Share

Pelukan Hangat Tuan Presiden
Pelukan Hangat Tuan Presiden
Penulis: Adinasya Mahila

1. Sebuah Mitos

Penulis: Adinasya Mahila
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 06:36:37

Suara nyaring sirine membelah kemacetan Ibu kota.

Suasana begitu tegang di dalam sebuah mobil kepresidenan yang antipeluru.

Bau anyir darah bercampur dengan aroma parfum mahal menguar di dalam kabin.

"Tahan, Pak! Kita hampir sampai di rumah sakit," suara sopir sekaligus ajudan presiden terdengar bergetar.

Rendra meringis, menahan perih yang menyengat di bahu kirinya. Kemeja putih yang tadi pagi disetrika rapi oleh pelayan kini basah dengan warna merah pekat.

"Hanya tergores. Jangan berlebihan," ucapnya, meski keringat dingin mulai membasahi dahi.

“Tiang panggung itu hampir mengenai kepala Anda!" seru Evan si ajudan.

Rendra menatap ke luar jendela. Di sepanjang jalan, rakyat Iraya berdiri mematung. Wajah-wajah mereka tidak hanya menunjukkan kekhawatiran, tapi juga sesuatu yang lebih gelap.

Iraya adalah negeri yang megah, zamrud khatulistiwa yang kaya akan tradisi namun terbelenggu oleh takhayul yang mendarah daging. Di negara ini, posisi Presiden bukan sekadar jabatan politik, melainkan posisi spiritual yang dianggap menjaga keseimbangan seluruh negeri dan alam.

Ada satu hukum tak tertulis yang lebih ditakuti daripada apapun oleh semua warga negara Iraya. Seorang pemimpin Iraya haruslah memiliki pendamping.

Mitos sederhana namun mengerikan.

Singgasana Iraya terlalu berat untuk dipikul satu nyawa. Jika seorang Presiden memerintah dalam kondisi lajang, ketidakharmonisan itu akan mengundang sial bagi dirinya, dan musibah bagi negaranya.

Sepanjang sejarah Iraya, sudah ada dua presiden yang mencoba melawan mitos ini. Satu tewas karena kecelakaan pesawat dua bulan setelah menjabat, dan satu lagi digulingkan oleh kerusuhan besar yang diawali dengan musibah banjir bandang.

Dan sekarang, Dharendra Narrottama —pria berusia 35 tahun itu baru satu bulan menduduki kursi panas tertinggi di Iraya.

Ia tampan, berwibawa, cerdas, kharismatik, berpendidikan tinggi dan besar dari keluarga terpandang.

Rendra tidak percaya dengan mitos di tanah kelahirannya.

Beberapa saat berselang.

Mobil yang Rendra tumpangi tiba di lobi UGD, kilatan lampu kamera dari wartawan menyilaukan mata.

Rendra dipapah turun, mencoba tetap berdiri tegak demi menjaga wibawanya meski pandangannya mulai kabur.

Di sudut area parkir, sekelompok orang mulai berkumpul. Bukannya berdoa, seorang pria tua justru menunjuk-nunjuk ke arah Rendra dengan tangan gemetar.

"Sudah dimulai!" teriak pria itu, suaranya melengking di antara riuh suara media. "Kutukannya sudah dimulai! Alam tidak merestui pemimpin yang sendirian!"

"Dia sombong!" sahut yang lain. "Dia pikir pendidikan luar negerinya bisa menghapus kutukan Iraya? Lihat! Panggung yang sekokoh itu saja bisa runtuh menimpanya!"

Rendra mengabaikan teriakan itu, pemilihnya dulu rata-rata anak muda, kaum gen Z yang juga menolak mitos tak berdasar di Iraya.

Rendra sejenak memejamkan mata saat tim medis mendorong brankarnya masuk. Namun, saat pintu utama UGD tertutup, Ia melihat tatapan tajam Evan yang penuh kecemasan.

"Pak, anda harus segera mencari Ibu Negara. Bukan karena politik, bukan karena citra, tapi demi nyawa Anda sendiri. Karena kejadian ini rakyat sudah mulai kehilangan akal, dan saya mulai takut mitos itu bukan candaan belaka."

Rendra hanya terdiam, menatap tetesan darahnya di lantai yang dingin. Untuk pertama kali dalam hidupnya, logika yang ia agung-agungkan mulai goyah di hadapan bayang-bayang mitos negaranya sendiri.

Pintu unit gawat darurat tertutup rapat, memutus suara riuh dari arah luar. Di dalam ruangan steril itu, dokter spesialis bedah sudah menunggu, didampingi oleh seorang dokter muda yang mengenakan jas sneli khas koas.

"Tekanan darah seratus sepuluh per tujuh puluh, denyut nadi sedikit cepat," lapor dokter muda itu dengan suara tenang namun tegas. Di balik masker medisnya, sepasang matanya yang jernih tampak fokus pada monitor.

Nama di papan dadanya tertulis ‘Aluna Sera’

Rendra sempat mematung sejenak saat matanya menangkap sosok itu.

Sera.

Gadis kecil yang dulu sering ia lihat belajar di bawah pohon mangga di halaman belakang rumah keluarganya, putri sopir setia keluarga besar Narrottama selama puluhan tahun.

Rendra meringis saat dokter mulai menggunting lengan kemejanya.

Sera dengan sigap menyiapkan peralatan. Gerakannya halus dan sangat terlatih. Ia mengambil alih tugas membersihkan luka di bahu Rendra, mengusap sisa-sisa debu panggung dan darah dengan kapas yang dibasahi cairan antiseptik.

Sera bekerja dengan profesional. Tidak ada sapaan, tidak ada pula binar kekaguman melihat anak majikan ayahnya kini menjadi orang nomor satu di negaranya.

Bagi Sera, Rendra saat ini hanyalah pasien dengan luka robek yang perlu dijahit.

Rendra memperhatikan Sera dalam diam.

"Selesai, Dokter," ucap Sera singkat setelah membantu dokter senior membalut luka Rendra dengan rapi.

Dokter senior mengangguk, lalu berpamitan untuk mengurus laporan medis, meninggalkan Rendra hanya bersama Sera yang sedang merapikan peralatan medis ke atas nampan besi.

Rendra menggerakkan bahunya sedikit, merasakan sensasi kaku dari jahitan. Ia teringat teriakan histeris orang tua di parkiran tadi.

"Sera," panggil Rendra tiba-tiba. Suaranya rendah, penuh otoritas, dan terasa sedingin es.

Sera menghentikan kegiatannya, berbalik, menatap langsung ke netra Rendra.

"Ya, Tuan Presiden?"

Rendra menatapnya dengan tatapan menyelidik, seolah ingin mencari tahu apakah gadis yang tumbuh di rumahnya ini juga sudah teracuni oleh pemikiran kolot rakyat Iraya.

"Sebagai calon dokter yang dididik dengan logika," Rendra menjeda lisan, matanya menyipit tajam. "Apa kamu juga percaya pada omong kosong di luar sana? Bahwa tiang panggung itu jatuh karena aku belum memiliki istri? Bahwa luka ini adalah teguran dari leluhur Iraya?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Awal cerita yg menarik, semoga bab2 selanjutnya tetap menarik. Kalau bisa kisah romantisnya dibanyakin yah wkwwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Sai
yey akhirnya yg ditunggu2... seneng banget aku na
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   7. Tumbal

    "Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   6. Balas Budi

    Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   5. Wanita Pilihan

    Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   4. Desakan Untuk Menikah

    Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   3. Tidak Boleh Bocor

    Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   2. Majikan dan Pelayan

    Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status