Share

68. Melindungi

last update publish date: 2025-12-04 21:23:42

Suasana di lokasi proyek itu tampak mencekam. Mandor dan beberapa pekerja berdiri kaku. Raven tidak berteriak, atau melontarkan kata-kata kasar.

Dia hanya menatap mereka dengan tajam, tetapi itu cukup untuk membuat lutut mereka bergetar. Baru saja Raven menemukan kesalahan kecil yang membuat auranya semakin dingin dan muram.

David yang sudah bisa menebak hal itu akan terjadi, hanya berdiri pasrah. Dia berharap keajaiban segera datang, supaya suasana hati bosnya itu segera membaik.

Pada saat yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Rna 1122
lebih banyak up nya thor
goodnovel comment avatar
Rna 1122
ahhhh semoga nanti endingnya mereka bersama dan bahagia thorrr biar ga sia" baca
goodnovel comment avatar
Valenka Lamsiam
asikkk kayanya bakalan ada pasyen yang ingin di manja sera nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 4

    “Biar aku yang memakaikan baju mereka. Kamu duduk saja,” ucap Raven lembut sambil memegangi bahu Sera dan mendudukkannya di tepian ranjang.Sera tidak menolak. Dia selalu merasa senang setiap kali Raven mengambil alih tugasnya.“Louis pakai yang biru ya, Mas. Leon yang putih.”Raven mengangguk. “Aku tahu.”Lalu pria itu menundukkan badan di hadapan kedua bayinya yang baru selesai dimandikan. Raven mengambil popok terlebih dulu.Sera hanya duduk sambil memperhatikan pemandangan di hadapannya yang membuat hatinya terasa penuh. Dia melihat Raven yang begitu hati-hati dan lembut saat memakaikan pakaian di tubuh Louise.Wajah Raven tampak serius. Namun sorot matanya terlihat lembut dan hangat.Tapi ada yang aneh. Sera mengerutkan keningnya. Lalu detik berikutnya Sera mengulum senyum.“Mas?”“Hm?” sahut Raven yang tetap fokus pada bayinya.“Mas salah pasang popoknya,” ucap Sera sambil terkekeh geli.Kening Raven berkerut dan tangannya berhenti bergerak. “Tidak. Aku benar,” timpalnya dengan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 3

    “Mas, jangan ganggu mereka terus,” tegur Sera setengah berbisik.Namun Raven tidak menghiraukannya. Raven tetap memandangi kedua bayinya yang terlelap sambil menekan-nekan lembut pipi tembem atau sesekali mencolek hidung mancung mereka.Seolah-olah Raven ingin meyakinkan diri bahwa dua bayi mungil di hadapannya itu nyata. Bukan hanya sekadar ilusi.Padahal ini sudah hari ke delapan bayi kembar itu lahir ke dunia. Tapi Raven masih belum percaya bahwa kini dia benar-benar sudah menjadi seorang ayah.“Sayang,” ucap Raven pelan seraya mengambil selembar foto seorang bayi yang sejak tadi terletak di samping bayi kembar itu.Sera yang sedang bersandar di headboard ranjang sambil makan buah, menoleh. “Kenapa, Mas?”“Louis dan Leon benar-benar mirip aku.” Raven mendekat dan menunjukkan foto tersebut pada Sera. “Saat aku melihat mereka, aku seperti melihat diri sendiri waktu masih bayi.”Sera menatap foto Raven ketika masih bayi–yang sebenarnya sudah sering dia lihat sejak Raven menunjukkannya

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 2

    Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar dan berkata, “Suaminya boleh masuk seka… rang”Raven langsung masuk tanpa menunggu kalimat perawat itu selesai. Dia membeku saat melihat Sera terbaring di ranjang pasien dengan napas terengah.Ketika melihat Raven, Sera seketika membulatkan matanya. “Mas?”Raven bergegas menghampiri Sera. “Kenapa kamu tidak menelponku?” tanyanya dengan wajah tegang, tapi suaranya tetap terdengar lembut.“Aku nggak mau mengganggu rapat Mas Raven.”“Kamu pikir rapat jauh lebih penting daripada kamu?”Sera tertegun. Tapi belum sempat dia menanggapi, gelombang rasa nyeri itu kembali menyerangnya. Sera meringis dan mencengkeram sprei kuat-kuat.Raven semakin menegang. “Apa yang terjadi?” Dia menatap perawat dengan ekspresi panik yang tidak disembunyikan.Perawat itu tersenyum sabar. “Itu kontraksi, Pak.”“Saya tahu itu kontraksi,” timpal Raven cepat. “Tapi kenapa dia sampai kesakitan seperti itu?”Sera masih menahan nyeri sambil tetap meringis. “Mas… kontraks

