Beranda / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / Gemetar Dengan Undian Tugas

Share

Gemetar Dengan Undian Tugas

Penulis: Adinasya Mahila
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 08:42:42

Sera melangkah mantap mendekati meja Dokter Adriani. Di sekelilingnya, perwakilan kelompok lain juga mulai berdiri. Atmosfer ruangan seketika berubah tegang, menyisakan deru napas yang tertahan dari para koas yang cemas.

Dokter Adriani mengangguk pendek, menyodorkan kotak kaca itu ke hadapan Sera. "Silakan ambil satu."

Sera memasukkan tangannya ke dalam kotak, mengambil satu lintingan kertas yang berada di paling atas, lalu membukanya perlahan.

"Appendektomi," ucap Sera membaca tulisan di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
psti s Soffel dah
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
siapa sih orang yang dimaksud pak Evan ini??
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
sofia kah itu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Memberi Kejutan

    Malam harinya di istana, keheningan menyelimuti kamar tidur utama. Sera duduk di tepi ranjang , memangku sebuah kotak perhiasan kecil seraya memeriksa anting mutiara yang rencananya akan ia kenakan di hari wisuda.Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah kamar mandi. Rendra yang baru saja selesai mandi melangkah keluar mengenakan celana tidur panjang dan kaus katun hitam santai, tangannya mengusap-usap rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Rendra melempar handuknya ke keranjang pakaian kotor, lalu berjalan memutar menghampiri sisi ranjang tempat Sera duduk. Pria itu menjatuhkan diri duduk tepat di samping istrinya seraya melirik kotak beludru di pangkuan Sera."Sedang menyiapkan apa malam-malam begini?" tanya Rendra dengan suara baritonnya yang tenang.Sera mendongak menatap suaminya, lalu menunjukkan kotak perhiasan itu. "Cuma memeriksa aksesoris untuk kebaya wisuda nanti, Mas. Tadi sore aku, Erika, Ayah, dan Ibu sudah selesai mengambil kebaya di butik

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Persiapan

    Lonceng di atas pintu butik berdenting pelan saat Sera mendorong daun pintu kaca itu terbuka. Aroma wewangian melati langsung menyambut langkahnya, berbaur dengan deretan manekin berbalut kain brokat aneka warna yang tertata anggun di sepanjang dinding ruangan."Sera, lihat ini! Warna hijau sage ini cantik sekali!" seru Erika yang sudah lebih dulu melesat ke deretan gantungan kebaya di sudut kiri. Tangannya menarik sehelai kebaya brokat berpayet halus, lalu menempelkannya ke depan dada seraya berputar menghadap cermin.Sera tersenyum tipis melihat tingkah heboh sahabatnya itu. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan langkah pelan kedua orang tuanya yang berjalan beriringan masuk ke dalam butik. Bu Siwi tampak mengusap ujung lengan daster batiknya dengan kikuk seraya menatap lantai marmer yang mengilap, sementara Pak Angga berjalan tegap di samping sang istri seraya mengamati sekeliling dengan tenang."Ayah, Ibu, duduk di sofa sini saja dulu," ajak Sera lembut seraya menuntun lengan ibun

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Rencana

    Istana PresidenWaktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana ruang kerja pribadi Rendra di lantai atas tampak hening, hanya diterangi cahaya hangat lampu meja.Rendra duduk di balik meja kerjanya yang luas, memeriksa berkas-berkas kenegaraan terakhir untuk hari ini. Pintu ruang kerja yang terbuka setengah menampilkan sosok Sera yang baru saja melangkah masuk dengan piyama tidur sutra berwarna krem, membawa secangkir teh kamomil hangat di tangannya."Mas Rendra masih belum selesai pekerjaannya?" tanya Sera lembut seraya meletakkan cangkir keramik itu di sisi meja yang kosong.Rendra mendongak, menyandarkan punggungnya ke kursi seraya tersenyum tipis menyambut kedatangan sang istri. "Tinggal memeriksa beberapa laporan dari kementerian saja. Duduklah di sini."Sera melangkah memutari meja lalu duduk di tepi kursi lengan di samping suaminya. Pandangannya tanpa sengaja bergulir ke arah sebuah map kulit terbuka di atas meja, yang memuat jadwal agenda kerja sang presiden untuk dua pekan ke

