로그인Sera terengah, genggaman tangannya pada kemeja Rendra perlahan terlepas saat menyadari tatapan sang suami yang tidak bisa dibantah. Sera memilih melangkah mundur dengan teratur, memanfaatkan deretan kursi kayu kosong sebagai tameng. Tubuhnya yang mungil merosot, bersembunyi di balik sebuah meja bundar yang tertutup taplak kain menjuntai hingga ke lantai. Dengan tangan yang gemetar hebat, Sera merogoh saku tasnya dan menyambar ponsel. Jemarinya dengan cepat mencari nama Evan dalam daftar panggilan, lalu menekannya tanpa membuang waktu. "Pak Evan! Tolong masuk ke dalam restoran sekarang!" bisik Sera setengah tertahan begitu panggilan tersambung, matanya melirik waspada dari celah taplak meja. Suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Ada orang bersenjata di dalam! Dia membawa pisau dan mengancam Nyonya Sintia dan Mas Rendra! Pintu utamanya dihadang, tolong cepat!" Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana yang langsung terdengar gaduh, Sera mematikan sambungan. Sementara itu, di
Sera menatap Sintia dengan dada yang bergemuruh. "Apa maksudnya, Nyonya?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar menahan luapan emosi yang mendadak menghentak dadanya. Rendra langsung menoleh tajam. "Sera, aku akan menjelaskan semuanya padamu," potongnya cepat, kemudian meraih tangan Sera. Namun, Sintia lebih dulu menyela dengan tawa hambar yang memotong kalimat Rendra. "Kamu pernah menyelamatkan Rendra dari seorang pria yang ingin melukainya," ujar Sintia, matanya berkejaran menatap Sera dengan tatapan penuh kepuasan karena berhasil membuat gadis itu terkejut. "Tapi, alih-alih Rendra yang terluka, justru dirimu yang terluka parah. Kepalamu itu pernah cedera sangat serius, Sera. Sampai-sampai kamu terkena amnesia parsial karena benturan itu. Kamu bahkan pernah koma! Dan memori tentang seluruh kejadian mengerikan itu hilang dari otakmu." Sera membeku di kursinya. Sintia melirik Rendra yang wajahnya sudah menggelap sempurna, lalu kembali menatap Sera. "Rendra pasti merasa sang
Sera duduk mematung di sebuah meja bundar yang terletak tepat di tengah-tengah restoran. Suasana di sekelilingnya benar-benar sepi, bahkan tidak terdengar denting sendok atau obrolan sayup-sayup dari pengunjung lain. Sintia sepertinya sengaja mem-booking seluruh tempat ini hanya untuk bertemu dengannya. Sera meremas jemarinya sendiri di atas paha, merasakan sensasi dingin yang menjalar. Di dalam benaknya, ia terus menerka-nerka apa yang akan dikatakan wanita itu padanya. Tak berapa lama, suara ketukan sepatu hak tinggi memecah kesunyian. Sintia akhirnya datang. Wanita itu melangkah anggun, lalu langsung duduk di kursi tepat di depan Sera. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Sera dengan angkuh dari balik kacamata hitam besar yang dikenakannya. "Aku tidak bisa basa-basi," ucap Sintia membuka suara, nadanya terdengar dingin dan tajam. Ia memperbaiki posisi duduknya. "Aku juga tidak ingin lama-lama menahanmu di sini. Katakan saja langsung, kamu pasti menikahi Rendra
Mansion NarottamaBrak!Remote televisi mendarat kasar di atas meja kaca. Sintia menyandarkan punggungnya ke sofa, tapi pundaknya tetap tegang. Napasnya memburu, menahan gejolak yang mendadak naik ke dada setelah menyaksikan seluruh tayangan konferensi pers Sofia."Dia tahu," gumam Sintia. "Sofia jelas tahu di mana Rendra berada, tapi kenapa tidak memberitahuku?"Mengingat bagaimana Sofia bersikap tenang dan berjanji akan memberitahunya soal keberadaan Rendra, rasa dongkol di hati Sintia pun muncul.Sintia menyambar ponsel pintar miliknya dengan gerakan menyentak. Jari-jarinya bergerak cepat di atas layar, mencari kontak Sofia dan langsung menekan tombol panggil.Ponsel itu menempel erat di telinganya. Sintia mengetuk-ngetukkan ujung kuku jarinya ke lengan sofa. Begitu panggilan tersambung dan suara Sofia menyapa di seberang sana, Sintia tidak memberi ruang untuk basa-basi."Sofia, katakan sejujurnya pada Tante. Kamu tahu di mana Rendra sekarang, kan?" tembak Sintia langsung, suaranya
Di dalam mobil SUV yang terparkir di bawah keteduhan pohon pinus, Evan tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangan Evan lurus tertuju pada gerbang hitam rumah Rendra yang tertutup rapat. Ia mengangkat cup kertas berisi kopi yang mulai mendingin, menyesapnya perlahan untuk mengusir kantuk yang masih tersisa.Usai menurunkan cangkir kopinya, Evan memutar pergelangan tangan kiri, menatap angka digital yang tertera di jam tangannya. Jarum jam sudah merangkak naik, menunjukkan hari yang hampir beralih siang, namun layar ponselnya yang tergeletak di dasbor masih saja gelap. Tidak ada satu pun pesan masuk ataupun perintah baru yang dikirimkan oleh sang Presiden sejak semalam.Evan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sembari mengembuskan napas pendek. Sebuah senyuman terukir di sudut bibirnya."Apa mereka tidak lelah?" gumam Evan. "Mereka benar-benar pasangan yang sedang dimabuk cinta."Ia kembali menyesap kopinya hingga tandas, lalu melemparkan cup kosong itu ke kantong sampah kecil
Sera mengamati perubahan raut wajah Rendra setelah pria itu menurunkan ponsel dari telinganya. "Ada apa, Mas?" tanya Sera lembut, ikut menegakkan posisi duduknya di atas ranjang. Rendra menghela napas pendek, menaruh ponselnya kembali ke atas nakas. "Sofia ingin mengeluarkan pernyataan resmi tentang kondisiku malam ini. Dia mengancam Evan akan merilis draf yang dia buat sendiri kalau aku tidak memberikan respons segera." Sera tersentak, matanya membulat. "Kalau begitu Mas Rendra urus dulu masalah ini," ucap Sera cepat tanpa ragu. Rendra tidak langsung menjawab. Ia hanya diam menatap Sera, tampak enggan membagi fokusnya yang malam ini sepenuhnya ingin ia curahkan untuk gadis itu. Melihat keraguan di mata suaminya, Sera mengulas senyum tipis, lalu menggenggam jemari Rendra. "Sudahlah, Mas. Bagaimanapun juga, Mas itu seorang presiden. Urusi dulu masalah itu," bujuk Sera meyakinkan. "Aku akan menunggu di sini. Lagipula, kita masih punya waktu satu hari penuh besok." Rendra ta







