MasukRendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.
Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.
Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.
Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’
Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.
“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.
“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.
Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas.
"Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."
Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal.
"Meskipun luka sudah dijahit, tapi lukanya berada di area sendi bahu yang sering bergerak. Oleh karena itu, Tuan Rendra sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik yang berat atau menggerakkan lengan kirinya secara berlebihan untuk menjaga jahitan tidak terbuka dan menghindari risiko infeksi."
Eyang Utari mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Sera, sedangkan Sintia kembali membuang napas kasar sebelum memijat keningnya.
Sementara itu,
Rendra terus melangkah menyusuri koridor mansion menuju kamar pribadinya, mengabaikan denyut nyeri yang kian hebat di bahunya.
Evan mengekor di belakang, hingga mencoba menyejajarkan posisi dengan sang Presiden.
"Pak, kini para Gen Z yang mendukung Anda mulai gelisah, mereka ikut bersuara meminta Anda untuk tidak mengabaikan mitos Iraya.”
Evan meletakkan tabletnya di atas meja, lantas menatap Rendra yang duduk di sofa dengan tatapan serius.
"Pendukung militan Anda sekarang mulai terpengaruh oleh mitos itu. Jika Anda mengalami kecelakaan fisik seperti ini lagi nantinya, mereka akan mulai meragukan apakah Anda masih layak memimpin."
Rendra terkekeh hambar. “Jadi kamu menyarankan aku untuk menyerah pada takhayul hanya demi menenangkan rakyat?"
“Jika Nona Sofia ada di sini, saya yakin dia juga akan menyarankan hal yang sama, menyelamatkan posisi Anda,” balas Evan.
Rendra terdiam cukup lama.
Ruangan itu hening, hanya menyisakan suara halus dari pendingin ruangan.
“Kamu tahu sendiri, aku tidak memiliki kekasih,” kata Rendra. “Dan apa menurutmu bisa, pernikahan dibangun tanpa rasa cinta?”
Evan terkesiap mendengar pertanyaan Rendra.
“Jika mitos Iraya benar, bukankah wanita yang akan menjadi istriku hanya akan menjadi pajangan atau jimat hidup?” Rendra tersenyum miring menatap Evan yang tak bisa berkata-kata.
“Menurutmu siapa wanita malang yang mau hidupnya berakhir seperti itu?”
**
Hari berikutnya
Ketenangan di ruang kerja Rendra terusik.
Sintia masuk tanpa mengetuk pintu, membawa sebuah map yang langsung ia letakkan di hadapan putranya
"Mama sudah menyeleksi mereka," ujar Sintia tanpa basa-basi. "Ada dua nama dari keluarga mantan menteri dan satu putri dari pemilik media terbesar di Iraya. Mereka cantik, terpelajar, dan yang paling penting, memiliki silsilah keluarga yang bersih."
Rendra menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Mama tidak peduli kamu menyebutnya mitos atau kebetulan, tapi Mama tidak ingin kamu digulingkan. Jika kamu tidak menyukai wanita pilihan Mama, maka pilih saja Sofia."
Rendra terdiam saat nama juru bicaranya disebut.
"Sofia pintar, cekatan, dan berasal dari keluarga terpandang yang sangat dihormati di kalangan militer. Dia sudah bekerja di sampingmu selama dua tahun, dia tahu cara menghadapi media, dan dia sangat mengenal ritme kerjamu. Dia pilihan paling logis untuk menjadi Ibu Negara," jelas Sintia dengan nada meyakinkan.
Rendra meraih map, ia melihat foto dan beberapa lembaran informasi di dalamnya.
Rendra berdiri perlahan, menahan rasa perih yang sempat menyentak bahunya. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman mansion.
"Mama benar, Iraya butuh Ibu Negara. Dan rakyat butuh simbol stabilitas," ujar Rendra tanpa menoleh. "Tapi aku tidak akan memilih wanita-wanita yang Mama sodorkan, karena aku punya pilihan sendiri."
Sintia terperangah. "Pilihan sendiri? Siapa? Apa kamu memiliki kekasih?”
"Membalas budi tidak harus dengan menjual hidupku, Yah!" potong Sera dengan suara bergetar. Ia menyambar tasnya, mengabaikan panggilan ayahnya, dan melangkah lebar keluar dari paviliun. Kepalanya berdenyut. Logikanya menolak keras, namun hatinya dipenuhi kegelisahan yang membuncah. Alih-alih menuju gerbang luar untuk berjalan ke halte terdekat menuju rumah sakit, langkah Sera justru membawanya ke mansion utama. Ia harus mendengar langsung penjelasan atas apa yang ia dengar dari sang ayah. Namun, baru saja kakinya menginjak teras mansion Narrottama, sosok Sintia Narrottama sudah berdiri di sana, seolah memang sedang menunggu mangsa. "Mau mencari Rendra?" tanya Sintia dingin. Matanya menyapu penampilan Sera dari ujung rambut hingga sepatu kets yang digunakan gadis itu. Tatapan Sintia penuh penghinaan, seolah Sera adalah noda di lantai mengkilap mansionnya. "Benar, saya ingin bicara dengan Tuan Rendra, Nyonya," jawab Sera, mencoba menegakkan bahu meski tangannya dingin.
