar Rendra akhirnya.

Sera tersentak sedikit. Ia tidak menyangka pertemuan ini akan berakhir secepat itu.

Namun Angga sudah lebih dulu membungkuk. “Permisi, Tuan Muda.”

Sera akhirnya ikut berdiri. Lututnya sempat terasa ringan saat bangkit dari sofa, tetapi ia memaksa tubuhnya tetap tegak. Ia menunduk singkat. “Permisi, Tuan.”

Sera berbalik mengikuti ayahnya menuju pintu.

Namun, tepat ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu, suara Rendra terdengar lagi dari belakang.

“Sera.”

Sera berhenti, menoleh pada Rendra.

Tatapan Rendra lurus padanya. “Jangan terlambat.”

Tidak ada ancaman dalam nadanya. Tetapi entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih menekan daripada perintah siapa pun hari ini.

Sera menelan ludah. “Baik, Tuan.” Lalu ia keluar bersama Angga.

Pintu tertutup pelan di belakang mereka.

Dan untuk beberapa detik setelah Sera pergi, Rendra tidak bergerak sama sekali.

Ruangan itu kembali sunyi.

Evan, yang sejak tadi menunggu di luar, masuk setelah mengetuk singkat. Ia menutup pintu, lalu berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.

“Bapak ingin kendaraan disiapkan sekarang?” tanyanya.

Rendra tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada pintu yang baru saja tertutup.

Baru beberapa detik kemudian, ia bangkit dari duduknya.

“Ya. Kita kembali ke Istana lebih dulu.”

Ia baru melangkah dua langkah ketika gerakannya mendadak terhenti.

Sakit itu datang begitu saja.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dari dalam tulang rusuknya, lalu menjalar ke dada dan pangkal leher dalam satu tarikan napas yang menusuk.

Rendra mengeraskan rahangnya.

Tangannya refleks menekan punggung sofa.

“Bapak?” Evan langsung maju satu langkah.

Rendra mengangkat satu tangan, menghentikannya.

“Aku tidak apa-apa.” Namun suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Napasnya tertahan sepersekian detik. Ujung jarinya mencengkeram permukaan sofa yang empuk begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat. Di pelipisnya, denyut halus mulai tampak. Wajahnya tetap tenang, tetapi Evan sudah cukup lama berada di sisinya untuk tahu itu pertanda buruk.

Karena ini bukan pertama kali.

Dan bukan yang paling ringan.

“Ini yang keenam, Bapak,” ujar Evan hati-hati.

Rendra memejamkan mata sesaat, lalu membukanya lagi.

“Aku tahu.”

Evan berdiri kaku. “Dokter pribadi sudah menyarankan pemeriksaan menyeluruh sejak kecelakaan ketiga. Setelah kejadian di tangga selatan minggu lalu, saya rasa—”

“Cukup.”

Satu kata itu memotong Evan telak.

Rendra melepaskan tangannya dari sofa dan memaksa tubuhnya tegak kembali. Hanya gerakan kecil di bahunya yang menunjukkan bahwa nyeri itu belum benar-benar pergi.

Ruangan kembali hening.

Evan menatap tuannya dengan campuran khawatir dan ragu yang jarang ia tunjukkan.

“Bapak...” kali ini suaranya lebih pelan, “mungkin sudah waktunya Bapak berhenti menganggap semua ini kebetulan.”

Tatapan Rendra berubah dingin.

“Aku tidak membutuhkan khotbah sejarah darimu sekarang.”

“Saya juga berharap semua ini hanya kebetulan,” jawab Evan tetap sopan. “Tapi dalam dua bulan, sudah enam kali. Mobil rem mendadak blong, lampu gantung jatuh, insiden di tangga selatan, lalu pagi tadi—”

“Evan.”

Nada suara Rendra tidak naik. Tetapi cukup untuk membuat ruangan membeku.

Evan langsung menunduk. “Maaf, Bapak.”

Rendra berjalan perlahan ke arah jendela besar. Dari lantai paling atas itu, kota Iraya terlihat luas di bawah langit sore yang mulai meredup. Gedung-gedung kaca memantulkan cahaya keemasan terakhir, sementara lalu lintas di kejauhan tampak bergerak seperti urat nadi sebuah negara yang percaya negaranya akan baik-baik saja selama pemimpinnya masih berdiri tegak.