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   Extra Chapter 1

    Sera meringis, menahan rasa nyeri di perutnya yang datang secara berkala. Perutnya mengeras seperti batu, membuatnya harus menahan napas beberapa detik sampai gelombang nyeri itu perlahan mereda.Sera menghela napas panjang, lalu tangannya terulur berusaha meraih ponsel dari atas meja. Tapi dia terlalu sulit menjangkaunya.Ratna yang sedang melintas menuju dapur, terkejut melihat pemandangan tersebut.Cepat-cepat Ratna mendekat dan membantu mengambilkan ponsel untuk Sera.“Bagaimana sekarang? Perutnya sakit lagi?” tanya Ratna dengan tatapan khawatir.“Iya, Mbak. Makin ke sini nyerinya makin sering. Tadi pagi sekitar tiga puluh menit sekali. Sekarang hampir tiap sepuluh menit.”Mata Ratna melebar. “Sera, sepertinya kamu benar-benar akan melahirkan. Lebih baik ke dokter sekarang. Saya antar kamu.”Sera mengerutkan keningnya, bingung. “Tapi kata dokter, hari perkiraan lahirnya minggu depan, Mbak.”“Itu ‘kan cuma perkiraan, bukan tanggal pasti. Kadang HPL itu suka meleset.” Ratna tampak c

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   270. Ending

    “Kamu gugup?” tanya Raven lembut seraya menatap Sera dengan lekat.Sera mengangguk. Menatap pintu yang menjulang tinggi di hadapannya dengan perasaan tak menentu. Jari-jari tangannya terasa dingin.Berbagai pikiran negatif kini memenuhi benak Sera.Bagaimana jika orang-orang di dalam sana menghujatnya, melemparinya, dan menganggap dirinya sebagai wanita murahan?Sera masih ingat dengan jelas bagaimana dunia menyudutkannya di masa lalu.“Sayang,” panggil Raven seraya meremas tangan Sera dengan lembut, membuat Sera seketika keluar dari lamunannya. “Apa perlu kita kembali ke kamar?”Sontak Sera mendongak, menatap Raven gamang. “Acaranya akan segera dimulai,” gumamnya.Raven menggeleng pelan. “Kita bisa menundanya kalau kamu belum siap.”Selalu seperti itu. Raven selalu mengedepankan kenyamanan Sera. Hati Sera terenyuh. Dia tidak ingin membuat Raven kecewa.“Nggak, Mas.” Sera balas menggenggam tangan Raven erat. Menghela napas berat. “Kita masuk saja sekarang.”“Kamu yakin?” Raven menatap

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   269. Pesta Pernikahan

    Sera menatap pantulan dirinya di cermin. Terpana. Dia seolah tidak mengenali diri sendiri.Tubuhnya kini dibalut gaun pengantin putih berbentuk putri duyung. Bagian atas hingga pinggang dan pinggul dibuat ketat mengikuti lekuk tubuh. Lalu melebar mulai dari lutut ke bawah hingga membentuk ekor yang menjuntai di lantai.Bahunya berbentuk off shoulder, sehingga leher dan bahunya terbuka. Mahkota kecil menghiasi kepalanya. Rambutnya terurai bergelombang. Sementara veil tipis menjuntai jatuh ke belakang punggung.“Aku benar-benar nggak percaya kalau wanita di depanku ini adalah diriku,” gumam Sera.Seorang wanita yang sedang memasang sarung tangan tipis di tangan Sera, seketika terkekeh kecil. “Bu Sera terlihat cantik sekali.”Sera tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Semua ini karena tangan ajaib kamu, Mbak. Make up-nya benar-benar bagus. Aku hampir nggak mengenali diriku sendiri.”“Pada dasarnya Bu Sera-nya yang sudah cantik.” Wanita itu tersenyum bangga. “Saya cuma perlu memoles sedi

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   88. Ingin Sendiri

    Sera tertegun mendengar pertanyaan itu. Entah mengapa dia merasa bahwa Raven tengah memedulikannya.Meski kata-kata dan suara tinggi Raven tadi membuat jantung Sera berdenyut nyeri, tapi Sera bisa merasakan kepedulian dari pertanyaan pria itu barusan.Sedangkan di sisi lain, wajah Celine memucat me

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   82. Makan Malam Bersama

    Harum aroma masakan yang menggugah selera menguar di seisi rumah.Denting alat masak yang saling beradu bagai irama musik yang menenangkan hati.Dan suara canda tawa yang memenuhi dapur terasa seperti nyanyian yang merayakan sebuah kebersamaan.Raven terpaku.Dia merasa seperti berada di dunia yang

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   83. Peringatan

    “Terima kasih, Sera. Aku sangat menikmati makan malamnya,” ucap Bastian yang sudah berdiri di teras rumah. “Ternyata Salsa benar, makanan buatan kamu nggak cuma enak, tapi juga bikin aku pengen nambah.”Sera terkekeh kecil mendengar pujian dari sahabatnya itu.“Sama-sama, Bastian. Terima kasih suda

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   80. Tak Kunjung Pergi

    Sera ternganga. Matanya mengerjap berulang kali sambil menatap benda kecil di tangan Raven itu.Lalu Sera menaikkan pandangannya pada wajah Raven yang masih tak menunjukkan ekspresi apapun.“Bapak jauh-jauh datang ke sini, cuma untuk menyuruh saya mengoleskan salep ini di punggung Bapak?” ulang Ser

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status