Rendra memulas senyum tipis. “Yang pasti aku harus menikah dengan wanita yang tidak memiliki tujuan apapun dari pernikahan ini,” jawab Rendra dingin tanpa menoleh pada ibunya. Sintia semakin heran, keningnya berkerut samar. “Aku tidak ingin pernikahan ini dimanfaatkan untuk kepentingan lain.” “Tetap saja kamu butuh dukungan agar bisa terus bertahan di posisimu ini.” Sintia mendekat ke Rendra, memegang lengan putranya itu. “Mama masih yakin, kalau ada yang mengincar keselamatan nyawamu.” Rendra hanya diam menatap dalam wajah wanita yang melahirkannya itu. Sintia melepaskan pegangannya, napasnya mulai tidak teratur. "Lalu siapa? Siapa wanita yang menurutmu pantas menjadi pendampingmu?" Rendra menatap langsung ke mata ibunya. "Sera." Sintia terperangah, butuh beberapa detik baginya untuk memproses nama itu. Saat ingatan tentang putri sopir mereka muncul, wajahnya memucat karena emosi. "Sera? Anak Angga si sopir itu?!" Suara Sintia meninggi."Apa kamu sudah kehilangan
Rendra berpaling tanpa menunggu jawaban dari ibu dan neneknya. Saat menoleh tatapannya bertemu dengan Sera.Namun, gadis itu langsung menundukkan kepala.Selepas Rendra pergi, Sintia tampak memukul meja pajangan yang ada di dekatnya.Sintia membuang muka saat Eyang Utari menatap sengit padanya. ‘Wanita tua pikun ini, bisa-bisanya ingin ikut campur urusan pernikahan Rendra.’Tak lama Sera mendekat, memberanikan diri bicara ke Sintia.“Nyonya, jika tidak ada yang ingin dibicarakan saya pamit untuk kembali ke belakang,” ucapnya sopan.“Tunggu! Kamu harus memberitahu kondisi Rendra.” Sintia melirik pada Eyang Utari.Sera mengangguk, kemudian berjalan mendekat agar suaranya bisa terdengar jelas."Tuan Rendra mengalami luka robek yang cukup dalam di bahu kirinya. Luka itu sudah ditangani dengan tindakan penjahitan untuk menghentikan perdarahan dan merapatkan jaringan kulit yang terbuka."Sera menjeda lisan sejenak, melirik ekspresi Sintia yang masih tampak kesal."Meskipun luka sudah dijahi
Sera menoleh, memandang sosok yang berdiri di ambang pintu dapur.Sintia NarrottamaIbu kandung Rendra itu berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, meskipun gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.Sera segera mengeringkan tangannya pada celemek dan membungkuk dalam, tubuhnya sedikit gemetar."Nyonya," sapa Sera dengan suara bergetar."Jawab pertanyaanku, Sera. Evan memberitahuku kamu yang menangani luka Rendra di rumah sakit tadi, tapi setelah itu Evan tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan putraku," cecar Sintia sembari melangkah maju. "Bagaimana kondisi Rendra? Seberapa parah lukanya?"Sera menunduk, mengatur napas agar suaranya terdengar meyakinkan. "Tuan Rendra mengalami luka robek di bahu kirinya, Nyonya. Tapi kondisinya stabil."Ketegangan di bahu Sintia sedikit mengendur, tapi sedetik kemudian matanya menyipit tajam. Ia menatap Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina."Tunggu dulu," suara Sintia mendadak dingin. "Bukankah kamu ma
Sera hanya terdiam sampai Rendra bertanya untuk yang ke dua kali.“Apa kamu bisa melakukannya?”"Baik, saya akan melakukannya. Jika ada yang bertanya saya akan sampaikan kalau Anda baik-baik saja.”Rendra menatap Sera sejenak, ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi ia tahan.Jadi, yang ia lakukan adalah memberi isyarat pada Evan untuk membukakan pintu.Dengan langkah tegap yang dipaksakan, ia berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Sera.Sera berdiri membeku di tengah ruangan yang kini terasa hampa. Aroma parfum maskulin Rendra yang bercampur dengan bau antiseptik masih tertinggal di udara.Sera segera melangkah menuju ruang konsul Dokter Hans, dokter senior yang tadi memberikan instruksi awal. Ia bermaksud melaporkan bahwa Rendra pergi sebelum waktu observasi selesai."Dokter Hans," panggil Sera saat memasuki ruangan. "Pak Presiden, dia memaksa pulang. Luka jahitannya masih sangat baru dan dia belum menerima dosis antibiotik pertamanya. Saya mencoba menahan, tapi …"Dokter Hans
Sera tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu meletakkan nampan besi yang dipegangnya ke troli medis sebelum menoleh pada Rendra."Tuan Rendra," suara Sera mengalun tenang, ia kembali menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan untuk menyapa Rendra."Secara logika, tiang itu jatuh karena korosi atau struktur yang tidak stabil. Logika saya mengatakan itu murni kecelakaan konstruksi."Sera menatap lekat Rendra yang hanya diam."Tapi di Iraya, logika seringkali kalah oleh rasa. Rakyat tidak butuh penjelasan teknis tentang baut yang longgar atau besi yang sudah usang. Mereka hanya butuh ketenangan batin. Bagi rakyat Iraya, pemimpin adalah atap. Jika atapnya rusak, mereka merasa air hujan akan masuk ke rumah mereka.” Hening untuk beberapa waktu, sebelum Sera kembali melanjutkan, “Jadi, jika Anda tanya apakah saya percaya mitos itu? Saya lebih percaya bahwa ketakutan jutaan rakyat bisa menjadi kenyataan yang lebih berbahaya daripada mitos itu sendiri."Rendra tertegun. Jawaban itu jauh lebih