Ironis.

Rendra menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.

Presiden terpilih Iraya.

Lajang.

Baru dua bulan.

Enam kali kejadian.

Jari-jarinya menegang pelan di sisi tubuhnya.

Ia menghargai sejarah negerinya. Ia menghormati kisah-kisah lama, ritual-ritual tua, dan semua yang diwariskan Iraya dari generasi ke generasi. Namun ia menolak tunduk pada sesuatu hanya karena rakyatnya memilih untuk takut.

Setidaknya... dulu begitu.

Kini, nyeri yang barusan mencengkeram dadanya masih meninggalkan sisa panas yang mengganggu di balik tulang rusuknya.

Di belakangnya, Evan tetap menunggu dalam diam.

Setelah beberapa saat, Rendra akhirnya berkata, suaranya kembali stabil.

“Pastikan malam ini tidak ada gangguan. Dan jangan biarkan siapa pun tahu Sera dan ayahnya datang ke mansion utama.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (21)
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
tenang rendra,, pasti semua aman ditangan evan
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Hai Ka Na, aku kembali lagi buat membaca. Sudah lama sekali aku vakum dari dunia per baca an .... Aku langsung baca karya terbaru Kakak. Semangat Ka Na terus nulisnya
goodnovel comment avatar
Susan Manies
dah update 2 minggu..tp notif di aq baru ada ini td..wkwkwkwk aq telat byk na...
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berjanji

    Senyuman puas langsung mengembang lebar di bibir Ratu. Sorot matanya berbinar cerah saat ia menoleh ke samping, menatap wajah Arkan dengan senyum penuh kemenangan yang tak berusaha ia sembunyikan. Arkan yang ditatap seperti itu hanya bisa menggaruk pelipisnya seraya membalas dengan senyum tipis bercampur lega."Sudah, lanjutkan lagi makannya," ujar Rendra memecah keheningan yang tersisa seraya meraih kembali sendok dan garpunya. Pria itu memberi isyarat dengan anggukan kepala pada semua orang di meja. "Jangan biarkan makanannya dingin."Mau tidak mau, denting alat makan perlahan kembali terdengar satu per satu. Meski begitu, suasana di meja perjamuan itu berubah menjadi sangat canggung.Pak Angga dan Bu Siwi hanya menyendok nasi sedikit demi sedikit, sesekali melirik cemas ke arah besan mereka. Sera pun hanya memotong daging di piringnya dalam diam seraya menatap suaminya bergantian dengan Arkan.Sementara itu, Sintia benar-benar tidak berkutik lagi di kursinya. Wajah wanita paruh baya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Akan Mendukungmu

    Keheningan kembali menyergap seisi ruang makan. Tidak ada satu pun yang langsung menyahut pengakuan gamblang itu. Suasana mendadak begitu beku sampai deru pendingin ruangan terdengar jelas.Ratu mengedarkan pandangannya dengan dagu terangkat. Sorot matanya beralih menatap Rendra yang masih bergeming, lalu bergulir tepat menatap Sera."Apa ada yang salah kalau kami pacaran?" desak Ratu lagi, suaranya menuntut jawaban tegas.Sera menegakkan punggungnya. Ia merasa tatapan Ratu barusan seperti sedang menodongnya tepat di depan hidung, memaksanya untuk memihak. Sera menarik napas pendek, lalu melipat jemarinya di atas meja."Tidak ada yang salah dengan menjalin hubungan, Ratu," sahut Sera dengan intonasi tenang dan hati-hati. "Tapi setidaknya kalian harus bersikap bijak.""Bijak apa maksudmu?" balas Ratu cepat tanpa jeda sedetik pun. Nada bicaranya terdengar skeptis. "Karena perbedaan usia kami berdua, makanya kalian semua menganggap hubungan ini aneh dan tidak wajar?""Ratu! Cukup!" benta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Makan Malam Yang Tegang

    Rendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berat Hati

    Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Tapi Menohok

    Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Gadis Yang Membangkang

    Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status