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Babak Pertama

    Keheningan seketika menyelimuti ruang tamu. Udara di ruangan itu terasa semakin berat dan dingin. Tatapan Papa Erika yang tajam beralih sepenuhnya dari Erika menuju wajah Deo. Beliau tidak langsung membentak, melainkan menyandarkan punggungnya ke sofa seraya melipat kedua tangan di depan dada."Deo?" ulang Papa Erika dengan intonasi rendah dan penuh selidik. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang dingin. "Pria yang kamu bawa ini, pengawal pribadi ibu negara, kan?"Erika tersentak kecil, tidak menyangka papanya mengenali identitas Deo secepat itu. Namun, sebelum Erika sempat bersuara membela, Deo perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Erika. Pria itu melangkah maju satu langkah, berdiri tegap dengan sikap sempurna seorang prajurit."Selamat sore, Bapak," sapa Deo dengan suara bariton yang mantap, tidak goyah sedikit pun di bawah tatapan mengintimidasi pria paruh baya di hadapannya. "Benar, saya Deo. Saya bertugas menjaga keselamatan ibu negara."Papa Erika men

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Keberanian

    Pagi harinya di Rumah Sakit Narita, suasana koridor poli rawat jalan mulai dipadati pasien yang mengantre. Sera melangkah menyusuri lorong dengan jas dokter putih yang tersampir rapi, memegang map rekam medis di tangannya. Begitu berbelok menuju ruang dokter koas, ia melihat Erika sedang duduk di depan meja kerja seraya mengetuk-ngetukkan pulpennya ke permukaan meja dengan gelisah.Sera mendorong pintu kaca pelan-pelan, lalu menarik kursi di sebelah sahabatnya. "Pagi, Erika. Tumben sekali kamu melamun sepagi ini?"Erika tersentak kaget, menoleh cepat seraya menghela napas panjang. "Sera, kepalaku rasanya mau meledak sejak bangun tidur tadi."Sera meletakkan mapnya, menatap lekat paras Erika. "Soal keluarga Raja lagi?"Erika mengangguk lemah, bahunya merosot ke sandaran kursi. "Papaku tadi pagi menegaskan lagi kalau keluarga Raja bakal datang membicarakan lamaran itu. Aku sudah tidak bisa menunda-nunda lagi, Sera. Makanya sore nanti, sepulang dinas dari sini, aku berniat membawa Deo la

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Memberi Pelajaran Wanita Licik

    Sofia gemetar hebat di tempatnya berdiri. Dadanya naik-turun menahan luapan murka yang nyaris meledakkan isi kepalanya. Matanya melotot tajam, memandang Ratu dengan kebencian yang mendalam."Kamu benar-benar keterlaluan, Ratu!" pekik Sofia seraya merogoh tas tangannya secara serampangan. Jemarinya yang basah berusaha menarik ponsel pintarnya keluar. "Akan kubuat rekaman wajah gilamu ini! Biar semua orang tahu bagaimana aslinya perangai adik perempuan seorang presiden yang diagung-agungkan itu!"Ratu sama sekali tidak bergerak mundur. Gadis itu justru melangkah maju satu jengkal, mengikis jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya hampir bersentuhan dengan sepatu hak Sofia. Senyuman mengejek tersungging jelas di bibirnya."Rekam saja, Sofia. Silakan," tantang Ratu dengan suara tenang namun menusuk telak. Tangannya terangkat, menepis pelan tangan Sofia yang memegang ponsel hingga layar benda itu bergoyang. "Tapi sebelum kamu menekan tombol rekam, apa kamu sudah siap kalau aku membong

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status